AGAR BERHENTI MERASA SEBAGAI ORANG PENTING

power-of-listening

Berapa waktu lalu dalam suatu kunjungan kerja, saya bertemu dengan seseorang berkebangsaan Belanda. Berbincang-bincang mengenai pengalaman kerjanya, dan mengenai hal-hal menarik di Belanda seperti bunga tulip belanda, dan ciri khas negri itu dengan kincir anginnya. Sampai ke obrolan mengenai kesamaan beberapa makanan dan ciri khas bangunan seperti jembatan atau bendungan antara Indonesia dan Belanda.

Rekan tersebut menguasai beberapa bahasa sekaligus, Belanda, Inggris, Portugis, Spanyol, satu lagi saya lupa bahasa apa. Yang paling saya ingat adalah fakta menarik bahwa rekan tersebut senang mempelajari bahasa karena mengaitkan bahwa bahasa adalah cerita tentang manusia itu sendiri. Dia menyebutkan bahwa ada yang namanya peta perubahan kata, jadi misalnya peta dunia, lalu di-overlay dengan sebuah kata misalnya “mother”, lalu kata mother itu bergerak dari sumber asalnya sembari mengalami perubahan bentuk-bentuk kata di berbagai tempat. Wow….. keren nih, saya bergumam. Baru ini saya dengar. Mengingat kemampuan bahasa saya cuma sebatas Indonesia dan English gaya pasar, hahaha.

Tapi yang menarik adalah fakta bahwa rekan tersebut kerjanya berkaitan dengan mesin-mesin, ahli rancang bangun mekanis, tetapi ketertarikannya dalam hidup adalah mengamati manusia dan kebudayaan, lewat bahasa itu sendiri.

Hal-hal semacam itu, terus terang jarang teramati oleh saya dulu. Karena kecenderungan jika bertemu dengan orang lain saya ingin bercerita, tetapi belakangan setelah saya agak mendewasa –ehem- kecenderungan itu berubah, saat bertemu orang lain saya lebih senang mendengar.

Teringat saya seorang guru pernah memberi analogi. “Bayangkan jika esok kamu meninggal dunia, apakah matahari masih berputar?”

Orang-orang menjawab, “Masih.”

Lalu ditanya kembali, “Apakah lusanya matahari masih berputar?”

Dijawab lagi, “Masih.”

Dikatakan oleh guru tersebut, bahwa memang begitu. Dari dulu kehidupan ini sudah berjalan, dengan atau tanpa kita. Tanpa kita pun matahari masih muncul dan dunia melanjutkan kehidupannya. Oleh karena itu janganlah kita merasa penting.

Agaknya kekata itu cukup menohok di hati saya, walhasil perasaan merasa penting di dalam kehidupan pelan-pelan menjadi pudar.

Bukan berarti kita tidak ada gunanya, tentu setiap potongan kehidupan ada manfaatnya. Tetapi maksudnya kehidupan menjadi  lebih terlihat seperti sebuah pentas drama besar, tempat Tuhan bercerita tentang banyak hal. Dan membaca cerita-cerita itu sungguh menarik hati.

Saya bertemu dengan seorang rekan yang lain lagi. Seorang pekerja migas bule dari keluarga yang tidak berpunya, lalu kehidupan berputar dan membuatnya menjadi memiliki penghasilan fantastis. Mengingat dia hidup dari latas belakang yang kurang berpunya, membuatnya begitu gampang trenyuh dengan kesulitan-kesulitan hidup orang lain. Orang ini bahkan pernah pergi ke tempat seorang renta dan secara sukarela menawarkan untuk memotong rumput pekarangannya.

Bertemu lagi dengan orang cina yang malang melintang ke berbagai negara karena tugasnya sebagai auditor, dia bercerita tentang bagaimana dia melihat kehidupan dari sudut sains. Dia tak punya agama tertentu, tapi lewat sains dia menyadari pelan-pelan bahwa kehidupan ini tentang DIA.

Berkesempatan pula saya mengunjungi beberapa negara tetangga, melihat hiruk pikuk orang lalu lalang. Mencoba MRT (yang di Jakarta malah saya belum coba, hehehehe). Lalu menyadari bahwa makin lama, batas-batas bangsa itu makin pudar. Dimana-mana kita temukan orang-orang bercampur campur, ada melayu, cina, ada India, orang-orang bule barat, ada orang-orang arab. Semua bercampur-campur. Kehidupan menjadi tidak sebatas sekat-sekat negara lagi.

Teringat saya dengan kutipan di Al Qur’an bahwa kita diciptakan berbangsa-bangsa, bersuku-suku agar saling kenal mengenali.

