NENEK TAK BISA BICARA (cerpen)


“Nenek tak bisa bicara!” kataku di telepon pada paman. Aku panik.

“HAH?, segera kasih kabar yang lain, paman juga telepon sodara-sodara!” Paman memberi perintah.

Gagang telepon aku kembalikan. Aku terduduk lemas, bersandar pada dinding dingin yang pucat. Keringat masih mengalir dari kening, bajuku serasa gerah. Bagaimana mungkin nenek tak bisa bicara? Mengingat itu lagi aku semakin pias. Teringat kata paman tadi, semua, ya…semua harus kutelepon.

***

Cuma aku satu-satunya di rumah ini, selain nenek. Rumah panggung terlalu besar buat nenek, padahal nenek sepanjang hari hanya berdiam diri di sudut sofa, dekat dengan jendela kusam coklat kehitaman, jendela yang disainnya mirip teralis penjara, hanya saja semua dari kayu. Memang semua pada rumah itu dari kayu, itu kenapa nenek sering melarang aku lari-lari dalam rumah. Tak baik. Rumah sudah tua semakin berderak saja jika aku lari-lari, kata nenek.

Tapi nenek tak pernah marah. Sepeninggal kakek, praktis hanya aku satu-satunya teman nenek di rumah itu, maka itu meski kadang-kadang nakalku kumat aku hanya ditegur saja, jangan lari-lari di rumah, kata nenek sambil geleng-geleng. Aku tergelak.

“Biar ramai, Nek!” kataku. Nenek geleng-geleng kepala lagi.

Baik sedang ramai atau tidak, pastilah nenek sering aku jumpai pada sudut  sofa itu, di dekat jendela yang sama, memandang ke arah pohon nangka di sebelah rumah, begitulah aku percaya. Tapi semenjak pohon nangka sudah tak lagi ada, aku masih juga sering melihat nenek memandang pada luar jendela. Belakangan aku baru tahu, rupanya nenek bukan memandang pohon nangka, tapi jauh dibalik nangka.

Jauh sekali, sekitar dua kali jarak rumah tuju sungai tempat aku dan kawan-kawan sering mandi, di sana ada ujung jalan aspal. Satu-satunya jalan yang menghubungkan desa kami dengan dunia luar. Aspalnya berhenti tepat disana. Dan dari sanalah bisa kita lihat, siapa saja yang datang ke kampung ini.

Dan kemarin sore, seperti biasa, aku dengan bodohnya lupa lagi pada pesan nenek, bahwa jangan bermain lari-lari pada rumah dengan lantai  kayu yang sudah tua. Grabak grubuk aku berlari sepulang sekolah, lalu tak lama aku berhenti, tapi bukan karena teguran nenek, malah aku bingung kenapa  nenek tak menegur? Dimana nenek?

Pelan-pelan dari ruang tengah aku tuju jendela tua, dan kulihat nenek diam mematung di sofa yang sama.

“Maaf ya Nek, aku lupa.” Kataku sambil menunduk. Aneh…nenek tak berbicara. Nek…nek… nenek marah? Pertanyaan bodoh, aku tahu nenek tak  pernah marah. Tapi setidaknya nenek bicara dong! Nek…nek…

Nenek tak bicara!!

Aku panik, panik setengah mati. Tak tahu apa yang harus aku lakukan, lalu aku segera berlari dan mengangkat gagang telepon. Aku pencet nomor telepon paman, kulihat pada buku di atas meja.

“Nenek tak bisa bicara!” Teriakku setengah menangis. Aku panik. Dan sesaat kemudian aku tahu, aku sudah menularkan panikku pada paman di kota, dan saudara-saudaraku yang lain.Read More »

Iklan

YANG DIPERTUAN HAJI (cerpen)

“Kau tulis itu sampai seribu, atau kulaporkan kau sama Bapakmu, heh!” Suara Wak Ruslan mengancam, meninggi.

Terkejutlah Hasan dengan ancaman Wak Ruslan. Seperti mau mati dia tulis cepat-cepat kalimat itu. Seribu kali. Tak terbayangkan. Aku tidak akan main-main pistol api di masjid lagi. Baru seperempat halaman kertas dia tulis, masih jauh.

