YANG MELAMPAUI DZAT DAN SIFAT

Jika anda makan nasi, apakah nasi yang anda makan itu “pulen”, “kenyal”, “gurih”, “lengket”, atau “berderai”?

Semua kata keterangan yang disebut di atas, untuk menggambarkan “keadaan” nasi itu; disebut sifat-sifat nasi. Nasi-nya itu sendiri disebut dzat.

Jadi ada substansi-nya yaitu nasi itu sendiri. Dan ada serangkaian keterangan yang membahas mengenai sifat-nya nasi, atau dalam bahasa filsafat disebut “aksiden”. Ada substansi, ada aksiden. Ada dzat ada sifat.

Barulah saya mengerti sedikit duduk perkara mengenai bahasan dzat sifat ini dalam perbincangan tasawuf. Di masa perkembangan islam sekitar lepas abad ketiga -barangkali-, dimana perbincangan mengenai filsafat sudah mulai banyak masuk ke dalam islam, termasuk juga kajian mengenai substansi dan aksiden ini.

Imam Ghazali sendiri, tidak membenci filsafat secara mutlak, beberapa kajian filsafat itu baik, kata beliau, tetapi beberapanya harus ditolak. Yang baik diantaranya karena filsafat punya andil menelurkan ilmu-ilmu alam dan sains karena mendorong manusia untuk terus berfikir. Yang buruk misalnya adalah saat menyerempet area bahasan ketuhanan, ada beberapa yang bertentangan dengan akidah.

Jadi pada mulanya filsafat sebagai cara berfikir itu netral saja, tergantung kemudian mau dibawa kemana.

Nah, mengenai substansi dan aksiden, dzat dan sifat, ini kemudian menyambung ke bahasan mengenai Tuhan. apakah Tuhan itu dzat? Adakah Tuhan punya “sifat” dalam artian sifat yang lekat dengan dzat-Nya?

Barulah saya memahami duduk perkara ini setelah dijelaskan oleh seorang Arif, Ust. H. Hussien Abd Latiff, bahwa DIA itu bukan dzat, dan bukan sifat, melainkan pemilik dzat dan sifat.

Selama kita masih berbicara tentang dzat dan sifat, berarti kita berbicara tentang dunia ciptaan. Berbicara tentang alam.

Sebagian kalangan, misalnya. mengatakan kalimat seperti ini ”Jika anda bercita-cita, lalu berusaha keras, maka SEMESTA akan mendukung dan mewujudkan keinginan anda.”

meskipun mereka berkata dalam makna majazi, tetapi patut perkataan ini diwaspadai agar tidak tergelincir.

Tentu kita paham bahwa maksud mereka adalah “Tuhan yang mengabulkan”, tetapi boleh jadi kata-kata seperti itu menyebabkan “alamat” persandaran seseorang di dalam lubuk hatinya adalah kepada SEMESTA. Padahal, semesta itu bukan Tuhan. Karena semesta itu ciptaan-Nya, yang masih memiliki substansi dan aksiden. Masih memiliki dzat dan sifat.

Begitu juga, dengan penelusuran yang lebih dalam lagi. Jika segala sesuatu di dunia ini memiliki substansi dan aksiden, maka substansi terdalam itulah DIA, kata sebagian kalangan. Maksudnya kalau kita kelupasi semua sifat-sifat yang nampak mata, sampai yang paling dalaaaaaaaaam sekali dan tak lagi ada keragaman bentuk, semua menjadi satu, yang tinggal hanyalah semurni-murni substansi, dianggap oleh mereka itulah DIA.

Ternyata itu juga tak tepat. Karena dibalik semua ciptaan itu “hakikatnya” adalah dzat-Nya. Yang dalam sebuah hadits dikatakan tidak bisa seseorang menyentuh dzat, siapa melihat dzat akan terbakar dengan keagungan dzat. [1] Tetapi itu bukan DIA.

Sedangkan Allah SWT. DIA-lah pencipta alam semesta. Pencipta segala sesuatu yang kita kenal dengan dzat dan sifat. Yang tak bisa disentuh, tak bisa diteliti, tak terindera. Perbincangan mengenai substansi sesuatu dan aksiden sesuatu tidak tepat dilekatkan kepada Pencipta sesuatu itu.

Barulah saya paham, bahwa keliru orang-orang yang berkata “inilah Tuhan” yang meliputi saya ini. Karena apapun saja yang mereka bisa “rasakan” tentulah ciptaan. Semua yang bisa disentuh, dirasa, difikirkan, itulah dunia ciptaan, dunia dzat dan sifat.

Yang meliputi kita ini, yang bisa kita “rasakan”, bukan DIA, melainkan dzat-Nya. Milik-Nya. Bukan DIA yang tiada umpama.

Karena –sesuai kata Ibnu Athaillah- “sampaimu kepada Allah, adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya, karena mustahil DIA disentuh atau menyentuh sesuatu”.

