MERANGKAK DENGAN BAHAGIA

Sekitar dua hari lalu, di beranda facebook seliweran berita tentang seorang paramedis di palestina yang tewas ditembak oleh tentara Israel saat sedang menyelamatkan korban. Sebuah ending yang heroik sekali, kita berduka, sekaligus kagum pada orang-orang yang mendarma baktikan kehidupannya untuk kebaikan.

Kisah lainnya yang viral adalah kisah seorang Miliuner Australia, yang mendermakan begitu banyak dari hartanya untuk amal sosial. Membangun 200 desa untuk janda-janda miskin, membangun masjid, membangun sekolah untuk 600 anak yatim, dan rumah sakit, belum lagi bisnis mensupport komunitas-komunitas lokal. Dan terakhir beritanya beliau meninggal dunia karena kanker, tetapi sebelum meninggal beliau meninggalkan sebuah rekaman video yang juga menyentuh sekali.

Terlepas dari kebijakan tingkat tinggi, bahwa setiap orang sudah tertakdir untuk melakukan amalan yang dituliskan untuk mereka, saya seringkali berdecak kagum pada orang-orang yang luar biasa itu, mereka membuat saya merasa seperti “merangkak” menuju Tuhan, sedangkan mereka “berlari”.

Orang-orang yang berlari menuju Tuhan, inilah yang membuat saya sering merasa begitu kecil.

Yang lumayan menenangkan di kala saya merasa ketertinggalan seperti itu, adalah wejangan seorang arif, yang mengatakan bahwa bukan tertib / tata ibadah “luaran” yang sampai pada Tuhan, melainkan “ingatan” atau yang “dalam”.

Maksudnya, tentu bukan mengatakan bahwa amal ibadah di luar tidak berarti, justru sangat berarti, tetapi saya memandangnya bahwa jika yang di dalam dibenahi, mudah-mudahan amal luar kita yang sedikit bisa menjadi berarti. Syukur-syukur ditakdirkan semakin banyak dan semakin luas.

orang-orang yang tidak tertakdir untuk memiliki kapasitas berbuat kebaikan sosial sebesar mereka-mereka yang saya sebut di atas tadi, bisa juga berharap, karena pada intinya sesuatu yang “di dalam” inilah yang nanti akan sampai pada NYA.

Barangkali, yang mewakili mengenai ini adalah sebuah ayat berikut : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

Juga berikut ini, Abu Bakar Ibn Ayyas berkata, “Abu bakar mengungguli kalian bukan dengan banyaknya ia puasa atau shalat, tetapi dengan sesuatu yang tertanam kokoh dalam hatinya.”[1]

Lumayan menghibur bukan? hehehe….. belajar membenahi hati, sehingga amal yang sedikit mudah-mudahan berarti. Jadi ga ketinggalan-ketinggalan amat.

Ada satu penggalan puisi dari Rumi, yang mengharu biru

Jalaluddin Rumi tentang Taubat:

Jika engkau belum mempunyai ilmu dan hanyalah prasangka,
maka milikilah persangkaan yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!

Jika engkau baru mampu merangkak,
maka merangkaklah kepada-Nya!!

Jika engkau belum mampu berdo’a dengan khusyu’,
maka tetaplah persembahkan do’amu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan dalam rahmatNya tetap menerima mata uang palsumu.

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!

Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayolah datang, dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa…
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku,
karena Aku-lah jalan itu.”

::

Bagi yang sedang merangkak, para guru mengatakan bahwa rahmatNYA tentu lebih cepat daripada usaha hambaNYA. Jadi merangkaklah dengan bahagia.


[1] (Mifah Dar As-Sa’adah, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah – 1/82)

Note: Gambar ilustrasi dan feature dipinjam dari link ini

Iklan

ROMANTISME PENGHAMBAAN (2)

Melihat anak-anak kecil berlarian di depan Musholla komplek, menjelang waktu sholat tarawih, saya jadi teringat masa-masa kecil saya dulu. Keseruan Ramadhan. Hal yang paling dinanti saat puasa ramadhan, justru momen-momen indah bermain bersama teman-teman.

