SEJARAH BERULANG, DAN LAUTAN PELAJARAN

History repeats. Kata orang bijak. Sejarah berulang.

Dahulu saya tak seberapa percaya dengan kekata itu, sampai mengalami sendiri.

Satu contoh, misalnya pola pengasuhan masa kecil kita tanpa kita sadari kadang-kadang sering secara refleks kita terapkan ke anak kita. Cara kita menghadapi masalah seringkali juga sama dengan cara orang tua kita menghadapi masalah. Konflik di kantor misalnya, ternyata merupakan konflik yang dulu pernah terjadi dengan pola yang mirip. Kejadiannya beda tapi temanya mirip.

Kehidupan rumah tangga kita kok sepertinya sama dengan kehidupan rumah tangga orang tua kita? Problemnya, konfliknya.

Dalam skala global juga misalnya, Dinasti-dinasti kerajaan mengalami persatuan yang solid, lalu batas-batas kerajaan meluas saking makmurnya. Lalu tidak lama kemudian menjadi stagnan dan bergelimang kemewahan lalu hancur. Polanya selalu begitu. Itu kata Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah [1]

Di dalam Qur’an juga disampaikan kisah kaum-kaum terdahulu. Karena history repeats. Polanya berulang.

Saya dulu memaknainya sebatas “eh beneran bahwa history repeats, sejarah berulang….” sampai suatu hari seorang arif mengajarkan lebih tinggi lagi, bahwa tak cuma sejarah berulang, melainkan “Tuhan mengajari kita lewat kejadian-kejadian hidup. Kalau kita PEKA, maka kita akan melihat polanya dan kita belajar tentang sesuatu dari sana”

Dan sejarah itu diulang-ulang terus sampai manusia belajar. IQRO. Baca, belajar, Kalau kita baca sejarah akan kelihatan kalau polanya mirip-mirip. Kita harus belajar dari repetisi itu.

Hanya saja, tingkat “kedalaman” manusia belajar berbeda-beda. Ada yang belajar sebatas hal-hal yang nampak di permukaan. Ada yang lebih dalam lagi.

Pepatah bilang, jangan sibuk dengan dedaunan tetapi carilah akarnya. Ini perlambang mengenai mengenali gejala-gejala yang nampak di permukaan vs akar masalah sebenarnya yang menimbulkan gejala terjadi.

Sebagai contoh, seseorang terlihat pundaknya kaku dan tegang. Cara mengatasinya barangkali kasih balsem aja di pundaknya. Tetapi itu hanya mengatasi gejala di permukaan. Barangkali, masalahnya adalah karena dia stress sehingga pundak menjadi kaku dan tegang. Selama akar masalah tidak diatasi, maka dedaunan gejala bisa muncul berulang.

Dedaunan gejala di permukaan itu Allah takdirkan secara ritmis berulang terus sampai manusia mengambil pelajaran. Ooooh sebenarnya akar masalahnya ini toh. Lewat perulangan-perulangan itu, kita “diajari”.

Belajar mengamati bagaimana Allah mengajari. Ooohh masalah yang saya hadapi sekarang ini sebenarnya perulangan dari masalah yang dihadapi orangtua saya dulu, misalnya. Hanya saja dulu masalah ini diatasi secara keliru, hanya membahas gejala, tetapi tak sampai di akarnya. Maka tugas generasi sekarang untuk belajar.

Menarik sekali. Rekan-rekan bisa mengamati kehidupan sendiri, dan perhatikan bahwa repetisi sejarah terjadi dimana-mana. Kita hidup dalam lautan pelajaran.


[1] https://en.m.wikipedia.org/wiki/Historic_recurrence?wprov=sfti1

MENCARI RAHMAT DALAM ROTI, SUSU JAHE, DAN TUKANG PARKIR

Sore-sore sekitar limabelas menit sebelum jam pulang kantor, saya keluar kantor menuju warung waralaba yang sedang marak sekarang ini. Tak ada hal yang penting-penting amat untuk dibeli sih, cuma beli roti pengganjal perut. Tetapi sengaja saya sempatkan waktu untuk menghirup aroma sore, menyeruput sedikit matahari yang hangat selepas ashar. Sebuah rahmat yang jarang saya nikmati.

Sekarang saya senang mencari momen-momen untuk menikmati rahmat. Sesederhana Momen jalan kaki dari kantor ke warung di sore hari. Atau sesederhana naik motor dari rumah menuju angkringan tempat jual susu jahe di malam hari. Ternyata nikmat sekali.

