ORANG KANTORAN MENCARI TUHAN

Ceritanya, di Instagram saya follow akunnya Bill Gates. Menyenangkan melihat orang seterkenal Bill Gates posting foto-foto Ethiopia, foto di Afrika, mengunjungi Tanzania, bantuan kemanusiaan pada orang-orang terlantar di negara-negara tersebut, yang semuanya rasanya bukan pencitraan. Tercatat, saya baca sekilas di Forbes, yayasan yang dimiliki Bill Gates dan istrinya Mellinda, menghabiskan total 2.14 billion dollar US setahun, untuk dana sosial.

Yang saya tertarik pelajari, adalah fakta bahwa orang-orang di puncak pencapaian karirnya, banyak yang menjadi filantropis. Begitu dermawan dan menyumbangkan banyak hartanya untuk orang lain. Hidup memikirkan orang lain.

Padahal, hal ini kan kadang-kadang kontras dengan dunia korporasi. Persaingan yang ketat, dan orang-orang berlomba-lomba mencapai sesuatu yang disebut dengan aktualisasi diri. Semua berpusat pada diri sendiri. Hampir-hampir, aktualisasi diri ini sulit dibedakan dengan narsis.

Tema tentang aktualisasi diri ini, yang paling terkenal utamanya dari teorinya Abraham Maslow. Psikolog yang memetakan motivasi-motivasi yang mendorong manusia bergerak. Untuk bergerak melakukan sesuatu, tentu manusia butuh dorongan dong, dari dalam dirinya. Nah, dorongan-dorongan itu jika dipetakan mulai dari yang paling dasar, yaitu kebutuhan fisik, meningkat ke pendorong yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta, kebutuhan akan self esteem pencapaian-pencapaian, sampai aktualisasi diri, yaitu dorongan untuk mengaktualisasikan sepenuh-penuhnya potensi diri mereka. Itulah yang mendorong manusia bergerak.

Piramida Maslow ini, dibahas di banyak sekali pelatihan-pelatihan motivasi. Teringat sewaktu saya berkesempatan training di Kairo, perusahaan saya pun mengadakan pelatihan manajerial yang salah satu temanya adalah piramida Maslow ini. Bahwa untuk bergerak kita butuh dorongan. Dan dorongan-dorongan itu dipetakan, dalam urutan yang paling puncaknya adalah aktualisasi diri.

Waktu itu saya merasakan ada yang kurang tepat dari pemaknaan ini. Tapi saya diem aja di pelatihan itu, tentu saja, hahahaha. Kekurang tepatan itu, adalah fakta bahwa banyak orang-orang di puncak piramida kekuasaan, mereka malah menjadi dermawan, dan spiritualis. Semacam Bill Gates itu tadi. Semacam menemukan bahwa “bukan semua ini yang saya cari”.

Mengapa di puncak aktualisasi diri, mereka merasakan bukan itu yang mereka cari? Mereka malah bergerak karena didorong keinginan untuk membantu orang lain. Hidup dalam “pengabdian”. Sentralnya sudah bukan diri mereka lagi.

Sementara itu, orang-orang yang lainnya ada juga yang saking menjiwainya terhadap “aktualisasi diri” mereka berlomba untuk menonjol dan menjatuhkan orang lain, hal itu jamak disaksikan dalam dunia korporasi. Karena nilai yang ditanamkan adalah mari kita bergerak dengan pendorong keinginan diri kita untuk eksis.

Saya fikir, ini orang-orang barat mesti kurang kajian sufistik, di atasnya piramida maslow itu mesti ada satu tangga lagi yang ga ditemui orang barat hehehe.

Tapi hari ini saya senang sekali, meskipun agak terlambat saya baru menyadari bahwa di akhir hidupnya Abraham Maslow ternyata merevisi, mengamandemen piramida hierarchy of needs-nya itu. Dia meletakkan satu tangga lagi, di atasnya aktualisasi diri (self actualization) itu, ada satu lagi yang dia sebut self transcendence. (transendensi diri).

Sederhananya, ada orang-orang yang melampaui kedirian mereka. Orang-orang ini, kata Maslow, mampu melihat dunia secara lebih global dalam kaitannya dengan dirinya dan dengan orang lain. Konsep hidup mereka lebih “kaya”. Bukan lagi diri pribadi, tapi melihat bahwa dirinya dan lingkungan, bahkan semesta adalah satu keterkaitan.