Jadi teringat sewaktu menghadiri kelas parenting di TK anak saya, narasumber menyebutkan bahwa hal yang paling utama, dalam pendidikan anak usia kurang dari 7 tahun adalah menanamkan rasa bahagia dalam memori mereka, atas momen-momen ibadah seperti sholat, atau puasa. Jadi yang penting justru “rasa bahagia”nya dulu, bukan full-nya dulu. Jika hati sudah bahagia, maka kedepannya akan ringan mengerjakannya.

Betapa sebuah “kebenaran” yang disampaikan dengan cara yang indah dan menyentuh romantisme kemanusiaan, bisa menjadi mudah masuk dan awet.

Hampir senada dengan itu, saya mengingat bahwa orang dewasa pun sebenarnya sama saja dengan anak-anak. Sebagian para arif, mereka sudah sampai pada kedudukan dimana mereka tidak perlu alasan-alasan untuk menemui Tuhan. Mereka sibuk mengingatiNya, sampai lupa dengan alasan-alasan. Sedangkan, mayoritas kita adalah orang-orang yang untuk mengingatiNya butuh alasan-alasan, misalnya, “do’a” atau permohonan.

Dengan menyentuh sisi romantisme penghambaan, maka orang-orang seperti kita bisa punya alasan-alasan untuk selalu berdo’a kepada Tuhan. Meningati Tuhan, lewat do’a, lewat alasan-alasan Butuh inilah, butuh itulah. Bersyukur karena inilah, bersyukur karena itulah. Berlindung dari sesuatu, dan macam-macam.

Teringat seorang guru pernah berkata, jika kita rasa tak puas akan sesuatu, maka berdo’alah, meminta pertolongan.

Seorang sahabat bertanya kepada beliau, mengapa beliau tak berdo’a untuk kesembuhan matanya yang memakai kacamata? sedangkan do’a beliau insyaAllah makbul?

Jawaban beliau kalau saya bahasakan ulang kurang lebih tak semestinya kita-kita yang belum “sampai” memraktekkan hal itu (yaitu tidak berdo’a karena ridho pasrah pada af’al Tuhan). Karena ada adabnya sendiri-sendiri. Ada yang menggunakan alasan-alasan untuk mengingatiNya, ada yang tak lagi perlu alasan-alasan.

Mereka para arif, sudah tenggelam dalam penyaksian. Sedangkan kita-kita membutuhkan alasan-alasan lewat kelemahan kehambaan kita, baru bisa merangkak menuju tangga dimana mereka-mereka sudah sampai.

Itu untuk dialektika pribadi.

Begitupun dalam menyampaikan pada orang lain.

Saya membaca bagaimana seorang Rumi berevolusi dalam caranya menyampaikan pada murid-muridnya. Dalam Fihi Ma Fihi, tulisan-tulisan Rumi lebih berbentuk prosa panjang. Sedangkan, dalam bukunya yang belakangan, yaitu Matsnawi, tulisan-tulisan Rumi lebih berbentuk cerita, kisah-kisah, perlambang-perlambang lewat hikayat dan dongeng. Karena kononnya Rumi menyadari bahwa ceritra-ceritra lebih bisa menyentuh sisi romantisme kemanusiaan ketimbang prosa-prosa panjang.

Saya menikmati romantisme kelemahan kehambaan itu, saat merenungi sholat Jum’at tadi siang. Betapa sudah ribuan Jum’at yang saya lewati, dan perjalanan ini terasa begitu panjang dan romantis dalam segala onak duriNya. lewat rasa butuh dan rasa syukur itulah, saya punya alasan-alasan untuk berdo’a padaNya. Mengejar ketertinggalan para Arif yang sudah sampai di pintuNya.

Terngiang kembali pesanan seorang Arif, kalau belum bisa langsung mengingatNya -tanpa alasan-alasan-, maka lewatilah pintu do’a.

