SPIRITUALITAS ORANG SEDERHANA

Di perjalanan menuju kantor, ketimbang bengong saya baca-baca kisah Rabiah Al Adawiyah, beliau ini memang luar biasa.

Satu kisah yang masyhur tentang Rabiah Al Adawiyah yang pertama banget saya dengar adalah kisah jawaban retoris Rabiah Al Adawiyah, kepada seseorang yang bertanya padanya, apakah jika dia bertaubat maka Allah akan mengampuni?

Maka dijawab oleh Rabiah, yang kurang lebih maknanya adalah jika Allah mengampuni, maka pastilah seseorang itu akan tertakdir bertaubat.

Logika memandang kehidupan secara terbalik dari logika orang awam.

Dari situ saya baca-baca cerita tentang Rabiah Al Adawiyah. Beliau hidup semasa dengan seorang arif yang juga begitu terkenal, yaitu Imam Hasan Al Basri. Dengan Imam Hasan Al Basri ini juga ada cerita menariknya, dimana beliau Rabiah dipinang oleh Imam Hasan Al Basri, lalu ditolaknya pinangan tersebut oleh Rabiah karena tidak ada lagi ruang di hati Rabiah selain dari kecintaan pada Tuhannya.

Menilik orang-orang seperti Rabiah Al Adawiyah ini, kehidupan asketisnya sulit ditiru orang-orang kebanyakan. Diceritakan awalnya Rabiah ini adalah seorang budak, tetapi suatu malam tuannya melihat dia sedang bermunajat kepada Allah SWT, lalu ada lentera cahaya yang berpendar di atas kepalanya naik membubung tinggi ke langit, terangnya memenuhi ruangan. Tahulah sang majikan bahwa Rabiah ini bukan orang sembarangan, maka Rabiah dibebaskan.

Jalan spiritual Rabiah Al Adawiyah ini cukup berat. Beliau menghabiskan hari-hari dengan puasa, ibadah malam hari, memupus kecintaan pada dunia, bahkan saking tidak ada ruang lagi di hatinya untuk yang lain, beliaupun tidak menikah.

Orang-orang alim dari macam-macam penjuru datang bertamu pada beliau, dimana mereka mendengarkan nasihat-nasihat Rabiah, dan yang mendengarkan Nasihat-nasihat beliau itu bukan kelas ecek-ecek, malahan orang-orang selevel Hasan Al Basri, Malik Dinar, dan lain-lain.

Kalau melihat orang seperti beliau, waduh, jauh panggang dari api untuk mengejarnya. Tapi kembali lagi, tidak semua orang harus menjalani kehidupan asketis macam Rabiah. Ada jalan yang sederhana.

Saya teringat cerita yang ditulis Rumi dalam Fihi Ma Fihi, dimana beliau menjelaskan perbedaan pendekatan spiritualitas jalan Isa as dan jalan Muhammad SAW. Isa as, hidup spiritualitasnya adalah dengan tidak menikah, kerahiban.

Kerahiban ini, memang salah satu jalan spiritualitas. Seseorang bisa mendekat kepada Tuhan dengan meninggalkan segala kecenderungan duniawinya. Tetapi ada seni satu lagi, yaitu jalan Muhammad SAW, dimana beliau menikah.

Disitulah Rumi berkata bahwa justru dengan menikah, dan menjalani segala dinamikanya, kalau dimaknai secara benar maka spiritualitas seseorang bisa meningkat. Menikah, dijadikan ajang “pendakian” spiritualitas. Dengan bersabar dan bersyukur dalam dinamikanya. Dengan menikah, naik spiritualitasmu.

Saya seringkali melihat kawan-kawan yang sudah memasuki fase berumah tangga, mereka mulai “hijrah”. Ya ga mesti jadi sufi juga sih, hehehehe….. tapi pandangan keagamannya berubah. Karena memang apa lagi yang dicari?

Degan dapat tanggung jawab. Dengan perubahan status sebagai orang tua. Dan seterusnya, lambat laun cara pandang bergeser. Hikmah-hikmah hidup mendatangi satu persatu. Ujung-ujungnya spiritualitas juga. Dan pendakian spiritual lewat jalan ini adalah seperti lari marathon. Pelan-pelan, selow, tapi pasti.