Akhir kata, sebuah perumpamaan yang sangat baik dari seorang arif. Semua berasaskan ilmu dan kepahaman. Umpamanya pada sebuah malam yang gelap gulita, kita minum sebotol sirup apel. Semua indera kita membenarkan bahwa rasanya, baunya dari sirup itu adalah seperti apel. Tetapi dengan ilmu, kita paham bahwa yang kita minum itu bukan apel, melainkan “sari” apel. Yang menjaga kita adalah ilmu.

Begitu juga seandainya dengan peribadatan yang begitu khusyu, orang-orang bisa merasakan betapa mereka “diawasi” dijaga dan disentuh dengan sesuatu yang ada dibalik semua ciptaan yang tampak mata ini, maka sadarilah bahwa yang “dirasakan” dan yang bisa “kita sentuh” itu bukan DIA, melainkan sifat-sifat yang lekat pada dzat yang dicipta-Nya.

Agar tak mengelirukan Tuhan dan alam. Agar tak keliru antara DIA dan dzat-sifat “milik”Nya.

Wallahualam.

[1] “Tirai-Nya adalah Nur, dan seandainya terangkat pastilah keagungan Dzat-Nya akan membakar makhluk yang terpandang oleh-Nya”. Terjemahan Shahih Muslim Bk. 1, 228 (1994).

CERMIN

Sewaktu SMA pelajaran biologi, oleh guru kami diberitahu bahwa pergerakan anggota tubuh dikarenakan ada impuls listrik perintah dari otak. Aktivitas kelistrikan otak kemudian dihantar ke seluruh tubuh lewat syaraf, lalu menggerakkan otot dan tubuh bergeraklah karenanya.

Waktu itu saya bertanya, tetapi belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Yaitu dimana fungsi “kehendak?”

Saya mengira pastilah ada satu mata rantai yang tak dibahas. Bagaimana “kehendak” yang sejatinya tak punya bentuk fisikal, kemudian bisa menggerakkan tubuh di dunia fisikal?

Pertanyaan saya itu tak mendapat jawaban, tetapi puluhan tahun kemudian saya baru sadar bahwa pertanyaan saya itu lebih kepada “spiritualitas” ketimbang ilmu biologi, hehehehe….. Tentu tak ketemu jawabannya disana.

Cermin paling dekat untuk mencermati keteraturan alam raya, memang diri kita sendiri.

Jika diri kita saja, dengan sebuah kehendak yang yak punya bentuk fisik, lalu bisa menyetir pergerakan tubuh yang fisik, maka sejatinya tak ada yang terlalu ajaib di alam raya. Karena diri kita saja sudah ajaib.

Pendorong-pendorong yang tak punya wujud konkrit, di dalam diri manusia itu banyak sekali. Ada nafsu, ada amarah, ada banyak varian rasa. Semuanya punya porsi menggerakkan tubuh sehingga wujud konkrit dari pergolakan di dalam batin bisa terlihat bentuknya di dunia luar. Pada gerakan badan.

Betapa ajaib. Tentara-tentara hati di dalam diri kita, menggerakkan kerajaan yang kecil berupa tubuh.

Anda ingin minum……. Lalu dengan bekal sepercik keinginan itu, kerajaan tubuh bergerak. Kaki melangkah, tangan mengambil gelas, mulut membuka dan meneguk air, kerongkongan menelan. Semua bergerak hanya karena perintah sepercik rasa “ingin”.

Jika sepercik ingin, sudah bisa menggerakkan tubuh dengan gerakan yang kompleks, tentu saja Allah SWT lebih bisa lagi menggerakkan segala-gala.

Melihat cermin kecil diri itu saja, sudah teranglah bahwa menyandarkan daya upaya semata pada kekuatan diri, adalah pekerjaan sia-sia. Karena ruang lingkup kuasa yang diberikan pada percikan kehendak diri kita untuk bisa bergerak hanya selingkup tubuh saja. Selebihnya kita tak bisa.

Lepas dari itu, semuanya dalam genggamanNya. Seorang arif berkata, bahkan sepercik kehendak dalam diri kita itu saja, kalau kita perhati betul-betul, ianya “mendatangi” kita. Bukan kita yang membuat keinginan itu.

Tetapi, untuk kepentingan praktis yang tak terlalu filosofis, jika kita sedang mengerjakan sesuatu dan merasa berat, ternyata ada baiknya juga melihat diri sendiri, dan mentafakuri jika sepercik kehendak saja bisa menggerakkan tubuh….. tentara hati bisa menggerakkan badan, maka bagiNya menggerakkan alam ini sangat gampang. Sesuai inginNya yang DIA telah tuliskan

Dengan itu, berdoa menjadi penuh harap. Diri lemah tidak mengapa, tetapi harapan jangan sampai hilang. Karena bagiNya segalanya mudah. Diri kita sendiri menjadi tandanya.

