SI MISKIN YANG DIKARUNIAI

Banyak renungan akhir-akhir ini. Terutama setelah menyaksikan berita di televisi dan media online, kehidupan publik figur yang diterpa badai. Saya melihat bagaimana Tuhan berkuasa membolak-balik hati manusia. Taat dan ingkar hanya sekerlip mata saja berubah.

Dan dari obrolan santai dengan beberapa orang rekan yang juga dilanda badai dalam kehidupan mereka. Saya jadi teringat pepatah lama: tak ada gading yang tak retak. Manusia adalah tempatnya khilaf.

Seorang rekan bertanya pada saya, apa tips-nya Taskiyatun Nafs? Tips yang paling simple untuk tazkiyatun nafs?

Waddduuuh mana saya tahu. Saya dan dia rekan saya itu, barangkali sama saja. Sama-sama orang yang berulang kali menyaksikan diri sendiri sebagai pejalan yang jatuh, lalu bangun, berjalan, lalu jatuh lagi dan bangun lagi.

Dalam skema yang seperti itu barulah saya memahami ungkapan para arif yang mengatakan dalam makna kurang lebih begini: jika untuk sampai kepada Allah harus menunggu bersih dulu, selamanya kamu tidak akan sampai padaNya. Karena kita tak akan bersih.

Makna dari ungkapan itu, saya temukan pengertiannya setelah merenungi kajian Ust. Hussien Abd Latiff.

Alih-alih membersihkan diri, ada tips lain yang lebih cepat. Yaitu dengan menyadari -lewat ilmu- bahwa kita tidak memiliki wujud sejati, dan kita hidup mengikut plot-Nya di Lauh Mahfudz.

Dengan memahami ini, ada pergeseran “persandaran” di hati kita. Dari yang tadinya melihat amal sebagai sebuah usaha, lalu bergeser melihat amal sebagai sebuah karunia.

Cobalah rekan-rekan perhatikan. Jika selalu kita mengharapkan diri kita bersih, semakin-makin kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa diri kita, hati kita dibolak-balik sekehendakNya. Dan kita akan mendapati diri kita tidak akan pernah bersih. Maka kecewalah kita. Hilanglah harapan, karena mengukur perjalanan menuju Tuhan dengan kapasitas dirimu sendiri.

Tapi jika kita memahami bahwa kita mendekat sejengkal; DIA sehasta. Kita sehasta; DIA sedepa. Maka setiap orang tak akan kehilangan harapan. Sebab lebih cepat pertolonganNya datang kepada kita, ketimbang kebagusan laku dan peribadatan kita sampai padaNya.

Jadi kita ada harapan. Dari titik sependosa apapun kita. Dari ceruk paling nadir di kehidupan kita sekalipun, saat kita menyadari bahwa sekali-sekali manusia tidak akan bisa bersih, disitulah kita bersandar betul-betul pada kemurahanNya.

Seolah-olah, “ya Allah, jelek dan buruknya peribadatanku ini selama-lamanya tidak akan mampu membeli pertolonganmu, tetapi rahmatMu lebih cepat sampai padaku ketimbang amalku yang tak sempurna ini”.

Disitu mengertilah kita. Bahwa amal itu karunia. Saat DIA mengaruniai kita pengertian-pengertian, maka membaguslah amal kita.

Ibarat seorang raja menolong seorang pengemis yang kotor. Dia memandikannya, memberikannya pakaian yang bagus. Menghadiahkan wewangian. Lalu Mendudukannya disisinya yang terhormat.

Saat itu membaiklah kedudukan si miskin tadi, tetapi dia sudah sadar, bahwa dia sampai disitu karena anugerah. Bukan karena kerja kerasnya.

Iklan

SPIRITUALITAS DALAM KEMACETAN

Kalau porsinya “Pas”, dan saya tak sedang terburu-buru menuju kantor, sebenarnya saya cukup bisa menikmati kemacetan.

Macet yang proporsional, dalam situasi yang tidak sedang mendesak, justru memberikan saya kesempatan untuk jeda sejenak dan menikmati pemandangan dari sudut yang biasanya tak kelihatan.

