TRANSISI MAKNA DALAM KETIADAAN AMBISI

Three-Ways-To-Improve-Your-Self-ConfidenceKarena tahu saya bukan seorang yang “dominan” dan “tega’an”, maka saya meminta bos saya untuk mendatangkan seseorang dari Regional Middle East dan Asia Pacific (disingkat “MENA”) agar datang ke Indonesia, untuk membantu mengecek persiapan audit perusahaan kami, yang kebetulan berada dalam naungan regional Middle East dan Asia Pacific.

Alhamdulillah, berkat izin Allah, strategi itu terkabulkan, dan seseorang rekan yang datang ke Indonesia membantu persiapan audit tadi, adalah seorang dengan tipikal sangat detail dan dominan. Walhasil banyak rekan-rekan menjadi terhenyak, termasuk manajer saya sendiri. Wah, ternyata masih banyak yang harus disiapkan, lalu bergeraklah semua orang.

Semua menjadi waspada pada porsinya yang pas, dan alhamdulillah segala kekurangan bisa diselesaikan dalam tempo yang pas dan audit berhasil dilewati dengan baik.

Bertemu seseorang dengan tipikal yang sangat dominan seperti rekan saya dari region MENA itu tadi, membuat saya meninjau kembali perjalanan karir saya.

Salah satu kelebihan orang-orang yang dominan dan ambisius seperti rekan saya itu, adalah mereka sangat tahu apa yang mereka inginkan. Mereka ingin mendaki tangga karir, dan setelah satu jabatan maka mereka menginginkan jabatan yang di atasnya lagi, dan di atasnya lagi.

Jabatan, tentu sebanding dengan tantangannya, tapi mereka tidak menghiraukan itu.

“Mengetahui apa yang diinginkan diri sendiri”, adalah satu tantangan terbesar bagi orang dengan tipikal seperti saya.

Seringkali, setelah tahapan yang sekarang ini saya tidak tahu harus kemana dan apa yang ingin diraih? Utamanya setelah mempelajari mengenai spiritualitas islam / tasawuf, maka ambisi-ambisi seperti makin pupus saja.

Kalau saya menilik perjalanan saya ke belakang, dari awalnya saya seorang pelajar di salah satu kota di Sumatera. Bagi saya masuk universitas di Jawa itu salah satu pencapaian luar biasa, dan saya menyadari kemampuan saya terbatas dari sisi finansial dan dari sisi intelektualitas. Alhamdulillah nyatanya Allah berkenan memasukkan ke Universitas di Jawa. Ambisinya kala itu adalah ingin mendapatkan pendidikan lebih baik, ingin berkembang.

Dari sana saya kemudian lulus dan bekerja di Industri Lapangan Migas, tahunan menghabiskan waktu terapung di lautan, menyusuri tempat-tempat yang jauh dan terpencil di hutan. Ambisinya kala itu adalah beranjak dari kesulitan ekonomi.

Dan lalu akhirnya dari lapangan saya dipindahkan ke kantor. Itupun suatu pertolongan yang ditemui lewat ambisi mendapatkan tempat yang lebih nyaman dan tidak selalu bepergian.

Setelah berada dalam dunia kantor, dan melalui banyak tribulasi hidup. Cara pandang mulai berubah.

Perjalanan meniti tangga karir bagi saya semua adalah anugerah, karena saya sadar betul betapa kemampuan rekan-rekan di sekitar saya sangatlah dahsyat, untuk tidak dikatakan bahwa saya sebenarnya hanya beruntung saja bisa mendaki tangga karir dimana orang-orang luar biasa ada berserak di sekitar saya, dan setiap dari mereka bisa mengganti saya kapanpun saja. Dan terasa sekali bahwa sebenarnya dari awal saya berpindah kesana kemari mengikuti plot-NYA, semua tidak pernah saya bayangkan. Ambisi saya menjadi pudar.

