IBLIS TENGU

sesosok iblis bernama tengu muncul dalam mitologi jepang. Bermata merah menakutkan, rambut keemasan, badan tegap tinggi besar dan berhidung panjang.

Ingatan tentang tengu muncul tiba2 siang tadi. Setelah makan kusempatkan membuka email dan membaca surat dari kawan2. Seorang teman menyinggungnya dan jariku jadi gatal untuk menuliskannya kembali.

Meski baru seumuran jagung usia kerjaku di dunia oilfield, bisalah sedikit aku membuat kesimpulan, bahwa rata2 orang indonesia ini terlalu menganggap bule itu manusia superior. Superhuman yg dalam banyak aspek pastilah lebih unggul dibanding kita.

Aku termasuk yang berfikiran sedikit primitif begitu. Jadi jangan dulu berburuk sangka bahwa aku ini menceritakan jelek2nya orang lain, tidak, ini ceritaku sendiri.

Awalnya dari waktu wawancara kerja dulu. Aku diinterview oleh seorang bule dan seorang lagi pribumi asli. Entah kenapa, rasanya jantung ini sedikit berdegup lebih parah saat si bule melontar pertanyaan. Betapapun pewawancara yang pribumi itu lebih menusuk pertanyaannya.

Tentu saja keterbatasan bahasa jadi soal. Bahsa inggrisku masuk dalam kategori dibawah garis kemiskinan, itu memang salah satu faktor, tapi rasa2nya ada yang lebih dari sekedar itu.

Buktinya adalah, secara pelan2, penghalang besar berupa bahasa itu bisa aku atasi. Benarlah kata orang tua2 dulu kalau lancar kaji karna diulang. Sedikit2 aku bisa bercakap lancar dengan mereka, tapi dalam mindsetku susah sekali dihilangkan anggapan bahwa bule itu pastilah lebih pintar dan lebih segala-gala.

Padahal, dalam teori psikologi, bagaimana otak kita berfikir akan mempengaruhi bagaimana kita bersikap.

Setiap berbicara dengan bule maka tidak berani beradu pandang dalam2. Takut2 menjawab, mana tahu sang bule lebih paham. Setiap ada bule maka berlagak konsentrasi dan kerja keras. Dan setambun perilaku tolol lainnya.

Lha…..iblis tengu dimananya?

Setelah diteliti. Dalam mitologi jepang tadi, iblis tengu merupakan penggambaran ketakutan orang2 jepang akan orang2 eropa yang terdampar di perairan mereka waktu dulu.

Bahkan jepang, rekan2. Bangsa yg secara kasar saja kita pukul rata memiliki etos kerja yang jauh diatas kita, kebudayaan yang jauh lebih maju, dan rasanya berlipat-lipat lebih pintar masih juga susah menghilangkan paradigma itu. Bule sama dengan tengu. Iblis besar bermata merah atau biru, hidung panjang menyeramkan. Ketakutan dan inferioritas mereka menjelma mitos.

Itu jepang, apalagi kita. Mungkin ini penyakit bangsa asia yang mewabah. Dan dalam keseharian kita, banyak hal yang tidak perlu kita takuti tapi kita hantu seramkan sendiri dia dalam benak kita.

Paragrafku sebelumnya yang memukul rata bahwa jepang mungkin jauh lebih pintar dibanding kita, juga satu bentuk men-tengu-kan mereka. Jadi mungkin dalam hidup ini kita banyak memunculkan iblis tengu kita sendiri.

Seperti di suatu siang yg panas. Aku sedang duduk di kelas bisnis maskapai penerbangan paling yahud di negri ini. Pulang kerja dari pulau minyak kalimantan, menuju jakarta. Duduk di sampingku seorang bule darah inggris kalau tidak salah. Kami berbincang banyak. Syukurlah, dengan perjuangan mati2an aku bisa sedikit memapas kekerdilan jiwaku dulu, dan dengan lebih ringan sekarang bisa menganggap setiap yang kujumpai itu sama. Menilai mereka semanusianya manusia. Persetan warna kulit atau pupil mata.

Lama kami ngobrol ngalor ngidul. Dia orang yang baik. Friendly. Banyak bercerita. Sampai tiba saatnya makan siang sang pramugari menawarkan dua pilihan menu. Nasi dan daging ayam lalu kentang dan sapi.

Dari depan semua ditawarkan untuk memilih. Ada yg memilih nasi dan ayam, ada yang kentang dan sapi. Terserah.

Sampai di bangku terakhir, tempat kami berdua itu, malangnya hanya tinggal dua porsi menu makan siang. Siapapun yang memilih, maka yang kemudian tidak akan lagi punya pilihan.