MENYETIR DIRI DENGAN AIR DAN API

air apiSewaktu menemani istri saya ke RS untuk periksa kehamilan, disitu saya semakin merasakan betapa pentingnya asuransi kesehatan. Biaya kesehatan baru “terlihat” saat ada momen-momen tertentu seperti rawat jalan atau rawat inap kalau sakit.

Dalam hal asuransi, saya termasuk beruntung karena asuransi kesehatan dijamin kantor. Alhamdulillah, jadi tidak terbebani dengan biaya Rumah Sakit.

Sebelumnya, selama beberapa hari saya tenggelam dalam kegiatan mewawancarai beberapa orang yang melamar ke Perusahaan tempat saya bekerja, dan beberapa dari mereka adalah orang-orang yang sangat berpengalaman, jauh melampaui saya, tetapi sekarang sedang tidak beruntung karena kondisi dunia MiGas sedang gonjang-ganjing dan mereka terpaksa menganggur dulu.

Mengamati fakta bahwa banyak senior menganggur, dan saya termasuk beruntung masih bekerja di kantor dengan segala kemudahan fasilitasnya itu; membuat saya merasakan betapa lemah sebenarnya kita ini. Hidup dalam ombang-ambing takdir.

Dalam sekerlip mata, segala kenyamanan fasilitas seperti yang pernah didapatkan para senior-senior saya itu, bisa hilang dalam sekejap. Karena kondisi dunia perminyakan yang tidak stabil.

Dan tidak hanya urusan perminyakan atau urusan dunia swasta. Dalam dunia Pegawai Negeri Sipil pun kondisi juga bisa berubah dalam sekerlip mata. Mutasi….. pergantian pimpinan. Perubahan kebijakan. Pergeseran pemain. Dan segala macamnya yang merubah tatanan yang sudah stabil, lalu membuat kita harus adaptasi lagi.

Dalam menghadapi situasi yang berubah-ubah itu, dalam menghadapi tuntutan-tuntutan pekerjaan, kadang-kadang sikap mental waspada seperti “perang” dibutuhkan. Adrenalin meningkat. Lalu kinerja meningkat dan membuat langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk bergerak menyesuaikan dengan kondisi. Ambisi dan siasat.

Dalam bahasanya Imam Ghozali, hidup berkeseharian dalam mentalitas yang “siaga”, penuh “ambisi”, seperti mode “perang” ini adalah karena kita menggunakan elemen “Ghadab” alias elemen “Kemarahan”, “anger” di dalam diri.

Di dalam diri manusia, ada “Kesadaran” manusia atau “hati”, sebagai rajanya. Dan ada elemen-elemen tak nampak “di luar” hati itu. Elemen yang tak nampak itu berguna sebagai “alat” bagi manusia.

Beberapa diantaranya adalah “kemampuan nalar atau rasio”, dan yang lainnya adalah elemen “marah” dan elemen “nafsu”.

Elemen “marah” itu, disini bukan berarti marah ngomel dan memukul orang secamam itu semata. Tetapi lebih ke “ambisi”.

Sedangkan elemen “Nafsu”, nafsu disini tidak semata berarti syahwat, tetapi lebih ke keinginan-keinginan atau hasrat badani yang lain, semisal makanan, hasrat keindahan, dan juga syahwat.

Maka saat sedang dicekam suatu perkara, suatu masalah. Saya perhatikan polanya Imam Ghozali ini sungguh benar.

Jika kita sedang “full konsentrasi”, mode “siaga”, semangat dan ambisi mengerjakan sesuatu, berarti kita menggunakan elemen kemarahan, elemen ambisi di dalam diri kita. Implikasinya, struktur pertahanan diri kita akan dengan refleks menaikkan elemen satunya lagi yaitu “nafsu” atau “hasrat”.

Maka kalau kita stress terlalu fokus bekerja, biasanya hasrat makan meningkat. Atau hasrat plesiran jalan-jalan. Atau syahwat. Seperti api disiram dingin. Karena tubuh kita menstabilkan dirinya sendiri.

Menarik sekali, bagaimana “hati”, “kesadaran” kita bisa menggunakan elemen kemarahan dan nafsu di dalam dirinya untuk menyelesaikan suatu perkara. Tetapi, jika sang hati tidak kuat, semisal karena “nalar atau rasionya” kalah oleh elemen kemarahan dan nafsu, maka dia akan didominasi oleh ambisinya sendiri, atau dibakar nafsunya sendiri. Sebuah kaitan yang sangat logis.

Menggunakan elemen-elemen dalam diri, dalam kaitannya untuk mencapai kepentingan tertentu, adalah jalan “depan”.

Tetapi ada jalan satu lagi. Selain dari lewat “pintu depan” yang pada akhirnya mengharuskan kita pandai-pandai menyetir elemen itu, kalau tidak hendak dibelit dan terbakar oleh mereka. Ada juga jalan “belakang”.

