AGAR BERHENTI MERASA SEBAGAI ORANG PENTING

power-of-listening

Berapa waktu lalu dalam suatu kunjungan kerja, saya bertemu dengan seseorang berkebangsaan Belanda. Berbincang-bincang mengenai pengalaman kerjanya, dan mengenai hal-hal menarik di Belanda seperti bunga tulip belanda, dan ciri khas negri itu dengan kincir anginnya. Sampai ke obrolan mengenai kesamaan beberapa makanan dan ciri khas bangunan seperti jembatan atau bendungan antara Indonesia dan Belanda.

Rekan tersebut menguasai beberapa bahasa sekaligus, Belanda, Inggris, Portugis, Spanyol, satu lagi saya lupa bahasa apa. Yang paling saya ingat adalah fakta menarik bahwa rekan tersebut senang mempelajari bahasa karena mengaitkan bahwa bahasa adalah cerita tentang manusia itu sendiri. Dia menyebutkan bahwa ada yang namanya peta perubahan kata, jadi misalnya peta dunia, lalu di-overlay dengan sebuah kata misalnya “mother”, lalu kata mother itu bergerak dari sumber asalnya sembari mengalami perubahan bentuk-bentuk kata di berbagai tempat. Wow….. keren nih, saya bergumam. Baru ini saya dengar. Mengingat kemampuan bahasa saya cuma sebatas Indonesia dan English gaya pasar, hahaha.

Tapi yang menarik adalah fakta bahwa rekan tersebut kerjanya berkaitan dengan mesin-mesin, ahli rancang bangun mekanis, tetapi ketertarikannya dalam hidup adalah mengamati manusia dan kebudayaan, lewat bahasa itu sendiri.

Hal-hal semacam itu, terus terang jarang teramati oleh saya dulu. Karena kecenderungan jika bertemu dengan orang lain saya ingin bercerita, tetapi belakangan setelah saya agak mendewasa –ehem- kecenderungan itu berubah, saat bertemu orang lain saya lebih senang mendengar.

Teringat saya seorang guru pernah memberi analogi. “Bayangkan jika esok kamu meninggal dunia, apakah matahari masih berputar?”

Orang-orang menjawab, “Masih.”

Lalu ditanya kembali, “Apakah lusanya matahari masih berputar?”

Dijawab lagi, “Masih.”

Dikatakan oleh guru tersebut, bahwa memang begitu. Dari dulu kehidupan ini sudah berjalan, dengan atau tanpa kita. Tanpa kita pun matahari masih muncul dan dunia melanjutkan kehidupannya. Oleh karena itu janganlah kita merasa penting.

Agaknya kekata itu cukup menohok di hati saya, walhasil perasaan merasa penting di dalam kehidupan pelan-pelan menjadi pudar.

Bukan berarti kita tidak ada gunanya, tentu setiap potongan kehidupan ada manfaatnya. Tetapi maksudnya kehidupan menjadi  lebih terlihat seperti sebuah pentas drama besar, tempat Tuhan bercerita tentang banyak hal. Dan membaca cerita-cerita itu sungguh menarik hati.

Saya bertemu dengan seorang rekan yang lain lagi. Seorang pekerja migas bule dari keluarga yang tidak berpunya, lalu kehidupan berputar dan membuatnya menjadi memiliki penghasilan fantastis. Mengingat dia hidup dari latas belakang yang kurang berpunya, membuatnya begitu gampang trenyuh dengan kesulitan-kesulitan hidup orang lain. Orang ini bahkan pernah pergi ke tempat seorang renta dan secara sukarela menawarkan untuk memotong rumput pekarangannya.

Bertemu lagi dengan orang cina yang malang melintang ke berbagai negara karena tugasnya sebagai auditor, dia bercerita tentang bagaimana dia melihat kehidupan dari sudut sains. Dia tak punya agama tertentu, tapi lewat sains dia menyadari pelan-pelan bahwa kehidupan ini tentang DIA.

Berkesempatan pula saya mengunjungi beberapa negara tetangga, melihat hiruk pikuk orang lalu lalang. Mencoba MRT (yang di Jakarta malah saya belum coba, hehehehe). Lalu menyadari bahwa makin lama, batas-batas bangsa itu makin pudar. Dimana-mana kita temukan orang-orang bercampur campur, ada melayu, cina, ada India, orang-orang bule barat, ada orang-orang arab. Semua bercampur-campur. Kehidupan menjadi tidak sebatas sekat-sekat negara lagi.

Teringat saya dengan kutipan di Al Qur’an bahwa kita diciptakan berbangsa-bangsa, bersuku-suku agar saling kenal mengenali.

Dan mengamati kehidupan yang beragam-ragam ini, setelah tahu bahwa diri kita pribadi adalah bukan pusatnya cerita hidup ini, malah jadi mengasyikkan.

Kalau kita hidup dan seluruh perhatian tertumpu pada diri kita sendiri, cerita-cerita dalam kehidupan malah sering tidak tertangkap mata. Saya mengingat diri saya sendiri dulu seperti itu.

Ada kisah, dulu waktu masih kuliah kami punya seorang teman. Beliau ini cukup “ajaib”. Bukan orator ulung, bukan orang yang jago ceramah, bukan pula orang yang secara fisikal sangat rupawan, tetapi temannya banyak sekali, bukan buatan.

Lama kita-kita merenungi, ini orang apaaa rahasianya? Hehehe. Dia seperti punya daya pikat magis, membuat orang-orang betah dekat dengan beliau. Sampai-sampai saya mengamati beneran lho, sepanjang hari saya amati dan saya tak menemukan apa resepnya.