Dengan ramah pramugrari tersenyum kepada bule tadi dan dengan baik menawarkan “which one do u prefer sir? Beef or chicken?”

Sang bule menjawab “beef”.
Maka diletakkanlah nampan beef di meja bule tadi.

Lalu dengan agak kurang beretika menurutku, sambil lalu sang pramugari mengatakan kepadaku “bapak yang ini aja ya” sambil meletakkan plate nasi ayam di mejaku.

Bule tadi tahu ada yg salah, dia merasa tak enak hati. Dengan rendah hati dia menawarkan padaku “if u want beef, it’s ok rio, u can take mine”.

Aku menggeleng, “no thanks” kujawab. Sebenarnya aku omnivora. Cobalah cek di buku biologi, manusia itu omnivora, aku tidak pula terlalu soal lauk ayam atau sapi. Tapi berasa ada yg menggelitik batinku.

Mungkin……bagi pramugari maskapai penerbangan terbesar di negri ini tadi, bule ini adalah sesosok tengu, manusia superior yang pastilah dalam segala-gala lebih daripada kita.
Entah kenapa aku tiba2 kasihan padanya.

Lalu aku meneruskan makan saja. Sambil dalam hati berjanji. Suatu nanti kutulis ini. Sambil mengajak siapa saja untuk menganggap manusia sebagai manusia. Untuk berdoa dan berlindung dari jiwa kerdil kita sendiri. Mana tahu dalam hidup ini banyak hal yang biasa, tapi kita hantuseramkan sendiri.

Ada iblis tengu-kah di sekitarmu? Ah…..itu khayalanmu saja.

1 comment November 14, 2009

jam jam JAAAAM

jamJam tanganku merknya abal-abal. Kalau tidak salah sudah kupakai sekitar 1 tahun. Sekarang sudah kotor tak karuan, talinya hampir putus tapi masih nyantol sedikit. Prinsipku adalah, semakin lama suatu barang dipakai, semakin enak dibadan.

Ini, jam tangan ini, rasanya sudah seperti ada ikatan batinnya denganku, jadi meskipun jam ini sekarang kalau aku pencet tombol lampunya nanti jam ini tiba2 error dan reset waktunya jadi 00:00, aku tetap setia dengan jam ini. Sudah enak di tangan.

Harga jam ini? Pasti kalian bertanya begitu. Kurang dari seratus ribu rupiah sahaja. Murah meriah. Padahal bagi sekalian orang2, mungkin jam segitu harganya terlampau murah untuk sebuah jam yang dipakai gaya2-an.

Duluuuu sekali, waktu aku sedang asyik2-nya bekerja di rig pemboran di laut sana, waktu di galley(kantin)-nya, kami tiba2 ngobrol ngalor ngidul dan entah bagaimana menyinggung-nyinggung jam.

Jam itu, kata temanku, yang pantas dipakai mejeng adalah paling tidak yang harganya limaratus ribu, dengan merk semisal G-SHOCK yang aseli. Lalu mereka mengadakan semacam uji komparasi antar jam. Jam seharga limaratusan ribu itu, menurut teori rekan2 adalah jam yg apabila anda celupkan kedalam air, atau semisal terkena hujan, atau semisal lagi terkena ac ruangan, tidak akan muncul embun di bagian kacanya. Tentulah rekan2 yg familiar dgn jam akan tahu, bahwa meskipun jam itu dikata orang “water proof” tapi tetap saja kadang2 kalau kena hujan kaca dalamnya berembun. Itu keunggulan pertama dari jam limaratus ribuan. Keunggulan kedua adalah jam limaratus ribuan memiliki banyak fitur: fitur stopwatch, fitur alarm anti alien, fitur penghitung kalori yang terbakar kalau kita jogging, fitur gps, fitur anti maling dan macam2 lagi.

Aku terbengong pucat. Lalu pelan2 menarik tangan kiriku dari piring makan dan kusembunyikan dibawah meja, lalu aku makan saja dengan sendok tanpa garpu. Lalu lagi ada yg bertanya “jam berapa ya, sekarang?” aku diam. Pssssttt……tak usah bilang2 kalau aku punya jam tangan!

Sekarang ini, kawan2 yg baik, yg sedang aku lakukan adalah memlototi jam tanganku yg tua ini, dan mengira2, tahu tidak ya orang2 bahwa jam tangan ini adalah jam emperan? Kasihan benar jam ini, aku jadi iba. Waktu aku beli, jam ini dulu tidak ada kotaknya. Beli, langsung pakai. Amat praktis dan efisien sekali. Sudah pula aku ikut mengurangi limbah plastik dengan membeli jam tanpa kotak, superrrr sekali.