Seperti pagi ini. Macet yang sopan di atas fly over, memberi kesempatan menikmati setiap lekuk gedung-gedung jakarta yang padu padan dengan rumah-rumah yang kusut. Orang-orang yang sibuk dalam pagi yang lahir sangat prematur.

Di kota besar, pagi lahir terlalu dini dan malam lelap pada usia yang terlampau tua. Sejatinya kita dipaksa untuk hidup dalam rentang observasi yang lebih panjang dari biasanya bukan?

Tapi pelajaran hidup jarang terserap dan kebijakan jarang bisa dinikmati meski usia kesibukan lebih panjang, barangkali karena “jeda” yang kurang. Itu barangkali hikmahnya kadang-kadang Allah mentakdirkan jeda.

Saya teringat dulu jaman kuliah, seorang sahabat selalu ke kampus dengan motor bebek tua. Sangat tua sehingga tidak mampu berlari dengan kecepatan yang umum. Tetapi justru dengan pelan-nya itu, pada momen yang pas dan sedang tak ada hal mendesak; dia malah memberikan waktu menikmati sudut-sudut Jatinangor yang penuh dan semrawut. Detail anugerah yang tak terbaca jadi kelihatan.

Di dalam sholat, jeda sejenak itu dinamakan tuma’ninah. Di dalam haji dia disebut wukuf. Dan di dalam kehidupan…… dia adalah kebetulan-kebetulan kecil yang banyak kita temukan sehari-hari.

KENIKMATAN MENONTON HIDUP

1Ada satu “kenikmatan” lain yang saya baru mengerti, ketimbang kenikmatan untuk “tampil” dan menjadi menara gading di tengah khalayak, kenikmatan itu adalah asyik menjadi “pengamat” dan belajar dari kehidupan.

Dalam sebuah sesi pelatihan di salah satu kantor Client di Duri, Riau berapa tahun lalu. Ada materi mengenal diri secara psikologi. Pelatihannya dari kantor client sih, cuma saya beruntung untuk telah ikut dan bagi saya itu menambah wawasan.

Satu fakta disebutkan disana bahwa kecenderungan psikologi manusia bisa bergeser dari yang misalnya dominan koleris atau pengatur, menjadi lebih dominan sebagai orang yang kompromistis. Jadi karakter seseorang itu tidak rigid alias kaku. Bisa bergeser. Begitu kata para psikolog.

Salah satu yang membuat bergesernya karakter seseorang itu adalah karena “ilmu” yang dia dapat. Entah lewat belajar atau lewat pengalaman hidup. Berubah cara pandang, maka berubah pula karakter seseorang.

Saya sih bukan psikolog, tetapi dengan niteni diri sendiri saya jadi paham bahwa benar juga kata para ahli, secara nampak luar kecenderungan psikologi manusia memang bisa bergeser. Dari sifat-sifat tertentu, menjadi sifat-sifat yang lain. Dalam literatur tasawuf, perubahan yang kontras sekali dari level paling rendah menjadi level sangat tinggi itu disebut abdal (pertukaran). itulah maksudnya istilah wali abdal yang begitu masyhur itu. Seseorang yang bertukar paradigma hidupnya.

Tapi tak usah jauh-jauh abdal deh, kita dapat sedikit kesadaran saja sudah syukur. Karena jalan pertukaran itu tentulah penuh onak duri. Dan kata Syeikh Abdul Qadir jailani, berpuas dirilah dengan apa yang ada padamu!

Dulu, secara subjektif saya rasakan saya adalah seorang dengan karakter yang begitu koleris. Suka mengatur, dan cenderung ingin tampil selalu dalam kerumunan. Setelah belajar spiritualitas islam sedikit-sedikit, maka kecenderungan itu pudar. Terutama setelah mengetahui bahwa kehidupan ini adalah pelajaran itu sendiri, bahwa hidup adalah af’al-Nya, maka pudarlah keinginan untuk tampil dan menjadi pusat perhatian.

Lama-lama ternyata menikmati juga untuk “diam” dan larut dalam aktivitas menonton.

Menonton ini, tak juga berarti pasif. Justru semakin ingin berkontribusi aktif dalam kehidupan, tetapi tak perlu untuk tampil.