-debuterbang-


Note : Gambar ilustrasi dan feature di tulisan ini, saya pinjam dari link berikut ini

BELAJAR MAKNA DARI PENGEPEL LANTAI

Di sebuah toko komputer yang baru dibuka, seorang cleaning service yang mengepel lantai ditanyai oleh seseorang yang ternyata adalah CEO perusahaan tersebut, tetapi petugas kebersihan tidak menyadarinya. “Apa yang sedang engkau kerjakan?” Tanya CEO itu.

“Aku sedang berkontribusi dalam kegiatan mencerdaskan kehidupan orang banyak lewat cara mengepel toko komputer besar ini”.

Jawaban petugas kebersihan itu membuat sang CEO kaget. Karena cara petugas kebersihan itu memaknai apa yang dia kerjakan dalam sebuah konteks yang lebih besar daripada sebatas mengepel lantai semata.

Mengajarkan kita untuk sentiasa memandang kehidupan dalam konteks yang paling besar, itulah salah satu domainnya tasawuf. Seorang arif mengatakan, puncak segala ilmu adalah mengetahui bahwa kehidupan ini sejatinya ialah senda gurauNya. DIA bermain dengan dzat (ciptaan)Nya sendiri. Konteks paling puncak dalam hidup.

Sungguhpun begitu, untuk serta merta selalu memakai pemaknaan itu dalam keseluruhan hidup kita, tidak segampang membalikkan telapak tangan.

Suatu ketika saya berbincang dengan adik saya yang baru saja diterima bekerja pada salah satu stasiun TV di Jakarta. Pekerjaan yang menyita waktu, dan penyesuaian di tempat baru yang memakan tenaga dan emosi. Saya tanya, bagaima cara dia menikmatinya?

Dalam pada itu, adik saya menjawab bahwa dia selalu membayangkan bahwa dirinya adalah seorang petarung di oktagon UFC, dengan membayangkan seperti itu, timbul semangat tidak mau kalah, dan tidak gampang menyerah. Hehehe…cara yang unik.

Saya jadi teringat mengenai maqom ini, karena melihat pemaknaan yang adik saya coba pakai dalam menyemangati dirinya sendiri. Betapapun, adik saya sudah pernah juga saya beritahu pemaknaan yang lebih tinggi tadi, yaitu melihat dunia ini sebagai senda guraunya Tuhan. Tetapi dalam gerak refleks, yang muncul adalah pemaknaan yang masih menjadi “maqom” kita.

selama pemaknaan yang lebih tinggi belum ditakdirkan menjadi “maqom” kita, maka akan sulit kita menggunakan pemaknaan itu sebagai bagian utuh dari diri kita dalam menghadapi kehidupan kita.

Dan saya menilai diri sendiripun sangat sering sekali “terlepas” dari pemaknaan yang lebih tinggi, yang diajarkan sang Arif, bahwa keseluruhan lini hidup ini mestilah dipandang sebagai senda gurauNya, pada dzat (Ciptaan)Nya sendiri. Kadang-kadang cara pandang masih terlampau duniawi dan sebab-akibat.

Ndilalah, saat lagi di perjalanan dari rumah ke kantor, saya membaca Matsnawi-nya Rumi, iseng-iseng. Tertumbuk pandangan saya pada sebuah tulisan dimana Rumi mengingatkan ada dua jalan utama mencapai Allah Ta’ala. Yang pertama adalah orang-orang yang ditarik olehNYA menujuNYA, seperti dalam ayat للَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ (Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya), dan jalan kedua adalah orang-orang yang dipandu jalan menujuNya, karena mereka “kembali” kepadaNya وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (QS Asy-Syura : 13)

Segelintir saja, orang-orang terpilih yang ditarik menujuNya, ujug-ujug langsung sampai.

Kebanyakan kita, adalah tipe kedua. Orang-orang yang “kembali” kepadaNya, dan semoga dengan “kembali” itu kita dituntunkan jalan.

“Kembali” itu maknanya lebih luas dari sekedar mentaubati dosa. Seperti ilustrasi seorang pengepel lantai yang mencoba memaknai hidupnya secara lebih luas tadi, begitulah pula orang yang taubat atau “kembali”, maknanya adalah mencoba meletakkan hidupnya dalam cara pandang yang baru, yang berkaitan dengan DIA menceritakan diriNYA.