Kembali ke masalah jam tadi, aku pikir tidak ada yang salah dengan kinerja jam kurang dari sratus ribu, bahkan jam puluhan ribu. Karna dr segi fungsi, yg aku butuhkan cuma penunjuk waktu sekarang jam berapa, dan skali2 stopwatch. Kalau alarm aku pikir tidak perlu lah ya, aku agak susah bangun dgn alarm kecil dari jam tangan.

Berfungsi baik2 saja, tidak banyak menuntut dan enak dipakai, itulah jam abal2 punyaku. Tentu saja jika kalian beli di emperan tidak dapat kotaknya.

Begitulah semua dulu berjalan teramat bersahaja sampai pada waktu hampir setiap kali makan di galley rekan2 satu pekerjaanku selalu sibuk membincangkan jam jam jam JAAAAAAAM.

Maka aku mulai terdistorsi. Kegunaan jam sebagai penunjuk waktu sudah agak bias di benakku. Kadang2 aku menyembunyikan jam tangan setiapkali makan di kantin, khawatir ketahuan kalau diperhatikan rekan2. Astagaaaaa, bukan jam G-SHOCK (di benakku tentu saja).

Dan itulah bodohnya aku, padahal peduli apa mereka dengan jam kita??

Tapi itu masih mendingan. Kalau diingat dulu waktu kecil, aku setengah mati mengidamkan jam tangan digital, dan ibuku membelikan sebuah jam tangan digital yang sangat bagus. Ada lampunya, penunjuk waktu (pastinya), ada stopwatch, alarm, kalender, pilihan bunyi alarm-nya ada 4 tipe, bukan main…….. Tapi setiba di sekolah aku harus menahan malu dan menyembunyikan jam di saku celana, pasalnya setiap bertemu orang mereka dengan kurang ajar berkata “wah….hadiah beli klise film ya rio?”.

Ibuku tidak peka merk, dan jam tanganku pas sd dulu merknya “fujifilm” kata ibu itu merk terkenal. Alamaaaaak.

Ah……….
Sampai sekarang aku tidak pernah punya jam tangan mahal. Dan sampai sekarang baru aku sadar, tololnya aku ini, padahal kan setiap kali orang tanya aku bisa jawab sekarang jam berapa, setiap lari pas olahraga di sekolah aku bisa pakai stopwatch, semua sudah terpenuhi. Dan jam itu sudah berjasa ratusan kali, ribuan mungkin. Ndak terhitung brapa kali kulirik-lirik jam itu, sampai jam itu putus talinya, sampai batrenya soak. Tapi toh aku tidak juga bahagia.

Mungkin, nanti aku akan bahagia kalau sudah punya jam tangan empatpuluh juta rupiah dibayar tunai. Jam tangan itu nanti haruslah pula penuh dgn fitur yg tak bisa aku rinci satu2 disini. Dan haruslah nanti kalau kupakai -dgn suatu cara entah bagaimana- merknya slalu kelihatan. Taruhlah G-SHOCK LIMITED EDITION. Lalu nanti haruslah pula orang2 yg melihatnya itu punya sedikit pengetahuan mengenai dunia perjaman, hingga paham mereka itu bahwa tanganku sekarang sedang dalam kondisi paling fit karna dibalut “yang dipertuan agung JAM”. Akan lebih bagus lagi bila setiap kupakai itu jam aku bertemu dengan penggila jam swiss, nanti mereka geleng2 kepala.

Tapi sekarang cukuplah dulu jam tangan biasa ini, mumpung batrenya masih nyala, talinya masih kuat juga.

Eh…ngomong2 jam brapa sekarang?

1 comment November 14, 2009

membaca bintang

rig
Sekitar satu jam perjalanan dari jakarta. Pesawat memang terbang dengan kecepatan mengagumkan. Sebentar saja aku sudah tiba di bandara sultan mahmud badaruddin dua. Bandara palembang. Dari sini nanti delapan jam lagi perjalanan harus dinikmati. Mengikuti kelok-kelok jalanan yang sudah seperti meander saja. Terguncang-guncang di kerikil berdebu. Berhenti sebentar di pinggir jalan tempat banyak pedagang duren yang murah2, lalu kembali melanjutkan perjalanan setelah perut kekenyangan.

Aku hampir muntah setelah sampai batasnya. Tubuhku ternyata kuat menahan guncangan sekitar tujuh jam saja. Setelah tujuh jam yang mendebarkan maka sedikit saja tremor akan memicu isi perutku melonjak keluar.