Sekarang ini saya mengagumi saat saya lihat betapa banyak di sekitar saya orang-orang yang kontributif sekali pada masyarakat, tetapi tanpa perlu menjadi pusat pesona. Dan itu membuat saya malu sekaligus belajar.

Kemarin sore, ada pertemuan di komplek perumahan saya. Dalam diam saya mengamati jenak dimana ada drama orang-orang bercanda, tak perlu tampil tetapi dengan menjadi seseorang yang lucu saja sudah bisa membuat sesama makhluk jadi bahagia. Ada juga seseorang yang membantu dengan sebisa mungkin meminjamkan karpet yang dia punya, meminjamkan meja yang dia punya, menyumbang makanan, mendirikan tenda, mengangkat kursi, dan hal-hal lainnya yang sama sekali luput dari perhatian massa, tidak elegan dalam frame kamera, tetapi saya amati detailnya begitu membahagiakan.

Orang-orang yang aktif dalam kontribusi tanpa keinginan untuk larut dalam elu-elu itulah yang saya lihat begitu indah.

Mungkin begitulah seorang guru pernah mengatakan, tengok awan berarak….tengok burung-burung terbang! Dalam sikap “menengok” seperti itu kita terasa sedikit terasing dari keramaian yang riuh itu, tetapi pelajarannya sangat jelas.


*) Image sources taken from here

 

 

OPERASIONAL BMW UNTUK ORANG AWAM

Seumpama kita diberikan kendaraan sebuah mobil BMW terbaru, tentu kita harus mengerti dulu bagaimana mengoperasikan BMW tersebut, apa saja kemampuannya dan batasan-batasannya apa saja. Sebelum mengetahui hal tersebut, kita belum bisa memanfaatkannya secara benar untuk sampai ke tujuan.

Saya teringat dengan analogi mobil BMW ini karena kemarin seorang rekan datang ke rumah, dan berbincang panjang mengenai kondisi dunia migas yang sedang gonjang ganjing karena krisis minyak. Pengurangan karyawan banyak sekali terjadi dimana-mana dan rekan saya ini adalah salah satunya yang terkena dampak.

Lumayan banyak perbincangan kami, dan saya memaknai bahwa siapapun yang tertakdirkan datang bertemu dan berbincang dengan saya, sesungguhnya mereka menjadi “guru” bagi saya tanpa mereka ketahui. Dari perbincangan kemarin, saya mengamati sebuah ketakutan pada teman saya akan kondisi dunia migas saat ini, dimana ketakutan itu juga ada tersimpan dalam lubuk hati saya sendiri.

Tetapi rasa takut itu, teramati jelas sebagai bagian yang terpisah dan sendiri. Jauh sebelum saya belajar pendekatan tasawuf dalam kehidupan keberagamaan, saya tak mengerti mengenai “mengenal diri” ini. Saya tak paham bahwa rasa takut, amarah, rasa sedih dan lain sebagainya itu adalah sebuah entitas sendiri-sendiri yang bisa “dikenali” dan mestinya tunduk pada komando hati sebagai rajanya.

Sebagaimana jamaknya orang-orang yang tak kenal dengan spiritualitas, saya hanya paham sebatas pendekatan psikologi saja. bahwa manusia ada tipikal-tipikal tertentu, ada yang koleris dominan, ada yang sanguin ceria, dan seterusnya, dan seterusnya….. dimana semua tipikal itu saya kira hanyalah efek dari hormonal manusia. Manusia adalah makhluk yang disetir hormonnnya sendiri, sebatas itu saja yang saya pahami dulu kala.

Belakangan baru saya mengerti bahwa dalam kajian yang lebih “dalam” pada tasawuf islam pun mengajarkan kita mengenali bagian-bagian diri kita sendiri. Yang secara jujur saya akui berbeda –untuk tidak mengatakan lebih canggih- dari kajian psikologi semata-mata.

Perumpamaan yang memudahkan adalah perumpamaan mobil itu tadi. Seumpama kita diberikan sebuah mobil BMW dengan tujuan untuk pergi dari Jakarta-Bandung misalnya, maka sebelum pergi Jakarta-Bandung, tentu logis untuk kita perlu tahu dulu seperti apa mobil ini, bagaimana mengendalikannya, bagaimana mencapai kemampuan optimalnya.