Itulah puncak piramida Maslow yang sudah direvisi. Puncaknya bukanlah aktualisasi diri, melainkan self-transcendence, transendensi diri, melampaui diri. Hidup dalam pengabdian, berkebaikan untuk orang lain. (Meskipun kalau di googling, hampir seluruh gambar piramida yang kita temukan, berhenti pada aktualisasi diri, versi yang belum direvisi oleh Maslow)

Saya menghela nafas panjang. Benar memang pepatah mengatakan, tak ada yang baru dibawah matahari. Dan ternyata, bapak psikologi itu sendiri sudah menyadari di ujung hidupnya, bahwa pendorong terbesar dan tertinggi adalah keinginan untuk berbuat bagi orang lain. Hilang kediriannya.

Dalam kajian spiritualitas islam, setelah memahami bahwa dunia ini diciptakan dalam rangka DIA ingin dikenali, maka setelah mengenal Tuhan tiada lagi yang tersisa melainkan hidup di dalam pengabdian. Melihat kehidupan dalam pandangan yang tinggi, bahwa hidup kita adalah menzahirkan ceritaNYA. Maka keseluruhan hidup dijalankan dalam kesadaran “mengabdi”, menjadi bagian dari plot cerita.

Kita bekerja-pun, kalau sadar penuh dengan konsep bahwa hidup kita ini adalah bagian dari ceritaNya, dan kita hidup untuk mengabdi padaNYA lewat tugas personal kita (jadi manajerkah, jadi staff kah, supirkah, pedagangkah….dst), maka hidup kita sudah “transenden”. Melampaui kedirian kita sendiri. Sesuatu yang disebut Lillahi ta’ala.

Ada yang menemukan ini lewat jalan panjang. Yaitu jalan “tirakat”. Apakah tirakat ruhani. Ataupun tirakat kehidupan. Menapaki jenjang karir dalam hidup, melewati onak duri, meniti satu-satu sampai tangga paling atas, lalu tercerahkan dan mengerti arti hidup. Pada puncak pencapaiannya. Tetapi jalan itu panjang, dan yang tercerahkan juga tidak semua.

Ada jalan yang lebih ringkas, yaitu meskipun kita belum sampai di puncak piramida karir kehidupan kita, tetapi lewat “ilmu” kita mengetahui tentang nilai-nilai kehidupan. Spiritualitas dalam keberagamaan (karena saya muslim, maka yang saya maksud adalah nilai-nilai tasawuf dalam islam) jangan ditinggalkan. Karena pada bahasan-bahasan sufistiklah, seringkali kita temukan mutiara.

Sebuah mutiara yang sesungguhnya dicari oleh seluruh manusia dalam kehidupan mereka. Termasuk pekerja-pekerja seperti kita ini. Tetapi kita saja yang tidak tahu bahwa selama ini kita sedang mencari sesuatu itu.


References : 

Iklan

TASAWUF, KE DALAM DAN KE LUAR

Berapa tahun lalu, di kantor saya mendapatkan seorang manajer yang kebetulan punya kecenderungan introversi persis seperti saya. Bedanya, beliau adalah seorang introvert dengan kemampuan manajerial yang luar biasa. Hampir semua lini dikuasai. Managerial, Financial, Technical.

Saya amati, beliau memang menggunakan kemampuan introversinya dengan maksimal. Seorang perenung sejati, banyak belajar dan membaca.

Menilik bahwa beliau dan saya ada kemiripan dalam hal introversi. Maka saya terapkan betul petuah-petuah beliau pada saya, salah satunya adalah petuah “Don’t fall into silent trap”. Jangan terjatuh pada jebakan kesunyian. Hehehe anggap aja terjemahnya begitu.

Apa itu jebakan kesunyian, atau silent trap? Menurut manajer saya dulu, salah satu jebakan yang sering dilakukan para manajer kepada bawahan, adalah silent trap. Misalnya manajer memanggil seorang bawahan ke ruangan, lalu manajer tersebut bicara sepatah dua patah kata. Lalu diam. Sengaja diam sehingga ruangan menjadi hening.

Dalam suasana sunyi itu, biasanya akan kikuk. Karena kikuk, maka sang bawahan yang merasa dalam tekanan akan berusaha bicara untuk memecah kesunyian. Dan pembicaraan yang seperti itu biasanya kurang bermutu, dan malah jadi ajang dimana bawahan membongkar hal-hal tentang dirinya, yang semestinya tak perlu. Dan manajer pun bisa menilai bawahannya dari apa yang dia bicarakan pada saat silent trap itu.