Sudah dua tahun lebih berapa bulan aku bekerja disini. Dunia pemboran minyak. Pekerjaan dengan pola yang tidak umum, mengingat kita harus -tanpa banyak tawar- meloncat-loncat mengikuti sebaran hidrokarbon. Yang namanya minyak bumi itu semau-maunya dia saja. Hampir tidak pernah ada pemboran di tengah kota atau dekat mall, selalu saja di tengah gurun, di tengah laut, atau di belantara lebat terasing. Dan aku sekarang menuju kesana…..perjalanan masih panjang, dan aku terduduk mengenaskan di bangku belakang.

Meskipun kepala terasa benar2 berdenyut, dan mata sudah kunang2 gelap kalau dipaksakan melihat, tapi aku tetap menyempatkan diri untuk menulis sebaris cerita buatmu. Itulah sahabat sejati, ya begini ini. Kalau bukan kubagikan kepada kalian, kan kepada siapa lagi? Jadi aku sambil berbaring-baring saja tak apalah, ya? Yang penting pelan2 tetap aku ceritakan.

***

Mulanya memang pada saat awal2 kuliah dulu itu. Kita semua hidup dengan tujuan2, kan? Entah itu panjang kedepan, atau berapa depa saja, tapi tetap ada kita punya tujuan. Sebelum lulus kuliah itu, tujuanku cuma dua. Yang pertama adalah lulus segera, yang kedua adalah kerja segera.

Aku sekarang sudah lulus kuliah, rupanya. Seperti sebuah mu’jizat. Bagiku banyak hal dlm hidup ini, hal2 yang berhasil aku lalui itu, sebenarnya kemurahan Tuhan saja. Seperti bisa-bisanya aku masuk universitas negri wakstu SPMB dulu, atau semisal bisa juga ternyata aku lulus cepat dgn penelitian yang porak poranda dan pembimbing yang brutal?? Sudah pasti bukan kepandaianku memang, tapi itulah seni takdir, Tuhan memutuskan apa saja yang Dia ingin putuskan, yang jelas singkat kata aku lulus.

Setelah lulus, ini seperti mu’jizat lagi. aku langsung diterima bekerja. Nantilah dulu kita debatkan mengenai apakah sebaiknya membangun usaha sendiri ataukah kerja dan menjadi anak buah orang lain? Yang jelas aku berhasil mencapai tujuanku tadi. Yang aku ceritakan ke kalian2 di atas tadi. Benarlah sudah: aku lulus, aku bekerja.

Sampai disini aku mengalami semacam perasaan gembira yang akut, muncul tiba2 dan dengan dosis yg tak bisa ditoleransi. Aku mengalami semacam euphoria, rekan-rekan yang budiman.

Dari situlah aku mulai hidup dalam ritme pekerjaan yang tidak umum ini. Pekerjaan terjadwal empat belas hari kerja dan empat belas hari libur. Pergi ke banyak tempat. Terapung di tengah laut, di pinggir delta, di tengah hutan dan menyeberang benua.

Tapi seperti kebanyakan manusia yang gamang, aku menjadi hilang arah. Entah apa tujuanku waktu itu. Rutinitas yang aku tidak tahu gerbang destinasinya dimana.

Bagiku waktu itu, kerja adalah semacam barter, menukar sekitar seliter dua liter keringat kita dengan sejumlah uang yang nanti tertulis di saldo tabungan mandiri. Sudah, sebatas itu saja, tidak ada itu semisal makna luhur dibalik banting tulangnya aku itu.

Kerja gajian kerja gajian kerja gajian. Sudah. Hidupku terlalu pragmatis. Perputaran logikanya sebatas perut saja.

Aku muak. Suntuk aku dengan rutinitas yang terlalu klise. Samaaaaaa persis setiap harinya, minggunya, bulannya. Lalu kuputuskan aku harus pulang. Pulang dulu ke kampung halaman barang satu dua minggu untuk mereset lagi otak dan batin, bahwa selain kerja dan menghitung hari, masih banyak lagi hal-hal lain yang bernilai dalam hidup ini.

Dan di suatu malam hening yang biasa. Aku, bapakku, dan ibuku duduk di teras luar rumah. Hari hujan setengah2. Lalu ada bunyi entah jangkrik entah kodok. Aku rindu suasana seperti begitu, waktu2 dimana kita merasakan begitu banyak karunia tumpah ruah. Ada teh hangat di meja kecil samping bangku tempatku duduk. Ada laron terbang memutar pelan di atas pelapon yang ada lampu neon sebelas watt-nya itu. Ada jaket yang kutarik ujung2nya karna resluitingnya sudah tidak lagi fungsi. Semua tiba2 menjadi indah, dan sebentar kemudian Bapak memecah keheningan dengan melontar “kamu kapan mau menikah, mas??”