Dalam pegal-pegal yang pelan-pelan lekat di siku dan jemarinya, Hasan semakin yakin Wak Ruslan sesungguhnya bukan haji, belum haji. Sambil memunguti keringatnya yang satu-satu gugur dan jatuh pada kertas putih, Hasan mencuri-curi lihat pada Wak Ruslan yang sedang mengajarkan kawan-kawannya mengaji. Dia lihat di dekat pilar masjid, ada kawan-kawannya menahan tawa, menutup mulut mereka dengan sarung. Sial.

Memang Hasan merasa dijebak, bukan dia yang memain-mainkan pistol korek api tadi, tapi  kawan-kawannya di sebalik pilar itulah yang diam-diam mengambil pistol-pistolan kayu milik Hasan, dan dengan sontoloyo telah menembakkan sebuah peluru korek api mengenai kain pembatas shaf. Ada bolong bulat seukuran kepalan tangan. Lalu Wak Ruslan marah.

“Siapa yang punya pistol ini?” Berat, serak dan seperti tak ada ampun suara Wak Ruslan. Orang-orang diam semua. Hasan tak pandai menjelaskan. Orang-orang melihat pada dirinya, lalu dialah tumbalnya malam itu.

Hasan masih menulis pada kertas. Dia berkeringat dan capek, tapi dia sekarang sudah merasa yakin. Dia pikir dia akan memasang taruhan pada teman-temannya bahwa Wak Kifli lah yang sebenarnya  sudah haji. Sebagian kawan-kawannya bertaruh bahwa Wak Ruslan yang benar-benar sudah haji. Dia tak percaya itu, Wak Ruslan kejam, katanya dalam hati.Read More »

AKU BENCI NAMAKU (cerpen)

Bertahun dia membenci ayahnya, untuk sebuah alasan yang tidak terlalu dia mengerti. Ayahnya seorang pekerja pertambangan, pekerjaan yang mengantarkannya pergi tuju tempat-tempat terasing dan keras. Mengakrabi dinamit yang meledak-ledakkan bebatu cadas pada kulit bumi.

Ayahnya pergi jauh untuk berapa masa, dan pulang membawa oleh-oleh rupa-rupa untuknya, tapi dia kemudian mendiamkan ayahnya. Untuk sebuah alasan yang dia tidak begitu mengerti. Mungkin dia membenci takdir, takdir yang menitipkan dia pada rahim ibunya, seorang istri kedua.

Dia tidak begitu tahu apa itu kedua, seperti dia tak pernah tahu apa utamanya pertama? tapi sesuatu yang salah membuat dia membencinya, sesuatu itu berupa nama.

Namanya drupadi. Mungkin nama itu menitis padanya dari sebuah dongeng.  ‘Drupadi’ konon seorang putri kerajaan panchala. Diperebutkan dalam sebuah sayembara yang dimenangkan oleh arjuna. Tetapi arjuna adalah bagian dari pandawa lima, sedang pandawa telah bersumpah untuk selalu membagi rata apapun yang mereka punya. Maka drupadi jelita itu pun diperistri lima bersaudara.Read More »

DANTE TIDAK GILA (cerpen)

Anak itu gila, kata si mbok. Lihatlah berhari-hari dia hanya diam dan memandang rumpun bambu di belakang rumah kita. Lalu meringkuk-ringkuk memeluk lututnya. Lama-lama Bapakmu ikutan gila nduk, memungut anak seperti dia bagaikan menusukkan lagi minyang bambu ke tangan yang sudah ditelusupi duri. Kita ini orang miskin, orang miskin itu disantuni, diberi makan, bukan memberi makan.

Aku tidak mengerti mbok jawabku dalam hati, aku mendekatinya dengan bahasa yang jenaka, tapi sepertinya dia mendengar dengan telinga yang luka. Jangan-jangan si mbok benar, dia memang gila. Tapi dia makan sekali saja dalam sehari, jadi aku tak merasa kelaparan seperti yang mbok bilang, baguslah. Tapi apa benar dante gilla?

Namanya dante. Kapan ya, dia memperkenalkan diri pertama kali? Aku sudah lupa, mungkin saat dia selesai dari berlaku seperti kesurupan yang mengerikan itu hari. Dia ditenangkan bapak dengan diberinya air minum yang dibacakannya  alfatihah, kata bapak air putih bisa menyembuhkan luka, luka badan dan luka jiwa.

Aku bertanya bisakah?? Bapak berkata bisa. Aku tak percaya, kubilang pada bapak. Jika kau tak percaya maka tak akan bisa, bapak balas berkata.