Sampai suatu ketika, berapa puluh tahun kemudian, jeng jeng jeng jeng…. Dalam sebuah kesempatan kunjungan kerja saya melipir sebentar ke toko buku Periplus di bandara, dan membeli sebuah buku klasik yang ditulis ulang oleh Dale Carnegie, yaitu “How To Win Friends and Influence People” setelah baca seperempat buku, baru saya temukan jawabannya bahwa yang membuat orang-orang lengket dengan kita adalah pujian yang tulus. Tanpa disadarinya mungkin, rekan saya dulu itu selalu secara tulus menghargai orang lain, mungkin memuji, atau tulus mendengar.

Kita melihat di dalam kehidupan, kadang-kadang kita bergidik membaca berita-berita dimana orang-orang bisa melakukan hal-hal yang tak masuk akal karena dirinya merasa tidak dihargai. Orang bisa membunuh, melakukan kekerasan, dll. Bahkan kalau kita melihat kehidupan perpolitikan, orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan jabatan, barangkali juga disetir dengan keinginan untuk merasa diakui dan dianggap ada. (tentu yang tulus juga ada). Karena memang itu salah satu keinginan-keinginan manusia, terlepas dari kebutuhan-kebutuhan fisik manusia juga butuh untuk diakui dan dianggap ada.

Oooh…. Ini kuncinya. Baru saya tahu. Berikan pujian yang tulus, dan secara natural kita tertarik dengan orang tersebut, maka orang akan menjadi teman.

Tetapi memang agak sulit, kalau kita masih merasa bahwa diri kita penting. Jika kita merasa penting, maka kecenderungan kita akan bercerita tentang diri kita saja. Setiap bertemu orang, kita akan bercerita tentang diri kita sendiri.

Setelah menyadari bahwa hidup ini seperti sebuah panggung besar tempat DIA menceritakan diriNYA, barulah kita menyadari bahwa banyak hal-hal menarik dalam hidup kita. Karena perhatian sudah mulai lepas dari kerangkeng diri kita yang sempit.

Saya rasa itulah maksud dari banyak orang-orang arif mengatakan. Setelah melewati kepentingan-kepentingan diri sendiri, seseorang akan menyadari bahwa langkah berikutnya dalam hidup adalah berbuat untuk orang lain secara ikhlas. “Selflessly serving other”.

Seperti yang Nabi pernah katakan, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Keinginan untuk membantu orang lain (dalam apapun bentuknya) ini akan menggedor-gedor diri kita. Lihatlah daftar philanthropist dunia, disana berderet orang-orang tenar yang puncak capaian karir duniawinya luar biasa. Tapi rata-rata di penghujung karirnya mereka menjadi philanthropist, banyak derma, karena saya rasa mereka sudah selesai dengan diri mereka sendiri, dan menyadari bahwa hidup ini tentang selflessly serving other, tentang secara ikhlas berbuat kebaikan untuk orang lain.

Dan kebaikan-kebaikan itu tidak melulu benda sih. Bisa juga dengan pujian yang tulus. Bisa juga dengan ketertarikan yang natural pada orang lain. Tapi tangga pertamanya mungkin adalah kesadaran bahwa hidup ini bukan tentang kita. Agar kita berhenti merasa diri sebagai orang penting, lalu mulai melihat hidup sebagai pagelaran besar ceritaNya.

Disitulah baru terasa bahwa berbuat kebaikan untuk orang lain secara tulus itu bisa “mencerahkan”,  karena kita melihat hidup ini toh cerita tentang DIA.


*) gambar dipinjam dari link ini

SPIRITUALITAS DAN JALAN MENCARI BAHAGIA (2)

Image result for happiness

Seseorang didatangi oleh peternak sapi, “apakah engkau melihat sapiku yang hilang? Aku tidak sanggup mengalami dua kedukaan sekaligus.” Kata sang peternak sapi itu kepada orang yang dia temui.

“Apa yang terjadi?” tanya orang yang ditemui itu.

“Duabelas sapiku hilang dari peternakan, setelah sebelumnya hama menyerang kebunku dan memusnahkan semua tanamannya.” Jawab peternak itu.

“Aku tidak melihat sapimu.” Jawab orang yang ditanyai itu. “Barangkali lari ke arah lain.”

Lalu sang peternak sapi itu pergi meninggalkan orang tersebut, bergegas mencari sapinya yang hilang.

Tak lama, orang yang ditanyai itu berpaling kepada murid-muridnya, ternyata beliau adalah seorang “guru” yang memiliki beberapa murid.

“Sahabatku, tahukah kalian bahwa kalian adalah orang yang paling berbahagia di dunia? Mengapa? Karena kalian tidak punya sapi dan tidak punya tanaman untuk kehilangan.”

Orang bijak itu, adalah sang tercerahkan yang begitu terkenal sampai sekarang, yaitu Pangeran Siddharta Gautama, atau dikenal sebagai Buddha. Orang yang tercerahkan.

Menekuni spiritualitas islam, membuat saya tertarik untuk membaca pendekatan spiritualitas dari dunia timur, dalam hal ini berapa hari belakangan saya membaca pendekatan antara Buddha dan Islam. Banyak para sarjana yang mulai menulis perbandingan ini dalam cara pandang untuk saling mengerti satu sama lain, mengerti bedanya dan mengerti persamaannya. Bukan untuk saling menghakimi.

Kembali ke ceritra di atas, dimana Buddha memberi tahu kepada para muridnya bahwa mereka adalah orang paling “bahagia” karena sejatinya hal-hal yang manusia kumpulkan seperti harta, membawa kebahagiaan yang temporer, saat harta itu hilang, ia malah memberikan kedukaan. Nah….. mengenali kedukaan atau penderitaan dan bagaimana menghilangkan penderitaan adalah poin utama dalam spiritualitas Buddhism.