Mobil BMW itu adalah perlambang diri manusia itu sendiri. Dalam diri manusia ada yang menyetir, dan ada banyak panel-panel display yang menyatakan mesin sekarang suhunya berapa, oli cukup atau tidak, bensin bagaimana, dan seterusnya….. panel-panel itu, ternyata tidak hanya ada untuk instrumen tubuh yang fisikal dan terindera (jasad), tetapi ternyata juga termasuk untuk instrumen yang abstrak semisal anasir perasaan.

Setelah tahu mobilnya, maka barulah berjalan dari Jakarta menuju Bandung.

Permasalahannya, sebagian orang ada yang mengkaji dengan sangat teliti kemampuan mobil BMW, lalu kemudian menggunakannya untuk tujuan yang lain dari peruntukannya. Yang seharusnya disuruh menuju Bandung dari Jakarta, malah dipakai di Jakarta untuk kebut-kebutan, karena sudah paham kemampuan BMW, misalnya.

Atau ada yang tahu tujuannya adalah menuju Bandung, tetapi karena tidak paham kinerja mesin dan apa fungsi panel-panel display, jadi terhambat perjalanannya.

Begitulah, mengenali diri sendiri, baik instrumen jasadnya ataupun instrumen yang tak terindera di dalam diri manusia itu, adalah salah satu tangga yang harus dilewati untuk hampir semua pendekatan spiritualitas. Termasuk perlu untuk pendekatan tasawuf.

Dengan pendekatan tangga bawah ini, kita bisa mengenali elemen-elemen rasa takut dalam diri kita sendiri, dan mengenali mengapa rasa takut itu muncul? Untuk kemudian mengisi diri kita dengan lebih banyak data agar kekhawatiran dan takut –jikalah disebabkan karena kurangnya info akan sesuatu-; menjadi hilang.

Sangat praktikal sekali memang. Meskipun pendekatan ini belum lagi masuk ranah yang lebih dalam. Pendekatan ini sebenarnya kajian seru untuk para awam, karena jika saya amati para arif tidak lagi bermain dalam ranah ini. Mereka melihat hidup sebagai sandiwaranya Tuhan, dan dalam pandangan seperti itu sebab-akibat menjadi musnah. Tidak ada lagi BMW dengan segala instrumen-instrumennya itu.

Image taken from bmw.com

HABIS MODAL DAN TAK BERSISA

Teringat saya dalam sebuah kesempatan pertemuan di San Antonio Texas, saya menyaksikan para petinggi perusahaan tempat saya bekerja duduk bersama dengan analis dari Wall Street, dalam sebuah panel diskusi. Disitu saya merasa sungguh saya bukan siapa-siapa. Kecil dan hanya penonton.

Sewaktu kuliah dan masa SMA sebelumnya dulu, saya merasa cukup bangga dengan kemampuan saya berbicara. Maka seringkali saya mengandalkan kemampuan retoris untuk menghadapi banyak persoalan. Termasuk dunia kerja.

Setelah menapaki karir dalam dunia kerja, pelan-pelan saya menyadari bahwa saya berada dalam pusaran ratusan orang dengan kemampuan retoris yang memukau. Untuk tidak mengatakan hampir keseluruhannya mengungguli saya. Kecerdasan secara akademis apalagi.

Jadi dalam urusan soft skill dan intelektualitas, di dunia kerja saya habis dan dikuliti.

Saya mencari celah dalam keberagamaan dan spiritualitas. Tetapi juga sama saja. Dalam sekejap saya menemukan pusaran orang-orang dengan lelaku peribadatan yang menyalip saya -atau selalu di depan saya dan saya tak berhasil bahkan tuk sekedar mendekati mereka- jadi dalam urusan akhirat pun saya habis dan dikuliti.

Dari sana saya akhirnya dengan jujur mengakui bahwa saya hanya beruntung. Untuk diperjalankan tanpa modal.

Untuk telah masuk dalam sebuah pekerjaan yang menjaminkan saya kehidupan yang tidak sulit, dan cukup makan. Alhamdulillah. Padahal jikalah melihat kemampuan diri dan kecerdasan, sungguh saya sangat mudah untuk dipecundangi persaingan yang ketat dan tajam di sekitar saya ini.