Sepertinya bapak benar, dia tenang, tak lagi meraung… ah, aku salah, dia tidak pernah meraung, Cuma meringkuk, meringkuk yang ngeri. Selepas bapak memberinya minum maka dia berhenti menutup-nutupi telinganya dengan telapak tangannya.

Aku mendekat dengan bahasa yang jenaka, kutatap matanya tapi dia merunduk. “siapa namamu?” aku berkata.

“dante” dia menjawab.

Itu kata pertama dari mulutnya. Selepas itu tak ada, tak pernah ada. Setiap hari aku mendekat dan mengajaknya bermain di halaman belakang, mengejar bebek-bebek yang rakus, atau menjerat capung, tapi dia tidak bergeming.

Lama-lama dia mengikutiku bermain tapi dia  tidak berkata, tak pernah lagi. Tapi aku sudah tahu namanya, dia dante.

Bapak tak tahu namanya, apalagi si mbok. Si mbok bisanya meracau saja. Tiap kali si mbok meracau dan mengatainya sebagai anak gila itulah aku mengendap-endap mengajaknya bermain.

“dante, ayo ke kebun belakang” kataku.

Aku melirihkan suara pada setiap kata yang menyebut namanya. Dante. Dante. Seperti itu, tak ada yang mendengar.

***

Dia ditemukan bapak, suatu hari yang gerimis. Aku sedang menemani bapak menanam padi, di sawah yang bukan petak tanah kami. Bapak tak punya sawah, hanya menanam. Luas sekali sawah yang ditanami padi oleh bapak. “ini sawah siapa pak’e?” tanyaku waktu itu.

“sawah juragan nduk orang kaya”.

“orang kaya itu baik apa jahat pak’e?”

Bapak tak menjawab langsung. Dia meluruskan punggungnya dari lengkung yang sepertinya bikin capek. Aku Cuma melihat punggung bapak dari belakang. Sambil duduk simpuh dan meniup-niup seruling bambu yang dibuatkan bapak dari buluh bambu kuning. Merdu sekali. Kulihat bapak menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangannya yang celemotan lumpur sawah.

“ayo nduk, mainkan lagi serulingmu” kata bapak.

Aku memainkannya lagi. Ada burung-burung pipit yang kaget dan berhambur terbang dari pucuk atap gubuk, yang rumbia dan coklat kumuh itu. Lalu kulihat bapak kembali menanam-nanami padi-padi yang masih mungil dan muda.

“tidak semua orang bisa kau pisahkan nduk” kata bapak tiba-tiba.

“pisahkan bagaimana pak’e?” aku bertanya kaget.

“lah…. Mainkan dulu serulingmu enak sekali mendengarnya” bapak berkata, sepertinya sambil tersenyum, aku Cuma melihat gurat bajunya yang seperti melengkung. Aku lalu meniup lagi serulingku.

“di dunia itu nduk” bapak melanjutkan. Aku mendengarnya dengan telinga yang awas dan takzim. “tidak semua orang orang baik, tidak semua orang orang jahat. Kadang-kadang mereka bercampur baur.”

Aku tahu itu pak. Kubilang dalam hati, seperti suara bapak yang bercampur-campur dengan serulingku ini kan ya?? Tapi aku tak potong kata-kata bapak. Aku meniup  serulingku terus, tapi kubuang nadanya dari telingaku, dan kuberikan lubang yang besar untuk suara bapak masuk. Aku suka kalo bapak mendongeng.

“dalam tiap orang, ada baiknya, ada jahatnya. Kau bertemanlah dengan siapa saja. Dengan yang baik tiru perilakunya. Dengan yang jahat ajarkan rubah sifatnya. Kalau tak bisa ya menjauh saja”

Hari gerimis, gerimis yang kecil-kecil. Heran, setiap kali bapak mendongeng maka hari akan gerimis, gerimis yang menjadikan tanah bau wangi-wangi. Setelah itu aku dan bapak pulang meniti pematang-pematang sawah. “Aku senang pak dengan bau hujan kubilang pada bapak”.

“makanya nduk, hujan itu rahmat, ayo buru-buru” kata bapak sambil berlari. Aku ikut-ikut berlari di belakangnya. Bapak begitu besar ya? Aku melompat-lompat di bekas pijakan kaki bapak yang mengecap pada lumpur. Kulihat dari jauh bapak memotong sebuah daun pisang, gerimis menjelma hujan yang gemuruh, yang guntur, aku pecicilan mengejar bapak sambil berkata dalam hati, rahmat, rahmat, rahmat, aku takut guntur pak, tapi hujan itu rahmat.