Blaaaaarrr……. Kilat menyambar di kejauhan, lalu sekitar berapa detik kemudian baru bunyinya sampai. Begitulah juga aku. Sibuk berkelana kemana-mana fikiranku, lalu bibir bapak terlihat seperti gerak lambat. “ngomong apa ya bapak tadi?” fikirku…….dan masih juga semua terputar lambat sampai jeda berapa detik hingga otak sederhanaku ini akhirnya bisa memprosesnya.

Luar biasa. Begitulah orangtua. Bisa menilai tanpa perlu banyak kata. Mungkin seperti yang orang bijak fatwakan “wahai para orang tua, jika anak kalian jatuh cinta, maka nikahkanlah!! Atau mereka akan jadi penyair”. Dan bapakku mungkin saja menangkap gelagat itu. Waktu2 semua obrolanku jadi terasa lebih filosofis, atau setiap patah kata yang jumpalitan dari mulutku tiba2 terasa seperti syair pujangga melayu. Ini alamat yang sudah terlalu nyata.

Ini, coba kalian lihat jari tanganku, kuku jariku ini, sepuluh-sepuluhnya masih berwarna orange aneh. Inai…pacar…kalian tahu kan itu? Begitulah pengantin baru di sumatra sana diperlakukan, dibubuhi tanda di kuku jarinya, mungkin biar setiap kali kau mengetik di laptopmu maka inspirasi yang akan muncul adalah seputar dirimu dan pernikahanmu karna warna orange menari-nari terus diatas tuts keyboard.

Aaah…..itulah ya, ternyata baru sadar bahwa aku sudah berusia, tubuh kita menua dengan cepat, tapi kedewasaanku seperti tumbuh dengan lamban. Setelah sempat seperti kapal yang berlayar tanpa panduan arah, sekarang mungkin sudah saatnya aku membaca lagi bintang2.

Aku jadi ingin tergelak sendiri, padahal dulu semenjak baru saja aku tamat SMA dan memutuskan untuk bimbel di jogja, akulah yang paling getol dengan visi menikah. Kuambil sebuah kotak kardus kecil, dan kuberi label “sumbangan amal untuk pernikahan” kubolongi bagian atasnya dan komplitlah sudah kotak itu menjadi semacam tabungan. Rekan satu kontrakan semua tergelak berguling-guling.

Masa2 yg luar biasa. Setiap hari aku dan rekan2 menyusuri selokan mataram yang membelah jogja. Duduk2 di pematang sawah yang hijaunya masih hijau muda. Lebih memilih berjalan dibawah terik sengat mentari jogja siang2 ketimbang naik bus, demi menghemat receh dan mencemplungkannya kedalam kotak yang tadi kubuat. Setiap hari belajar sampai larut malam nian.

Letih….tapi tak pernah rasanya aku seriang itu. Rencana2 memacu hidupku berderap cepat dan energik. Lulus SPMB, dan menikah sambil kuliah, itulah target yang kutulis besar2 di buku agenda.

Meskipun pada akhirnya gagal aku masuk universitas tertua di indonesia itu, kampus terbesar di jogja itu, tapi Tuhan kirimkan aku belajar di tempat yang lain lagi. Cerita yang lain lagi. Dan tentu saja tidak mungkin aku menikah sambil kuliah, karna satu dan lain hal, maka takdir sekali lagi berjalan dengan seni yang paling rapih. Tak bisa ditiru dalam rencana-rencana kita ini.

***

Kita harus punya tujuan kan, kawan? Entah itu untuk berapa masa kedepan sana, atau tujuan yang dekat2 saja. Tapi aku sempatlah juga berasa seperti orang yang telat kuliah, aku termasuk yang gelagapan lalu kasak-kusuk tanya bangku kiri kanan.

Masih banyak yang harus aku pelajari dan catat. Entah bagian yang mana baiknya aku potong2 dan ceritakan ke kalian. Tapi sebentar lagi aku sepertinya sampai di lokasi pemboran. Warna hijau pohon2 akasia dari tadi sudah seperti receptionist hotel. Berbaris rapi dan tersenyum sangat formil. Pasti sudah sampai, firasatku mengatakan begitu.