Jalan “belakang” ini adalah menyadari bahwa segala hiruk pikuk dunia pekerjaan, dan hiruk pikuk masalah sehari-hari sebenarnya adalah dalam genggaman DIA semata-mata. Maka alih-alih terlalu semangat menggunakan elemen-elemen dalam diri kita untuk menyelesaikan suatu perkara, kita malah harus sering-sering “berpasrah” dan dalam kondisi “relax” menyerah.

Kondisi pasrah ini, pada gilirannya memudahkan ilham-ilham kebaikan untuk turun dan memberikan solusi dari suatu masalah.

Pada akhirnya, dua-duanya perlu. Pengenalan terhadap anasir-anasir dalam diri sendiri, dan kemampuan untuk mereset ulang semuanya kembali ke “nol” agar pasrah pada pengaturan Tuhan.

Barangkali, setelah saya renungkan, urutan skema yang paling baik adalah dengan berpasrah sampai insight-insight kebaikan atau solusi mendatangi kita, lalu kemudian baru bergerak dengan mengoptimalkan elemen-elemen di dalam diri. Dengan begitu, kita seperti seorang pembalap yang menyetir mobil dengan kecepatan penuh, waspada dengan pedal gas dan rem, tetapi sekaligus “tahu” kemana kendaraan kita biarkan melaju.


*) gambar ilustrasi diambil dari link berikut ini

MEMBEDAH DIRI ITU BAIK UNTUK ORANG TUA DAN MUDA

Libur kemarin, iseng-iseng saya googling mencari tema menarik dan menemukan sebuah bahasan tentang “How to overcome laziness”, teknik menyiasati kemalasan.

Saya tertawa geli membacanya, karena ternyata ada orang-orang yang lebih males gerak alias “mager” ketimbang saya mager di hari libur.

Seseorang menceritakan bahwa dia harus mengganti ban mobilnya yang kempes, dengan ban serap, tetapi dia begitu males waktu itu. Bagaimana dia menyiasatinya?

Alih-alih mengerjakan suatu pekerjaan satu waktu sekaligus –yang akan membuat dirinya secara psikologis merasa beban kerja terlalu berat dan akhirnya males-, dia malah membagi pekerjaan itu menjadi bagian-bagian kecil.

Umpamanya, pekerjaan mengganti ban mobil dibagi menjadi lima: 1) Mengambil dongkrak dan peralatan kunci-kunci. 2) Memasang dongkrak. 3) Melepas ban dan baut-baut 4) Mengganti ban dan menguatkan baut. 5) Akhirnya beres-beres dan pekerjaan selesai. Satu pekerjaan di-breakdown jadi lima pekerjaan kecil.

Mengambil dongkrak dan peralatan……nah…. Semales apapun orang, kalau kerjanya hanya ambil dongkrak tentu saja bisa ambil dongkrak doang. Oke……akan saya lakukan ambil dongkrak doang kok. Gampang….

Setelah dongkrak diambil, dia istirahat nonton TV bentar, nyanyi-nyanyi, minum kopi, lalu lanjut ke pekerjaan kedua. Walhasil pekerjaan selesai, malas teratasi, meskipun waktu pelaksanaan menjadi panjang karena diselingi dengan banyak betul istirahat, hahahahhahahaha.

Menarik memang, bagaimana orang tersebut melakukan sesuatu dalam rangka menyiasati dirinya sendiri. Ini bagian dari kemampuan mengenali diri sendiri lho.

Dan percaya tak percaya, sub-bab mengenali diri sendiri ini adalah bagian dari kajian besar ilmu tasawuf atau spiritualitas islam. Hal inilah yang saya seringkali membatin sendiri, sungguh sangat sayang sekali jika para pemuda tidak mengetahui khasanah yang sangat kaya dari ilmu tasawuf, karena tasawuf ini praktikal sekali dalam hidup keseharian.

Umpamanya dalam kajian Imam Ghozali. Satu bab sendiri dalam Ihya Ulumuddin itu isinya mengajari manusia mengenali dirinya sendiri. Bahwa diri manusia ini bisa dibagi menjadi bagian-bagian terpisah. Sederhananya ada yang fisikal terindera yaitu jasad yang kita lihat ini. Dan ada yang ruhani alias ga kelihatan.

Bagian ruhaninya ini, bisa dipecah lagi, ada kesadaran terdalam manusia yang memahami sesuatu, mengerti sesuatu, yang menjadi “raja” di dalam kerajaan mikro yaitu diri manusia itu sendiri. Itulah “hati” atau “qalb” atau “aql” dalam definisinya yang ruhani.

Lalu ada anasir lain yaitu “intelek”, “nafsu”, “amarah”, dan seterusnya.

Yang mana sejatinya diri kita? Yang sejatinya manusia itu adalah yang sadar itu. Alias hati-nya.

Bahasan ini agak abstrak sedikit bagi yang tidak pernah mengikuti kajian serupa. Saya yakin bahasan Imam Ghozali akan menjadi sangat familiar di kalangan orang-orang yang akrab dengan kontemplasi. Umpamanya para meditator dan atau misalnya kalangan pengkaji psikologi kultural jawa seperti Ki Ageng Suryomentaram. Dan tentu bagi kalangan tasawuf ini sangat lumrah.