Lalu kami bernaung di bawah payung daun pisang yang besar. Waktu itulah, di ujung pematang, di dekat batang  pisang yang tua dan miring, kami menemukan dante. Tubuhnya mungil, dia seukuranku. Meringkuk dibawah guyur air yang bening dan mengalirkan merah yang pekat dari bajunya.

“dia berdarah, pak’e” kataku.

“tenanglah” kata bapak, sambil memegang-megang badan anak itu. Lalu membopongnya dengan sigap dan segera. Bapak berlari, aku mengejarnya setelah kupungut daun pisang yang bapak buang. Aku sendiri yang berpayung sekarang, bapak membopong anak itu di depanku dengan basah, dengan kuyup yang meliputi setiap jengkal bajunya, seperti aku yang dilengketi kebingungan yang menggigilkan.

Aku mengejar bapak dan melompat lompat berjingkat mencoba memayungi kepala bapak. Aku tak bisa. Anak itu meneteskan darah yang merah dan anyir, bapak basah diguyur air dari langit dan aku memegang daun pisang sambil merapal rahmat…rahmat…

***

Di rumah, si mbok menyiapkan jahe. Jahe yang ditumbuk dengan ulekan. Lalu dijerang di atas panci yang dijilat-jilat api merah kayu bakar. Aku duduk di pinggir dipan dengan memegang cangkir kaleng yang hangat. Sebentar aku melihat Bapak, sebentar aku melihat si mbok, lalu anak itu.

Si mbok pandai membuat obat, obat itu menyembuhkan luka. Badan anak kecil itu mencecap lebam. Lebam yang membiru-biru hitam. Obat mbok memang sakti. Mbok belajar dimana ya? Pikirku. Apa mbok bisa menyembuhkan semua luka? Seperti luka-luka jiwa. Aku yakin anak ini masih luka, luka di dalam dadanya. Kata bapak itu disebut jiwa.

Aku tak begitu mengerti jiwa, tapi aku mau dia sembuh, sembuh dengan  obat dari si mbok. Tapi aku tak yakin obat si mbok bisa. Sesuatu yang bapak sebut jiwa itu susah dibaluri ramuan dari kebun belakang. Si mbok mungkin juga luka, sebuah luka pada jiwa yang membuatnya sering meracau dan marah-marah pada dunia. Waktu kutanyakan pada bapak, apakah si mbok luka jiwanya? Bapak menutup mulutku dengan jari telunjuknya. “tak boleh berkata begitu, nduk” kata bapak.

Tapi aku yakin si mbok luka. Buktinya, Cuma sehari dua dia tak bertanya tentang anak itu, tentang luka pada bajunya yang putih, tentang asal usulnya, lalu tak lama si mbok mulai marah-marah, pada anak itu, pada bapak, sekali-kali padaku. Aku sih tak pusing, kalau si mbok marah dan mulai menyebut-nyebut sesuatu yang bernama kemiskinan, aku tinggal main saja ke belakang, sambil sekali-kali mengintip gedhek, rumah kami yang bambu dijalin-jalin itu, kalau-kalau bapak bakal pergi ke ladang atau sawah orang, aku bisa ikut. Tapi aku melihat anak itu, di pinggir dipan dan meringkuk pada lututnya, aku jadi kasihan, kupikir hari ini tak apalah tak ikut bapak ke sawah, aku akan menemani dia, dan hari itulah aku tahu namanya dante.

Dante…. Gilakah kau? Seperti kata si mbok? Tapi orang gila matanya tidak bening bagai kaca.Read More »

KACA-KACA CINTA (bagian 2) (cerpen)

tulisan sebelumnya (bagian 1)

Cermin itu tak pernah bicara. Apa kau tak bosan memaku disana, kaca? Memantulkan warna kamar yang coklat redup. Menyalin ulang detil-detil bola mataku, kerut-kerut kerudung, ekspresi gelisah dan senyum, juga mendengar celotehan yang kurapal setiap hari? Betapa sering aku mematut diri di depanmu, bukan bersolek, tapi membuang segala yang tak pantas.