So let the silence happen. Biarin aja “kesunyian” terjadi. Begitu kata beliau. Bersahabatlah dengan sunyi.

Hanya saja, selang berapa waktu kemudian, barulah saya menyadari bahwa terlepas dari kemampuan mengakrabi kesunyian, kemampuan untuk membangun relasi dan menjadi bersahabat pada orang-orang adalah juga penting.

Maka saya belajar kemampuan lainnya yang memang selama ini belum saya kuasai, atau lebih tepatnya saya mengira sudah menguasainya, ternyata belum. Karena saya dulu termasuk yang agak besar kepala, telah mengira bahwa saya seorang yang sangat ahli dalam komunikasi.

Sampai pada satu kesempatan, Allah takdirkan saya Training di San Antonio Texas, di sana saya melihat diskusi panel para pembesar kantor dengan Analis dari Wall Street. Baru saya tahu mereka adalah orang-orang dengan kapasitas luar biasa, saya –meminjam istilah teman saya- Cuma kuah indomie aja dibanding orang-orang itu, hehehehehe.

Dari pengakuan kelemahan diri itulah, baru minat belajar tumbuh. Tetapi kemampuan komunikasi yang saya maksud ingin saya pelajari adalah bukan semata pada kemampuan berorasi di atas panggung. Melainkan Small talk. Kemampuan komunikasi yang ringan-ringan. Bertanya kabar, ngobrol basa basi tentang cuaca, ngobrol tentang hobi, ngapain aja pas weekend kemarin, dan seterusnya.

Yang kesemuanya rupanya ada seninya. Seni bertanya, misalnya membiasakan bertanya open ended question, pertanyaan terbuka yang menjawabnya ga hanya pakai Yes or No. Dan ibarat anak tangga, seseorang tidak bisa masuk dalam bahasan lebih dalam tanpa melewati small talk, obrolan ringan. Dan disitulah Saya sama sekali tak mahir.

Maka saya sengaja betul cari-cari literatur tentang itu. Dan termasuk menonton video-video tentang membangun percakapan semacam itu.

Satu fakta yang menarik adalah tips dari seorang pembicara di TED TALKS. agar jangan “saingan” dalam bicara. Misalnya seseorang berbicara tentang betapa beratnya masalah di pekerjaannya. Jangan kita ikutan pula menyampaikan bahwa pekerjaan kita juga berat dan bahkan lebih menantang darinya.

Belajar empati. Karena Ini bukan tentang kita. Melainkan tentang orang tersebut.

Karena menyinggung tentang “ini bukan perkara diri kita” Dari sana saya teringat sebuah hadits, dimana Allah SWT menegur hambaNya di hari akhir. Aku sakit mengapa engkau tak menjenguk? Tentu saja hambaNya bingung, bagaimana bisa Tuhan semesta alam sakit?

Ternyata maksudnya lihatlah sekitar kita. Jika ada orang sakit, ada orang kesusahan, maka saat kita menjenguk mereka, membantu mereka akan “kita temukan ada DIA” disana. Karena sejatinya makhlukNya itu dalam genggaman dzatNya semata-mata.

Dan meluaskan jangkauan kita ke sekitar, membantu orang-orang, ini rupanya mengharuskan juga kita belajar seni mendekat pada orang lain.

Baru saya temukan kaitannya tasawuf dalam ilmu personaliti dan komunikasi.

Di satu sisi belajar Masuk ke dalam, larut dalam renungan, sunyi dalam kontemplasi, dzikrullah. Tapi sisi lain kita Juga belajar berjalan ke luar, membangun relasi dalam rangka berkebaikan, dan menawarkan bantuan.

BELAJAR MENJADI PRIBADI BARU

Hand writing never stop learningSalah satu imbas dari belajar tasawuf, utamanya pendekatan tasawuf profetik yang saya pelajari dari seorang Arif, adalah timbulnya keinginan hati untuk kembali “belajar”.

Bukan belajar dalam artian formal seperti kuliah, tetapi belajar dalam maknanya yang lebih luas.

Misalnya saja begini. Saya mengenali diri saya sebagai persona dengan kecenderungan introvert. Saya menyukai keheningan. Saya suka kontemplasi. Diskusi yang filosofis. Tetapi akibatnya seringkali saya kesulitan untuk membangun relasi, yang tentu saja setiap relasi harus dimulai dengan ketrampilan bicara hal-hal kecil tetapi membangun keakraban. Maka seringkali saya dinilai sebagai pendiam.