Seseorang bisa meniti jalan spiritual dengan meninggalkan keduniawian sepenuhnya. Tetapi bisa pula meniti jalan spiritual dengan bergulat di dalam kehidupan, dan memaknai kehidupan ini sebagai ceritaNYA.

Takdirnya masing-masing.

Seperti ditulis oleh Syaikh Ahmad Sirhindi, dalam Syaria and Sufism. Bahwa jalan prophetic, tasawuf yang disandarkan pada risalah kenabian, ini sudah paling pas.

Seseorang tidak melakoni ritual-ritual yang berat yang memupus keduniawian dan memuncaki perjalanannya dengan ekstase, melainkan hidup berlandaskan syariat, dan berjalan dalam takdir keseharian yang biasa ini, ibadah, bermuamalah, seseorang tetap bisa kok mendapatkan pencerahan-pencerahan.

Kuncinya kita memahami perbedaan dua pendekatan itu.

Pendekatan tasawuf jalan profetik, bersandar risalah kenabian adalah mengenali Allah dahulu. Lewat ilmu. Barulah beribadah kepada Tuhan yang sudah dikenali. Dan bergulat dalam kancah dunia ini dengan kesadaran yang baru.


Source:

Fihi ma Fihi, Rumi

Syaria and Sufism, Syaikh Ahmad Sirhindi

Tales of Rabia Al-Adawiyya, Muhammad Vandestra

SPIRITUALITAS DAN JALAN MENCARI BAHAGIA

Dalam kebingungan saya dahulu, awal-awal menekuni spiritualitas saya tak paham benar apa bedanya spiritualitas islam dengan yang di luar islam?

Yang saya sering bingungkan adalah mengapa pendekatan spiritualitas dalam islam tidak begitu banyak membahas porsi mengenai meditasi, merenung ke dalam diri sendiri, mengenali fikiran-fikiran dan lintasan-lintasan fikiran, sampai menemukan “sang pengamat” di dalam diri? Mengapa hal ini tidak atau jarang sekali dijumpai dalam khasanah islam?

Padahal, setelah beberapa waktu menekuni tentang ini saya menjadi paham bahwa pengenalan terhadap diri sendiri, bagaimana lintasan fikiran dan emosi bekerja, dan seterusnya, adalah salah satu elemen yang sangat penting dalam menemukan kebahagiaan. Bagaimana bisa bahagia dan lepas dari duka lara jika tidak bisa masuk ke dalam diri dan melepaskan diri dari lintasan-lintasan fikiran yang sejatinya bukan diri kita? Emosi kita disetir oleh persepsi kita, dan bagi yang sering “masuk ke dalam” hal ini lambat laun makin terasa. Jadi ini penting banget.

Disitulah saya menjadi heran, kok porsi tentang ini dalam islam sedikit sekali? Dalam islam “pendekatan syariat” tentu hampir ga ada. Saya cari dalam “pendekatan spiritualitas” islam pun sedikit juga. Banyaknya malah tentang dzikir.

Agak lama juga tidak paham, sampai alhamdulillah menemukan harmoninya. Yaitu ternyata memang islam memandang bahwa kebahagiaan sejati bukanlah ditemukan dengan kemampuan kita untuk melepaskan diri dari fikiran-fikiran dan emosi. Melainkan kebahagiaan sejati diperoleh dengan menyerah total kepada Tuhan.

Seperti makna islam itu sendiri. Yaitu “menyerah”, submission. (selain dari maknanya yang lain semisal “keselamatan”)

Maka itu, barulah saya pahami mengapa penekanan pendekatan dalam Spiritualitas islam bukanlah mengajari orang masuk dalam dirinya dan berusaha lepas dari jerat fikiran dan emosi dsb. Melainkan porsi paling besar (dan juga paling dasar) adalah pelajaran mengenali Tuhan, mengenali Allah sebagai supreme being. Pencipta segala yang zahir dan batin. Yang tidak mirip dengan makhluk. Yang segala dualitas apapun saja bergantung padaNya. Yang tidak ada awal dan akhir, tetapi bagi segala sesuatunya diberikan awal dan akhir.

Islam memandang itulah kunci kebahagiaan sejati. Mengenali DIA, dan belajar menyerah padaNya. PengaturanNya.