“cahaya, sudah selesai?” itu suara ibu, dari ruang tamu yang sempit dan sesak. Ibu pasti sedang menyulam, di atas bangku rotan tua yang sama, setiap paginya, setiap harinya.

“iya bu, sebentar”.

Kenalkan, namaku ‘cahaya’, anak dari seorang bunda yg renta, manusia yang kucintai sampai terbawa mimpi, terkadang ibu mewujud melati yang putih bersih dan menebar wangi ke hari-hari yang aku jalani dengan sepi dan sendiri. Kaca, kau pantulkan juga kerut di muka dan dahi ibu, bukan?

Aku ingat, suatu hari yang lalu, ibulah yang mengajarku membelitkan ujung jilbab, memantas-mantaskan warnanya dengan baju panjang ini, lalu menyisipkan peniti kecil di sela lipatannya. Aku masih gadis kecil yang lucu kala itu, dengan rok panjang merah dan padanan baju berlengan dan jilbab putih. “kenapa aku harus pakai kerudung, ibu?” tanyaku. “sebagian kawan-kawan tidak”.

Ibu tersenyum dan menarik aku ke hadapan cermin di dinding itu. “supaya kau mulia dan lebih memesona dibanding mereka, cahaya” katanya sambil membenarkan jilbabku yang miring kesana-sini.

“Wanita mematut diri depan kaca, duhai cahaya”, kata ibu suatu kali. “Bukan bersolek, tapi membuang apa-apa yang tak pantas”.

Sering sekali aku membayangkan masa-masa itu, dan baru terhenti biasanya saat waktu menyadarkanku, atau saat seperti kali ini, di luar dingin, uap air yang jenuh dari tadi melayang-layang, mengetuk-ngetuk jendela dengan suara gerimis yang sopan. Aku gelisah. Penantian selalulah panjang dan mencemaskan, apakah sebaiknya aku menyambut sapa-nya, kaca? Lelaki seberang rumah, yang bertamu di sore minggu lalu?

“Ada lelaki bertamu tadi siang, kau sedang tak ada”, kata ibu waktu itu, dan lelaki itu berbincang banyak dengan ibu, kata ibu dia anak baik.

“ah… ibu, kacamatamu berembun, sini, biar cahaya bersihkan dulu”. Kuarahkan tangan dengan pelan ke telinga ibu, ada dua helai rambut putih menyembul kusut dari balik frame kacamata tuanya, ibu memegang tanganku, dan aku tahu aku tak pandai mengalihkan perhatian.

“apa pendapatmu tentang dia, cahaya? Sudah lama dia memerhatikanmu. Seorang lelaki sopan yang bertamu untuk sekadar tahu namamu, meski dari berapa tahun lalu ia sudah mengenalmu lewat kilas-kilas jejalan yang kau lalui tiap kali ke mushola kecil di seberang rumah kita”

Suara ibu masih bening seperti kali pertama dia mengajarkanku mengaji dulu, seperti tetes pancuran bambu di surau seberang. Aku melepaskan tangan dari kacamatanya. Lalu menunduk lama. Ibu masih menyulam jalinan lama pada kursinya yang rotan, yang coklat tua. Aku memainkan ujung jilbabku waktu itu. Memintalnya hingga sedikit kerut dan menjelma gelisah, sekiranya kau juga dipajang di ruang tamu, pasti aku bisa melihat pantulan diriku, kaku dan tergugu, kaca.

Sedang ibu bagiku terlalu digdaya, pesonanya membuat aku hormat dan iba sekaligus.

“bu…. Apa boleh aku menimbang-nimbang dulu?”

Ibu memainkan jarum sulamannya. Begitu lincah, begitu indah. “boleh nak, boleh… putuskanlah olehmu, apapun yang kau pilih akan ibu setujui, jika kau bimbang berkatalah, jangan diam, karena diamnya gadis manis sepertimu dalam agama kita berarti ‘iya’”

ibu mengelus kepalaku. Tangannya terasa halus dari balik kain penutup kepalaku. Aku ingin menitiskan air mata yang entah apa, tapi tanpa kaca aku tak bisa menilai raut muka, air yang mengalir di kerut wajah yang salah bisa menggundahkan ibu. Dia terlalu berharga untuk sedih dan berduka.