Selama ini saya merasakan bahwa ini adalah hambatan terbesar saya. Terlepas dari kesadaran bahwa tentu kecenderungan psikologi pribadi kita adalah juga hal yang tak lepas dari apa yang telah tertulis di Lauh Mahfudz-Nya. Hanya saja, saya akhirnya menyadari bahwa yang kita kenal sebagai diri kita, personaliti kita, adalah bentukan dari ilmu yang selama ini kita serap.

Kalau ingin berubah, maka rubahlah cara kamu memandang, dalam arti cara kita memandang hidup perlu diperbarui, lewat asupan ilmu yang baru, yang lebih baik.

Satu yang menarik dari wejangan Al Arif, dimana saya dan rekan-rekan disadarkan bahwa hal-hal yang halus semisal berikut ini; adalah juga ciptaan; diantaranya, rasa takut, rasa sedih, rasa gelisah, amarah, dan segala anasir perasaan yang selama ini kita kira bagian dari diri kita, ternyata adalah juga makhluk, yang manusia sebagai khalifah tidak boleh tunduk pada mereka.

Salah satu piranti untuk menundukkan “perasaan” adalah ilmu itu tadi.

Contohnya, saya bekerja pada perusahaan asing, dimana kultur orang timur seringkali bertabrakan dengan kultur barat. Misalnya di dalam rapat, kultur timur biasanya sebagai pendengar. Menghargai atasan dengan tidak memotong pembicaraan. Dan lebih banyak setuju dengan apa yang disampaikan bos.

Tetapi, dalam pandangan kultur barat, hal itu dianggap sebagai sikap yang pasif. Jika tidak bicara dalam rapat, tidak menyanggah, tidak adu argumen, dikira pasif dan tidak menghargai.

Jika saya, disalah-sangkai oleh bos, dianggap tidak menghargai beliau, tentu saya kecewa dan sedih.

Bagaimana cara agar saya tidak kecewa dan sedih? ada dua jalan untuk menghilangkan kesedihan ini.

Yang pertama, lewat laku batin. Misalnya, kita terlatih mengenali emosi diri kita, seperti para ahli meditasi. Sampai saking terlatihnya, akhirnya kita bisa mengendalikan rasa kecewa di dalam diri kita. Rasa kecewa, dan “kita yang sebagai pengamat” seperti terpisah dan ada jarak mental. Maka rasa kecewa tidak bisa mampir ke kita. kalaupun mampir, bisa cepat kita lepaskan.

Yang kedua, jalan ilmu. Pas kita kecewa karena disalah sangkai bos kita. Ada seseorang yang mengajari kita sebuah ilmu. “Eh… bosmu itu bukannya ga suka sama kamu lho, tapi cara pandang dia itu beda, dikiranya kalau denger doang pas meeting itu artinya kamu mengacuhkan dia. Padahal dari sisi kamu, hal itu dianggap sikap sopan santun terhadap atasan. Makanya jadi salah sangka semua.”

Seketika itu juga, saat sebuah khasanah ilmu dibukakan pada kita, langsung realita perasaan kita berubah. Dari yang tadinya kesal, lalu jadi adem….. OOOhhh ternyata begono toh. Salah perkiraan saya selama ini.

Saat sebuah jalan ilmu dibukakan pada kita, maka cara pandang yang lebih tinggi akan menganulir cara pandang yang lama. Jika cara pandang yang lebih tinggi itu sedemikan kuatnya, maka menjadilah kita pribadi yang baru. Betapa pentingnya ilmu (dan hikmah), dia diletakkan sebagai pondasi sebelum amal didirikan.

Saya teringat kisah Isra’ Mi’raj-nya Rasulullah SAW. Dimana saat beliau berduka kehilangan Khadijah, dan berduka kehilangan Paman beliau, dan beliau berduka karena dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif, tak lama kemudian peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi.

Beliau diperlihatkan bahwa dunia ini sedemikian luasnya. Dan cerita kehidupan dari awal sampai akhir sudah siap. Konteks “ilmu” yang sangat besar diberikan kepada beliau. Maka kesulitan hidup beliau menjadi lebih ringan dibandingkan konteks yang lebih besar itu. Dan setelah itu datang perintah sholat lima waktu.