Porsi-porsi pelajaran mengenali hati, mengenali diri sejati, mengenali lintasan fikiran, dll memang ada dibahas dalam spiritualitas islam. Tetapi tidak menjadi fokus utama, dia hanya sebatas membantu kita untuk mengerti bagaimana mengingatiNya, The Supreme Being, tanpa keliru-keliru menggantungkan persandaran dengan selainNya.

Dua pendekatan yang berbeda.

Bagi pendekatan yang pertama, porsi besarnya bukan pada Tuhannya, melainkan pada kemampuan olah batin dan melepaskan sejatinya diri dari fikiran-fikiran. Makin lepas diri sejati dari fikiran-fikiran, makin bahagialah dia. Karena sengsara duka lara itu adanya di fikiran.

Pendekatan kedua, approach islamic spiritualism adalah mengenali Allah swt sebagai Pencipta segalaNya, lalu perjalanan spiritualnya adalah terus menerus bersandar dan kembali padaNya dalam setiap jenak hidup. Makin bersandar, makin bahagialah dia, karena mengenali kehidupan sebagai jalan ceritaNya. Kebahagiaan sejati ditemukan dengan pergantungan Total kepada Pemilik Dunia.

Seperti dikatakan dalam Qur’an wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoiNya.

Tetapi saya menulis ini dalam perspektif seorang muslim, tidak merendahkan siapapun, dan hanya sebuah sharing saja bahwa ada perbedaan pendekatan antara spiritualitas islam atau umumnya disebut Tasawuf, dengan pendekatan spirirualitas di luar islam. Warna-warni dunia.

hanya saja bagi rekan-rekan muslim, saran saya jangan terlalu lama berada di pendekatan pertama. Karena memang bukan itu porsi besarnya Spiritualitas islam.

Seperti ungkapan yang masyhur. Awaluddin ma’rifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah.

Masuklah segera ke pendekatan kedua. Bedanya sangat mendasar. Tapi sering orang keliru.

DUA JALAN CARI PERHATIAN

Image result for mergingSewaktu saya masih kuliah di Bandung, saya mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan skripsi di kantor salah satu BUMN terbesar di Jakarta. Otomatis saya harus pergi bolak-balik Jakarta-Bandung, dan masalahnya adalah dimana saya harus menginap di Jakarta?

Alhamdulillah Allah berikan solusi, yaitu seorang kawan kuliah menawarkan untuk menginap di rumah orangtuanya di Jakarta. Sampai sekarang saya masih berhutang budi pada keluarga mereka itu.

Saya perhatikan kebiasaan keluarga itu. Setiap pagi Ayah rekan saya itu bangun pagi, sekedar menemani anaknya sarapan. Membantu memakaikan anaknya kaus kaki. Dan melepas kepergian anaknya berangkat ke sekolah, meski hanya dengan melambai sampai depan gerbang rumah. Prinsip beliau, harus melepas anak pergi sekolah, yang artinya bangun sebelum anak bangun, dan tidur setelah anaknya tidur. Padahal sang Ayah ini berangkat kerja siang hari, lalu pulang larut malam sampai dini hari, sempat-sempatnya dia bangun sekedar untuk rutinitas itu.

Setiap malam, dia selalu duduk santai di atas teras lantai dua, dengan genjreng-genjreng gitar nyanyi seadanya. Tetapi selepas bernyanyi dia menanyakan kabar anak-anaknya, bertanya juga pada saya tentang progress skripsi saya, lalu memberikan petuah sederhana saja, “Ntar juga kalau udah ‘waktunya’ kelar, skripsinya kelar juga. Jalanin aja…..” Sederhana, tak banyak teori tetapi dalam waktu itu saya merasa ada orang yang ‘hadir’. Tak banyak cakap, tapi selalu ‘hadir’. Ini luar biasa.

Belum lagi, mereka menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, tak lupa pula memberikan saya kotak makan siang untuk dibawa ke tempat magang skripsi. Padahal, status saya itu numpang nginap. Dikasih makan bekal pula. Setiap hari.

Dari obrolan-obrolan kami, saya tahu bahwa memberikan tempat menginap kepada orang-orang yang ‘butuh’ untuk menginap, adalah semacam tradisi keluarga mereka. Amal sederhana, tapi luar biasa.

