TIGA PERINGKAT PENGENALAN

Disarikan dari tulisan Buya Hamka, ada tiga macam tingkat “pengenalan” kepada Tuhan.

Yang pertama adalah pengenalan orang-orang biasa. Yang kedua adalah pengenalan para filosof atau ahli kalam. Yang terakhir adalah pengenalan-nya para Aulia atau golongan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin).

Orang-orang biasa, mengenal Allah karena memang begitulah yang mereka tahu sejak kecil.

Para hukama ahli hikmah, para filosof, menemukan Tuhan lewat penelusuran jalan fikir. Analisa akal fikir sampai mentok dan sampailah mereka pada sekian banyak bukti-bukti akan keberadaan Tuhan.

Tetapi semata bukti-bukti, belumlah juga membuat mereka sampai pada “rasa” kedekatan pada Tuhan.

Rasa kedekatan pada Tuhan itulah anugerah maqomnya para Aulia. Yang tidak dapat dicapai oleh semata pendekatan analisa fikiran-fikiran dan premis-premis logis.

Ilmu memang mengantar kita sebatas gerbang saja. Tangga awalan. Selepas kita menjelajah bukti-bukti tentang Tuhan lewat analisa jalan fikir, masuklah kita pada tahap berikutnya yaitu merasakan kedekatan.

Yang satu ilmu lahir, yang satu ilmu batin, atau ruhani. Ilmu keruhanian inilah domainnya tasawuf.

ORANG KANTORAN MENCARI TUHAN (3)

4ea13796-fb5b-4a7c-857e-72e0477f5ffc-27238-00002073f1944d01Ada salah satu contoh yang sangat tenar di YouTube dimana seorang miliarder bernama Dan Lok, mengakui bahwa kekayaan, ketenaran, pangkat, itu bukanlah hal yang utama. Kebijakan itu ditemui dalam perjalanan kehidupan nya sendiri. Setelah dia menekuni pekerjaan dan bisnisnya sampai di puncak. Kemudian satu perkara mengguncang hidupnya. Cerita lengkapnya bisa rekan-rekan cari di YouTube.

Singkat cerita, Dan Lok kecil adalah seorang asia yang hidup dalam lingkungan barat. Kenyang dibully disekolah sejak kecilnya. Keluarganya broken home. Ayah ibunya bercerai. Dia tinggal dengan ibunya, tetapi untungnya ayahnya masih membiayai mereka.

Sampai suatu ketika telepon berdering dan sang Ibu menangis diberikabar bahwa mantan suaminya kini bankrut, dan tak akan ada lagi biaya hidup dikirim buat mereka.

Selepasnya persis seperti kisah drama klasik. Tetapi nyata.

Dan Lok berjanji pada diri sendiri, bahwa dia tidak perlu figur ayah. Ini kali terakhir dia melihat Ibunya menangis, apapun yang terjadi dia akan pastikan bahwa dialah yang akan menanggung beban hidup keluarga ini. Dia bekerja macam-macam serabutan. Membangun bisnis dari bawah. Meniti usahanya sendiri sampai akhirnya dia sukses besar dan perusahaannya terlibat dalam bisnis ratusan negara.

Kemudian dia semakin matang. Dia memutuskan untuk berdamai dengan ayahnya. Dia menemui ayahnya yang sudah renta. Membelikan ayahnya sebuah apartemen untuk tempat tinggal. Ayahnya menangis haru.

Sampai suatu ketika Dan Lok dikabari bahwa sang ayah sakit keras. Dia akan dioperasi. Bertepatan dengan saat yang sama, Dan Lok harus menandatangani tender terbesar dalam hidupnya. Dia menelepon ayahnya, lalu dia berjanji sesegera mungkin akan pulang kembali menjenguk ayahnya selepas menandatangani tender itu. Dalam hatinya dia bergumam pasti ayahnya bangga dengan kesuksesan sang anak.

Tender selesai ditandatangani. Dan Dan Lok mendapatkan kabar bahwa ayahnya meninggal dunia.

Semua seperti tercerabut. Saat itulah dia baru memahami bahwa kekayaan, pangkat, ketenaran, tidaklah yang utama. Hidupnya berubah sejak itu.