Hanya saja, seberapa jauh kita bisa bersikukuh menggunakan cara pandang itu, tergantung maqom yang dianugerahkan pada kita.

Dan saya teringat wejangan Arif, bahwa pada akhirnya, meskipun seolah-olah kita menujuNya lewat segala peribadatan kita, pada akhirnya tetap “tarikan”NYA-lah yang menyampaikan kita padaNya. Perumpamaannya seperti berjalan menuju pintu gerbang, lalu semata-mata sang pemilik gerbang lah yang membuka pintu dan mengundang kita masuk.

Jika baik jalan pertama, maupun jalan kedua, pada akhirnya semua terserah pemilik gerbang, maka harapan kita menjadi merekah lagi. Betapapun kurang baiknya peribadatan dan persembahan kita, kita tahu bahwa anugerah dan kebaikanNYA melampaui kerdilnya usaha hambaNya.


Note:

  • Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini
  • Kisah pengepel lantai, kalau saya tak salah ingat, saya baca dari buku tentang Steve Jobs. Tapi saya tak ingat persis di buku yang mana, mungkin saja keliru. hehehe.

TIDAK BERLARI DARI PERBEDAAN

conflict-624x390

Ada salah satu kecenderungan pribadi saya, yang saya sadari belakangan setelah bekerja di kantoran. Yaitu kecenderungan untuk menghindari perbedaan.

Kecenderungan menghindari perbedaan ini, ternyata setelah saya dengan jujur menyelami diri saya, saya ketahui rupanya berkaitan dengan rasa khawatir terhadap kritik.

Contohnya begini. Berapa tahun lalu, suatu hari seorang karyawan mengirimkan sepotong pesan whatsapp kepada saya, bertanya tentang kesempatannya untuk promosi.

Saya, selaku mediator dalam urusan promosi karyawan, merasa bahwa integritas saya dipertanyakan. Padahal saya sudah banting tulang melakukan upaya agar karyawan tersebut dipromosikan oleh bos. Maka, saya sedikit reaktif. Dan membalas whatsapp tersebut dengan nada ketus.

Ketika itu, konflik (perbedaan pendapat, atau sedikit gesekan) secara reaktif saya tafsirkan sebagai mempertanyakan integritas saya. Seolah-olah, saya orang jujur, kok kamu ga percaya?

Tak lama, setelah saya lebih tenang, baru saya menyadari bahwa jika saya dalam posisi karyawan tersebut, tentu saya akan melakukan hal yang sama yaitu bertanya. Dan kepada siapa lagi saya bertanya jika bukan pada orang yang dipercaya sebagai mediator. Maka dalam hal ini karyawan tersebut tidak keliru, yang keliru adalah saya sendiri karena bersifat reaktif. Sedangkan karyawan tersebut, berada dalam ketidak tahuan karena minim informasi.

Lama saya menyelami kepribadian saya yang satu itu, sampai saya secara jujur menarik kesimpulan bahwa kecenderungan untuk menghindari konflik, telah secara tidak langsung menyebabkan saya menjadi orang yang tidak suka dengan kritik. Karena saya cenderung menginginkan keseragaman.

Padahal, dunia ini tidak mungkin seragam. Karena fithrahnya dunia memang dijadikan beraneka ciptaan. Bahkan Rasulullah SAW dalam suatu ketika ditegur oleh Allah SWT, saat beliau begitu berduka akan keingkaran ummatnya, kok ingkar terus padahal sudah didakwahi. Rasuluallah SAW saja ditegur, dikatakan bahwa tugas Nabi hanya menyampaikan, sedangkan perkara orang ikut atau tidak, itu urusanNYA.

Artinya segala sesuatu dijadikan tidak seragam, memang karena Allah maunya begitu. Dan ada hikmah disebaliknya.

Karena kita memang tidak seragam, maka konflik yang sehat, sebatas berbeda dan gesekan-gesekan yang menimbulkan dialog, adalah baik.