Dan saya akui pula saya beruntung. Untuk tertakdir mengenali cara pandang spiritualitas yang saya lihat tak semua rekan saya mengerti tentang ini. Pengenalan dengan modal yang sama sekali bukan kecanggihan amal dan fantastisnya lelaku, alih-alih lewat kehidupan yang membanting-banting saya sehingga cara pandang lama harus dirombak mau tak mau agar tetap bertahan dalam dilema.

Jadi apa modal saya? Tak ada modalnya. Habis dan tak bersisa.

Dari sana saya akhirnya mengerti bahwa keakraban pada Tuhan tidaklah dibangun dengan modal lelaku dan peribadatan -semata-, alih-alih menyadari kerendahan dan kekurangan diri dalam takdir hidup kita sekarang, dan berakrab pada Tuhan yang mentakdirkan hidup kita seperti sekarang. Maka kita bisa “kembali” tak peduli dimanapun posisi kita saat ini.

Lewat perjalanan yang tak punya modal itulah, setiap kita akan punya kesempatan yang sama untuk bertemu Tuhan. Bromocorah yang hina dina dalam pandangan masyarakat, atau seorang alim ulama yang disegani, juga punya jenak kedekatannya sendiri pada Tuhan.

Jalannya adalah perjalanan kita sendiri-sendiri. Seorang perampok tidak akan putus asa untuk menemui Tuhan jika mengerti bahwa perjalanan ini sejatinya tidak perlu modal yang aneh-aneh. Karena sebetapapun rampok dan kacaunya dirimu, DIA tetap menerima keberserahan diri, dan pengakuan bahwa kita sudah keliru, salah, hilang arah, tapi ingin kembali.

Karena taubat adalah “kembali”. Maka namanya “kembali” mestilah muara dari segala arah. Tak peduli atas bawah atau kiri kanan, selama ingin kembali maka kesitulah arahmu pulang.

Bukan amal dan kecerdasan. Melainkan karena dia ingin kita “kembali” maka kembalilah. Meski tak ada modal.

JANGAN BANYAK MIKIR

Salah satu wejangan guru yang saya sering sekali lupa memraktekkannya adalah “jangan mikir”.

Wejangan jangan berfikir, setelah saya mengerti konteksnya, baru saya paham maksud beliau adalah hiduplah dalam keseharian yang diisi dengan dzikrullah, dan amal-amal nyata. Setiap benturan dalam hidup; jangan banyak dipikir melainkan jadikan wahana meminta tolong pada Allah lewat do’a-do’a, sehingga jalan keluar akan turun dalam bentuk insight. Kalaupun “jawaban” tak turun, biasanya masalah terurai dengan sendirinya seiring waktu, atau kalau tak terurai juga kita akan melihat hikmah disebalik suatu masalah itu.

Setelah berulang kali mengalami siklus ingat-lupa-ingat-lupa-ingat lagi akan wejangan beliau ini, barulah saya paham bahwa sebenarnya manusia tidak akan bisa untuk sama sekali tidak ada “ide” di dalam ruang hatinya. Mestilah dalam 24 jam akan ada ide-ide, karena dengan itulah manusia menjalankan kehidupan dan bergerak mengikuti idea dalam jiwanya.

Perkaranya, apabila suatu masalah difikirkan terlampau dalam tanpa ada “ingat padaNya”, yang muncul adalah keruwetan.

Ruwet karena syaitan dapat menunggangi fikiran dan kekhawatiran manusia dan menyusup masuk ke dalamnya melahirkan was was.

Saya beri contoh bagaimana ide masuk dalam benak kita.

Cobalah rekan-rekan “melawan” instruksi saya berikut ini. Kalau saya bilang fikirkan A, maka anda fikirkan hal lain umpamanya B.

“Coba bayangkan ‘buah-buahan’ dalam benak anda, sekarang!”

Sudah?

Bagaimana anda melawannya? Seumpama anda diberikan instruksi membayangkan buah, lalu anda melawannya dengan…….”tidak mau, saya akan membayangkan alih-alih membayangkan buah, saya akan membayangkan ‘makanan’.”