Kebijakan bahwa “kekayaan, pangkat, keterkenalan,” bukanlah yang utama; sudah sering kita dengar dari para guru kehidupan. Kita bisa lihat wejangan ini terserak-serak dalam buku-buku. Tetapi untuk sampainya kebijakan ini menjadi merasuk dalam diri, istilahnya “internalisasi” biasanya butuh pengalaman hidup. Dan dalam hal ini, ini didapatkan Dan Lok lewat kehidupannya sebagai pekerja.

Inilah yang dimaksud bahwa bekerja, juga bisa menjadi jalan untuk mengenal kesejatian.

Kata Dan Lok, hidup manusia dibagi menjadi empat fase. Fase pertama survival. Bertahan hidup. Tidak usah bicara yang filosofis, yang jelas manusia butuh makan minum sandang pangan papan. Semua orang bekerja untuk itu, bertahan hidup.

Lepas dari itu, fase berikutnya adalah security. Orang pengen mendapatkan keamanan dalam hidupnya. Manusia terus bekerja untuk mencapai sekuritas. Supaya ga terus menerus khawatir tentang bagaimana esok makan.

Setelah keamanan tercapai, masuklah manusia dalam fase sukses. Sukses duniawi ya. Sukses duniawi menurut Dan Lok.

Dan setelah melampaui sukses duniawi inilah maka manusia baru mengerti bahwa bukan kesuksesan yang penting.. Melainkan significance, kata Dan Lok. Yaitu hidup dalam pengabdian. Berbuat untuk orang lain. Melampaui kedirian yang sempit.

Yang dikatakan Dan Lok itu, senada dengan yang dikatakan ceritra Mahabarata dalam Bhagavad Gita. Mengenali kesejatian lewat bekerja yang tanpa pamrih (selfless action). Dan ini juga yang dimaksud dalam Al Hikam bahwa jika seseorang tertakdir hidup dalam maqom asbab (pekerja) maka titilah maqom itu, ga usah neko-neko pengen berhenti kerja dan jadi pertapa atau ulama yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu. Karena tiap orang ada jatahnya sendiri, dan lewat jalan itupun mereka tetap bisa menjadi spiritualis kok.

Tetapi kalau kita perhatikan. Jalan Dan Lok ini adalah jalan “mendaki”. Menjalani kehidupan dengan segala onak durinya untuk kemudian mendapatkan hikmah dan pengertian hidup pada puncak perjalanan mereka.

Ini bagus. Tetapi berbahaya dan sulit. Karena tak jarang pula dalam perjalanan orang berhenti sebelum sampai. Misalnya dia larut dalam kesuksesan. Lupa dengan kesejatian.

Baru saya pahami, jalan yang lebih aman adalah memang jalan yang dikatakan seorang arif dengan jalan profetik. Jalannya Nabi-nabi. Yaitu, pengertian-pengertian tentang keTuhanan atau ilmu makrifatullah itu jadikan sebagai pondasi. Walhasil dalam bekerja, misalnya, seseorang insyaAllah lebih cepat mendapatkan hikmah, karena sejak awal dia sudah tahu konsepnya bahwa hidup adalah ceritaNya. Jadi dia tidak mencari-cari, melainkan menjalani dengan konsep yang dia sudah paham, mengingati-NYA, kemudian sepanjang perjalanan adalah hikmah demi hikmah sesuai dengan jatah maqomnya sendiri-sendiri.

Pembelajaran mengenai keTuhanan. Dzikrullah. Mengetahui gambaran kehidupan secara lebih Spiritual, inilah domain tasawuf. Kepingan uang logam yang seringkali luput dipahami orang kantoran. (dan sering luput dipahami orang bukan kantoran juga. Hehehehe). Maka belajarlah tasawuf, inilah mutiara.


*) Gambar dicomot dari google images. bisa ditemukan disini juga

ORANG KANTORAN MENCARI TUHAN (2)


Setiap orang memang dipermudah untuk melakukan apa yang tertulis baginya.

Dalam kesempatan menikmati macet Jakarta sore kemarin, saya dan seorang rekan senior yang mobilnya saya tumpangi berbincang santai tentang hal itu, dalam kaitannya dengan dunia korporasi dan tipikal orang-orang di dalamnya.