Dalam tasawuf. Jalur profetik. Yang dibuka pertama kali adalah ilmu. Ilmu tentang Tuhan. Pengenalan akan Tuhan dan kaitannya dengan alam semesta. Diberikan di awal lewat ilmu.

Allah itu apa? kaitannya dengan alam semesta seperti apa? bagaimana Allah mengatur alam semesta? dengan terbukanya satu gerbang ilmu ini, realita hidup kita jadi berubah sama sekali. kita memandang hidup jadi sama sekali lain. Karena ternyata tidak ada lini apapun dalam kehidupan ini yang bisa dilepaskan dari konteks Tuhan dan ciptaan-Nya. DIA menceritakan diriNya sendiri.

Barulah selepas itu, peribadatan didirikan di atas pondasi pengenalan itu.

-debuterbang-


*) Image Sources

PANGGUNG SANDIWARA

Teringat dulu di dekat rumah saya di Sumatera ada sebuah Musholla kecil. Di sana biasanya sholat maghrib berjamaah. Dan salah satu momen yang saya sangat ingat adalah waktu anak-anak kecil ribut lari-larian saat orang sholat maghrib, seusai sholat seorang bapak-bapak tua yang sudah sepuh nampaknya geram dan menggebuk anak-anak itu pakai peci. Hehehe.

Tapi toh orangtua anak-anak yang digebuk pakai peci malah terima-terima saja anaknya dimarahi. Barangkali metoda jaman dulu memang begitu.

Berpuluh tahun kemudian, saya pindah ke Jakarta. Di dekat rumah saya sekarang ada juga musholla kecil. Anak-anak masih sering bermain lari-larian. Tetapi penerimaan orang disini terhadap anak-anak yang brisik di Musholla agaknya lebih relax. Tak pernah saya lihat bapak-bapak tua menggebuk anak-anak. Paling banter menegur seusai sholat.

Dari kepindahan saya beberapa kali di beberapa tempat, saya jadi mengenal setiap tempat mempunyai kultur yang berbeda.

Perbedaan itu Bahkan tak hanya hal sepele semisal sikap terhadap anak-anak yang brisik di Musholla. Hal-hal yang agak lebih berat juga orang-orang berbeda-beda.

Tentang demokrasi. Tentang khilafah. Tentang metoda dakwah. Tentang macam-macam. Sampai pada hal yang lebih fundamen semisal sisi spiritual dalam keberagamaan. Tentang sifat-sifat Tuhan. Tentang takdir misalnya. Dan lain-lain.

Melihat keragaman itu, baru saya sadari bahwa hanya sia-sia belaka, jika kita hidup dalam keinginan membuat dunia menjadi satu warna saja. Dunia memang berbeda-beda. Dan beginilah adanya.

Teringat Rasulullah SAW yang dalam kedukaan beliau berdakwah, lalu ummatnya masih juga ingkar, beliau malah ditegur oleh Allah SWT. Jangan jadi orang yang jahil. Jika Allah mau, maka dunia ini akan bisa dibuat seragam oleh Allah. Tapi nyatanya Allah inginkan begitu. Beragam-ragam.

Artinya, bahkan orang-orang kafir yang ingkar pun Allah buat begitu, for a reason, ada hikmah dan bagian utuh dari cerita hidup.

Menceritakan DIA sendiri. Pemilik kehidupan yang penuh dinamika ini.

Barulah saya mengerti bahwa yang paling pokok dalam hidup ini ternyata adalah kita sebagai pribadi bergerak dari tangga keyakinan yang satu, menuju tangga keyakinan yang lebih tinggi lagi.

kita sebagai pribadi menemukan arti hidup yang semakin mendalam setiap harinya.

Boleh jadi dalam peranan kita Akan selalu ada orang yang berbeda dengan kita. Berbeda lakon. Beda peran. Beda kepentingan. Disisi lain, akan selalu juga ada orang yang beririsan jalan dengan kita, barangkali menempuh perjalanan yang sama atau searah.

Setiap manusia sedang menempuh rel mereka sendiri-sendiri. Yang paling pokok adalah kita menyadari peran kita dalam kehidupan. Dan hidup dalam sikap penghambaan dalam peranan yang sudah kita sadari itu.

Setiap orang ternyata hidup dalam lakonan di panggung sandiwara Maha besar ini.

Dan marilah kita bermain sebaik-baiknya sembari menyadari bahwa pagelaran sandiwara besar ini sesungguhnya menceritakan Sang Empunya, bukan tentang kitanya.