Dan mengamati kehidupan yang beragam-ragam ini, setelah tahu bahwa diri kita pribadi adalah bukan pusatnya cerita hidup ini, malah jadi mengasyikkan.

Kalau kita hidup dan seluruh perhatian tertumpu pada diri kita sendiri, cerita-cerita dalam kehidupan malah sering tidak tertangkap mata. Saya mengingat diri saya sendiri dulu seperti itu.

Ada kisah, dulu waktu masih kuliah kami punya seorang teman. Beliau ini cukup “ajaib”. Bukan orator ulung, bukan orang yang jago ceramah, bukan pula orang yang secara fisikal sangat rupawan, tetapi temannya banyak sekali, bukan buatan.

Lama kita-kita merenungi, ini orang apaaa rahasianya? Hehehe. Dia seperti punya daya pikat magis, membuat orang-orang betah dekat dengan beliau. Sampai-sampai saya mengamati beneran lho, sepanjang hari saya amati dan saya tak menemukan apa resepnya.

Sampai suatu ketika, berapa puluh tahun kemudian, jeng jeng jeng jeng…. Dalam sebuah kesempatan kunjungan kerja saya melipir sebentar ke toko buku Periplus di bandara, dan membeli sebuah buku klasik yang ditulis ulang oleh Dale Carnegie, yaitu “How To Win Friends and Influence People” setelah baca seperempat buku, baru saya temukan jawabannya bahwa yang membuat orang-orang lengket dengan kita adalah pujian yang tulus. Tanpa disadarinya mungkin, rekan saya dulu itu selalu secara tulus menghargai orang lain, mungkin memuji, atau tulus mendengar.

Kita melihat di dalam kehidupan, kadang-kadang kita bergidik membaca berita-berita dimana orang-orang bisa melakukan hal-hal yang tak masuk akal karena dirinya merasa tidak dihargai. Orang bisa membunuh, melakukan kekerasan, dll. Bahkan kalau kita melihat kehidupan perpolitikan, orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan jabatan, barangkali juga disetir dengan keinginan untuk merasa diakui dan dianggap ada. (tentu yang tulus juga ada). Karena memang itu salah satu keinginan-keinginan manusia, terlepas dari kebutuhan-kebutuhan fisik manusia juga butuh untuk diakui dan dianggap ada.

Oooh…. Ini kuncinya. Baru saya tahu. Berikan pujian yang tulus, dan secara natural kita tertarik dengan orang tersebut, maka orang akan menjadi teman.

Tetapi memang agak sulit, kalau kita masih merasa bahwa diri kita penting. Jika kita merasa penting, maka kecenderungan kita akan bercerita tentang diri kita saja. Setiap bertemu orang, kita akan bercerita tentang diri kita sendiri.

Setelah menyadari bahwa hidup ini seperti sebuah panggung besar tempat DIA menceritakan diriNYA, barulah kita menyadari bahwa banyak hal-hal menarik dalam hidup kita. Karena perhatian sudah mulai lepas dari kerangkeng diri kita yang sempit.

Saya rasa itulah maksud dari banyak orang-orang arif mengatakan. Setelah melewati kepentingan-kepentingan diri sendiri, seseorang akan menyadari bahwa langkah berikutnya dalam hidup adalah berbuat untuk orang lain secara ikhlas. “Selflessly serving other”.

Seperti yang Nabi pernah katakan, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Keinginan untuk membantu orang lain (dalam apapun bentuknya) ini akan menggedor-gedor diri kita. Lihatlah daftar philanthropist dunia, disana berderet orang-orang tenar yang puncak capaian karir duniawinya luar biasa. Tapi rata-rata di penghujung karirnya mereka menjadi philanthropist, banyak derma, karena saya rasa mereka sudah selesai dengan diri mereka sendiri, dan menyadari bahwa hidup ini tentang selflessly serving other, tentang secara ikhlas berbuat kebaikan untuk orang lain.

Dan kebaikan-kebaikan itu tidak melulu benda sih. Bisa juga dengan pujian yang tulus. Bisa juga dengan ketertarikan yang natural pada orang lain. Tapi tangga pertamanya mungkin adalah kesadaran bahwa hidup ini bukan tentang kita. Agar kita berhenti merasa diri sebagai orang penting, lalu mulai melihat hidup sebagai pagelaran besar ceritaNya.

Disitulah baru terasa bahwa berbuat kebaikan untuk orang lain secara tulus itu bisa “mencerahkan”,  karena kita melihat hidup ini toh cerita tentang DIA.


*) gambar dipinjam dari link ini