Mobil ranger memutar di jalan berdebu yang barusaja digiling-giling buldozer. Aku turun sempoyongan memanggul tas ransel besar. Biasanya yang akan aku lakukan adalah langsung menuju kamar dan membulati kalender. Ini hari pertama, masih berapa hari lagi aku disini. Tapi bagiku sekarang ini seperti mu’jizat. Kerja bagiku kini agak lebih dari sekedar barter keringat. Aku senang dengan sensasi waktu merasa begitu banyak karunia jatuh berkeping-keping dari langit. Lalu aku tertawa pelan karna sukses juga aku menahan muntah dari tadi. Lalu kutarik nafas menikmati hawa segar udara hutan dan asap mesin diesel yang bercampur. Lalu melihat orang mengangkat pipa2 besi, melihat mesin2 besar bergemuruh dan jalan berguncang-guncang, menara pemboran tinggi menjulang menutupi bulan sabit yang redup dibalik awan yang diseret-seret angin. Aku tersenyum dengan lengkungan paling simetris, karna aku tahu sekarang sudah ada yang menungguku dirumah kontrakan kecil jakarta timur sana. Bekerja sekarang sudah sedikit punya arti.

Begitulah seni takdir, Tuhan memutuskan apa saja yang Dia ingin putuskan.

Sudah dulu ya, kupanggul dulu tas besar ini ke kamar. Kepalaku masih sedikit pusing, maka tolong maafkan ceritaku yang berputar-putar.

Add comment November 13, 2009

Simpang

persimpangan

 

Di persimpangan. Tiba-tiba aku terbangun. Begitulah keberuntungan bekerja. Datang dengan cara tak diduga, tiba diwaktu tak diduga.

Aku tertidur, tadi itu. Baru saja aku pulang dari bandara. Mengantar istriku ke kampung halaman mengurus satu dua hal. Bus damri yang ber AC itu dengan pandai menyanyikan sebuah serenade pengantar tidur. Aku luluh dengan rayuannya dan terbaring pulas sampai perempatan tadi.

Tersentak Aku bangun. Baru tadi itu aku mengalami berapa macam sensasi berurutan: bangun tidur, kaget, berdiri panik, lalu lari sekencang-kencangnya.

Dan sore yang hiruk pikuk itu memainkan peranannya dengan sangat baik. Belum lagi aku tiba dirumah tapi rasanya sudah ada yang kosong.

Kalian salah, jika mengira kutulis ini setiba aku di rumah dan menyalakan laptop di ruang tamu. Tidak. Kutulis ini dalam benakku sepanjang menyusur jalan pinang ranti tadi.

Motor-motor berjalan pelan. Azan maghrib merambat di udara. Dan langkahku cepat-cepat patah-patah, seperti modus stakato nyanyian mars pejuang-pejuang itu. Dengan situasi macam itu, tak bisalah aku melawan niatan menulis yang mendesak-desak.

Lalu kuturuti saja. Tiba-tiba aku serasa ingin mengajakmu menghitung-hitung. Berapa banyak persimpangan sudah kita lewati dari mula kita lahir dulu? Setiap fase hidup memberikan persimpangannya sendiri-sendiri.

Kita besar dan meninggi dengan beringas. Terus meronta-ronta melawan petuah Bapak Ibu kita. Kita melanglang ke tempat-tempat yang jauh. Lalu berlabuh di rumah kecil yang seorang perempuan kita pasrahkan memegang kunci pintunya. Lalu untuk berapa fase kemudian kita menunggu lahirnya bayi mungil, lalu kita pula yang giliran berperan jadi Bapak-bapak penuh nasehat atau ibu-ibu cerewet nantinya. Lalu kita menunggu ajal saja sesudahnya.

Setiap persimpangan, buatku selalu menyodorkan tantangan. Seperti menjawab essay fisika. Membahasakan essay untuk menjadi enak dibaca saja sudah setengah mati. Apatah lagi membumikan fisika??? Aku selalu menjadi pembelajar yang telat. Kadang-kadang juga pembelajar yang kalut. Takut aku kadang-kadang untuk berada di simpang.

Padahal bumi berputar itu niscaya. Daun hijau merangas menua lalu mati itu niscaya. Anak-anak tumbuh besar dan beranak pinak juga niscaya. Mau lari kemana???

Betapapun gentarnya kita menghadapi setiap fase hidup toh pilihan kita ya hadapi saja atau sirna ditelan sejarah.

Cobalah, sebagai misal. Seperti sukarno dengan retorika halilintar itu apa tidak pernah dia itu mengalami semacam nervous? Semacam gemeletar kakinya, atau sedikit berdiri bulu kuduknya kapan dia mau berbicara? Atau chriss john sang legenda itu apa tidak pernah dia berasa mau mati saja kapan menatap musuh beringas macam babi hutan di pojok ring sebelah sana???