MENSYUKURI PENGHARAPAN

Betapa saya mensyukuri kesempatan saya untuk bekerja di kantoran, dari sebelumnya saya menghabiskan hari-hari dengan menjadi pekerja lapangan minyak.

Banyak hal baru yang saya pelajari. Managerial. Cara presentasi. Keuangan. Kemampuan berbahasa. Perpolitikan kantor. Bahkan psikologi.

Padahal, semasa saya masih kerja lapangan migas, di tengah-tengah anjungan pengeboran yang terapung di laut dalam, saya merasa gamang, apakah keinginan pindah kerja ini merupakan suatu hal yang baik atau kufur nikmat?

Saya sama sekali tidak memandang rendah kepada kerja lapangan. Bertahun-tahun kerja lapangan menempa saya dalam banyak hal. Hanya saja, saat itu terasa di hati saya bahwa sudah sampai masanya saya memulai sesuatu yang baru. Diawali dari rasa ketidaknyamanan saya dengan ritme kerja di lapangan pengeboran itu.

Dalam rasa tidak nyaman itulah saya gamang. Mengira bahwa saya sudah kufur nikmat.

Sampai setelah saya pindah dari dunia kerja lapangan menuju kantor, barulah saya menyadari bahwa banyak sekali hikmah yang terbuka bagi saya selepas kepindahan saya itu. Utamanya dari sisi ilmu. Barulah saya tahu bahwa kegelisahan itu rupanya menghantarkan saya pada sesuatu yang baik di kemudian harinya.

Darisanalah saya merenungi, benarlah seorang guru mengatakan bahwa disebalik ujian sesungguhnya adalah ilmu Allah. Jika kita menerima takdir kita, maka ilmu Allah akan terbuka untuk kita. Hikmah dari suatu kejadian, dan jalan keluar.

Betapa Allah itu seperti prasangka kita. Maka hati-hatilah berprasangka.

Contohnya. Kita sedang sama-sama menghirup udara di saat kita membaca tulisan ini. Tetapi di detik yang sama ini pula, kita bisa memandang Allah dalam citra yang berbeda-beda.

Umpamanya kita seorang pendosa, kita memaknai hirupan udara dengan “alhamdulillah masih diberi hidup….. masih ada kesempatan memperbaiki diri.”

Atau sebaliknya, kita mengira “saya masih diberi kesempatan bernafas. Jangan-jangan ini istidraj. Tuhan membiarkan saya dalam kesesatan.”

Allah sudah tercitrakan dalam dua sifat, yang menyifati adalah manusianya sendiri.

Maka berbaik-baik sangkalah pada Tuhan. Itu pelajaran yang saya petik. Baik sangka dalam arti jika kita menujuNya sejengkal, DIA sehasta. Kita sehasta, DIA sedepa. Selalu lebih cepat sambutanNya ketimbang usaha kita.

Maka dalam kegelisahan ujian. Kita bersangkalah yang baik. Lewat ujian biasanya malah cepat menujuNya. Dan meminta tolong keluar dari kegelisahan itu tidak tercela.

Menurut Seorang arif, di dalam ujian, jika kita ridho maka ibarat kita sudah menyeberangi jembatan. Di ujung jembatan kita mendapati tempat itu penuh dengan hikmah ilahiah.

Barangkali sharing ini berguna. Karena saya mendapati sebagian rekan-rekan mengalami juga dilema seperti saya. Rasa-rasa enggan berdoa, tersebab menganggap doa adalah kufur pada nikmatNya.

Saran saya. Lupakan kegalauan itu. Berdoalah tuntas tanpa ragu. Ibarat anak panah, lepaskan dari busurnya tanpa bimbang.

Karena dalam suatu hadits, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah tidaklah merasa direpotkan dengan doa kita.

Terlebih, kalau kita melihat dari sisi apakah ilmu yang akan Allah ajarkan kepada kita kedepannya? Juga kalau kita memandang dari sisi bahwa DIA ingin diriNya disifati sebagai Yang Maha Mengabul do’a, maka akan selalu ada makhluknya yang dititipi rasa butuh akan pertolonganNya.

Mudah-mudahan, pada gilirannya kelak kita bisa sampai pada maqom di atasnya lagi yaitu sibuk mengingatiNya, sampai tak lagi hirau dengan permintaan. Tapi itu kan tingkat tinggi, hehehe. Dari yang awalan saja dulu. Mensyukuri pengharapan kita.