Tentang hal ini, saya ada cerita. Jadi kemarin malam saya keluar niatnya mau beli susu jahe. Sebelum mampir ke angkringan saya stop dulu di Indomar*t mau beli obat flu. Setibanya di parkiran pandangan saya tertumbuk pada lelaki gempal yang meniup peluit, otomatis saya membatin kesal, yah……..ada tukang parkir lagi.

Dalam hati saya langsung mengingat-ingat di saku mana saya simpen uang receh, sembari agak males karena kadang saya rasa tukang parkir ini cuma muncul pas mau ambil bayaran aja.

Saya parkir. Lalu melangkah mau masuk ke toko. Sejurus kemudian motor saya yang sedang diparkir itu berjalan mundur ke arah jalan raya. Karena rupanya saya parkir di area yang kurang rata. Saya langsung kaget bukan kepalang, dan tebak siapa yang menyelamatkan motor saya? Tukang parkir yang tadi saya grundelin dalam hati. Hehehehehe. Dengan cekatan dia menyelamatkan motor saya.

Walhasil saya urung kesal pada beliau. Dan saya berikan uang parkir dengan sigap. Inilah akibatnya kalau suka grundelin orang. Hehehehe.

Pelajarannya, saya rasa adalah untuk meluaskan persepsi kita -utamanya saya- tentang rahmat. Rahmat hadir dalam benda-benda, dalam momen, dan bahkan berupa orang-orang yang selama ini ada di sekitar kita tetapi kita luput menyadari mereka.

Kenapa luput? Saya rasa salah satunya karena cara pandang. Terlalu menganggap hidup ini kompetisi dan orang lain dianggap mengancam eksistensi kita.

Betapa cara pandang bahwa hidup itu adalah rahmat, penting banget.

Tanpa kesadaran bahwa jalan sore beli roti dan naik motor malem ke angkringan adalah rahmat, saya sering luput untuk memancing kesyukuran mekar dalam hati saya.

Dan dari tukang parkir, saya diajari menyadari bahwa orang-orang di sekitar kita pun rahmat.

Ada cerita lagi tentang ini. Jadi sewaktu saya awal-awal kerja kantoran di bidang Service Migas, saya memandang kompetitor itu sebagai semata-mata lawan bisnis. Sampai pandangan itu saya harus koreksi sendiri ketika dalam banyak sekali kesempatan Perusahaan saya malah membeli barang dari kompetitor. Atau bahkan meminjam barang dari kompetitor. Lho ini lawan kok malah ditemani? Saya kan bingung.

Seorang rekan saya yang kebetulan mengambil Master Degree di bidang bisnis menjelaskan pada saya bahwa teori marketing yang modern tidak lagi memandang persaingan sebagai kompetisi yang saling menjatuhkan, melainkan kompetitor malah dijadikan teman kolaborasi. Sebuah pendekatan baru.

Disini saya tiba-tiba terfikir. Inilah jangan-jangan yang dimaksud Qur’an bahwa dijadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling kenal mengenali.

Nilai-nilai masyarakat di masa dahulu sekali, menganggap bahwa perang antar kabilah, antar kerajaan adalah hal lumrah. Perlahan-lahan manusia modern bergeser dan melihat bahwa kerjasama antar negara lebih baik ketimbang perang.

Inilah sebenarnya kita hidup dalam lautan rahmat. Tetapi sering kita luput mengamatinya. Karena kita tidak belajar tentang orang lain. Tidak mengenali mengapa mereka berbeda. Dan yang utamanya kita mengira rahmat itu hanya berupa benda, atau momen-momen bahagia. Padahal keragaman dalam hidup ini rahmat juga.

Dalam orang-orang yang berbeda-beda dan seliweran di hari kita.

KAKEK TUA DAN ILMU KESYUKURAN

Saya mendapatkan amunisi hari ini,  hikmah untuk belajar hidup dalam kesyukuran. Setelah beberapa waktu vacuum menulis, alhamdulillah hari ini bertemu pelajaran yang indah dari kakek tua di halaman sekolah anak saya.

Ceritanya sejak pagi suasana sudah padat sekali. Jalanan macet dimana-mana karena hari pertama anak-anak masuk sekolah. Saya berkesempatan mengantar anak pertama masuk sekolah. Cuti dua hari yang saya ajukan diperkenankan oleh bos di kantor, sehingga jadilah saya pagi ini bersama istri dan anak menembusi Jakarta yang tumpah ruah macetnya.