Kita bisa lihat bagaimana “ide” tentang makanan adalah bukan sesuatu yang kita buat. Dia muncul sendiri ke dalam ruang batin kita. Kenapa kok tiba-tina kepikirnya makanan?

Dan dalam setiap hari, ribuan bahkan juta hal semacam itu masuk ke dalam benak kita. Kita sadari atau tidak sadari itulah yang menyetir keseharian kita.

Kadang-kadang saya seringkali terjebak, tahu-tahu sudah bete atau bad mood seharian tersebab kekhawatiran dan was-was disebabkan fikiran saya sendiri.

Kalau sudah begitu, seringkali “rasa” persandaran pada Tuhan menjadi berkurang karena seperti lupa pada kenyataan yang sesungguhnya bahwa hidup kita mengikut takdir atau af’al Allah. Seolah-olah kita punya kuasa sendiri.

Pada akhirnya memang benar, jangan banyak mikir! Kalau ada masalah, jadikan wahana menuju Allah. Lewat pintu do’a untuk curhat dan berakrab padaNya dalam keseharian.

Kata seorang guru, pintu do’a terbuka selalu. 24 jam sehari. Begitu istimewa. Ada masalah kita berDo’a dan tunggu insight turun dalam kehidupan kita.

Jangan banyak mikir.

Eh… tapi di Qur’an bukannya banyak perintah “mikir” ya? Tentang penciptaan langit dan bumi, mikir tentang kuasa Tuhan. Dst?

Nah….Sebenarnya skema melihat alam semesta, lalu teringat keagungan penciptaNya itulah juga dzikir atau “ingat Allah”.

Sama juga dengan ada masalah; lalu mengingati Allah dan berdo’a meminta pencerahan agar keluar dari masalah; itu juga dzikir.

Pada pokoknya ternyata jangan sampai kita kehilangan “dzikr” dalam keseharian. Jangan ada fikir yang tak ada “dzikr” agar tidak ruwet.

Dan hidup dalam kebiasaan seperti ini lama-lama seolah membuat diri kita terpisah dengan keadaan di luar diri kita. Semacam “sepi” di dalam ramai. Ada jarak mental antara kita dan kondisi di luar kita. Seperti melihat drama.

Tetapi ya itu tadi. Sekalinya lupa. Tahu-tahu kita sudah “keluar” dari kondisi itu, dan terlalu larut dalam keruwetan hidup.

Ya ndakpapa. Masuk kembali. Ingat kembali.

SPIRITUALITAS YANG KURANG PIKNIK

Dulu. Sebelum saya pernah naik pesawat terbang, jarak antar kota di Indonesia serasa begitu jauh. Setelah beberapa kali naik pesawat, secara relatif jarak yang jauh itu terasa tak seberapa. Sebentar saja naik pesawat sudah sampai. Tentu ongkosnya dibayari kantor. Hehehehe.

Dalam mental kejiwaan saya, tantangan antar kota serasa bukan hal yang sebesar dulu lagi. Karena saya diperkenalkan dengan “pengalaman” lintas kota itu.

Begitu juga beberapa rekan saya lainnya saya lihat lebih jauh lagi skalanya. Bagi mereka lintas negara itu hal biasa, sedang bagi saya itu sesuatu yang luar biasa.

Sekali saja kita diperkenalkan dengan “pengalaman” yang lebih besar, maka sesuatu yang tadinya besar akan terlihat kecil.

Dan semakin sering kita “dinaikkan” dari pengalaman lingkup kecil menuju pengalaman yang lebih besar dan lebih luas; pahamlah kita bahwa Allah SWT gampang sekali menaikkan dan memindahkan kita dari satu posisi ke posisi lainnya.

Hal ini juga berlaku dalam spiritualitas keberagamaan. Jika kita melihat pada kemampuan diri kita yang kerdil, maka kita akan sentiasa kecewa. Tetapi jika kita melihat pada khasanah keMaha KayaanNya, kita akan tumbuh harapan.

Jadi istilah “kurang piknik” itu ada benarnya juga.

Piknik disini dalam arti menengok-nengok kebesaranNya. Observasi. Dengan itu “rasa” yakin kita; akan mekar dalam hati.

Barangkali saya harus banyak piknik. “Pergi dari kecilnya diri sendiri” menuju luasnya rahmatNya.