Kurasa, mungkin ya, orang-orang besar itu pernah juga gemetaran kakinya, atau jedat-jedut jantungnya. Atau berkeringat dingin sebulir-bulir jagung. Tapi dibalik pucat pasi mereka, atau ciut nyalinya itu, mereka selalu saja bisa tampil natural. Terlihat tenang dan selalu tajam. Mereka bisa jadi takut memang, bisa jadi gemetaran memang, tapi mereka tidak pernah lari.

Dan orang-orang biasa macam kita-kita ini yang setiap hari merutuk nasib atau meratapi ketololan kita sendiri, untuk takut menghadapi masa depan, untuk mengkhawatiri kerja dan penghasilan, untuk skripsi yang bertumpuk-tumpuk, untuk ini untuk itu untuk apapun saja.

Dan tiba-tiba aku sudah di pengkolan jalan, gang kecil ke rumahku ada di sebelah kanannya. Aku menyeberang setengah berlari menghindari motor bebek berlampu redup dan mobil kijang hitam metalik. Lalu mengambil handphone dari saku celana dan mengetikkan sms buat istriku, sepertinya sebentar lagi dia sampai.

Untuknya, rasanya berani aku menyusur persimpangan mana saja.

Add comment November 3, 2009

Dini hari tepat di jam tiga

jam tiga

Tepat jam tiga pagi aku terbangun. Udara di sini memang keras. Panas menelusup sampai ke balik pintu, ke bawah karpet, sela-sela lemari dan sudut-sudut ruang kecil ini.

Aku beranjak duduk. Dengan pelan aku mendongak kesamping kiri kanan, ruang sempit putih ini penuh dengan barang-barang. Kardus-kardus berjejal abstrak. Motor dibalik pintu. Tas besar hitam di sudut sebelah kanan belakangku. Sajadah hijau tergolek saja di atas tumpukan plastik. Memang kami baru saja pindah.

Mataku masih memicing sebelah. Inilah yang umum benar dialami kita, setiap bangun tidur harus dikrenyitkan sebentar kening kita lalu mengingat-ingat, kapan mulanya kita berbaring disini? dan mengumpulkan sebentar memori yang lepas-lepas. Lalu kulihat tertidur pulas di sampingku seorang perempuan. Keringat di dahinya berjejer rapih, sebentar lagi menunggu momen untuk berlomba mengalir dan menghampiri karpet orange alas tidurnya dengan tidak bersuara. Kuseka keringat yang membulir di keningnya, lalu sebentar menarik nafas dalam dan menggendongnya melintasi banyak celah-celah serakan barang. “tidurlah di kamar tidur dek, bukan di ruang tamu”.

****

Ternyata aku sudah menikah sekarang. Sudah kuceritakankah padamu tentang hal itu?

Jadi…………… aku mohon maaf yang dalam, untuk kadang-kadang melewatkan satu dua cerita. Sungguh bukan maksud hati ini untuk tidak jujur, bukan pula lancang menganggap kalian-kalian ini tidak cukup dekat di hatiku sampai aku rahasiakan potongan hidupku sebagian dan aku ceritakan saja sebagian lainnya. Tidak.

Cobalah hitung-hitung, baru belasan hari aku berganti status. Apa yang bisa aku ceritakan dari hari yang belum genap menjadi bulan?

Itulah mengapa kadang-kadang aku ingin benar duduk selonjoran saja di pinggir pantai, sambil berbincang-bincang dengan kalian. Lalu mereka-reka kata-kata apa yang cocok jadi pembuka? dari potongan episode yang mana baiknya aku tuturkan? dan dengan intonasi bagaimana baiknya aku mulai menembangkan ceritra itu? Sementara nanti mungkin kalian akan sibuk menikmati angin yang memutar-mutar dedaun jarum pohon-pohon pinus, atau masih sibuk melihat nelayan yang menarik jaring lalu melemparnya lagi, aku bisa tenang sedikit. Karna agak lama aku dalam merangkai kata, untunglah kalian tidak sibuk memburu-buru aku sepertinya.

Begini rupanya menjadi ksatria, rekan-rekan. Menahan haru biru yang menggeletar di dada agar tidak muncrat jadi air mata, waktu orang tua yang kini Bapakku dan Bapaknya, Ibuku dan Ibunya berpesan “baik-baiklah kalian disana”. Mengangkat sebuntelan besar tas penuh barang-barang lalu malam-malam kami menunggu bus di depan bandara, “naiklah duluan dek” kataku sambil menjejalkan timbunan tas ke bagasi, rasanya bukan main.