Setiba di sekolah anak saya, selepas mengantar anak masuk ke kelas, saya duduk-duduk dan menikmati rindangnya pepohonan di halaman sekolah. Sesekali mengintip Group-group Whatsapp di handphone saya, yang notifikasinya berdenting-denting. Salah satu obrolan menyerempet mengenai hidup dalam kesyukuran.

Memandang kehidupan dalam warna yang sedih dan mengharu biru, kita seringkali sudah khatam. Sejak kecil kita dididik untuk menyifati Tuhan dengan angker dan kejam. Melulu tentang pahala dan siksa. Tetapi bagaimana cara memandang hidup dalam kesyukuran dan bahagia, terkadang kita perlu belajar pada para arif. Bagi para arif, hidup ini adalah pentas anugerah ilahi, Allah yang memiliki 100 rahmat, dan satu rahmatNya dibagikan ke seluruh dunia sehingga binatang buas enggan memakan anaknya sendiri. Itu baru satu. sisanya 99 rahmat disimpanNya untuk hari akhir.

Walhasil kejadian yang sama bisa sama sekali beda maknanya antara kita dan mereka. Bagi kita “siksaan”, bagi mereka “anugerah”.

Nah… ngomong-ngomong tentang anugerah dan cara hidup dalam kesyukuran inilah, ndilalah, setelah mengantar anak masuk ke ruang kelas, di bawah pohon rindang saya bertemu dengan seorang kakek, yang cerita punya cerita rupanya sedang menunggu cucunya yang baru saja masuk SD juga.

Saya ngobrol basa-basi dengan sang kakek yang rupanya seorang Doktor, dosen dari sebuah universitas ternama di Surabaya. Orangnya bersahaja dengan kacamata silindris yang tebal dan jadul khas seorang kutu buku.

“Saya orang yang sederhana,” ujarnya. “Alhamdulillah, Allah menolong saya untuk tidak menjadi orang yang kekurangan, dan tidak juga menjadi orang yang kaya berlebih.” Dia melanjutkan.

“Yang penting, pas butuh; ada. Gitu ya pak?” saya menyahut.

Sang kakek mengangguk dan mengiyakan. Apa sih yang lebih penting dalam hidup ini selain dari kecukupan?

Merasa satu frekuensi, maka kakek itu semakin banyak bercerita.

Dia bercerita tentang bagaimana kemudahan-kemudahan banyak menyambangi hidupnya. Betapapun dia bukan orang yang “kaya”. Sebutlah salah satu contoh, sewaktu dia pergi ke Kupang, lalu disana tiba-tiba ditemui orang yang tidak dia ingat persis, eh rupanya anak muridnya dahulu. Dan kemudian berbagai pertolongan ditawarkan padanya yang saat itu sedang musafir.

Lalu saat dia hendak mengurus suatu hal, di kantor pemerintahan. Begitu juga. Seseorang yang mengenalinya tiba-tiba menawarkan bantuan dan kemudahan.

Anaknya, sejak kuliah hingga lulus mendapatkan beasiswa, sehingga dia tidak kesulitan biaya. Lulus 3.5 tahun dengan cumlaude dan lepas itu jadi PNS di salah satu kantor kementrian.

Hingga yang paling baru adalah saat dia berdoa meminta kepada Allah agar diberikan kesempatan untuk sholat di depan Ka’bah, esok paginya seseorang menelepon dia dan mengatakan bahwa dia sudah dibelikan tiket umroh.

Melimpah ruah kemudahan, dalam hidup yang sederhana. Orang biasa saja, tetapi yang hidupnya dicukupi.

Merasa tertarik, saya bertanya. “Apa resepnya kira-kira pak?”

Dan ndilalah lagi, resep dari beliau adalah tentang tema hidup dalam kesyukuran. Sesuatu yang sejak pagi tadi kembali terngiang-ngiang di benak saya. Mungkin begitulah cara Allah mengajar.

Menurut beliau, jika kita bersyukur, maka Allah akan tambahkan ni’mat. Hal ini sangat benar dan beliau sudah buktikan berkali-kali.

“Bersyukur” bagi beliau diterjemahkan dalam tiga bentuk sikap.

PERTAMA. “Rawat”. Rawat pemberian Allah SWT. Ada sepatu, dirawat. Ada apa-apa dirawat. Seberapapun kecilnya pemberian itu. Beliau memberi contoh uang receh. Misalnya kita biarkan bergeletakan, maka uang receh itu akan hilang. Rawat pemberian Tuhan sekecil apapun pemberian itu diberikan kepada kita. Jangan lihat kecilnya, tapi sadari bahwa yang kecil itu adalah anugerah juga.

