BUAH-BUAHAN SYURGA DAN KISAH-KISAH SEPANJANG MASA

Related image

Karena anak saya ingin mendengarkan kisah-kisah atau dongeng pengantar tidur, dan saya tidak terlalu hafal akan dongeng-dongeng anak, akhirnya terpaksalah saya kembali menekuni membaca ulang kisah-kisah para Nabi untuk saya ceritakan kembali pada anak sebelum tidur.

Agaknya, ini cara Allah SWT untuk memaksa saya belajar kembali, dan ternyata menekuni ulang kisah-kisah Para Nabi itu mengasyikkan.

Saya barulah menyadari mengapa di dalam Al Qur’an banyak berisi kisah-kisah, karena kisah-kisah itu memang berpengaruh bagi jiwa manusia. Dia bisa menjadi teladan yang indah.

Ini sebenarnya juga menjawab pertanyaan saya sendiri, kenapa orang-orang arif zaman dahulu sering memasukkan nasihat-nasihat dalam bingkai cerita dan perumpamaan, dihias di dalam tembang atau syair, kenapa kok tidak nyablak saja biar gampang?

Ternyata, nasihat-nasihat yang dibingkai dalam bentuk kisah, seringkali bertahan lama, dan mudah dicerna.

Mayoritas isi Al Qur’an ternyata adalah kisah-kisah. Pelajaran-pelajaran ada di dalam kisah-kisah manusia. Seseorang akan lebih tertarik untuk mempelajari “nilai-nilai” yang tertulis dalam tekstual, jika mengetahui bahwa nilai-nilai itu sebenarnya tentang manusia dan kisah hidupnya.

Mendengar kisah-kisah para Nabi itu, anak saya jadi semangat. “Wah pengen jadi Nabi, Pa.” Katanya

“Ngarang…..” saya tertawa, “mana ada Nabi cewek, yang ada hanya orang-orang shalih yang berperingkat tinggi, seperti Maryam. Lagian setelah Rasulullah SAW ga ada lagi Nabi. Udah jadi orang biasa aja, Jadi Nabi atau wali ujiannya berat, hehehe.”

Salah satu kisah yang menarik hati saya dan saya ceritakan pada anak saya, adalah tentang kesalihan keluarga Imran.

Imran hidup sezaman dengan Nabi Zakariya as. Imran sendiri bukanlah Nabi, tetapi adalah orang yang salih. Imran dan istrinya bernazar jika memiliki anak (laki-laki) nanti anaknya akan diserahkan ke Baitul Maqdis, untuk dididik menjadi abdi kepada Tuhan.

Ndilalah yang lahir bukan anak laki-laki, tetapi perempuan, yang kemudian diberikan nama Maryam.

Ibunda dari Maryam, tetap menitipkan anaknya ke Baitul Maqdis untuk diajari disana, dan mengabdikan hidupnya disana. Diadakanlah undian, karena orang-orang mengetahui bahwa Maryam adalah anak dari Imran yang Shalih, para pemuka agama di Baitul Maqdis berebut ingin mengurus Maryam kecil itu.

Singkat cerita jatuhlah takdir undian pada Zakariya as. Seorang Nabi yang kemudian mengasuh Maryam di Baitul Maqdis. Zakariya as. Adalah pamannya Maryam.

Dikisahkan Maryam as. Menghabiskan hari-harinya dengan beribadah kepada Tuhan, siang dan malam di dalam Mihrab-nya. Dia memiliki tempat yang khusus / mihrab-nya sendiri di Baitul Maqdis. Mempelajari kitab-kitab terdahulu.

Sampai suatu ketika saat pamannya Nabi Zakariya as. Mengunjungi Maryam di mihrabnya, kagetlah Zakariya as. Demi mendapati bahwa di dalam Mihrab Maryam terdapat macam-macam buah-buahan yang tidak mungkin dari sekitar sana, karena buah-buahan itu dari musim yang berbeda. Ditanyakan pada Maryam, darimana makanan itu?

Lalu Maryam menjawab dari sisi Allah SWT. Allah memberikan rizki kepada siapa saja yang dikehendakiNYA, tanpa batas (QS Ali Imran : 37)

Saya jadi teringat bahasan lawas dalam kajian sufistik, yaitu kajian tentang maqom asbab dan tajrid, yaitu maqom usaha atau maqom pasrah. Maryam as. Adalah orang yang menghabiskan hidupnya untuk berbakti pada Tuhannya, siang malam di Baitul Maqis di mihrabnya, ibadah. Nyatanya rizkinya tetap dijamin juga oleh Allah SWT.

Nah model kita-kita ini kalau duduk seharian di musholla ya repot juga, hehehehe. Teringat kisah seorang sahabat yang ditemui Rasulullah karena pagi-pagi sudah diam di masjid sampai siang. Ternyata beliau sedang kekurangan uang. Maka diajarkan sebuah doa oleh Rasulullah SAW untuk mempermudah rizkinya. Tetapi tetap saja, disuruh kerja.

Tapi yang saya pengen cerita bukan masalah klasik asbab-tajrid, melainkan kenyataan bahwa bahasan-bahasan pelik spiritual seringkali menemukan bentuk yang lebih membumi dan gampang dicerna dalam kisah-kisah.

Sebagaimana Rumi menemukan bahwa prosa-prosa panjang seringkali malah “melelahkan” untuk dikaji murid-muridnya, hingga akhirnya dia menulis bentuk-bentuk cerita dalam Matsnawi.

Seperti ungkapan Albert Einstein, if you cannot explain it simple, you don’t understand it well enough. Kalau seseorang belum bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, penanda bahwa dia belum sepenuhnya paham.

Jadi topiknya sekarang ini bagaimana membahasakan hal yang pelik dalam kisah-kisah yang sederhana. hehehe.


*) Image sources from this link

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s