Nah…. Selain dari urusan mengenali partisi-partisi dalam diri, – yang sebenarnya lebih mirip kajian psikologi ini-, spiritualitas islam juga membahas hal yang lebih jauh, semisal –saya kutipkan dari bab yang diajarkan oleh Guru kami- yaitu : Mengenali Allah. Bagaimana kaitan antara Tuhan dan alam? Lalu bab mengenai bagaimana mengingati Tuhan? apanya yang diingat? Lalu bab mengenai bagaimana Tuhan mentadbir alias mengurus alam semesta? yang berujung pada keridhoan terhadap pentadbiran. Dan pada akhirnya adalah bagaimana beribadah dalam bingkai kepahaman yang baru dan lebih tajam itu.

Itu semua adalah Bab bahasan dalam paket ilmu spiritualitas islam. Termasuk diantaranya adalah Bab mengenai memahami partisi-partisi di dalam diri sendiri.

Permasalahannya adalah, banyak anak muda yang mengira bahwa tasawuf adalah ilmu orang tua belaka. Padahal, misalnya bab mengenali diri sendiri, ini sangat fundamen lho.

Mengikuti siklus Imam Ghozali, kepahaman atau ilmu berbuah menjadi “hal” spiritual atau kondisi ruhani. Kondisi ruhani tiap-tiap orang menyetir amal mewujud. Jadi dari “dalam” berbuah “keluar”.

Selama ini, kita hanya akrab dengan “yang terindera” alias empiris saja.

Apa contohnya yang empiris itu? Yang empiris itu ya misalnya contoh paling pertama kita bincang di atas tadi. Jika kita “malas” maka kita mengatasinya dengan –semata- jalan “luar”, yaitu menganalisa pekerjaan kita, lalu membagi pekerjaan menjadi partisi kecil-kecil sehingga pekerjaan terasa ringan. Ini bagus……. Salah satu contoh dari Rasulullah SAW dalam kaitannya dengan rekayasa jalan “luar” ini adalah sebuah hadits: saat kita marah, maka berwudhulah! Atau kalau kamu berdiri maka duduk, kalau duduk masih marah maka berbaring.

Wudhu, berdiri, duduk, baring, adalah “rekayasa” untuk memperbaiki sesuatu yang “empiris” atau “luar”. Tetapi semata “luar” tidak cukup. Karena kita mengetahui bahwa “marah” adalah sesuatu yang terbit dari “dalam”. Maka membenarkan persepsi yang “di dalam” adalah juga kerja panjang untuk mengatasi kemarahan. Sehingga, Rasulullah SAW dalam suatu riwayat dikatakan “tidak marah” bahkan saat seorang badui mengencingi masjid, “tidak marah” bahkan saat Sayidatina Aisyah r.a. membanting piring di hadapan para sahabat. Karena “yang di dalam” Rasulullah SAW sudah mantep.

Pengetahuan mengenai rekayasa “luar” atau kajian dunia empirik sudah sering kita dapat. Tetapi pengetahuan mengenai rekayasa “dalam” mengenali partisi-partisi dalam diri, sebagai bagian integral dari upaya untuk lebih bisa menjalankan fungsi kekhalifahan; masih jarang kita pelajari.

Hal ini sangat berguna bagi kehidupan kita. Dan percayalah ini bukan hanya ilmu orang tua saja. Ini berguna bahkan bagi anak muda.


*) Gambar ilustrasinya sungguh tidak nyambung, karena ini gambar Rambo lagi membedah dirinya sendiri saat tertembak peluru. Hehehehe

JENIUS MATEMATIKA DAN FORMULA BAHAGIA

Foto yang anda lihat di atas ini, adalah seorang anak jenius matematika, dan pamannya. Saya jepret foto ini di pesawat sewaktu perjalanan Balikpapan-Jakarta, potongan dari sebuah film berjudul “Gifted”.

Dikisahkan seorang anak kecil terlahir sebagai seorang jenius matematika. Usianya masih sangat kecil tetapi kecintaannya pada matematika sudah melampaui orang kuliahan.

Ceritanya menarik, dan pertengahan hingga akhir agak melow-melow sedikit hingga mengaduk emosi.

Saya jadi teringat sewaktu saya SMA, saya bertanya pada seorang rekan , “apa gunanya kita belajar integral ini?”

Teman saya menjawab, “Gunanya agar kalau kita kerja jadi guru matematika, kita bisa mengajarkan anak murid kita diferensial integral!” dia tertawa terkekeh. Dia pun tak tahu apa gunanya. Huehehehehe. Padahal kalau di film Gifted ini, anak kecil saja sudah terbuka hikmah matematika padanya.

Begitulah, memang seseorang bisa saja memiliki sekumpulan pengetahuan, tetapi tidak berarti bahwa orang yang punya sekumpulan pengetahuan akan selalu bisa melihat hubung kait antar perkara. Karena dua hal yang berbeda.