“Wah…. Bener banget pak, saya suka ga kepikiran yang ini.” Saya tiba-tiba teringat istri di rumah suka ngomelin saya karena suka males nyuci mobil, hahahaha… ini tandanya saya kurang mengaplikasikan “rawat” itu tadi.

“Lalu yang kedua apa Pak?” Tanya saya, mengorek-ngorek lebih dalam.

KEDUA. “Pakai”. Menurut sang kakek itu, cara hidup dalam kebersyukuran yang kedua adalah dengan memakai pemberian itu. Jangan tidak dipakai!

Misalnya, kita diberikan uang oleh Allah, malah kita eman-eman mau make. Alih-alih hemat, kita malah bisa jatuh dalam sikap kikir.  Barangkali contoh lainnya adalah baju, kita sering punya baju bertumpuk dipakai tidak, dibagikan tidak, tetapi memenuhi lemari tanpa menjadikan benda itu punya daya guna. Jangan…….. justru pakai benda-benda untuk kebaikan.

“Saya tahu pak, saya tahu……” saya menimpali dengan semangat, bagian yang ini sangat sesuai dengan dialektika batin saya sendiri. “Dulu pak, saya hidup dalam kondisi ekonomi yang begitu sulit,” kata saya pada beliau. “Kondisi berubah sejak saya bekerja, lalu Alhamdulillah saya diberikan kemudahan untuk membeli kendaraan. Tetapi….. setelah saya membeli kendaraan, ada perasan kikuk dan sungkan bagi saya untuk memakai kendaraan itu. Semacam rasa bersalah yang aneh. Butuh waktu lama bagi saya sampai akhirnya saya menyadari bahwa rasa kikuk itu bukan tawadhu, melainkan mental kerdil terhadap harta. Saya mengira, harta lebih mulia daripada saya. Padahal, harta haruslah diberdayakan didayagunakan untuk melayani sang empunya. Bukan kita merasa rendah terhadap harta.”

“Benar sekali itu mas,” kata sang Kakek. “Itu dia rumusnya, setelah Rawat, pakai harta itu untuk kebaikan.” Beliau mengingatkan.

“Lalu apa yang ketiga?” Saya tidak sabar menanti hikmah ketiga.

KETIGA. “Nikmati”. Menurut sang kakek, saat kita memakai harta benda itu, maka nikmatilah benar-benar saat-saat kita memakai itu. Dalam menikmati itu, kita seakan-akan berkomunikasi / connect kepada Tuhan dalam kesyukuran. Karena kita larut dalam menikmati anugerah. Sang kakek memberi ilustrasi tangannya menunjuk ke atas. Saya mengartikan itu sebagai sikap penuh ingatan kepada Tuhan saat kita sedang menikmati pemberian Allah.

Langsung saja, ingatan saya melayang pada petuah seorang Arif Billah, yang mengajarkan agar menikmati setiap suapan yang masuk dalam mulut kita. Menikmati anugerah sampai terasa sekali bahwa Allah mengurus kita dengan banyak kemudahan-kemudahan. Hingga “gegaran” atau impact berupa rasa hati yang trenyuh dengan anugerah Tuhan, muncul

Itulah tiga tips hidup dalam kesyukuran versi sang Kakek tadi. Tidak selang berapa lama azan zuhur menyeruak. Kami buru-buru berjalan ke arah ruang kelas, dan melihat satu demi satu anak-anak yang baru masuk SD itu keluar dengan muka gembira. Pulang cepat. Karena baru masa orientasi saja.

Setelah menjemput anak saya, saya pamit pada sang kakek, seorang Doktor yang hidup bersahaja itu, tetapi kesahajaan dan kesyukuran telah mengantarkannya pada kemudahan hidup. Barangkali karena beliau benar-benar meyakini bahwa kita ini hidup diasuh oleh Tuhan.

“Sampai ketemu lagi, Pak”, saya berkata padanya.

Lalu saya ajak anak saya ke parkiran motor, sembari sumringah karena hati dipenuhi hikmah yang indah. Anak-anak inilah, yang nanti harus kita ajarkan hidup dalam kebersahajaan, dan memandang hidup sebagai pagelaran anugerah dari Tuhan. Jalan cinta yang diajarkan Para Arif sepanjang masa.


*) Gambar ilustrasi dari macet dahsyat pagi tadi. hehehe

MERANGKAK DENGAN BAHAGIA

Sekitar dua hari lalu, di beranda facebook seliweran berita tentang seorang paramedis di palestina yang tewas ditembak oleh tentara Israel saat sedang menyelamatkan korban. Sebuah ending yang heroik sekali, kita berduka, sekaligus kagum pada orang-orang yang mendarma baktikan kehidupannya untuk kebaikan.