Tetapi disitulah masalahnya, seringkali karena larut dalam suasana kerja, saya mempertanyakan diri saya yang sekarang, karena tidak punya ambisi, seringkali tak tahu harus ngapain lagi? what is next?

Karena saya kadang terpikirkan bagaimana mungkin bekerja tanpa suatu “dorongan” tanpa “ambisi”? Harus ada suatu “dorongan” agar roda fisik saya ini mau bergerak.

Belakangan saya menyadari bahwa dorongan itu rupanya masih ada, hanya saja berubah bentuk.

Dari yang ambisi personal, berubah menjadi keinginan untuk “membantu”.

Saya ingin “membantu” orang-orang, dalam kapasitas apapun saja. Maka dalam bekerja, dan dalam dunia karir, saya menggunakan mentalitas itu, bekerja dalam keinginan membantu orang-orang. Saat meeting, saat memberi pengarahan, meng-audit, saya benar-benar merasakan saya sedang membantu orang. Bukan pekerja, tetapi sebagai manusia saya membantu manusia lainnya.

Keinginan “membantu” ini, barulah saya sadari rupanya sebuah pendorong yang berada dalam “transisi” untuk masuk ke ranah yang lebih spiritual.

Kalau guru kami mengatakan, bahwa saat kita berbuat, sebenarnya bukan kita yang berbuat. Melainkan kita mengikuti script-Nya untuk berbuat sesuatu. walhasil, pengertian sebenar-benarnya mengenai kenapa sesuatu terjadi, adalah dengan DIA semata-mata. Manusia, hanya memaknainya dengan kacamata yang bertingkat-tingkat sesuai dengan kapasitas pembelajarannya.

Ambil contoh Seorang dokter, misalnya….dia bekerja karena dia ingin memberi makan keluarga. Setelah itu dia mendapatkan penghasilan tetap, dan lama-lama namanya masyhur di khalayak, dia bekerja karena ingin namanya dikenang orang. Tetapi, di sebalik itu ternyata Allah mentakdirkan kemampuan spesialisasinya terpakai untuk menyelamatkan seorang yang sakit, dimana di kemudian hari seorang sakit itu akan menjadi menteri yang mengentaskan urusan ketertinggalan pendidikan anak-anak di daerah terlantar. Misalnya begitu.

Pekerjaan, bisa dia lihat dari kacamata penghidupan untuk keluarga. Bisa dia lihat dari kacamata kebanggaan diri. Atau bisa dia lihat dari kacamata yang lebih besar yaitu dia hanya “perpanjangan tangan” dari takdir menyelamatkan orang-orang yang mungkin punya kiprah dan cerita besar sendiri-sendiri pula.

Jadi sebenarnya dibalik sesuatu ada sesuatu. Dan sebenar-benar pengertian mengapa sesuatu itu terjadi, adalah pada Tuhan sendiri. Kita hanya memaknai sepotong-sepotong dalam perjalanan kita mengenali diri, dan mengenaliNYA.

Puncak dari perjalanan merevisi makna dalam hidup kita itu adalah “hilangnya diri kita” dan melihat hidup sebagai pagelaran ceritaNYA saja.

Transisi itulah yang baru saya mengerti. karena saya ada dalam transisi itulah mengapa saya sering menjalani karir dengan seperti tidak ada ambisi, tetapi masih bingung…. seharusnya saya bagaimana?

Harusnya saya tidak bingung….. karena seorang arif berpesan, tinggalkan “Pintu Depan”, tinggalkan segala pemaknaan bahwa hidup adalah tentang ini tentang itu, tentang kita. Dan masuk sepenuhnya pada “pintu belakang” dimana tak ada kita. Hanya DIA dan ceritaNYA, menerusi dzat (ciptaanNya).

Masuk dalam pemaknaan seperti itulah, yang hanya bisa karena anugerahNYA semata-mata. Meskipun masih mbulet, setidaknya kita sudah tahu peta perjalanannya.


*) Image Sources

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s