Ada empat kebenaran mulia (four nobble truth) dalam ajaran sang Buddha: yang pertama adalah memahami tabiat dari “duka” atau penderitaan. Bahwa duka adalah segala hal yang memunculkan rasa tidak enak atau tidak nyaman baik fisikal maupun emosional / mental. Memahami bahwa ada sesuatu yang bernama penderitaan / duka, adalah point pertama.

Lalu memahami apa penyebab penderitaan muncul? Sederhananya, penderitaan muncul karena keinginan yang melekat (kelekatan). Ini adalah poin kedua.

Poin ketiganya adalah memahami bahwa penderitaan bisa dihilangkan, dengan cara menghilangkan kemelekatan terhadap keinginan-keinginan.

Poin keempatnya, adalah bagaimana praktisnya kita melepaskan kemelekatan-kemelekatan itu? Yaitu dengan menerapkan delapan Jalan (8 fold paths). Yang mana jalan ini semua bagus-bagus, semisal berpikir benar, bertindak benar, berkata benar dan seterusnya.

Karena bertumpu pada bahasan mengenai “bagaimana melenyapkan penderitaan”, maka tradisi spiritualitas Buddha sangat mahir dalam urusan menyelami psikologi manusia, bagaimana mengendalikan fikiran, “masuk ke dalam diri” lewat meditasi, dst.

Tradisi spiritualitas ini, kemampuan untuk masuk ke dalam diri, melepaskan kemelekatan, dst…. Sangat sedikit ditemukan di dalam islam (setidaknya sebatas pengamatan saya yang awam). Dan saya sendiri sering bertanya tanya mengapa spiritualitas islam tidak menekankan bahasan ini lebih jauh? Dan barulah sekarang saya mengerti bahwa pendekatan agama abrahamic, khususnya islam, agak berbeda dengan tradisi timur semisal Buddhism.

Spiritualitas islam mengawali perjalanannya dengan pengenalan akan Allah SWT. Yaitu Tuhan semesta alam.

Lewat keilmuan, kita pahami bahwa Allah SWT tidak mirip apa-apa, tidak serupa makhluknya, dialah Pencipta segala sesuatu, Penjaga segala sesuatu, DIA tidak memiliki awal dan akhir tetapi kepada segalanya DIA berikan awal dan akhir.

Pondasi keberagamaan agama samawi (islam khususnya) didirikan diatas kredo ini. Atau disebut tauhid.

Tauhid ini, oleh para ahli teolog / kalam dijelaskan dalam berbagai-bagai pendekatan. Misalnya pendekatan kalangan salafi dengan prinsip Tauhid Rububiyah, dimana kita harus meyakini bahwa Allah sematalah pencipta dan pengatur alam semesta, tetapi ini saja tidak cukup, harus juga meyakini bahwa Allah sematalah persandaran, yang disembah (uluhiyah), lalu saat seseorang sudah mengakui Allah sebagai pencipta, dan bersandar sepenuhnya pada Allah, maka akan pahamlah seseorang itu bahwa dunia ini adalah wahana dimana Allah SWT menceritakan sifat-sifatNya (Asma wa Shifat), yang mana sifat-sifat itu adalah “unik” milik DIA semata.

Kalangan aswaja, menjelaskan tauhid lewat pendekatan sifat 20. Yang sering kita dengar syairnya, Allah wujud, qidam, baqa…..dst…

Sedangkan kalangan arif, tidak hanya menjelaskan tauhid seperti dua kalangan di atas, tetapi secara lebih dalam mereka menjelaskan bahwa segala kewujudan makhluk ini tidak nyata, yang nyata adalah DIA. (ada yang menjelaskan ini dengan pendekatan bahwa dibalik segala sesuatu adalah DIA, seperti paham wahdatul wujud, tetapi ada yang mengoreksi itu dengan menjelaskan bahwa alam semesta ini dibandingkan DIA adalah seumpama biji pasir di gurun sahara. Jadi tidak tepat mengatakan bahwa disebalik segalanya ini langsung DIA, karena begitu kecil alam ini dibanding DIA. biji pasir tidak bisa menjadi gurun. Hal ini saya pahami setelah mendengarkan syarahan ust. Hussien Abd Latiff)

Jadi tradisi spiritual islam menekankan pada pengenalan akan Allah, lalu untuk menghilangkan penderitaan bukanlah dengan meditasi masuk ke dalam diri dan melepaskan kemelekatan, melainkan dengan mehami bahwa segala sesuatu adalah takdir Allah, dan kunci bahagia adalah menyerah / ridho pada takdir (submission / menyerah = islam).

Walhasil, menekuni spiritualitas islam adalah terus menerus mengingatiNYA, dan menjadikan segenap takdir sebagai jalan “connect” atau ingat kepadaNYA atau dzikrullah.

Itulah jalan bahagia menurut islam.

Memahami dua tradisi ini, menjadikan kita lebih bijak. Dan membuat kita mengerti bahwa dzikrullah di dalam islam tidaklah sama dengan meditasi “masuk ke dalam” seperti tradisi di timur / Buddha.

Saat seseorang berdzikir, dia tidak sedang mengawasi lintasan fikiran dan melepaskan kemelekatan terhadap angan-angan, melainkan dia mengingati Sang Pencipta, dan bersandar penuh kepada Sang Pencipta. Kebahagiaan di dalam islam adalah menerima realita takdir, dan bersandar kepada Penciptanya.

Semoga dengan memahami dua pendekatan ini, khususnya rekan-rekan muslim akan lebih paham dimana letak bedanya, bijak menyikapinya, dan menjadi tidak keliru dalam menerapkan spiritualitas islam sebagaimana mestinya.