Kisah lainnya yang viral adalah kisah seorang Miliuner Australia, yang mendermakan begitu banyak dari hartanya untuk amal sosial. Membangun 200 desa untuk janda-janda miskin, membangun masjid, membangun sekolah untuk 600 anak yatim, dan rumah sakit, belum lagi bisnis mensupport komunitas-komunitas lokal. Dan terakhir beritanya beliau meninggal dunia karena kanker, tetapi sebelum meninggal beliau meninggalkan sebuah rekaman video yang juga menyentuh sekali.

Terlepas dari kebijakan tingkat tinggi, bahwa setiap orang sudah tertakdir untuk melakukan amalan yang dituliskan untuk mereka, saya seringkali berdecak kagum pada orang-orang yang luar biasa itu, mereka membuat saya merasa seperti “merangkak” menuju Tuhan, sedangkan mereka “berlari”.

Orang-orang yang berlari menuju Tuhan, inilah yang membuat saya sering merasa begitu kecil.

Yang lumayan menenangkan di kala saya merasa ketertinggalan seperti itu, adalah wejangan seorang arif, yang mengatakan bahwa bukan tertib / tata ibadah “luaran” yang sampai pada Tuhan, melainkan “ingatan” atau yang “dalam”.

Maksudnya, tentu bukan mengatakan bahwa amal ibadah di luar tidak berarti, justru sangat berarti, tetapi saya memandangnya bahwa jika yang di dalam dibenahi, mudah-mudahan amal luar kita yang sedikit bisa menjadi berarti. Syukur-syukur ditakdirkan semakin banyak dan semakin luas.

orang-orang yang tidak tertakdir untuk memiliki kapasitas berbuat kebaikan sosial sebesar mereka-mereka yang saya sebut di atas tadi, bisa juga berharap, karena pada intinya sesuatu yang “di dalam” inilah yang nanti akan sampai pada NYA.

Barangkali, yang mewakili mengenai ini adalah sebuah ayat berikut : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

Juga berikut ini, Abu Bakar Ibn Ayyas berkata, “Abu bakar mengungguli kalian bukan dengan banyaknya ia puasa atau shalat, tetapi dengan sesuatu yang tertanam kokoh dalam hatinya.”[1]

Lumayan menghibur bukan? hehehe….. belajar membenahi hati, sehingga amal yang sedikit mudah-mudahan berarti. Jadi ga ketinggalan-ketinggalan amat.

Ada satu penggalan puisi dari Rumi, yang mengharu biru

Jalaluddin Rumi tentang Taubat:

Jika engkau belum mempunyai ilmu dan hanyalah prasangka,
maka milikilah persangkaan yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!

Jika engkau baru mampu merangkak,
maka merangkaklah kepada-Nya!!

Jika engkau belum mampu berdo’a dengan khusyu’,
maka tetaplah persembahkan do’amu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan dalam rahmatNya tetap menerima mata uang palsumu.

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!

Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayolah datang, dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa…
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku,
karena Aku-lah jalan itu.”

::

Bagi yang sedang merangkak, para guru mengatakan bahwa rahmatNYA tentu lebih cepat daripada usaha hambaNYA. Jadi merangkaklah dengan bahagia.


[1] (Mifah Dar As-Sa’adah, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah – 1/82)

Note: Gambar ilustrasi dan feature dipinjam dari link ini

ROMANTISME PENGHAMBAAN (2)

Melihat anak-anak kecil berlarian di depan Musholla komplek, menjelang waktu sholat tarawih, saya jadi teringat masa-masa kecil saya dulu. Keseruan Ramadhan. Hal yang paling dinanti saat puasa ramadhan, justru momen-momen indah bermain bersama teman-teman.

Jadi teringat sewaktu menghadiri kelas parenting di TK anak saya, narasumber menyebutkan bahwa hal yang paling utama, dalam pendidikan anak usia kurang dari 7 tahun adalah menanamkan rasa bahagia dalam memori mereka, atas momen-momen ibadah seperti sholat, atau puasa. Jadi yang penting justru “rasa bahagia”nya dulu, bukan full-nya dulu. Jika hati sudah bahagia, maka kedepannya akan ringan mengerjakannya.

Betapa sebuah “kebenaran” yang disampaikan dengan cara yang indah dan menyentuh romantisme kemanusiaan, bisa menjadi mudah masuk dan awet.