Yang tidak baik adalah, melulu menghindari perbedaan. Sehingga takut menyampaikan sesuatu, karena menginginkan ketenangan. Padahal, ketenangan yang dibangun dari rasa tidak siap menerima perbedaan, adalah ketenangan yang semu.

Sebuah pepatah mengatakan, truth over harmony. Kebenaran, harus didahulukan ketimbang harmoni. Oleh karena itu, konflik, atau gesekan perbedaan, dalam tataran tertentu selama sesuai dengan syariat, itu masih baik. Dialog untuk saling memahami (kalian diciptakan berbangsa-bangsa bersuku-suku agar kalian saling kenal mengenali).

Saya ambil contoh dalam dunia korporasi. Sekarang para pimpinan perusahaan mengetahui bahwa healthy conflict, konflik atau perbedaan pendapat dalam suasana yang sehat, itu baik untuk perusahaan. Artinya, mesin pemikiran dalam perusahaan itu bekerja. Dan artinya lagi, bahwa banyak talenta di dalam perusahaan itu mendekati atau berusaha menganalisa masalah dengan pendekatan yang berbeda-beda.

Satu tips, secara spiritualitas islam, untuk menyikapi perbedaan dengan apik adalah dengan memandang bahwa disebalik semua perbedaan sifat-sifat itu, sejatinya adalah “satu”. Dzat ciptaanNya. Dan dalam mengambil tindakan, kita menyadari bahwa kita semata-mata menjalankan peranan atau fungsi kita dalam pagelaran ini. Dalam pentas dunia ini.

Tindakan-tindakan yang kita lakukan, selalu kita sadari sebagai bagian dari pentas dunia. Tiap orang menjalankan fungsi masing-masing.

Perlahan-lahan, sikap yang cenderung melarikan diri dari perbedaan, menjadi hilang. Perbedaan akhirnya disadari sebagai sesuatu yang natural. Selama dalam dunia ciptaan, maka riuh rendah perbedaan adalah niscaya.

Seperti kekata Rumi, “Kebenaran sejati selalulah ada di dalam hakikat, tetapi orang dungu mencarinya di dalam kenampakan.”

SENI BERBAHAGIA

Saya teringat bagaimana seorang tukang GoJek bisa menulari saya rasa bahagia. Waktu itu Siang hari panas terik, saya memesan GoJek dari sebuah warung nasi padang di dekat kantor.

Dapat tukang GoJek yang tertawa-tawa seru sepanjang jalan. Menceritakan bahwa dia tinggal di dekat area perkantoran saya, tetapi jarang sekali mendapatkan pesanan di sekitar sana. Biasanya selalu jauh-jauh. Ndilalah kebetulan hari itu dia dapat pesanan saya. Dia tertawa, baginya mendapat orderan jauh di hari panas terik itu lucu.

Dipikir-pikir, dia dan saya menikmati hari yang panasnya luar biasa itu. Dan dia juga menghadapi hari yang keras juga, muka lecek, badan bau asep, tapi dari mukanya raut bahagia terpancar. Beliau menguasai seni bahagia di hari yang melelahkan.

Saya tak sempat bertanya apa tips beliau agar happy terus, tetapi seketika rasa sumpek saya akibat kerjaan kantor menjadi sirna, tertawanya beliau mengingatkan saya kembali bahwa kebahagiaan itu erat kaitannya dengan bagaimana kita melihat hidup dari kacamata pemahaman kita. rupa-rupanya untuk bahagia itu ada seninya. Dan seni bahagia itu memang harus dipelajari.

Teringat kembali, bahwa sebenarnya tasawuf itu seni juga. Karena dengan mengenal Tuhan-lah baru hidup bisa dimaknai dengan lebih bahagia. Jadi mengerti bahwa Tuhan Maha Kasih, dan juga bahwa Tuhan suka gurau juga rupanya.

Sesuatu yang jarang ditemukan dalam kajian yang semata mengupas syariat belaka. Dua keping mata uang yang harus seiring, lahir dan batin.

Baru saja hari ini kita mendengar pemboman di sebuah gereja. Tertegun saya mendengar itu, kerukunan dalam kebhinekaan bangsa yang besar ini kembali digoyang.