Source:

  • Thich Nhat Han. 1998. The Heart Of The Buddha’s Teaching. Newyork: Broadway Books
  • Reza Shah Kazemi. 2010. Common Ground Between Islam and Buddhism. Louis Ville:  Fons Vittae
  • Image Sources from here

 

BUAH-BUAHAN SYURGA DAN KISAH-KISAH SEPANJANG MASA

Related image

Karena anak saya ingin mendengarkan kisah-kisah atau dongeng pengantar tidur, dan saya tidak terlalu hafal akan dongeng-dongeng anak, akhirnya terpaksalah saya kembali menekuni membaca ulang kisah-kisah para Nabi untuk saya ceritakan kembali pada anak sebelum tidur.

Agaknya, ini cara Allah SWT untuk memaksa saya belajar kembali, dan ternyata menekuni ulang kisah-kisah Para Nabi itu mengasyikkan.

Saya barulah menyadari mengapa di dalam Al Qur’an banyak berisi kisah-kisah, karena kisah-kisah itu memang berpengaruh bagi jiwa manusia. Dia bisa menjadi teladan yang indah.

Ini sebenarnya juga menjawab pertanyaan saya sendiri, kenapa orang-orang arif zaman dahulu sering memasukkan nasihat-nasihat dalam bingkai cerita dan perumpamaan, dihias di dalam tembang atau syair, kenapa kok tidak nyablak saja biar gampang?

Ternyata, nasihat-nasihat yang dibingkai dalam bentuk kisah, seringkali bertahan lama, dan mudah dicerna.

Mayoritas isi Al Qur’an ternyata adalah kisah-kisah. Pelajaran-pelajaran ada di dalam kisah-kisah manusia. Seseorang akan lebih tertarik untuk mempelajari “nilai-nilai” yang tertulis dalam tekstual, jika mengetahui bahwa nilai-nilai itu sebenarnya tentang manusia dan kisah hidupnya.

Mendengar kisah-kisah para Nabi itu, anak saya jadi semangat. “Wah pengen jadi Nabi, Pa.” Katanya

“Ngarang…..” saya tertawa, “mana ada Nabi cewek, yang ada hanya orang-orang shalih yang berperingkat tinggi, seperti Maryam. Lagian setelah Rasulullah SAW ga ada lagi Nabi. Udah jadi orang biasa aja, Jadi Nabi atau wali ujiannya berat, hehehe.”

Salah satu kisah yang menarik hati saya dan saya ceritakan pada anak saya, adalah tentang kesalihan keluarga Imran.

Imran hidup sezaman dengan Nabi Zakariya as. Imran sendiri bukanlah Nabi, tetapi adalah orang yang salih. Imran dan istrinya bernazar jika memiliki anak (laki-laki) nanti anaknya akan diserahkan ke Baitul Maqdis, untuk dididik menjadi abdi kepada Tuhan.

Ndilalah yang lahir bukan anak laki-laki, tetapi perempuan, yang kemudian diberikan nama Maryam.

Ibunda dari Maryam, tetap menitipkan anaknya ke Baitul Maqdis untuk diajari disana, dan mengabdikan hidupnya disana. Diadakanlah undian, karena orang-orang mengetahui bahwa Maryam adalah anak dari Imran yang Shalih, para pemuka agama di Baitul Maqdis berebut ingin mengurus Maryam kecil itu.

Singkat cerita jatuhlah takdir undian pada Zakariya as. Seorang Nabi yang kemudian mengasuh Maryam di Baitul Maqdis. Zakariya as. Adalah pamannya Maryam.

Dikisahkan Maryam as. Menghabiskan hari-harinya dengan beribadah kepada Tuhan, siang dan malam di dalam Mihrab-nya. Dia memiliki tempat yang khusus / mihrab-nya sendiri di Baitul Maqdis. Mempelajari kitab-kitab terdahulu.

Sampai suatu ketika saat pamannya Nabi Zakariya as. Mengunjungi Maryam di mihrabnya, kagetlah Zakariya as. Demi mendapati bahwa di dalam Mihrab Maryam terdapat macam-macam buah-buahan yang tidak mungkin dari sekitar sana, karena buah-buahan itu dari musim yang berbeda. Ditanyakan pada Maryam, darimana makanan itu?

Lalu Maryam menjawab dari sisi Allah SWT. Allah memberikan rizki kepada siapa saja yang dikehendakiNYA, tanpa batas (QS Ali Imran : 37)

Saya jadi teringat bahasan lawas dalam kajian sufistik, yaitu kajian tentang maqom asbab dan tajrid, yaitu maqom usaha atau maqom pasrah. Maryam as. Adalah orang yang menghabiskan hidupnya untuk berbakti pada Tuhannya, siang malam di Baitul Maqis di mihrabnya, ibadah. Nyatanya rizkinya tetap dijamin juga oleh Allah SWT.

Nah model kita-kita ini kalau duduk seharian di musholla ya repot juga, hehehehe. Teringat kisah seorang sahabat yang ditemui Rasulullah karena pagi-pagi sudah diam di masjid sampai siang. Ternyata beliau sedang kekurangan uang. Maka diajarkan sebuah doa oleh Rasulullah SAW untuk mempermudah rizkinya. Tetapi tetap saja, disuruh kerja.

Tapi yang saya pengen cerita bukan masalah klasik asbab-tajrid, melainkan kenyataan bahwa bahasan-bahasan pelik spiritual seringkali menemukan bentuk yang lebih membumi dan gampang dicerna dalam kisah-kisah.

Sebagaimana Rumi menemukan bahwa prosa-prosa panjang seringkali malah “melelahkan” untuk dikaji murid-muridnya, hingga akhirnya dia menulis bentuk-bentuk cerita dalam Matsnawi.

Seperti ungkapan Albert Einstein, if you cannot explain it simple, you don’t understand it well enough. Kalau seseorang belum bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, penanda bahwa dia belum sepenuhnya paham.

Jadi topiknya sekarang ini bagaimana membahasakan hal yang pelik dalam kisah-kisah yang sederhana. hehehe.