Belakangan setelah saya bekerja dan menikah, saya hendak meniru ‘kesederhanaan’ keluarga itu, dan melakukan amalan-amalan ringan yang sama seperti yang saya lihat. Tetapi ternyata setelah mengalami sendiri kesibukan dunia kerja, kecenderungan psikologi saya pribadi, hal yang sederhana itu rupanya tidak gampang.

Belakangan saya merenungi tentang hal itu, dan ndilalah ketemu penjelasannya.

Metoda pertama, adalah memaknai amalan-amalan yang kita lakukan sebagai jalan “pendekatan” kepada Tuhan. Sehingga kita memiliki alasan pendorong. Istilah jaman sekarang, kita punya STRONG WHY.
Ilustrasinya, seperti kita hendak bertamu ke istana seorang Raja, lalu kita menunggu di pintu gerbang istana. Di depan pintu itu, kita “cari perhatian” dengan bantu-bantu nyabut rumput taman. Nyapu-nyapu jalan. Dan lain-lain, dengan harapan dibukakan pintu istana, hingga kita diberikan kesempatan bertemu Sang Raja.

Kita memahami, bahwa tindakan mencabuti rumput, dan tindakan menyapu jalan, itu tidak sebanding dan tidak akan pernah sebanding dengan hadiah Sang Raja pada kita, ditambah lagi diizinkan bertemu dengan sang Raja saja sudah anugerah luar biasa yang tidak bisa dinilai secara barter dengan ukuran nyabut rumput atau nyapu jalan. Amalan-amalan itu, hanyalah “Cara pendekatan”. Bukan untuk barter pahala.

Barulah saya paham bahwa inilah maksudnya mendekati Tuhan dengan wasilah atau perantaraan amal. Seperti di dalam Qur’an disebutkan “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Seperti cerita yang saya dengar dari YouTube ust. Adi Hidayat, dimana saat Malaikat mendatangi Nabi Ibrahim, beliau tak sadar yang datang adalah malaikat, lalu Nabi Ibrahim pergi ke belakang rumah dan sempat-sempatnya menyembelih anak sapi yang gemuk, untuk menjamu tamu. Sebuah ‘amal yang indah. Lalu malaikat mengabarkan berita gembira bahwa istri beliau Sarah akan mengandung anak, sebagai hadiah atas amal Ibrahim as.

Amal Saleh kita lakukan, karena mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan. Inilah metoda pertama untuk cari perhatian / pendekatan kepada Tuhan.
Baru saya tahu kenapa sulit melakukan amalan, karena saya tidak mempunyai alasan yang kukuh. Dengan alasan yang kukuh, dan memaknai amalan sebagai bentuk pendekatan agar “bertemu” Tuhan, maka beramal jadi lebih punya makna. Meskipun amalan-amalan itu akan menjelma sesuai dengan takdirnya sendiri. Ada orang-orang yang dimudahkan untuk melakukan suatu hal, ada yang dimudahkan melakukan hal lainnya.

Yang paling pokok, alasannya apa, yaitu “pendekatan” agar bertemu Tuhan.

Cara kedua dalam pendekatan kepada Tuhan, ini agak teknis. Kalau cara pertama itu adalah dengan aktivitas eksternal (luaran) untuk mendekati Tuhan. Cara kedua ini adalah aktivitas internal.

Yaitu Zikrullah. Bukan dengan menyebut-menyebut semata, tetapi memenuhi ruang batin kita dengan ingatan kepada Allah. Saya mengetahui metoda ini dari seorang arif yaitu Ust. Hussien Abdul Latiff.

Secara ringkas, seseorang bisa mendekati Tuhan dengan ‘amalan aktivitas eksternal, sebagai upaya menemukan Tuhan dalam kesehariannya. Bisa amalan yang beneran tersusun syariatnya seperti sedekah, puasa. Bisa juga dengan aktivitas sehari-hari misalnya bekerja di kantor tetapi dimaknai berbeda, yaitu sebagai “pendekatan” kepada Tuhan. Amal menjadi wasilah “mendekat”.

Tetapi ada juga cara mendekati Tuhan dengan “masuk ke dalam” dan memenuhi ruang batin dengan ingatan kepada Allah. Cara kedua ini senyap, umumnya tidak terdeteksi dari luar.

Baik cara pertama, maupun cara kedua, seperti sekeping uang logam yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.