Untunglah tiba-tiba ada suara suiit yang panjang menerobos dari dapur. Aku berdiri, pergi mematikan air pada kompor yang menyala-nyala redup. Aroma minyak tanah membubung gamang di udara, seandainya saja tak ada dia, bayangan pria yang menyampaikan salam yang kaku dan memesona, mungkin aku tidak akan bimbang. Pilihan datang pada waktu yang selalu salah, dan memutuskan diantara dua kebaikan adalah selamanya berat.

***

Pada mulanya hanya kata, lalu semua tumbuh diam-diam.

“siapakah nama saudari? kalau tak salah kita bersebelahan kampus” tanyanya waktu itu lewat bariton yang sedang dan kontras dengan desing klakson bus kota-bus kota yang tua.

Baiknya kujawabkah atau kudiamkan saja?Read More »

KACA-KACA CINTA (tetirah) (cerpen)

Dia memilih melepaskan cinta. Memperjalankan jiwanya tuju pengertian-pengertian yang lebih dalam, yang lebih sejati. Untuk itu dia tetirah, pergi sebentar dari roman cinta yang picis dan murah.

Lelaki hidup dalam hempas-hempas takdir yang kasar, kawanku, katanya suatu kali. Mungkin sekasar debu-debu di jalan yang memecah-mecah halus ini, lalu menusuk-nusuk paru-mu. Begitu dia bercerita waktu itu.

Angin dingin. Senja baru saja mulai dewasa, menyadarkan siang benderang yang kekanakan, bahwa dalam satu kali perputaran hidup tak mungkin semua cemerlang, ada malam yang datang mengendap-endap, dan mengejutkan kita dengan gulita yang men-tak tampakkan segalanya, sesuatunya.

Aku tercenung di jok belakang motor tua itu, begitukah kawan? Aku bertanya dalam gumam-gumam yang halus.

Dia mengangguk. Kepalanya membentuk ritmis naik turun dari helm hitam tua. Tangannya masih memegang setang motor yang berlari cingkrang. Empat tahun lalu kejadian itu. Dia tuturkan tentang kekisah sembilu yang menyayat pembuluh-pembuluh, juga tentang kesatriaan yang menghadang segala takdir menyesakkan.

Motor melaju kencang, kami menuju kampus perkuliahan nan jauh. Sebuah kuliah malam hari yang melelahkan. Tapi begitulah hidup, bukan? Hujan turun, genang air dilibas roda-roda setengah gundul, lalu sepatu basah, sebuah lembab yang meresap sampai ke hati. Lalu aku mengakui, engkau digdaya, sebenarnya, sobat, pikirku.

Dan dia –dalam bayanganku- menjawab kencang dengan deru knalpot. Segala yang sudah terjadi itu tak terelakkan, bukan? Dan segala yang belum terjadi adalah jalinan cita-cita yang mimpi, yang tawar menawar dengan lauh mahfudz, yang berkelahi dengan takdir. Kita memilih, Tuhan menyetujui.

Dan begitukah akhirnya kau putuskan meninggalkan cinta? Aku bertanya.

Ya, sepertinya begitu

***

Di suatu siang yang lain. Berapa masa sebelumnya

“siapa dia” tanyanya suatu kali.

Kuhentikan membaca sebaris paragraf pada buku tipis.  “siapa?” tanyaku

Rekan karibku itu tak menjawab. Pandangannya terpaku pada rerimbun pohon peneduh di pinggiran jalan. Seorang wanita terlihat melintasi jalan itu dalam langkah yang pasti dan konstan, angin mengibarkan ujung jilbabnya yang buram ditimpa bayang-bayang  daun.

“kalau tak salah, namanya cahaya” aku menjawab sambil melanjutkan bacaan setengah selesai. Lelaki di sebelahku ini akan menghentikan tanyanya sebatas penasaran yang gagal mematangkan diri, kuduga begitu.

“anak jurusan manakah dia?”

Aku  salah….. lelaki sebelahku ini bertanya lagi. Tanya kedua membuktikan dia memerhatikan. Selama ini kupikir dia lelaki yang rigid. Aku menutup buku dan memandang dari sela-sela daun. “haha… tak kusangka, kau bisa memerhatikan wanita” aku tertawa.

Dia diam acuh yang menyebalkan dan aku ingin menyudahi dialog yang menggelitik ini. “aku tak tahu”

“serius??”

“ya, kau ingin kita cari tahu?”

“tak penting” katanya, sambil beranjak dari tangga beton depan kampus. “tak penting”

Aku tersenyum  dalam lengkung simetris “seberapa tak penting?” tanyakuRead More »