*) Image sources from this link

SPIRITUALITAS ORANG SEDERHANA

Di perjalanan menuju kantor, ketimbang bengong saya baca-baca kisah Rabiah Al Adawiyah, beliau ini memang luar biasa.

Satu kisah yang masyhur tentang Rabiah Al Adawiyah yang pertama banget saya dengar adalah kisah jawaban retoris Rabiah Al Adawiyah, kepada seseorang yang bertanya padanya, apakah jika dia bertaubat maka Allah akan mengampuni?

Maka dijawab oleh Rabiah, yang kurang lebih maknanya adalah jika Allah mengampuni, maka pastilah seseorang itu akan tertakdir bertaubat.

Logika memandang kehidupan secara terbalik dari logika orang awam.

Dari situ saya baca-baca cerita tentang Rabiah Al Adawiyah. Beliau hidup semasa dengan seorang arif yang juga begitu terkenal, yaitu Imam Hasan Al Basri. Dengan Imam Hasan Al Basri ini juga ada cerita menariknya, dimana beliau Rabiah dipinang oleh Imam Hasan Al Basri, lalu ditolaknya pinangan tersebut oleh Rabiah karena tidak ada lagi ruang di hati Rabiah selain dari kecintaan pada Tuhannya.

Menilik orang-orang seperti Rabiah Al Adawiyah ini, kehidupan asketisnya sulit ditiru orang-orang kebanyakan. Diceritakan awalnya Rabiah ini adalah seorang budak, tetapi suatu malam tuannya melihat dia sedang bermunajat kepada Allah SWT, lalu ada lentera cahaya yang berpendar di atas kepalanya naik membubung tinggi ke langit, terangnya memenuhi ruangan. Tahulah sang majikan bahwa Rabiah ini bukan orang sembarangan, maka Rabiah dibebaskan.

Jalan spiritual Rabiah Al Adawiyah ini cukup berat. Beliau menghabiskan hari-hari dengan puasa, ibadah malam hari, memupus kecintaan pada dunia, bahkan saking tidak ada ruang lagi di hatinya untuk yang lain, beliaupun tidak menikah.

Orang-orang alim dari macam-macam penjuru datang bertamu pada beliau, dimana mereka mendengarkan nasihat-nasihat Rabiah, dan yang mendengarkan Nasihat-nasihat beliau itu bukan kelas ecek-ecek, malahan orang-orang selevel Hasan Al Basri, Malik Dinar, dan lain-lain.

Kalau melihat orang seperti beliau, waduh, jauh panggang dari api untuk mengejarnya. Tapi kembali lagi, tidak semua orang harus menjalani kehidupan asketis macam Rabiah. Ada jalan yang sederhana.

Saya teringat cerita yang ditulis Rumi dalam Fihi Ma Fihi, dimana beliau menjelaskan perbedaan pendekatan spiritualitas jalan Isa as dan jalan Muhammad SAW. Isa as, hidup spiritualitasnya adalah dengan tidak menikah, kerahiban.

Kerahiban ini, memang salah satu jalan spiritualitas. Seseorang bisa mendekat kepada Tuhan dengan meninggalkan segala kecenderungan duniawinya. Tetapi ada seni satu lagi, yaitu jalan Muhammad SAW, dimana beliau menikah.

Disitulah Rumi berkata bahwa justru dengan menikah, dan menjalani segala dinamikanya, kalau dimaknai secara benar maka spiritualitas seseorang bisa meningkat. Menikah, dijadikan ajang “pendakian” spiritualitas. Dengan bersabar dan bersyukur dalam dinamikanya. Dengan menikah, naik spiritualitasmu.

Saya seringkali melihat kawan-kawan yang sudah memasuki fase berumah tangga, mereka mulai “hijrah”. Ya ga mesti jadi sufi juga sih, hehehehe….. tapi pandangan keagamannya berubah. Karena memang apa lagi yang dicari?

Degan dapat tanggung jawab. Dengan perubahan status sebagai orang tua. Dan seterusnya, lambat laun cara pandang bergeser. Hikmah-hikmah hidup mendatangi satu persatu. Ujung-ujungnya spiritualitas juga. Dan pendakian spiritual lewat jalan ini adalah seperti lari marathon. Pelan-pelan, selow, tapi pasti.

Seseorang bisa meniti jalan spiritual dengan meninggalkan keduniawian sepenuhnya. Tetapi bisa pula meniti jalan spiritual dengan bergulat di dalam kehidupan, dan memaknai kehidupan ini sebagai ceritaNYA.

Takdirnya masing-masing.

Seperti ditulis oleh Syaikh Ahmad Sirhindi, dalam Syaria and Sufism. Bahwa jalan prophetic, tasawuf yang disandarkan pada risalah kenabian, ini sudah paling pas.

Seseorang tidak melakoni ritual-ritual yang berat yang memupus keduniawian dan memuncaki perjalanannya dengan ekstase, melainkan hidup berlandaskan syariat, dan berjalan dalam takdir keseharian yang biasa ini, ibadah, bermuamalah, seseorang tetap bisa kok mendapatkan pencerahan-pencerahan.

Kuncinya kita memahami perbedaan dua pendekatan itu.

Pendekatan tasawuf jalan profetik, bersandar risalah kenabian adalah mengenali Allah dahulu. Lewat ilmu. Barulah beribadah kepada Tuhan yang sudah dikenali. Dan bergulat dalam kancah dunia ini dengan kesadaran yang baru.


Source:

Fihi ma Fihi, Rumi

Syaria and Sufism, Syaikh Ahmad Sirhindi

Tales of Rabia Al-Adawiyya, Muhammad Vandestra

SPIRITUALITAS DAN JALAN MENCARI BAHAGIA

Dalam kebingungan saya dahulu, awal-awal menekuni spiritualitas saya tak paham benar apa bedanya spiritualitas islam dengan yang di luar islam?