Ref:

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu Ja’far dari Al ‘Ala dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian berdoa maka janganlah sekali-kali ia berkata; ‘Ya Allah ampunilah aku jika Engkau kehendaki, ‘ akan tetapi hendaklah ia serius dalam meminta dan besarkanlah pengharapannya, karena bagi Allah ‘azza wajalla tidak ada sesuatu yang bagi-Nya merasa kewalahan untuk memberikannya.’ (HR. Muslim: 4838 )

MEMBANGUN PONDASI KEBERAGAMAAN

Awalnya, saya mengira bahwa tasawuf adalah semata pelajaran mengenai akhlak. Etika. Untuk membedakan dengan istilah umum, saya mencoba memahami tasawuf sebagai adab menuju Tuhan. Adab bertuhan. Begitulah bahasa sederhananya.

Setelah diluruskan oleh Al Arif Ust. H. Hussien Abd Latiff, barulah saya memahami bahwa hal yang paling fundamen dalam tasawuf bukanlah adab, melainkan tentang Tuhan itu sendiri.

Imam Ghazali mengatakan awaluddin makrifatullah. Awal beragama mengenal Allah.

Keseluruhan bangunan keberagamaan tanpa didirikan di atas pondasi pengenalan akan Allah SWT, akan menjadi rapuh, mudah goyah.

Sebagaimana sebuah hadits, saat sahabat akan berkunjung ke pemukiman yahudi, Rasulullah SAW bersabda yang kurang lebih maknanya kenalkan dulu mereka kepada Allah SWT. Setelah kenal baru beritahu mereka bahwa sholat lima waktu itu wajib.

Artinya, kenal dulu pada Tuhan. Pada Allah SWT. Baru selepas itu dirikan bangunan syariah di atas pengenalan itu. Seperti sholat, atau ibadah lainnya. Setelah ada pondasi, dan bangunan syariat berdiri, barulah bisa menjadi cantik dihias dengan adab. Barulah melangkah pada tangga berikutnya yaitu keridhoan pada af’al (perbuatan Allah). Yang kesemua itu akan sulit diterapkan tanpa mengenal Allah. SWT. Dan memahami secara keilmuan bagaimana hubungan Pencipta dan ciptaan? Bagaimana mekanisme takdir?

Jalan tasawuf yang menempatkan pembelajaran tentang ketuhanan lewat jalur “ilmu” pengetahuan yang shahih ini disebut tasawuf prophetic. Atau JALAN PARA NABI. Kenal Allah dulu, baru peribadatan didirikan diatas pengenalan itu.

Skemanya, setelah mengenal Allah (melalui ilmu), barulah memperkemaskan diri dengan sungguh-sungguh untuk beribadah lebih baik. Hidup dalam sikap mengabdi kepada Tuhan yang sudah kita kenal. Mulanya adalah makrifatullah atau ilmu mengenal Allah. Baru lanjut pada ibadah, dzikrullah, keridhoan. Dst.

Ada jalan satu lagi, yaitu sebagian kalangan yang berupaya mendapatkan pengetahuan ketuhanan lewat jalan tirakat. Lelaku ruhani. JALAN PARA WALI.

Mengutip Syaikh Ahmad Sirhindi dalam “Sharia and Sufism”, dikatakan bahwa sebagian kalangan tasawuf menganggap tasawuf adalah Quest For Reality. Semacam perjalanan atau pencarian untuk bertemu makna hakiki atau realita hakiki kehidupan.

Seperti kita sering melihat spiritualis -bahkan yang non muslim-, yang tekun dengan tirakat keruhanian mereka, apatah itu meditasi, dan sebagainya, mereka mendapatkan pengertian yang sangat dekat dengan deskripsi islam tentang Tuhan. Misalnya, bahwa Tuhan itu esa, tak serupa apapun. (ini saya memandang dari perspektif sebagai seorang muslim)

Sampainya mereka pada pengenalan akan Tuhan setelah melakukan Quest, perjalanan pencarian yang panjang dan tirakat yang sangat berat, Baru mendapatkan insight di ujung perjalanan. Artinya, para pejalan ruhani -bahkan di tradisi keberagamaan lain pun- menjadi mengerti tentang ketuhanan. Karena menempuh lelaku ruhani yang berat. Dan tercerahkan di ujung perjalanan.

Hanya saja, Hal inilah yang menurut Syaikh Ahmad Sirhindi, jalur yang berbahaya. Sungai yang deras yang jarang orang bisa menyeberanginya Dengan selamat.