Tentu saja sangat boleh jadi ada unsur politis dalam kejadian ini. Tetapi, tidak menutup fakta juga bahwa pemahaman keagamaan yang keras, bisa menjadi kendaraan tunggangan yang gampang digunakan oleh siapapun yang menginginkan kekacauan.

Saya rasa, salah satu solusi adalah mengenalkan kembali masyarakat pada Tasawuf. Ilmu mengenal Tuhan, dan dalam salah satu bahasannya adalah seni memandang kehidupan dalam citraNya yang Jamaal. Indah. Welas Asih. Dan menaungi semua. Agar kehidupan tidak setiap saat dipandang sebagai medan perang. Dan yang berbeda harus dimusnahkan.

Keberagamaan tanpa ada sentuhan sisi batin atau spiritualitas barangkali akan menjadi terlampau formal dan garang.

Mudah-mudahan, Rahmatan Lil Alamin-nya islam bisa kembali terasa.

TUMBUH BERSAMA

Meskipun suasana di kantor swasta seringkali banyak intrik nuansa persaingannya, tetapi ada juga momen-momen dimana saya melihat pimpinan-pimpinan di kantor saya sangat mengapresiasi, dan mempromosikan agar karir bawahannya naik.

Sejujurnya saya sempat heran juga dengan budaya apresiasi seperti itu. Kenapa seorang pimpinan bersusah-susah mempromosikan bawahannya?

Ternyata, saya baru memahami logika perusahaan. Bahwa perusahaan yang sehat itu adalah yang memiliki rencana suksesi yang tersusun rapih. Dan juga, seorang pimpinan akan lebih mudah untuk naik jabatan secara vertikal, atau juga pindah posisi lain secara lateral Jika sudah ada suksesi.

Karena itu, agar roda perusahaan berjalan baik, maka standar kesehatan sebuah perusahaan ya salah satunya dilihat dari bagaimana perusahaan itu bisa memajukan karyawannya.

Semangat untuk tumbuh bersama ini yang kadang-kadang dilupakan dalam dunia korporasi. Karena, orang-orang sering berlindung dibalik pemahaman yang keliru mengenai aktualisasi diri.

Aktualisasi diri, salah satu motivasi pendorong manusia bergerak, menurut teori Abraham Maslow itu, dipahami secara sempit sebagai ajang narsis.

Padahal, maksudnya Maslow dengan “aktualisasi diri” itu adalah bagaimana agar potensi diri seseorang bisa tersalurkan sepenuh-penuhnya.

Ibaratnya mengoptimalkan potensi mesin dirinya agar full terberdayakan dalam kehidupan.

Tetapi kebanyakan orang-orang masih menganggap bahwa “aktualisasi diri” itu ya diri kita bersinar, sementara yang lain tenggelam.

Padahal, kalau dipikir-pikir, ummat manusia sebenarnya sudah belajar bahwa logika persaingan semacam itu, logika saling menenggelamkan itu, tidak sehat.

Zaman dulu, kita hidup dalam dunia yang penuh konflik dan peperangan. Setiap negara menginvasi negara lain, saling menghancurkan. Sampai jadinya perang dunia.

setelah era rusuh itu reda, manusia mulai berfikir bahwa sebenarnya keuntungan tetap bisa diraih justru dengan membangun kerjasama yang baik dengan orang lain. Sekarang pasar bebas. Kerjasama global. Dst.

Contoh sederhana, yaitu toko kelontongan di dekat rumah saya. Awalnya di sana hanya satu toko yang berjualan peralatan rumah tangga. Lalu tak lama satu toko lagi buka, lalu yang lain pun buka. Hal ini bisa dianggap sebagai peperangan, atau malah momen kerjasama, karena hampir semua orang membuka toko dengan tema yang sama, maka jadilah area itu dikenal sebagai sentra peralatan rumah tangga. Konsumen malah makin datang.