Yang saya sering bingungkan adalah mengapa pendekatan spiritualitas dalam islam tidak begitu banyak membahas porsi mengenai meditasi, merenung ke dalam diri sendiri, mengenali fikiran-fikiran dan lintasan-lintasan fikiran, sampai menemukan “sang pengamat” di dalam diri? Mengapa hal ini tidak atau jarang sekali dijumpai dalam khasanah islam?

Padahal, setelah beberapa waktu menekuni tentang ini saya menjadi paham bahwa pengenalan terhadap diri sendiri, bagaimana lintasan fikiran dan emosi bekerja, dan seterusnya, adalah salah satu elemen yang sangat penting dalam menemukan kebahagiaan. Bagaimana bisa bahagia dan lepas dari duka lara jika tidak bisa masuk ke dalam diri dan melepaskan diri dari lintasan-lintasan fikiran yang sejatinya bukan diri kita? Emosi kita disetir oleh persepsi kita, dan bagi yang sering “masuk ke dalam” hal ini lambat laun makin terasa. Jadi ini penting banget.

Disitulah saya menjadi heran, kok porsi tentang ini dalam islam sedikit sekali? Dalam islam “pendekatan syariat” tentu hampir ga ada. Saya cari dalam “pendekatan spiritualitas” islam pun sedikit juga. Banyaknya malah tentang dzikir.

Agak lama juga tidak paham, sampai alhamdulillah menemukan harmoninya. Yaitu ternyata memang islam memandang bahwa kebahagiaan sejati bukanlah ditemukan dengan kemampuan kita untuk melepaskan diri dari fikiran-fikiran dan emosi. Melainkan kebahagiaan sejati diperoleh dengan menyerah total kepada Tuhan.

Seperti makna islam itu sendiri. Yaitu “menyerah”, submission. (selain dari maknanya yang lain semisal “keselamatan”)

Maka itu, barulah saya pahami mengapa penekanan pendekatan dalam Spiritualitas islam bukanlah mengajari orang masuk dalam dirinya dan berusaha lepas dari jerat fikiran dan emosi dsb. Melainkan porsi paling besar (dan juga paling dasar) adalah pelajaran mengenali Tuhan, mengenali Allah sebagai supreme being. Pencipta segala yang zahir dan batin. Yang tidak mirip dengan makhluk. Yang segala dualitas apapun saja bergantung padaNya. Yang tidak ada awal dan akhir, tetapi bagi segala sesuatunya diberikan awal dan akhir.

Islam memandang itulah kunci kebahagiaan sejati. Mengenali DIA, dan belajar menyerah padaNya. PengaturanNya.

Porsi-porsi pelajaran mengenali hati, mengenali diri sejati, mengenali lintasan fikiran, dll memang ada dibahas dalam spiritualitas islam. Tetapi tidak menjadi fokus utama, dia hanya sebatas membantu kita untuk mengerti bagaimana mengingatiNya, The Supreme Being, tanpa keliru-keliru menggantungkan persandaran dengan selainNya.

Dua pendekatan yang berbeda.

Bagi pendekatan yang pertama, porsi besarnya bukan pada Tuhannya, melainkan pada kemampuan olah batin dan melepaskan sejatinya diri dari fikiran-fikiran. Makin lepas diri sejati dari fikiran-fikiran, makin bahagialah dia. Karena sengsara duka lara itu adanya di fikiran.

Pendekatan kedua, approach islamic spiritualism adalah mengenali Allah swt sebagai Pencipta segalaNya, lalu perjalanan spiritualnya adalah terus menerus bersandar dan kembali padaNya dalam setiap jenak hidup. Makin bersandar, makin bahagialah dia, karena mengenali kehidupan sebagai jalan ceritaNya. Kebahagiaan sejati ditemukan dengan pergantungan Total kepada Pemilik Dunia.

Seperti dikatakan dalam Qur’an wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoiNya.

Tetapi saya menulis ini dalam perspektif seorang muslim, tidak merendahkan siapapun, dan hanya sebuah sharing saja bahwa ada perbedaan pendekatan antara spiritualitas islam atau umumnya disebut Tasawuf, dengan pendekatan spirirualitas di luar islam. Warna-warni dunia.

hanya saja bagi rekan-rekan muslim, saran saya jangan terlalu lama berada di pendekatan pertama. Karena memang bukan itu porsi besarnya Spiritualitas islam.

Seperti ungkapan yang masyhur. Awaluddin ma’rifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah.

Masuklah segera ke pendekatan kedua. Bedanya sangat mendasar. Tapi sering orang keliru.

DUA JALAN CARI PERHATIAN

Image result for mergingSewaktu saya masih kuliah di Bandung, saya mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan skripsi di kantor salah satu BUMN terbesar di Jakarta. Otomatis saya harus pergi bolak-balik Jakarta-Bandung, dan masalahnya adalah dimana saya harus menginap di Jakarta?

Alhamdulillah Allah berikan solusi, yaitu seorang kawan kuliah menawarkan untuk menginap di rumah orangtuanya di Jakarta. Sampai sekarang saya masih berhutang budi pada keluarga mereka itu.

Saya perhatikan kebiasaan keluarga itu. Setiap pagi Ayah rekan saya itu bangun pagi, sekedar menemani anaknya sarapan. Membantu memakaikan anaknya kaus kaki. Dan melepas kepergian anaknya berangkat ke sekolah, meski hanya dengan melambai sampai depan gerbang rumah. Prinsip beliau, harus melepas anak pergi sekolah, yang artinya bangun sebelum anak bangun, dan tidur setelah anaknya tidur. Padahal sang Ayah ini berangkat kerja siang hari, lalu pulang larut malam sampai dini hari, sempat-sempatnya dia bangun sekedar untuk rutinitas itu.