*) image sources

THALUT, DAWUD, DAN DOSA YANG “MENDEKATKAN”

Ibnu Athaillah As Sakandari, dalam Al Hikam mengatakan bahwa boleh jadi Allah membukakan pada seseorang pintu ketaatan, tetapi tidak membukakan padanya pintu penerimaan. Atau boleh jadi Allah membukakan pintu penerimaan tetapi tidak membukakan padanya pintu ketaatan.

Dilanjutkan dalam wejangan lainnya di Al Hikam, yang kurang lebih maknanya adalah: dosa yang menghantarkan seseorang pada pertaubatan, boleh jadi lebih baik ketimbang ketaatan yang menimbulkan arogansi dan rasa besar diri.

Di sini terlihat beda antara cara pandang orang awam, dan cara pandang para arif dalam tasawuf. Orang awam, memandang pendosa dengan penuh kebencian, sedangkan para arif memandang bahwa boleh jadi seseorang menjadi dekat pada Tuhan lewat dosa.

Ada sebuah kisah klasik, yaitu kisah pertaubatan di zaman Nabi Dawud as. Tersebutlah seorang raja yang telah dipilih oleh Allah untuk memimpin dan mengembalikan kejayaan Bani Israil di masa itu. Raja itu bernama Thalut.

Tugas pertama Thalut adalah menumbangkan kezhaliman Jhalut (Goliath) bangsa amalik yang terkenal berbadan besar. Maka Thalut melakukan seleksi ketat kepada para tentaranya, yang salah satu diantara para tentara terpilih itu adalah Nabi Dawud as. yang bertubuh kecil karena saat itu masih remaja.

Dalam medan perang, sudah masyhur kita dengar bahwa Nabi Dawud mengalahkan Jhalut yang raksasa itu dengan ketapelnya. Jhalut yang tinggi besar itu tumbang.

Lalu kisah berikutnya Nabi Dawud dinikahkan dengan puteri sang raja Bani Israil, putri Thalut tadi.

Namun lama kelamaan popularitas Dawud as mengungguli sang Raja itu sendiri, sehingga terbit rasa amarah di hati Thalut, dan dia hendak membunuh Dawud as.

Sang Putri Thalut, tahu rencana itu dan membocorkannya kepada Nabi Dawud as, untuk melindungi suaminya. Nabi Dawud as. bersembunyi dari ancaman Thalut.

Tetapi kian lama, kekuasaan Thalut kian melemah, dia mulai memerintah dengan tangan besi, dan masyarakat mulai membangkang padanya. Sampai akhirnya Nabi Dawud as berhasil mengalahkannya.

Merasa malu dengan kesalahannya, maka Thalut pergi meninggalkan istananya, dia hidup mengembara dan bertaubat dari kesalahannya.

Nabi Dawud as. Akhirnya menjadi raja. Dikenal sebagai seorang yang bijak, dan begitu artikulatif, mampu memutuskan perkara-perkara yang pelik (dikaruniai hikmah). Beliau juga dianugerahi suara yang begitu indah, sampai jika dia membaca Zabur, maka burung-burung akan terbang mengapung di udara untuk mendengarkan bacaannya, dan bercericit menggaungkan melodinya.

Tapi suatu ketika Nabi Dawud as. juga bertaubat atas kesalahannya.

Dikisahkan bahwa saat Nabi Dawud as. sedang ada di mihrabnya, dua orang berhasil menerobos penjagaan, dan memanjat tembok mihrab-nya.

Nabi Dawud terkejut dengan orang yang tiba-tiba menyelinap itu. Tetapi mereka mengatakan bahwa mereka hanya ingin bertanya suatu masalah. Dan meminta Nabi Dawud as. memutuskan perkaranya dengan adil.

Diceritakan bahwa mereka berselisih karena salah seorang dari mereka memiliki 99 kambing, dan dengan kekuasaannya orang yang punya 99 kambing itu ingin mengambil kambing milik seseorang lainnya yang hanya memiliki satu kambing saja.

Nabi Dawud as, langsung berpihak pada seorang yang memiliki satu kanbing itu, dan mengatakan bahwa betapa banyak orang-orang yang berserikat itu berbuat Zalim. (QS Shad: 20-26)

Setelah mengatakan hal tersebut, dua orang yang bertengkar tadi menghilang, maka tahulah Nabi Dawud as bahwa mereka adalah malaikat utusan Allah yang datang untuk menguji Nabi Dawud as. Maka Nabi Dawud tersungkur dan bertaubat atas kesalahannya, yaitu terburu-buru dalam memutuskan suatu perkara, dan tidak mendengarkan pendapat dua belah pihak.

