THALUT, DAWUD, DAN DOSA YANG “MENDEKATKAN”

Ibnu Athaillah As Sakandari, dalam Al Hikam mengatakan bahwa boleh jadi Allah membukakan pada seseorang pintu ketaatan, tetapi tidak membukakan padanya pintu penerimaan. Atau boleh jadi Allah membukakan pintu penerimaan tetapi tidak membukakan padanya pintu ketaatan.

Dilanjutkan dalam wejangan lainnya di Al Hikam, yang kurang lebih maknanya adalah: dosa yang menghantarkan seseorang pada pertaubatan, boleh jadi lebih baik ketimbang ketaatan yang menimbulkan arogansi dan rasa besar diri.

Di sini terlihat beda antara cara pandang orang awam, dan cara pandang para arif dalam tasawuf. Orang awam, memandang pendosa dengan penuh kebencian, sedangkan para arif memandang bahwa boleh jadi seseorang menjadi dekat pada Tuhan lewat dosa.

Ada sebuah kisah klasik, yaitu kisah pertaubatan di zaman Nabi Dawud as. Tersebutlah seorang raja yang telah dipilih oleh Allah untuk memimpin dan mengembalikan kejayaan Bani Israil di masa itu. Raja itu bernama Thalut.

Tugas pertama Thalut adalah menumbangkan kezhaliman Jhalut (Goliath) bangsa amalik yang terkenal berbadan besar. Maka Thalut melakukan seleksi ketat kepada para tentaranya, yang salah satu diantara para tentara terpilih itu adalah Nabi Dawud as. yang bertubuh kecil karena saat itu masih remaja.

Dalam medan perang, sudah masyhur kita dengar bahwa Nabi Dawud mengalahkan Jhalut yang raksasa itu dengan ketapelnya. Jhalut yang tinggi besar itu tumbang.

Lalu kisah berikutnya Nabi Dawud dinikahkan dengan puteri sang raja Bani Israil, putri Thalut tadi.

Namun lama kelamaan popularitas Dawud as mengungguli sang Raja itu sendiri, sehingga terbit rasa amarah di hati Thalut, dan dia hendak membunuh Dawud as.

Sang Putri Thalut, tahu rencana itu dan membocorkannya kepada Nabi Dawud as, untuk melindungi suaminya. Nabi Dawud as. bersembunyi dari ancaman Thalut.

Tetapi kian lama, kekuasaan Thalut kian melemah, dia mulai memerintah dengan tangan besi, dan masyarakat mulai membangkang padanya. Sampai akhirnya Nabi Dawud as berhasil mengalahkannya.

Merasa malu dengan kesalahannya, maka Thalut pergi meninggalkan istananya, dia hidup mengembara dan bertaubat dari kesalahannya.

Nabi Dawud as. Akhirnya menjadi raja. Dikenal sebagai seorang yang bijak, dan begitu artikulatif, mampu memutuskan perkara-perkara yang pelik (dikaruniai hikmah). Beliau juga dianugerahi suara yang begitu indah, sampai jika dia membaca Zabur, maka burung-burung akan terbang mengapung di udara untuk mendengarkan bacaannya, dan bercericit menggaungkan melodinya.

Tapi suatu ketika Nabi Dawud as. juga bertaubat atas kesalahannya.

Dikisahkan bahwa saat Nabi Dawud as. sedang ada di mihrabnya, dua orang berhasil menerobos penjagaan, dan memanjat tembok mihrab-nya.

Nabi Dawud terkejut dengan orang yang tiba-tiba menyelinap itu. Tetapi mereka mengatakan bahwa mereka hanya ingin bertanya suatu masalah. Dan meminta Nabi Dawud as. memutuskan perkaranya dengan adil.

Diceritakan bahwa mereka berselisih karena salah seorang dari mereka memiliki 99 kambing, dan dengan kekuasaannya orang yang punya 99 kambing itu ingin mengambil kambing milik seseorang lainnya yang hanya memiliki satu kambing saja.

Nabi Dawud as, langsung berpihak pada seorang yang memiliki satu kanbing itu, dan mengatakan bahwa betapa banyak orang-orang yang berserikat itu berbuat Zalim. (QS Shad: 20-26)

Setelah mengatakan hal tersebut, dua orang yang bertengkar tadi menghilang, maka tahulah Nabi Dawud as bahwa mereka adalah malaikat utusan Allah yang datang untuk menguji Nabi Dawud as. Maka Nabi Dawud tersungkur dan bertaubat atas kesalahannya, yaitu terburu-buru dalam memutuskan suatu perkara, dan tidak mendengarkan pendapat dua belah pihak.

Karena tertakdir “salah” maka Thalut dan Nabi Dawud as mendekat kepada Tuhan lewat pintu pertaubatan. Begitupun Nabi Adam as. Yunus as. Musa as.

Saya teringat seorang guru pernah berkata, bahwa orang-orang yang berdosa, itu umpama tentara yang sedang terluka di medan laga. Tugas kita, sebagai sesama pejuang (dalam medan perang tiada henti melawan syaitan) adalah menolong mereka, bawa ke medik, sampai sembuh, lalu mereka bisa kembali bertempur kembali.

Ditambah lagi kita mengetahui bahwa seringkali dosa menjadi jalan seseorang mendekat kepada Tuhan.

Sebagian para alim, mengatakan bahwa karena Allah Maha Pengampun, maka akan selalu ada hambanya yang tertakdir berdosa, untuk kemudian bertaubat dan diampuni.

Sebagian arif lainnya, melihat secara lebih tinggi lagi, bahwa orang yang tertakdir berdosa sejatinya hanya mengikut perjalanan takdir mereka. Karena Allah bersendagurau pada diriNya sendiri. Tetapi bahasan yang ini sedikit pelik dan biarlah arif yang kompeten membahasnya.

Kita cukupkan diri kita untuk tidak menghakimi orang-orang yang sedang tertakdir berdosa.

yang pokok bukan dosa atau pahala, melainkan konteks cerita apapun saja yang ada pada kita sekarang bisa menjadi pintu “kembali”.

*) sources:

– The Great Stories Of Quran, Syekh M.A Jadul Maula

– Al Hikam, Ibnu Athaillah As Sakandari