Setiap malam, dia selalu duduk santai di atas teras lantai dua, dengan genjreng-genjreng gitar nyanyi seadanya. Tetapi selepas bernyanyi dia menanyakan kabar anak-anaknya, bertanya juga pada saya tentang progress skripsi saya, lalu memberikan petuah sederhana saja, “Ntar juga kalau udah ‘waktunya’ kelar, skripsinya kelar juga. Jalanin aja…..” Sederhana, tak banyak teori tetapi dalam waktu itu saya merasa ada orang yang ‘hadir’. Tak banyak cakap, tapi selalu ‘hadir’. Ini luar biasa.

Belum lagi, mereka menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, tak lupa pula memberikan saya kotak makan siang untuk dibawa ke tempat magang skripsi. Padahal, status saya itu numpang nginap. Dikasih makan bekal pula. Setiap hari.

Dari obrolan-obrolan kami, saya tahu bahwa memberikan tempat menginap kepada orang-orang yang ‘butuh’ untuk menginap, adalah semacam tradisi keluarga mereka. Amal sederhana, tapi luar biasa.

Belakangan setelah saya bekerja dan menikah, saya hendak meniru ‘kesederhanaan’ keluarga itu, dan melakukan amalan-amalan ringan yang sama seperti yang saya lihat. Tetapi ternyata setelah mengalami sendiri kesibukan dunia kerja, kecenderungan psikologi saya pribadi, hal yang sederhana itu rupanya tidak gampang.

Belakangan saya merenungi tentang hal itu, dan ndilalah ketemu penjelasannya.

Metoda pertama, adalah memaknai amalan-amalan yang kita lakukan sebagai jalan “pendekatan” kepada Tuhan. Sehingga kita memiliki alasan pendorong. Istilah jaman sekarang, kita punya STRONG WHY.
Ilustrasinya, seperti kita hendak bertamu ke istana seorang Raja, lalu kita menunggu di pintu gerbang istana. Di depan pintu itu, kita “cari perhatian” dengan bantu-bantu nyabut rumput taman. Nyapu-nyapu jalan. Dan lain-lain, dengan harapan dibukakan pintu istana, hingga kita diberikan kesempatan bertemu Sang Raja.

Kita memahami, bahwa tindakan mencabuti rumput, dan tindakan menyapu jalan, itu tidak sebanding dan tidak akan pernah sebanding dengan hadiah Sang Raja pada kita, ditambah lagi diizinkan bertemu dengan sang Raja saja sudah anugerah luar biasa yang tidak bisa dinilai secara barter dengan ukuran nyabut rumput atau nyapu jalan. Amalan-amalan itu, hanyalah “Cara pendekatan”. Bukan untuk barter pahala.

Barulah saya paham bahwa inilah maksudnya mendekati Tuhan dengan wasilah atau perantaraan amal. Seperti di dalam Qur’an disebutkan “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Seperti cerita yang saya dengar dari YouTube ust. Adi Hidayat, dimana saat Malaikat mendatangi Nabi Ibrahim, beliau tak sadar yang datang adalah malaikat, lalu Nabi Ibrahim pergi ke belakang rumah dan sempat-sempatnya menyembelih anak sapi yang gemuk, untuk menjamu tamu. Sebuah ‘amal yang indah. Lalu malaikat mengabarkan berita gembira bahwa istri beliau Sarah akan mengandung anak, sebagai hadiah atas amal Ibrahim as.

Amal Saleh kita lakukan, karena mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan. Inilah metoda pertama untuk cari perhatian / pendekatan kepada Tuhan.
Baru saya tahu kenapa sulit melakukan amalan, karena saya tidak mempunyai alasan yang kukuh. Dengan alasan yang kukuh, dan memaknai amalan sebagai bentuk pendekatan agar “bertemu” Tuhan, maka beramal jadi lebih punya makna. Meskipun amalan-amalan itu akan menjelma sesuai dengan takdirnya sendiri. Ada orang-orang yang dimudahkan untuk melakukan suatu hal, ada yang dimudahkan melakukan hal lainnya.

Yang paling pokok, alasannya apa, yaitu “pendekatan” agar bertemu Tuhan.

Cara kedua dalam pendekatan kepada Tuhan, ini agak teknis. Kalau cara pertama itu adalah dengan aktivitas eksternal (luaran) untuk mendekati Tuhan. Cara kedua ini adalah aktivitas internal.

Yaitu Zikrullah. Bukan dengan menyebut-menyebut semata, tetapi memenuhi ruang batin kita dengan ingatan kepada Allah. Saya mengetahui metoda ini dari seorang arif yaitu Ust. Hussien Abdul Latiff.

Secara ringkas, seseorang bisa mendekati Tuhan dengan ‘amalan aktivitas eksternal, sebagai upaya menemukan Tuhan dalam kesehariannya. Bisa amalan yang beneran tersusun syariatnya seperti sedekah, puasa. Bisa juga dengan aktivitas sehari-hari misalnya bekerja di kantor tetapi dimaknai berbeda, yaitu sebagai “pendekatan” kepada Tuhan. Amal menjadi wasilah “mendekat”.

Tetapi ada juga cara mendekati Tuhan dengan “masuk ke dalam” dan memenuhi ruang batin dengan ingatan kepada Allah. Cara kedua ini senyap, umumnya tidak terdeteksi dari luar.

Baik cara pertama, maupun cara kedua, seperti sekeping uang logam yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.


*) image sources

THALUT, DAWUD, DAN DOSA YANG “MENDEKATKAN”

Ibnu Athaillah As Sakandari, dalam Al Hikam mengatakan bahwa boleh jadi Allah membukakan pada seseorang pintu ketaatan, tetapi tidak membukakan padanya pintu penerimaan. Atau boleh jadi Allah membukakan pintu penerimaan tetapi tidak membukakan padanya pintu ketaatan.