Saya katakan pada rekan saya itu, kalau saya ingin mengejar pencapaian orang-orang yang sudah lebih lama dan punya bakat lobi-lobi, gaul dan meeting sana-sini, jago main golf, maka saya akan keteteran karena saya sudah ketinggalan berpuluh tahun. Hidup dan besar dalam lingkungan yang membuat saya menjadi seorang analis yang suka “merenung ke dalam” tetapi sulit untuk berbasa-basi ke “dunia luar”.

Walhasil, memang begitu. Dunia menjadi harmoni dengan banyaknya peran masing-masing orang. Menikmati peranan kita saat ini. Itu kuncinya.

Saya percaya sebuah ungkapan (hadits kalau tak salah) bahwa “hikmah” adalah harta berharga kaum muslimin, yang tercecer. Maka jika menemukan hikmah itu dimanapun, ambillah.

Jadi dalam konteks memulung hikmah itu, saya rasa ada benarnya juga kutipan bhagavad gita dalam fragmen Mahabarata, tentang Path Of Self Realization. Jalan menemukan kesejatian diri.

Ada banyak jalan. Pertama lewat jalan pengetahuan. Orang-orang yang menemukan kebijakan lewat penelusuran jalan fikir. Misalnya para filosof seperti socrates…..yang menemukan jati diri dengan merenung, mengkaji, belajar. Ini jalan para “alim”

Ada lagi jalan bakti. Yaitu orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk mengabdi atau beribadah pada Tuhan. Seperti misalnya para ulama yang rajin sekali beribadah. Melakukan ritus-ritus formal. Pujian-pujian.

Ada lagi jalan tirakat. Ini jalan orang-orang yang menghabiskan hidupnya dalam pengembaraan ruhani. Seperti meditasi, dst.

Dan salah satu jalan lagi adalah dengan berkarya. Bekerja. Ini menarik bahwa dengan bekerja pun seseorang bisa mendapatkan hikmah-hikmah. Misalnya saja lihatlah banyak sekali pembesar-pembesar di dunia korporasi yang kemudian menjadi spiritualis, setelah bekerja dengan sudah payah dan mencapai puncak, pada ouncak pencapaian itu mereka menjadi tercerahkan dan tahu bahwa bukan itu yang harusnya manusia kejar. Mereka jadi dermawan, banyak sedekah, banyak derma, dan lebih sibuk berbuat untuk orang lain ketimbang untuk diri sendiri. Semua itu mereka peroleh karena tercerahkan lewat dunia kerja yang mereka geluti.

Poinnya adalah, setiap orang bisa menemukan hikmah hidup, dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan, lewat jalan yang sudah ditetapkan untuk mereka masing-masing.

Dalam Lathaif Al Minan, disebutkan cerita bahwa Ibnu Athoillah as sakandari yang akhirnya menjadi haus akan ilmu batin tasawuf, merasa ingin meninggalkan pekerjaan yang dia geluti demi berbakti pada gurunya. Sang guru berkata bahwa bukan begitu caranya. Tetaplah bekerja pada jalan yang dia tekuni sekarang ini, insyaAllah bagiannya akan tetap dia dapat.

Menemukan Tuhan dalam kesibukan kerja, ini yang saya sering amati dalam kesibukan orang-orang perkotaan (ataupun desa). Mereka mencari sesuatu tapi tidak tahu apa yang dicari.

Kebingungan, adalah awal dari pencerahan. Maka kita lihat gelombang orang yang ramai-ramai ingin belajar agama, banyak dari masyarakat perkotaan.

Tetapi, yang sedikit disayangkan, approach atau pendekatan pembelajaran keagamaan yang dipelajari semata menekankan pada aspek formal luar saja. Seperti belajar premis-premis fikih, dst..

Itu salah satu keping sisi keberagamaan yang penting dan bagus, memang. Tapi kurang lengkap kalau tidak menyentuh sisi batinnya.

Sisi batin keberagamaan ini yang sebenarnya ranahnya tasawuf. Tentang makna hidup. Tentang mengenali peranan. Tentang hal-hal yang semacam itu.

Tapi yang paling paling paling fundamen sekali adalah mengenali Tuhan. Seorang Arif berkata, makrifatullah, kenal Allah adalah pondasi keberagamaan kita.

Barulah setelah mempelajari mengenai itu, maka dalam bekerja-pun kita bisa mendapatkan hikmah.

-debuterbang-