ORANG KANTORAN MENCARI TUHAN (3)

4ea13796-fb5b-4a7c-857e-72e0477f5ffc-27238-00002073f1944d01Ada salah satu contoh yang sangat tenar di YouTube dimana seorang miliarder bernama Dan Lok, mengakui bahwa kekayaan, ketenaran, pangkat, itu bukanlah hal yang utama. Kebijakan itu ditemui dalam perjalanan kehidupan nya sendiri. Setelah dia menekuni pekerjaan dan bisnisnya sampai di puncak. Kemudian satu perkara mengguncang hidupnya. Cerita lengkapnya bisa rekan-rekan cari di YouTube.

Singkat cerita, Dan Lok kecil adalah seorang asia yang hidup dalam lingkungan barat. Kenyang dibully disekolah sejak kecilnya. Keluarganya broken home. Ayah ibunya bercerai. Dia tinggal dengan ibunya, tetapi untungnya ayahnya masih membiayai mereka.

Sampai suatu ketika telepon berdering dan sang Ibu menangis diberikabar bahwa mantan suaminya kini bankrut, dan tak akan ada lagi biaya hidup dikirim buat mereka.

Selepasnya persis seperti kisah drama klasik. Tetapi nyata.

Dan Lok berjanji pada diri sendiri, bahwa dia tidak perlu figur ayah. Ini kali terakhir dia melihat Ibunya menangis, apapun yang terjadi dia akan pastikan bahwa dialah yang akan menanggung beban hidup keluarga ini. Dia bekerja macam-macam serabutan. Membangun bisnis dari bawah. Meniti usahanya sendiri sampai akhirnya dia sukses besar dan perusahaannya terlibat dalam bisnis ratusan negara.

Kemudian dia semakin matang. Dia memutuskan untuk berdamai dengan ayahnya. Dia menemui ayahnya yang sudah renta. Membelikan ayahnya sebuah apartemen untuk tempat tinggal. Ayahnya menangis haru.

Sampai suatu ketika Dan Lok dikabari bahwa sang ayah sakit keras. Dia akan dioperasi. Bertepatan dengan saat yang sama, Dan Lok harus menandatangani tender terbesar dalam hidupnya. Dia menelepon ayahnya, lalu dia berjanji sesegera mungkin akan pulang kembali menjenguk ayahnya selepas menandatangani tender itu. Dalam hatinya dia bergumam pasti ayahnya bangga dengan kesuksesan sang anak.

Tender selesai ditandatangani. Dan Dan Lok mendapatkan kabar bahwa ayahnya meninggal dunia.

Semua seperti tercerabut. Saat itulah dia baru memahami bahwa kekayaan, pangkat, ketenaran, tidaklah yang utama. Hidupnya berubah sejak itu.

Kebijakan bahwa “kekayaan, pangkat, keterkenalan,” bukanlah yang utama; sudah sering kita dengar dari para guru kehidupan. Kita bisa lihat wejangan ini terserak-serak dalam buku-buku. Tetapi untuk sampainya kebijakan ini menjadi merasuk dalam diri, istilahnya “internalisasi” biasanya butuh pengalaman hidup. Dan dalam hal ini, ini didapatkan Dan Lok lewat kehidupannya sebagai pekerja.

Inilah yang dimaksud bahwa bekerja, juga bisa menjadi jalan untuk mengenal kesejatian.

Kata Dan Lok, hidup manusia dibagi menjadi empat fase. Fase pertama survival. Bertahan hidup. Tidak usah bicara yang filosofis, yang jelas manusia butuh makan minum sandang pangan papan. Semua orang bekerja untuk itu, bertahan hidup.

Lepas dari itu, fase berikutnya adalah security. Orang pengen mendapatkan keamanan dalam hidupnya. Manusia terus bekerja untuk mencapai sekuritas. Supaya ga terus menerus khawatir tentang bagaimana esok makan.

Setelah keamanan tercapai, masuklah manusia dalam fase sukses. Sukses duniawi ya. Sukses duniawi menurut Dan Lok.

Dan setelah melampaui sukses duniawi inilah maka manusia baru mengerti bahwa bukan kesuksesan yang penting.. Melainkan significance, kata Dan Lok. Yaitu hidup dalam pengabdian. Berbuat untuk orang lain. Melampaui kedirian yang sempit.

Yang dikatakan Dan Lok itu, senada dengan yang dikatakan ceritra Mahabarata dalam Bhagavad Gita. Mengenali kesejatian lewat bekerja yang tanpa pamrih (selfless action). Dan ini juga yang dimaksud dalam Al Hikam bahwa jika seseorang tertakdir hidup dalam maqom asbab (pekerja) maka titilah maqom itu, ga usah neko-neko pengen berhenti kerja dan jadi pertapa atau ulama yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu. Karena tiap orang ada jatahnya sendiri, dan lewat jalan itupun mereka tetap bisa menjadi spiritualis kok.

Tetapi kalau kita perhatikan. Jalan Dan Lok ini adalah jalan “mendaki”. Menjalani kehidupan dengan segala onak durinya untuk kemudian mendapatkan hikmah dan pengertian hidup pada puncak perjalanan mereka.

Ini bagus. Tetapi berbahaya dan sulit. Karena tak jarang pula dalam perjalanan orang berhenti sebelum sampai. Misalnya dia larut dalam kesuksesan. Lupa dengan kesejatian.

Baru saya pahami, jalan yang lebih aman adalah memang jalan yang dikatakan seorang arif dengan jalan profetik. Jalannya Nabi-nabi. Yaitu, pengertian-pengertian tentang keTuhanan atau ilmu makrifatullah itu jadikan sebagai pondasi. Walhasil dalam bekerja, misalnya, seseorang insyaAllah lebih cepat mendapatkan hikmah, karena sejak awal dia sudah tahu konsepnya bahwa hidup adalah ceritaNya. Jadi dia tidak mencari-cari, melainkan menjalani dengan konsep yang dia sudah paham, mengingati-NYA, kemudian sepanjang perjalanan adalah hikmah demi hikmah sesuai dengan jatah maqomnya sendiri-sendiri.

Pembelajaran mengenai keTuhanan. Dzikrullah. Mengetahui gambaran kehidupan secara lebih Spiritual, inilah domain tasawuf. Kepingan uang logam yang seringkali luput dipahami orang kantoran. (dan sering luput dipahami orang bukan kantoran juga. Hehehehe). Maka belajarlah tasawuf, inilah mutiara.


*) Gambar dicomot dari google images. bisa ditemukan disini juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s