Sama seperti ketika baru-baru ini saya melihat video di lini masa facebook. Bahwa plastik bekas bisa dipakai sebagai perekat super kuat. Diilustrasikan ada dua buah kayu, sambungannya diselubungi dengan plastik bekas air mineral, lalu plastiknya dipanasi dengan hair dryer. Plastik yang melunak karena panas itu kemudian menyesuaikan bentuk dengan kayu, dan menjadi perekat yang sangat kuat.

Betapapun saya sudah ratusan kali melihat kayu potongan, dan ratusan kali melihat plastik botol, tetapi hubung kait dua perkara itu tak “dapat” di hati saya.

Kemampuan melihat hubung kait itulah “hikmah”. Dan “botol plastik” serta “kayu bekas” itulah pengetahuan. Pengetahuan itu satu hal, tetapi “hikmah” itu hal lainnya yang dianugerahkan Tuhan.

Tersebab setiap orang dianugerahi “hikmah” yang berbeda. Kemampuan melihat hubung kait antar perkara beda-beda. Maka perjalanan kita warna-warni.

Ada penyuka matematika, ada penyuka ilmu alam, ada yang suka filsafat, macam-macam.

Tetapi semua itu ternyata bermuara pada satu saja, yaitu jalan mengenali Tuhan.

Segala rasa penasaran manusia, kalau dipikir adalah pemenuhan dari kebutuhan paling mendasar manusia untuk bahagia.

Seperti misal ada yang begitu “menyukai” matematika, maka dia akan mencari segala pengetahuan matematika, yang pada akhirnya menggenapi rasa butuhnya akan sebentuk bahagia.

Tetapi, saya mengutip dari “Kimia Kebahagiaan”-nya Imam Ghazali. Kebahagiaan sejati hanya akan manusia peroleh jika mengenal sejatinya dirinya, dan mengenal Tuhannya. Itulah formulanya.

Karena manusia ada bagian yang fisikal seperti jasad, lalu ada anasir abstrak seperti kemarahan dan nafsu, lalu ada “intelek”, tetapi semuanya itu dalam kendali sang raja yaitu “hati”. Sejatinya diri.

Oleh sebab itu, manusia mencari terus, lewat pemenuhan kebutuhan jasad; bahagia sebentar. Terus hilang…… Lalu bingung, kok saya tidak bahagia?

Lalu mencari lagi, barangkali butuh pertemanan. Lalu mencari bahagia bersandar pada rasa keamanan sosial. Bahagia sebentar lalu hilang.

Cari lewat pencapaian diri, kerja keras agar berpangkat. Setelah sampai di puncak karir lalu merasa kosong. Bahagia sebentar……. Lalu hilang lagi.

Manusia bertanya terus. Dimana kebahagiaan yang sejati?

Sampai nanti kalau terus berjalan, jawaban akan ditemui. Bahwa kebahagiaan yang paling sejati kata Imam Ghazali adalah jika sudah mengenal diri, dan mengenal Tuhan, lalu tahu untuk apa diciptakan.

Jadi mencari kebahagiaan itu tak keliru. Karena itu adalah setitik pelita dalam diri. Asalkan kita jujur pada diri sendiri, benarkah bahagia? Karena setiap rasa kosong dalam hati, dan kerinduan akan bahagia yang lebih sejati, sebenarnya adalah penuntun menuju DIA.

-debuterbang-

BERTEMU PARA PENCARI TUHAN

journeySekarang saya mengerti, perjalanan ini memang ditempuh “sendiri-sendiri”, tetapi hikmah dari perjalanan adalah untuk dibagi-bagi.

Metafora bahwa hidup adalah “perjalanan menuju Tuhan”, ternyata sudah dikatakan pula oleh Hujjatul Islam Imam Al Ghazali. Dalam salah satu bab di Ihya Ulumuddin, yaitu dalam bab Ajaib al Qalb, alias keajaiban hati, marvelous of the heart.

Dan dalam konteksnya sebagai sebuah “perjalanan” kita akan sering bertemu dengan sesama “pejalan” menuju Tuhan. Tentu kita “dewasa” dengan memahami bahwa “perjalanan” ini adalah metafor, mencari Yang Sejatinya Tak Kemana-mana.

Berkait dengan momen bertemu dengan orang-orang yang mencari tuhan, saya ingat dua tahun lalu, dalam sebuah sesi audit di kantor, saya berbincang dengan seorang auditor bule yang mengaku sebagai seorang yang tidak memeluk suatu agama tertentu. Tetapi dia percaya dengan sains.

Kami ngobrol ngalor ngidul, kemudian saya sedikit mengenalkan konsep spiritualitas islam yang saya dengar dari guru-guru yang arif. Kemudian di luar dugaan saya, dia mengatakan bahwa konsep “Tuhan” sebagai sumber segala sesuatu, dari-Nya berasal, kepada-Nya kembali, adalah sangat dekat dengan konsep sains. Darisana dia mengatakan tertarik untuk membaca Qur’an nanti jika dia kembali ke negara asalnya. Karena selama ini dia mengira konsep islam bahwa Allah itu adalah “person”, dia tak mengetahui bahwa Allah itu Laisa Kamislihi Syaiun.