Hampir senada dengan itu, saya mengingat bahwa orang dewasa pun sebenarnya sama saja dengan anak-anak. Sebagian para arif, mereka sudah sampai pada kedudukan dimana mereka tidak perlu alasan-alasan untuk menemui Tuhan. Mereka sibuk mengingatiNya, sampai lupa dengan alasan-alasan. Sedangkan, mayoritas kita adalah orang-orang yang untuk mengingatiNya butuh alasan-alasan, misalnya, “do’a” atau permohonan.

Dengan menyentuh sisi romantisme penghambaan, maka orang-orang seperti kita bisa punya alasan-alasan untuk selalu berdo’a kepada Tuhan. Meningati Tuhan, lewat do’a, lewat alasan-alasan Butuh inilah, butuh itulah. Bersyukur karena inilah, bersyukur karena itulah. Berlindung dari sesuatu, dan macam-macam.

Teringat seorang guru pernah berkata, jika kita rasa tak puas akan sesuatu, maka berdo’alah, meminta pertolongan.

Seorang sahabat bertanya kepada beliau, mengapa beliau tak berdo’a untuk kesembuhan matanya yang memakai kacamata? sedangkan do’a beliau insyaAllah makbul?

Jawaban beliau kalau saya bahasakan ulang kurang lebih tak semestinya kita-kita yang belum “sampai” memraktekkan hal itu (yaitu tidak berdo’a karena ridho pasrah pada af’al Tuhan). Karena ada adabnya sendiri-sendiri. Ada yang menggunakan alasan-alasan untuk mengingatiNya, ada yang tak lagi perlu alasan-alasan.

Mereka para arif, sudah tenggelam dalam penyaksian. Sedangkan kita-kita membutuhkan alasan-alasan lewat kelemahan kehambaan kita, baru bisa merangkak menuju tangga dimana mereka-mereka sudah sampai.

Itu untuk dialektika pribadi.

Begitupun dalam menyampaikan pada orang lain.

Saya membaca bagaimana seorang Rumi berevolusi dalam caranya menyampaikan pada murid-muridnya. Dalam Fihi Ma Fihi, tulisan-tulisan Rumi lebih berbentuk prosa panjang. Sedangkan, dalam bukunya yang belakangan, yaitu Matsnawi, tulisan-tulisan Rumi lebih berbentuk cerita, kisah-kisah, perlambang-perlambang lewat hikayat dan dongeng. Karena kononnya Rumi menyadari bahwa ceritra-ceritra lebih bisa menyentuh sisi romantisme kemanusiaan ketimbang prosa-prosa panjang.

Saya menikmati romantisme kelemahan kehambaan itu, saat merenungi sholat Jum’at tadi siang. Betapa sudah ribuan Jum’at yang saya lewati, dan perjalanan ini terasa begitu panjang dan romantis dalam segala onak duriNya. lewat rasa butuh dan rasa syukur itulah, saya punya alasan-alasan untuk berdo’a padaNya. Mengejar ketertinggalan para Arif yang sudah sampai di pintuNya.

Terngiang kembali pesanan seorang Arif, kalau belum bisa langsung mengingatNya -tanpa alasan-alasan-, maka lewatilah pintu do’a.

-debuterbang-


Note : Gambar ilustrasi dan feature di tulisan ini, saya pinjam dari link berikut ini

BELAJAR MAKNA DARI PENGEPEL LANTAI

Di sebuah toko komputer yang baru dibuka, seorang cleaning service yang mengepel lantai ditanyai oleh seseorang yang ternyata adalah CEO perusahaan tersebut, tetapi petugas kebersihan tidak menyadarinya. “Apa yang sedang engkau kerjakan?” Tanya CEO itu.

“Aku sedang berkontribusi dalam kegiatan mencerdaskan kehidupan orang banyak lewat cara mengepel toko komputer besar ini”.

Jawaban petugas kebersihan itu membuat sang CEO kaget. Karena cara petugas kebersihan itu memaknai apa yang dia kerjakan dalam sebuah konteks yang lebih besar daripada sebatas mengepel lantai semata.

Mengajarkan kita untuk sentiasa memandang kehidupan dalam konteks yang paling besar, itulah salah satu domainnya tasawuf. Seorang arif mengatakan, puncak segala ilmu adalah mengetahui bahwa kehidupan ini sejatinya ialah senda gurauNya. DIA bermain dengan dzat (ciptaan)Nya sendiri. Konteks paling puncak dalam hidup.