Dilanjutkan dalam wejangan lainnya di Al Hikam, yang kurang lebih maknanya adalah: dosa yang menghantarkan seseorang pada pertaubatan, boleh jadi lebih baik ketimbang ketaatan yang menimbulkan arogansi dan rasa besar diri.

Di sini terlihat beda antara cara pandang orang awam, dan cara pandang para arif dalam tasawuf. Orang awam, memandang pendosa dengan penuh kebencian, sedangkan para arif memandang bahwa boleh jadi seseorang menjadi dekat pada Tuhan lewat dosa.

Ada sebuah kisah klasik, yaitu kisah pertaubatan di zaman Nabi Dawud as. Tersebutlah seorang raja yang telah dipilih oleh Allah untuk memimpin dan mengembalikan kejayaan Bani Israil di masa itu. Raja itu bernama Thalut.

Tugas pertama Thalut adalah menumbangkan kezhaliman Jhalut (Goliath) bangsa amalik yang terkenal berbadan besar. Maka Thalut melakukan seleksi ketat kepada para tentaranya, yang salah satu diantara para tentara terpilih itu adalah Nabi Dawud as. yang bertubuh kecil karena saat itu masih remaja.

Dalam medan perang, sudah masyhur kita dengar bahwa Nabi Dawud mengalahkan Jhalut yang raksasa itu dengan ketapelnya. Jhalut yang tinggi besar itu tumbang.

Lalu kisah berikutnya Nabi Dawud dinikahkan dengan puteri sang raja Bani Israil, putri Thalut tadi.

Namun lama kelamaan popularitas Dawud as mengungguli sang Raja itu sendiri, sehingga terbit rasa amarah di hati Thalut, dan dia hendak membunuh Dawud as.

Sang Putri Thalut, tahu rencana itu dan membocorkannya kepada Nabi Dawud as, untuk melindungi suaminya. Nabi Dawud as. bersembunyi dari ancaman Thalut.

Tetapi kian lama, kekuasaan Thalut kian melemah, dia mulai memerintah dengan tangan besi, dan masyarakat mulai membangkang padanya. Sampai akhirnya Nabi Dawud as berhasil mengalahkannya.

Merasa malu dengan kesalahannya, maka Thalut pergi meninggalkan istananya, dia hidup mengembara dan bertaubat dari kesalahannya.

Nabi Dawud as. Akhirnya menjadi raja. Dikenal sebagai seorang yang bijak, dan begitu artikulatif, mampu memutuskan perkara-perkara yang pelik (dikaruniai hikmah). Beliau juga dianugerahi suara yang begitu indah, sampai jika dia membaca Zabur, maka burung-burung akan terbang mengapung di udara untuk mendengarkan bacaannya, dan bercericit menggaungkan melodinya.

Tapi suatu ketika Nabi Dawud as. juga bertaubat atas kesalahannya.

Dikisahkan bahwa saat Nabi Dawud as. sedang ada di mihrabnya, dua orang berhasil menerobos penjagaan, dan memanjat tembok mihrab-nya.

Nabi Dawud terkejut dengan orang yang tiba-tiba menyelinap itu. Tetapi mereka mengatakan bahwa mereka hanya ingin bertanya suatu masalah. Dan meminta Nabi Dawud as. memutuskan perkaranya dengan adil.

Diceritakan bahwa mereka berselisih karena salah seorang dari mereka memiliki 99 kambing, dan dengan kekuasaannya orang yang punya 99 kambing itu ingin mengambil kambing milik seseorang lainnya yang hanya memiliki satu kambing saja.

Nabi Dawud as, langsung berpihak pada seorang yang memiliki satu kanbing itu, dan mengatakan bahwa betapa banyak orang-orang yang berserikat itu berbuat Zalim. (QS Shad: 20-26)

Setelah mengatakan hal tersebut, dua orang yang bertengkar tadi menghilang, maka tahulah Nabi Dawud as bahwa mereka adalah malaikat utusan Allah yang datang untuk menguji Nabi Dawud as. Maka Nabi Dawud tersungkur dan bertaubat atas kesalahannya, yaitu terburu-buru dalam memutuskan suatu perkara, dan tidak mendengarkan pendapat dua belah pihak.

Karena tertakdir “salah” maka Thalut dan Nabi Dawud as mendekat kepada Tuhan lewat pintu pertaubatan. Begitupun Nabi Adam as. Yunus as. Musa as.

Saya teringat seorang guru pernah berkata, bahwa orang-orang yang berdosa, itu umpama tentara yang sedang terluka di medan laga. Tugas kita, sebagai sesama pejuang (dalam medan perang tiada henti melawan syaitan) adalah menolong mereka, bawa ke medik, sampai sembuh, lalu mereka bisa kembali bertempur kembali.

Ditambah lagi kita mengetahui bahwa seringkali dosa menjadi jalan seseorang mendekat kepada Tuhan.

Sebagian para alim, mengatakan bahwa karena Allah Maha Pengampun, maka akan selalu ada hambanya yang tertakdir berdosa, untuk kemudian bertaubat dan diampuni.

Sebagian arif lainnya, melihat secara lebih tinggi lagi, bahwa orang yang tertakdir berdosa sejatinya hanya mengikut perjalanan takdir mereka. Karena Allah bersendagurau pada diriNya sendiri. Tetapi bahasan yang ini sedikit pelik dan biarlah arif yang kompeten membahasnya.

Kita cukupkan diri kita untuk tidak menghakimi orang-orang yang sedang tertakdir berdosa.

yang pokok bukan dosa atau pahala, melainkan konteks cerita apapun saja yang ada pada kita sekarang bisa menjadi pintu “kembali”.

*) sources:

– The Great Stories Of Quran, Syekh M.A Jadul Maula

– Al Hikam, Ibnu Athaillah As Sakandari