Selang dua tahun kemudian, saya bertemu dengan auditor lainnya. Beberapa kali diaudit membuat saya sadar bahwa memasang “mode perang” pada auditor adalah langkah keliru. Maka saya dan rekan-rekan menganggapnya sebagai kawan dan mengakui bahwa masukan-masukan dari auditor adalah baik untuk tumbuh kembangnya sebuah perusahaan, berkaitan dengan manajemen sistemnya.

Dari sesi audit yang santai itu kemudian ngalor ngidul kembali ke obrolan makna hidup.

Pertamanya dari sebuah HP rekan saya yang berdering, dan melantunkan lagu Linkin Park. Lalu bergulir pada obrolan bahwa salah satu personnel linkin park ada yang bunuh diri. Kemudian beliau menyinggung bahwa banyak para pemikir ulung atau filosof yang juga berakhir dengan bunuh diri. Saya menyahut, saya katakan barangkali yang terjadi pada mereka adalah mereka mencoba menggapai “sesuatu” yang sejatinya tak tergapai nalar dan logika. Maka mereka bunuh diri untuk menggapai “pengalaman” yang lebih tinggi dari pencapaian logika mereka.

Padahal ujung dari perjalanan logika, adalah awal dari pengembaraan “rasa”. logika berhenti sebatas bukti, dan “rasa” menghantar kita masuk ke pintunya. “rasa” itu domain spiritualitas.

Dia katakan secara bercanda, pilihannya hanya ada dua, katanya, kalau tidak mau bunuh diri, maka melewati jalan menjadi seorang yang religius. Artinya memeluk suatu agama.

Saya lupa bertanya agamanya apa. Tetapi dia katakan dia tak memeluk suatu agama secara resmi. Tetapi dia suka membaca tentang spiritualitas.

Lalu saya menyinggung sedikit tentang Tao, sesuatu yang dia sudah familiar, dan saya sedikit kutipkan kemiripan definisi Tao tentang Tuhan, dan bagaimana Islam menjelaskan tentang Tuhan yang “bukan sesuatu, tak mirip apapun, tak bisa dipersepsi, dan dari-Nya segalanya berasal, kepada-Nya segalanya kembali.”

Saya melihat dia begitu berbinar dan tertarik dengan obrolan kami itu. Dari binar matanya, saya melihat seorang “pencari”.

Sore ini, di sebuah lounge menanti penerbangan malam. Saya kembali merenungkan bahwa benarlah kata Imam Ghazali, bahwa hidup ini “perjalanan” menuju Tuhan. Dan sebagai sebuah etape perjalanan, maka kehidupan di dunia ini harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, dengan memberi manfaat dan menebar hikmah untuk sesama, sebanyak-banyaknya yang kita bisa.

Didalam “perjalanan” seringkali kita bertemu dengan sesama manusia, yang juga “berjalan” menuju Tuhan. Mereka adalah teman. Tempat kita berbagi hikmah. Sebagian mereka menemukan hikmah yang belum kita temukan. Sebagian lainnya masih meraba-raba dalam kebingungan.

Kita tidak punya otoritas menghakimi mereka. Hanya saja, saya teringat seorang guru mengutip sebuah hadit Rasulullah SAW kepada seorang sahabat yang hendak berangkat ke pemukiman Yahudi, pesan beliau, kenalkan mereka pada Allah SWT………… lalu setelah kenal, baru ajarkan mereka shalat.

Mengenali Tuhan sebagai sumber dari kehidupan yang ada ini, adalah sesuatu yang lebih utama, dan pertama. Mendahului pengenalan akan syariat dan hukum-hukumnya. Kekeliruan kita adalah kita mengenalkan orang kepada hukum-hukum semata-mata, tanpa mengetahui bahwa kehausan spiritual manusia adalah pencarian untuk mengenali Sang Pemilik Hidup.

Setelah mengenali Sang Pemilik, maka syariat akan berjalan dengan mengalir. Karena sesuatu yang kosong di hati mereka sudah menemukan tambatannya.


*) Gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

BENANG TAKDIR DAN HARTA YANG TERCECER

Di dalam sebuah ungkapan yang masyhur, dikatakan bahwa “hikmah” adalah harta tercecer milik kaum muslimin, maka ambillah dimanapun menemukannya!

Maka itu saya sangat tertarik, mendengarkan cerita rekan-rekan saya, dan mengambil hikmah dari perjalanan hidup mereka, karena seringkali hikmah yang kami temukan “sama” meskipun melalui jalan berbeda, atau kadangkali juga mereka mendapatkan hikmah lain yang luput dari pandangan saya.