Sungguhpun begitu, untuk serta merta selalu memakai pemaknaan itu dalam keseluruhan hidup kita, tidak segampang membalikkan telapak tangan.

Suatu ketika saya berbincang dengan adik saya yang baru saja diterima bekerja pada salah satu stasiun TV di Jakarta. Pekerjaan yang menyita waktu, dan penyesuaian di tempat baru yang memakan tenaga dan emosi. Saya tanya, bagaima cara dia menikmatinya?

Dalam pada itu, adik saya menjawab bahwa dia selalu membayangkan bahwa dirinya adalah seorang petarung di oktagon UFC, dengan membayangkan seperti itu, timbul semangat tidak mau kalah, dan tidak gampang menyerah. Hehehe…cara yang unik.

Saya jadi teringat mengenai maqom ini, karena melihat pemaknaan yang adik saya coba pakai dalam menyemangati dirinya sendiri. Betapapun, adik saya sudah pernah juga saya beritahu pemaknaan yang lebih tinggi tadi, yaitu melihat dunia ini sebagai senda guraunya Tuhan. Tetapi dalam gerak refleks, yang muncul adalah pemaknaan yang masih menjadi “maqom” kita.

selama pemaknaan yang lebih tinggi belum ditakdirkan menjadi “maqom” kita, maka akan sulit kita menggunakan pemaknaan itu sebagai bagian utuh dari diri kita dalam menghadapi kehidupan kita.

Dan saya menilai diri sendiripun sangat sering sekali “terlepas” dari pemaknaan yang lebih tinggi, yang diajarkan sang Arif, bahwa keseluruhan lini hidup ini mestilah dipandang sebagai senda gurauNya, pada dzat (Ciptaan)Nya sendiri. Kadang-kadang cara pandang masih terlampau duniawi dan sebab-akibat.

Ndilalah, saat lagi di perjalanan dari rumah ke kantor, saya membaca Matsnawi-nya Rumi, iseng-iseng. Tertumbuk pandangan saya pada sebuah tulisan dimana Rumi mengingatkan ada dua jalan utama mencapai Allah Ta’ala. Yang pertama adalah orang-orang yang ditarik olehNYA menujuNYA, seperti dalam ayat للَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ (Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya), dan jalan kedua adalah orang-orang yang dipandu jalan menujuNya, karena mereka “kembali” kepadaNya وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (QS Asy-Syura : 13)

Segelintir saja, orang-orang terpilih yang ditarik menujuNya, ujug-ujug langsung sampai.

Kebanyakan kita, adalah tipe kedua. Orang-orang yang “kembali” kepadaNya, dan semoga dengan “kembali” itu kita dituntunkan jalan.

“Kembali” itu maknanya lebih luas dari sekedar mentaubati dosa. Seperti ilustrasi seorang pengepel lantai yang mencoba memaknai hidupnya secara lebih luas tadi, begitulah pula orang yang taubat atau “kembali”, maknanya adalah mencoba meletakkan hidupnya dalam cara pandang yang baru, yang berkaitan dengan DIA menceritakan diriNYA.

Hanya saja, seberapa jauh kita bisa bersikukuh menggunakan cara pandang itu, tergantung maqom yang dianugerahkan pada kita.

Dan saya teringat wejangan Arif, bahwa pada akhirnya, meskipun seolah-olah kita menujuNya lewat segala peribadatan kita, pada akhirnya tetap “tarikan”NYA-lah yang menyampaikan kita padaNya. Perumpamaannya seperti berjalan menuju pintu gerbang, lalu semata-mata sang pemilik gerbang lah yang membuka pintu dan mengundang kita masuk.

Jika baik jalan pertama, maupun jalan kedua, pada akhirnya semua terserah pemilik gerbang, maka harapan kita menjadi merekah lagi. Betapapun kurang baiknya peribadatan dan persembahan kita, kita tahu bahwa anugerah dan kebaikanNYA melampaui kerdilnya usaha hambaNya.


Note:

  • Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini
  • Kisah pengepel lantai, kalau saya tak salah ingat, saya baca dari buku tentang Steve Jobs. Tapi saya tak ingat persis di buku yang mana, mungkin saja keliru. hehehe.

TIDAK BERLARI DARI PERBEDAAN

conflict-624x390

Ada salah satu kecenderungan pribadi saya, yang saya sadari belakangan setelah bekerja di kantoran. Yaitu kecenderungan untuk menghindari perbedaan.

Kecenderungan menghindari perbedaan ini, ternyata setelah saya dengan jujur menyelami diri saya, saya ketahui rupanya berkaitan dengan rasa khawatir terhadap kritik.

