BIJAKSANA, SEDERHANA

Yang kucinta dari pagi, ialah kesederhanaannya. Mengantarkan siang untuk meraja, menyabarkan malam agar turun tahta. Lalu ia meniada.

Yang kukagum pada senja, ialah kebijakannya. Menyabarkan siang bahwa ia tak selamanya, mewanti malam bahwa pekat tak segalanya. Lalu ia meniada.

Yang kupelajari dari dunia ialah keadilannya. Melamakan jatah untuk surya membahana, mengulurkan waktu untuk gelap menggulita. Tapi kenangan selalu jatuh pada senja, pada pagi waktu hari masih muda. Mereka bijaksana, mereka sederhana. Meski muncul sebentar lalu dia sirna.

tanjungbatu 28 mei 2011

Iklan

DO’A SEPOTONG PETANG

Kami pulang pada sepotong petang,

Melepas bayang lewat rentang hati lapang,

sgala gulita biarlah terbang,

Kau Maha Benderang.

——————————————

Kepada malam:

Kami rindu pada suatu kala yang hening dan tenang,

waktu do’a memintal-mintal resah yang kalut dan masai,

lalu mengantarnya ke langit, biar diurai Tuhan.

——————————————

Kami rindu pada sebuah jenak yang  jujur dan lugas,

waktu temaram bulan kami syukur-syukuri,

“duh Gusti, pada gulita juga masih Kau titip cahaya”.

——————————————

Kami rindu pada seketip rizki yang resik dan baik.

Memuja kurnia; kami gosok kemilau pada jiwa, bukan pada harta.

——————————————

Hilangkan sejenak suara-suara,

biar khidmat kami berdoa,

“Gusti…Tidur kami; lena.

Terjaga kami; alpa.

Ampun kami Tuhan, Kau Maha Segala”.

tanjung batu 26 mei 2011

gambar ilustrasi dipinjam dari –> here

TAPI TETAP

Boleh ada yang pecah pada desah,
lewat ratap yang meretak-retak. Serupa ada yang rusak pada isak, lewat tangis yang mengalir titis. TAPI
JANGAN CIUT!

Boleh ada yang tuli pada sepi, lewat
sendiri menjelma rupa duri, serupa
ada yang kosong pada hampa, ada
terasing yang menyalakan lara. TAPI
JANGAN TAKUT!

Boleh ada yang runtuh pada letih,
lewat keringat yang jatuh dengan
bulir. Serupa ada yang lunglai pada
lelah, lewat tapak yang menjejakkan
darah. TAPI JANGAN SURUT!

Boleh ada yang sirna pada dunia,
serupa siang meniada kala gelap
tiba. TAPI TETAP PERCAYA! “mudah” ada bersama “sulit”, bukan
setelahnya!

senandung biji pohon di tengah hutan pada suatu hari

hutan

Saat ini, aku merasa seperti sebuah biji yang bernyanyi sendiri di tengah hutan.

Apa yang lebih penting bagi biji selain tumbuh dan menjadi berarti?

Ada yang lepas dari kesendirian hutanku, meloncat, dan berlari ingin berteriak

“jangan pernah rendahkan aku meski biji tak setinggi belantara!!!”

suatu hari aku bernyanyi,
senandungku,
nanti, suatu saat aku akan tumbuh besar dan menjadi

 

 

*repost tulisan lama

 

begini ceritanya

BEGINI CERITANYA

Beri aku sedikit saja waktu untuk berpikir,
pikirku pasti akan melayang tentang aku, kau, kita yang seringkali dibodohi ego masing-masing, tapi masih saja bilang
“menurut saya begini….begini….begini……”

Beri aku sedikit waktu untuk mendengar,
pasti yang terdengar suara aku, kau, kita sama-sama bernyanyi tentang prinsip, tentang kebenaran, tentang pandangan hidup, yang syairnya ditulis oleh ego masing-masing, dan bunyinya
“begini…begini….begini….”

Beri aku sedikit saja waktu untuk melihat,
pasti yang terlihat adalah aku, kau, kita sama-sama berakting jadi orang bijak, orang pintar, orang arif, dan sebagainya dan sebagainya, yang naskahnya
“begini….begini….begini….”