Karena tertakdir “salah” maka Thalut dan Nabi Dawud as mendekat kepada Tuhan lewat pintu pertaubatan. Begitupun Nabi Adam as. Yunus as. Musa as.

Saya teringat seorang guru pernah berkata, bahwa orang-orang yang berdosa, itu umpama tentara yang sedang terluka di medan laga. Tugas kita, sebagai sesama pejuang (dalam medan perang tiada henti melawan syaitan) adalah menolong mereka, bawa ke medik, sampai sembuh, lalu mereka bisa kembali bertempur kembali.

Ditambah lagi kita mengetahui bahwa seringkali dosa menjadi jalan seseorang mendekat kepada Tuhan.

Sebagian para alim, mengatakan bahwa karena Allah Maha Pengampun, maka akan selalu ada hambanya yang tertakdir berdosa, untuk kemudian bertaubat dan diampuni.

Sebagian arif lainnya, melihat secara lebih tinggi lagi, bahwa orang yang tertakdir berdosa sejatinya hanya mengikut perjalanan takdir mereka. Karena Allah bersendagurau pada diriNya sendiri. Tetapi bahasan yang ini sedikit pelik dan biarlah arif yang kompeten membahasnya.

Kita cukupkan diri kita untuk tidak menghakimi orang-orang yang sedang tertakdir berdosa.

yang pokok bukan dosa atau pahala, melainkan konteks cerita apapun saja yang ada pada kita sekarang bisa menjadi pintu “kembali”.

*) sources:

– The Great Stories Of Quran, Syekh M.A Jadul Maula

– Al Hikam, Ibnu Athaillah As Sakandari

AYAM PANGGANG, KUCING, DAN TULISAN YANG SAMPAI KE HATI

Dalam satu kisah yang sangat masyhur, diceritakan saat Syaikh Abdul Qadir Jailani berceramah di depan murid-muridnya, anak beliau membatin, bahwa jika saja dirinya yang diberikan kesempatan berceramah maka tentu para jamaah akan menangis karena kehebatan retorikanya.

Syaikh Abdul Qadir Jailani tak lama kemudian memberikan kesempatan putranya untuk berceramah. Maka majulah putra beliau itu, dan memberikan ceramah penuh retorika dengan kutipan ayat-ayat dan hadits yang banyak sekali. Tetapi tak ada satupun jamaah yang menangis.

Tak lama kemudian giliran Syaikh Abdul Qadir Jailani yang naik mimbar dan berceramah yang sangat sederhana. kata Beliau kurang lebih, “hadirin, tadi malam istriku menghidangkan padaku sebuah ayam panggang, tapi kemudian seekor kucing datang dan memakannya.”

Mendengar ungkapan yang sangat sederhana itu, maka jamaah menangis deras. Heranlah sang anak, mengapa ungkapan yang begitu sederhana malah membuat orang-orang menangis?

Jawabannya adalah kebijakan yang banyak sekali kita dengar dari para arif, bahkan para ahli hikmah, “Sesuatu yang berasal dari hati, akan sampai ke hati.”

Kononnya, para jamaah mentafakuri ungkapan sang syaikh dengan maksud menjaga amalan dari riya (ayam panggang diibaratkan amalan, kucing yang mencuri ayam diibaratkan riya yang menghilangkan pahala amalan), dan lain-lain lagi penafsiran.

Berkaca kembali dengan ceritra yang saya baca berapa tahun silam ini, saya merenungi diri sendiri dan menyadari sebuah keengganan di hati saya untuk kembali menulis cerita-cerita atau tulisan-tulisan yang panjang dan bersayap. Karena retorika tidaklah memberi faedah apa-apa selain hanya memuaskan dahaga penulisnya sendiri. Maka di tahun 2019 ini semoga tulisan-tulisan menjadi lebih keluar dari hati. Karena sudah banyak kita lihat tulisan-tulisan, yang muncul dari hati para alim, dan para arif yang jujur, malah awet tak lapuk dimakan masa.