Menurut Imam Ghazali, jalan yang berbahaya itu membuat banyak yang berhenti sebelum sampai. Sebagiannya mengaku menjadi Tuhan. Sebagiannya meninggalkan syariat sama sekali. Karena pengenalan kepada Tuhan diletakkan di akhir perjalanan, sebagai buah dari laku batin atau tirakat. Tanpa dilengkapi dengan ilmu. Lebih kepada olah ruhani semata. Tetapi secara fair kita tidak menutup fakta bahwa yang “sampai” pun ada juga.

Dulu saya tak paham benar beda antara keduanya. Tetapi alhamdulillah akhirnya sekarang memahami pendekatan tasawuf profetik lewat Al Arif Ust. H. Hussien. Bahwa makrifatullah itu bukan puncak capaian. Melainkan tangga paling dasar yang harus kita pahami lewat ilmu sebelum bisa beribadah dengan benar. Dan kemudian ridho dengan takdir. Sisanya adalah Meniti Hidup dalam sikap penghambaan. Semuanya perubahan cara pandang karena ilmu. Lalu amal tumbuh dari kepahaman itu.

MENGETUK PINTU RAJA

Sekumpulan orang yang hendak bertandang ke Istana Raja, sedang mendengarkan petuah dari seorang guru. Sang guru memberi tahu murid-muridnya bagaimana “cara mengetuk pintu gerbang Sang Raja”.

“Angkat tangan kalian, genggam dan buat kepalan, lalu ketuk di tengah pintu dengan sopan, dan sungguh-sungguh. Tunggu Sampai pintu dibuka”. Pesan sang Guru.

Seorang anak muda diantara mereka bertanya, “lalu apa yang terjadi jika pintu dibuka?”

Guru tadi menjawab, “akan ada pengawal istana mempersilakan masuk”.

Seorang lainnya menimpali, “ya….saya pernah dipersilakan masuk. Di dalamnya ada taman hijau seluas mata memandang”.

Seorang lainnya menjawab, “jika pintu terbuka kita bisa mendengar derap langkah pengawal istana dengan jelas”.

Anak muda di antara kumpulan itu tadi, merasa terpukau dengan deskripsi keindahan pekarangan istana dan sambutan pengawal-pengawal kerajaan. Sehingga lupa bahwa tugas utama pengunjung istana kerajaan adalah terus mengetuk dan menunggu dengan sopan di depan pintu gerbang.

Sampai suatu hari. Anak muda tadi berkunjung ke istana dan mengetuk pintu gerbang Raja, sekali.

Selepas mengetuk dia menunggu mengapa tidak ada pengawal istana membuka pintu gerbang? Diketuknya lagi. Belum juga ada terbuka. Heranlah dia, mengapa tak terlihat taman hijau seluas hamparan mata? Bingunglah dia, bagaimana cara mengetuk pintu dengan benar?

Merasa kecewa. Anak muda tadi pulang dan bertanya pada sang guru. Bagaimana cara mengetuk pintu dengan benar?

Sang guru menjawab. “Bukankah sudah kuajarkan, angkat tanganmu. Buat kepalan dan ketukkan ke tengah pintu dengan sopan.”

Kembalilah anak itu ke pintu gerbang istana. Diketuknya sesuai panduan sang guru.

Setelah sekali dua diketuknya, dinantinya hadiah dan sambut-sambutan dari dalam istana, yang tak kunjung juga ada. Kecewalah dia. Lalu kembali lagi kepada guru. “Bagaimana cara mengetuk pintu?” Tanyanya.

Sang guru berkata, bukankah sudah kuajarkan padamu caranya?

Anak muda kembali lagi ke pintu istana kerajaan. Dan mengetuk sekali dua. Lalu bertanya-tanya dalam hati, sudah benarkah caranya mengetuk gerbang Raja?

Kembali lagi dia menemui gurunya, dan bertanya.

“Tak ada cara lain mengetuk pintu”, kata Sang guru. “Cara kau mengetuk pintu sudah benar. Yang keliru adalah, kau terlalu memikirkan apa rasanya bila gerbang terbuka. Mengetuk pintu itu urusan kita, sedang membuka gerbang itu wewenang Raja.Yang kau perlu lakukan hanyalah sentiasa mengetuk pintu dengan sopan, bukan memikirkan seperti apa sambutan dari Sang Tuan.”