Contohnya begini. Berapa tahun lalu, suatu hari seorang karyawan mengirimkan sepotong pesan whatsapp kepada saya, bertanya tentang kesempatannya untuk promosi.

Saya, selaku mediator dalam urusan promosi karyawan, merasa bahwa integritas saya dipertanyakan. Padahal saya sudah banting tulang melakukan upaya agar karyawan tersebut dipromosikan oleh bos. Maka, saya sedikit reaktif. Dan membalas whatsapp tersebut dengan nada ketus.

Ketika itu, konflik (perbedaan pendapat, atau sedikit gesekan) secara reaktif saya tafsirkan sebagai mempertanyakan integritas saya. Seolah-olah, saya orang jujur, kok kamu ga percaya?

Tak lama, setelah saya lebih tenang, baru saya menyadari bahwa jika saya dalam posisi karyawan tersebut, tentu saya akan melakukan hal yang sama yaitu bertanya. Dan kepada siapa lagi saya bertanya jika bukan pada orang yang dipercaya sebagai mediator. Maka dalam hal ini karyawan tersebut tidak keliru, yang keliru adalah saya sendiri karena bersifat reaktif. Sedangkan karyawan tersebut, berada dalam ketidak tahuan karena minim informasi.

Lama saya menyelami kepribadian saya yang satu itu, sampai saya secara jujur menarik kesimpulan bahwa kecenderungan untuk menghindari konflik, telah secara tidak langsung menyebabkan saya menjadi orang yang tidak suka dengan kritik. Karena saya cenderung menginginkan keseragaman.

Padahal, dunia ini tidak mungkin seragam. Karena fithrahnya dunia memang dijadikan beraneka ciptaan. Bahkan Rasulullah SAW dalam suatu ketika ditegur oleh Allah SWT, saat beliau begitu berduka akan keingkaran ummatnya, kok ingkar terus padahal sudah didakwahi. Rasuluallah SAW saja ditegur, dikatakan bahwa tugas Nabi hanya menyampaikan, sedangkan perkara orang ikut atau tidak, itu urusanNYA.

Artinya segala sesuatu dijadikan tidak seragam, memang karena Allah maunya begitu. Dan ada hikmah disebaliknya.

Karena kita memang tidak seragam, maka konflik yang sehat, sebatas berbeda dan gesekan-gesekan yang menimbulkan dialog, adalah baik.

Yang tidak baik adalah, melulu menghindari perbedaan. Sehingga takut menyampaikan sesuatu, karena menginginkan ketenangan. Padahal, ketenangan yang dibangun dari rasa tidak siap menerima perbedaan, adalah ketenangan yang semu.

Sebuah pepatah mengatakan, truth over harmony. Kebenaran, harus didahulukan ketimbang harmoni. Oleh karena itu, konflik, atau gesekan perbedaan, dalam tataran tertentu selama sesuai dengan syariat, itu masih baik. Dialog untuk saling memahami (kalian diciptakan berbangsa-bangsa bersuku-suku agar kalian saling kenal mengenali).

Saya ambil contoh dalam dunia korporasi. Sekarang para pimpinan perusahaan mengetahui bahwa healthy conflict, konflik atau perbedaan pendapat dalam suasana yang sehat, itu baik untuk perusahaan. Artinya, mesin pemikiran dalam perusahaan itu bekerja. Dan artinya lagi, bahwa banyak talenta di dalam perusahaan itu mendekati atau berusaha menganalisa masalah dengan pendekatan yang berbeda-beda.

Satu tips, secara spiritualitas islam, untuk menyikapi perbedaan dengan apik adalah dengan memandang bahwa disebalik semua perbedaan sifat-sifat itu, sejatinya adalah “satu”. Dzat ciptaanNya. Dan dalam mengambil tindakan, kita menyadari bahwa kita semata-mata menjalankan peranan atau fungsi kita dalam pagelaran ini. Dalam pentas dunia ini.

Tindakan-tindakan yang kita lakukan, selalu kita sadari sebagai bagian dari pentas dunia. Tiap orang menjalankan fungsi masing-masing.

Perlahan-lahan, sikap yang cenderung melarikan diri dari perbedaan, menjadi hilang. Perbedaan akhirnya disadari sebagai sesuatu yang natural. Selama dalam dunia ciptaan, maka riuh rendah perbedaan adalah niscaya.

Seperti kekata Rumi, “Kebenaran sejati selalulah ada di dalam hakikat, tetapi orang dungu mencarinya di dalam kenampakan.”