Bahkan dari seorang rekan bule yang tak beragama, saya mendapatkan “hikmah” saat dia mengaku bahwa seringkali dia merasakan bahwa dirinya begitu kecil, dan hanya menjadi bagian dari semesta yang begitu besar, dan berputar dalam sebuah gerak yang Maha Raksasa. Bagaimana bahkan seorang yang tak beragama memiliki sisi spiritual yang sulit dia tolak, ada di dalam relung batinnya yang dalam.

Teringat kembali sebuah ayat bahwa Allah mengajar manusia dengan perantaraan kalam.

Kalam, ataupun “pena”, adalah wahana bagi tinta mengalir dari tempatnya menuju kertas. Teman-teman kita, dan atau siapapun saja yang membagikan hikmah, sejatinya adalah “kalam”, menjadi medium “tinta” pelajaran mengalir. Yang lewat mereka kita diberikan hikmah oleh Tuhan. karena mereka hanya wahana bagi hikmah mengalir.

Dalam Fihi Ma Fihi, Rumi menjelaskan sebuah jalan yang “bukan” jalan kerahiban atau jalan kesendirian. Seseorang bisa saja menjadi religius dan spiritualis dengan melakoni jalan kerahiban yang mengasingkan diri, tetapi jalan islam adalah kebalikannya. Yaitu berkecimpung dalam keramaian, dan mengambil hikmah dari keramaian.

Tentu dalam porsi-porsi tertentu, “menyendiri” diperlukan. Mengingat Imam Ghazali saja mendapatkan enlightenment setelah sepuluh tahun meninggalkan hiruk pikuk di madrasah Nizhamiyah, dan meninggalkan profesi sebagai pengajar.

Akan tetapi, bahwa hikmah seringkali bisa ditemukan juga dalam “keramaian” ini jarang kita ketahui. Setidaknya saya sendiri jarang mengetahuinya.

Dan setelah menikmati hikmah mengalir dari banyak “kalam”, barulah saya menyadari bahwa seringkali orang-orang mendapatkan pelajaran lewat jalan yang berkelok-kelok.

Ada yang rusak dulu, lalu menjadi baik di ujungnya. Ada yang baik menjadi rusak, lalu menjadi baik lagi. Ada yang jalannya mulus. Ada yang penuh onak duri. Ada yang sampai mengecewai Tuhan, lalu berbalik menjadi “pejalan” ruhani yang menekuni spiritualitas islam. Macam-macam sekali.

Dari sana saya menarik kesimpulan bahwa sebagai “jalan keramaian” memanglah manusia akan dibentuk lebih dari satu kalam dan lebih dari satu hikmah. Dan Allah sendiri yang akan mempertemukan seseorang dengan seseorang lainnya, pada momen yang pas, dan pada hikmah yang pas pula yang tersampaikan.

Maka itu saya mentertawai diri sendiri. Dulu…..saya begitu impulsif. Kalau bertemu orang, yang terfikir pertama adalah bagaimana membagi hikmah yang saya dapatkan sepanjang perjalanan, dan bagaimana sebisa mungkin orang tersebut berubah.

Padahal, belum tentu orang dalam kondisi siap menerima masukan. Belum tentu orang itu perlu menerima masukan. Atau boleh jadi orang itu sudah mengetahui hal yang lebih dalam daripada yang saya pahami. Dan yang paling pokok, bukan kita yang membuat seseorang berubah, melainkan kalau Allah takdirkan seseorang itu berubah, maka dia akan berubah.

Kita hanya melihat saja, apakah takdir orang itu berkelindan dengan potongan takdir kita? Jika iya, maka akan ada momen yang pas dimana orang tersebut bertemu dengan kita, dan hikmah tersampaikan lewat kita. Atau sebaliknya, kita yang mereguk hikmah darinya. Jika tidak, biarlah orang berjalan pada takdirnya sendiri, dalam pelajaran hidup yang sama sekali tidak pernah linear.

Ada sebuah cerita dalam filem animasi jepang, diambil dari kultur budaya jepang, dimana mereka menenun benang untuk menjadi sebuah gelang. Filosofinya menarik jadi saya kutip disini, sebagai bagian dari “memulung hikmah” yang tercecer.

Kehidupan itu bagaikan gelang rajutan itu. Setiap benangnya adalah perjalanan hidup manusia itu sendiri. Maka perjalanan hidup manusia berkelindan satu sama lain. Bertemu, berpisah, bertemu berpisah. Dan orang yang dipertemukan oleh takdir, maka pasti mereka akan bertemu pada momennya sendiri. Seperti untaian benang rajutan yang saling dipertemukan itu.

Itu sebab saya lebih senang menulis. Dengan menulis, maka takdir akan mempertemukan tulisan dengan orang-orang pada momennya sendiri. Dan saya “asyik” sendiri mengamati kehidupan, dimana orang-orang semua diperjalankan pada rel-nya masing-masing, dalam cerita yang beda-beda, dengan satu tujuan kolosal yang sama. Cerita-Nya.


*) image sources