Misalnya mall, kalau kita ke mall yang banyak alat elektronik, kita lihat disana memang bersaing, tetapi dalam sisi lain juga mereka bekerja sama. Kalau kita beli di toko A, seandainya tidak ada barang, mereka akan bilang “ada”, lalu mereka ke toko sebelahnya, beli barang dari sana, jual ke kita. Itu juga model kerja sama.

Cara kita memahami bahwa kehidupan ini tidak akan lepas dari kebutuhan untuk saling menumbuhkan satu sama lain, berefek sangat besar.

Umpamanya di dunia korporasi, sebuah perusahaan yang mengakui bahwa untuk menjadi pimpinan, seseorang haruslah bersinar mengalahkan orang lainnya, maka perusahaan itu akan tumbuh menjadi tempat sikut-sikutan.

Tetapi, jika kita menyadari bahwa nilai kehidupan ini adalah tumbuh bersama, maka seseorang akan diapresiasi bukan dari seberapa cemerlangnya dia mengalahkan orang lain, tetapi dari seberapa banyak dia membantu orang lain untuk bertumbuh. Spirit untuk tumbuh bersama.

Khoirunnas anfauhum linnas.

Terlebih lagi, jika kita melihat fakta bahwa ada sekian banyak orang yang saat telah sampai di pucuk karir mereka, mereka menjadi lebih dermawan, jadi philantropist, lebih religius, hidup santai, karena mereka mengetahui bahwa kehidupan ini ternyata berkelindan dengan hidup orang lain juga. Mereka malah hidup untuk membantu orang lain. Spirit untuk tumbuh bersama menjadi semakin besar.

Baru-baru inilah saya memahami mengenai ini lewat dunia kerja. Akhirnya melihat rekan-rekan tidak lagi terpandang sebagai lawan dalam karir. Melainkan terlihat sebagai sesama manusia yang bertumbuh.

Para arif, sebenarnya sudah membahas hal ini jauh-jauh hari. Mereka memandang semua makhluknya itu sama, melintasi batas-batas ras, kedudukan, bahkan agama. Mereka murni berkebaikan kepada sesama makhluk Tuhan.

Akan tetapi, kadang-kadang bahasan itu seperti rasa diawang-awang dan jauh dari kenyataan. Sampai kemudian kita tersadar, bahwa bahasan sufistik semacam itu rupanya dekat sekali dengan keseharian kita setiap hari. Begitulah Allah mengajari.

-debuterbang-


*) image taken from here

SELESAI DENGAN DIRI SENDIRI

Beberapa hari ini, untuk melepas kebosanan saya membaca komik yang menggambarkan masa-masa perang zaman dulu kala di China, zaman-zaman kekaisaran. Ternyata banyak sekali pelajaran bisa dipetik.

Saya membaca, bagaimana para jenderal perang harus dihadapkan pada keputusan-keputusan yang sulit. Kadangkali, keputusan-keputusan sulit itu bertabrakan dengan nilai-nilai personal. Misalnya, orang yang gampang trenyuh melihat orang lain susah, akan sulit menjadi Jenderal perang. Karena dia tidak bisa melampaui kediriannya yang sempit, dan tidak bisa melihat secara lebih luas.

Dia boleh jadi adalah orang yang baik, tetapi tidak bisa menanggung tugas yang besar.

Jika nilai-nilai yang kita anut, adalah nilai-nilai yang “rendah”, kita biasanya sulit bergerak. Karena masih “belum selesai dengan diri sendiri”.

Saya baru menyadari maksud pernyataan “belum selesai dengan diri sendiri” setelah mempelajari pendekatan sufistik, dan lalu melihat gambaran-gambaran kehidupan masa lalu dalam ceritra-ceritra wayang atau komik sejarah, baru semuanya menjadi make sense.

untuk “Selesai dengan diri sendiri”, kita harus memahami kehidupan dalam paradigma yang “tinggi”. Melihat hidup tidak sebatas personal kita sendiri, melainkan ceritraNya. Senda gurauNya. Seorang arif mengatakan lihatlah kehidupan ini dari Bird Eye View, pandangan yang tinggi dan menyeluruh.