Coba kita luangkan sedikit saja waktu untuk merasa,
pasti yang terasa adalah rasa ego,
seperti rasa benar yang diaduk dengan rasa paling.
Mungkin aku, kau, kita, sama!

Aku hanya minta kau luangkan sedikit saja hatimu,
tapi toh buat apa???
Sebelum bicarapun aku sudah dibantah dan digurui
“begini….begini……begini…”

Lalu aku hanya diam,
sedang dihatiku dongkol dan berkata
“begini…begini….begini…”

sebuah tulisan yang terpendam lama. jaman2 masih sma

JELAGA

Aku ingin menulis sajak buatMu, tapi kata-kataku jelaga.
Apalagi yang bisa disusun-susunkan untukMu “Cahaya”? bila huruf rupanya sudah hitam keling.

Aku setengah lari.
Dari awalan yang buram dan rabun.
Aku susun sebait larik.
Yang meski menyajak kurasa tak,
meski jelaga kusurut tak.

Aku ingin menulis sajak buatMu, meski layak kukira tak.

Aku jelaga Engkau Cahaya.
Dan aku masih berjalan memohon-mohon: tunjukkan ufuk.

Amiin.

seratus juta hasta

ibu

Dari mata ibu.
Setiap kali menggenang setengah tertahan lelehan air mata di kelopaknya yang tua itu, setiap itu pula aku memulung kesadaran.
Aku rekam berpuluh-puluh babak tentangnya dan kuputar dibenakku lanskap seperti film zaman dulu.
Seorang ibu yang helai rambutnya sudah panjang dan memutih, lalu satu-satu gugur dan terbang pelan ditimang-timang angin.

Seperti hari ini.
Rasanya belum selesai aku berguru padamu, ibu. Dari padepokan yang kau buka sejak lama itu.
Dari kecil sekali usiaku dulu -waktu mengeja saja belum pandai rasanya- sudah kau ajarkan tentang sabar yang tertempa.
“Dilimpas musuh seraksasa, ditinju kepal seliat baja, jangan sekali-kali runtuh kita punya hati, tetap tegakkkan kita punya kepala, pancang berdiri kita punya kaki!” itukan katamu, Bu?

Dasawarsa berlari secepat senja yang terjepit itu. Muncul bilangan detik saja. Diberikan kesempatan sekedarnya oleh siang yang menyengat nyala, lalu diterkam gulita yang pongah jumawa.
Tiba-tiba hari ini, kami seratus juta hasta jaraknya darimu, dan menjelma anak-anak cengeng yang memilukan.

Bagaimana engkau bertahan bu? Dalam ratusan luka yang membelah kulit dan nadi, melewat ribu duri yang pelan-pelan menusuk kaki, menghela sunyi yang terlampau hening seperti membuat kita tuli, dalam segala yang menghantu seram, yang merangsek rangsek pertahanan, yang menghajar kepala kita sampai terbanting ke tanah, bagaimana bu?

Lalu tiba-tiba hari ini kami seratus juta hasta jaraknya darimu. Padahal segalanya sudah pula engkau ajarkan dengan pelan, sambil tersenyum dan menyeka keringat yang bulirnya mengalir dari keningmu yang bergurat-gurat letih.

Malu aku merutuk nasib, Bu. Embun basah dengan gampang nian menempeleng kami sampai tergelung dibalik selimut, lalu baru terbangun waktu hari terlanjur berlari setengah kepala. Sementara engkau menjerang nasi waktu kami belum bangun, menyapu rumah dari kala dimana ayam jantan saja enggan menggeliat.

Malu aku merutuk sepi, Bu. Padahal engkau tetap mengembang bibir, waktu sebalik badanmu tersembunyi dibalik pintu dan sebaliknya lagi menjulur tangan melambai-lambai kepada kami yang melanglang pergi tanpa sejenak juga membalikkan punggung dan mengucap barang satu dua frase terima kasih, basa-basi, atau apalah dari mulut kami yang pandai berorasi ini.

Seperti lanskap film zaman dulu, terputar di mataku ibu yang mengelap bingkai foto tua berdebu, memandangnya dengan tatap yang seperti senja, lalu memajangnya di atas buffet kayu jati yang rapuh setengah kakinya.

Sementara kami seratus juta hasta jaraknya darinya.