Umpamanya, seorang jenderal di masa peperangan, dia akan sulit bergerak mengatur tentara, jika hatinya tertambat pada kesedihan. Persis seperti ceritra Mahabarata dimana Arjuna mengalami kebimbangan saat dirinya berada di medan perang Kurusetra. Bagaimana mungkin dia memimpin peperangan, yang mana peperangan ini hanya akan berujung pada banjir darah. Kenapa ini harus terjadi? Sedangkan dia sudah di medan perang dan tentara menunggu di hadapan.

Untuk keluar dari kesedihan karena dibelit situasi peperangan, Arjuna harus ditarik ke dalam paradigma yang lebih tinggi. Bukan sebatas paradigma seorang jenderal yang melihat bahwa korban dalam peperangan adalah hal yang tak terelakkan, melainkan Paradigma yang di atas itu lagi, dia tidak lagi melihat hidup sebatas kehidupan personal dirinya dan keluarganya, tetapi sebagai ceritra Tuhan. Kalau di epos Mahabarata, untuk supaya Arjuna bisa meninggalkan paradigma lamanya, dia dibimbing oleh Krishna. (Barangkali itu juga mengapa Arjuna digambarkan agak-agak kemayu, mungkin maksudnya adalah Arjuna seorang yang berhati “baik”, tetapi bagaimanapun berhati “baik” tidak bisa mengemban tugas besar tanpa melangkah ke cara pandang yang lebih tinggi, jika tidak, justru orang-orang yang berhati “baik” lah yang paling susah untuk menyelesaikan tugas.Karena terhenti oleh rasa empati personalnya).

Melihat analogi ceritra itu, saya perhatikan kaitannya dengan kajian sufistik, (utamanya pendekatan tasawuf profetik yang saya pelajari dari seorang arif) benarlah kiranya mengapa pemahaman mengenai Tuhan; asal muasal kehidupan; kaitannya antara Tuhan dan alam semesta; serta pengenalan tentang takdir bahwa seluruh cerita kehidupan ini sebenarnya untuk menceritakan DIA saja; semua hal itu diletakkan paling awal. Karena, awaluddin makrifatullah.

Sulit seseorang melangkah secara benar dan tegap dalam kehidupan ini, tanpa benar dulu cara pandang kita di hulunya kehidupan ini, barulah segala aktivitas di hilir akan berarti.

Umpamanya kita seorang pekerja kantoran. Kita mengikuti pelatihan marketing, pelatihan karakter dan tema-tema motivasi semacam itu, semua itu akan lebih tajam jika kita memahaminya lewat kacamata yang paling hulu, yaitu bahwa kehidupan ini tidak bisa dipisahkan dari kaitannya dengan Tuhan menceritakan diriNya. Semua tidak bisa lepas dari pangkal jalan. Kenapa kehidupan ini ada? Darimana kehidupan ini berasal?

Tidak bisa seseorang hanya mengejar kemampuan marketing, lalu sukses di bidang finansial, tapi tidak mengerti untuk apa kok tiba-tiba dia ada di dalam hidup, dan menjadi manajer yang sukses? Tanpa terjawab pertanyaan itu, dia akan selalu merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ada yang kurang, entah apa. Belum selesai.

Seperti membersihkan sungai. Kalau hulunya belum bersih, maka sia-sialah pekerjaan membersihkan hilir sungai. Tetapi kalau hulunya bersih, barulah pekerjaan membersihkan bagian hilir sungai akan memberikan dampak yang kelihatan.

Saya rasa, Itulah mengapa di dalam sebuah ayat dikatakan, Tuhan tidak merubah nasib suatu kaum, sebelum mereka merubah “diri” mereka sendiri. Merubah “diri” atau “nafs” itu lebih ke merubah paradigma. Cara pandang yang paling mendasar tentang kehidupan berubah, barulah hal lain dapat dijalankan dengan maksimal karena sudah selesai dengan diri sendiri. Tidak lagi mengasihani diri sendiri. Atau tidak lagi menyalahkan keadaan dan tidak menyalahkan orang lain. Dirinya siap menjalankan hidup dalam sikap penghambaan.

Mereka sudah selesai dengan dirinya sendiri.

-debuterbang-