Begini rupanya menjadi ksatria. Menikmati ekstase kebanggaan menitipkan sejumlah rupiah untuk bekal makan satu bulan kepada istri. Memboncengnya panas-panas siang hari, lalu mengemudi hilir mudik masuk ke gang-gang kecil, bertanya sana sini, lalu sebentar berhenti di depan tulisan “ada kontrakan”, lalu bertanya sambil menoleh sedikit ke belakang “yang ini suka ga dek?”

Begini rupanya menjadi ksatria. Memotong kabel rol listrik limabelas meter, lalu menyambungnya dengan lampu neon dan menggantungnya di atas pelapon kamar mandi yang lampunya dari tadi siang itu malas menyala. Terus aku tersenyum dengan ekspresi paling salah tingkah, bisa juga aku jadi tukang listrik?

Beginilah menjadi ksatria, menggosok lantai kamar mandi dengan sikat yang meleot-leot. Wah… harusnya tadi pagi kita beli sikat WC yang mahalan sedikit tak apa, aku membatin sambil tetap menggosok lantai, menuangkan sesekali pembersih porselen cair wangi itu, sambil dengan cekatan tak karuan menghajar kecoa yang lewat lalu lalang.

Begini rupanya menjadi ksatria. Waktu peluh berjejal-jejal keluar dan lengket di kaos oblong coklatku itu, aku melihatnya mencuci piring-piring. Melihatnya memotong kacang panjang. Melihatnya menyilangkan tangan di depan mukanya waktu minyak goreng meletup-letup di kuali. Melihatnya bolak-balik mengepel dapur belakang, kamar tidur, ruang tamu, lalu teras. Melihatnya menyetrika kemeja hitam lengan panjang punyaku. Lalu melihatnya tertidur berkeringat di ruang tamu sempit disesaki dispenser, rice cooker, tas besar hitam, tas besar coklat, dan kipas angin miyako.

Begini rupanya menjadi ksatria, waktu aku terbangun dini hari tepat di jam tiga, lalu sebentar menarik nafas dalam dan menggendongnya melintasi banyak celah-celah serakan barang. “tidurlah di kamar tidur dek, bukan di ruang tamu”.

5 comments Oktober 30, 2009

Lancang…

lancang
Seperti pencuri saja.
Malam-malam kuketikkan ini. Menuliskan sebuah cerita tanpa izin, mungkin adalah sebuah kelancangan. Degap-degup jantungku memompa darah dan adrenalin, biar kiranya jemariku ini bisa bertingkah lebih cepat dari biasanya.
Sebelum lintasan memori yang selalu cuma sebentar nian mampir itu, lenyap. Sebelum malam yang ber-angin pelan ini ikut menyapu niatanku yang setengah ini sampai ludes.

Manusia tercipta dengan tabiat yang gampang sekali lupa. Mungkin itu juga kiranya kenapa Tuhan mengajar kita dengan Kalam, dengan “Pena”. Cerita-cerita kalau tak dituliskan dan dibagikan akan hilang dan mati. Begitu juga ingatanku nanti mungkin membusuk dan ikut dikerubun belatung. Kau belum sempat baca. Tidak pula kawan yang lain sempat tahu. Sedangkan nama yang luarbiasa itu belum sempat diceritakan, dan mungkin nanti hilang ditelan sejarah. Akankah aku yang kalian salahkan???

Baiklah…….
Sudah sekitar enam tahun, sahabatku itu aku kenal. Perkenalan yang biasa dan klise di kampus Padjadjaran. Aku tidak ingat bagaimana mulanya kami kenal. Tapi pastilah tidak dramatis. Sesuatu yang cukup biasa, sampai otak-ku yang masih banyak lowongnya ini tidak menyimpannya. Memori hanya muncul sekilas-sekilas. Rumahnya dulu cukup kecil seingatku, di pinggir jalan tanah yang rumput jalan dan ilalang menyeruak kemana-mana. Ada lapangan bola di seberang sananya, dan titian jalan-jalan setapak menyusur sawah setengah jadi di pinggir-pinggir perumahan yang masih lengang. Setengah pedesaan…… Alami……… Sepi…….. Dan berembun basah……… ya, memang waktu itu musim penghujan, aku ingat betul itu.

Dari sanalah, kalau kau paksa aku runut-runut, ingatan yang cukup baik buatku memulai melintas kebelakang. Ingatan setelah itu adalah rumah itu sudah kuanggap rumah sendiri.

***
Setiap kali kuliah usai, dan aku yang sama sekali bukan aktivis kampus ini tidak punya kegiatan, maka seingatku aku akan bertandang kerumahnya. Menaiki angkot berjejal sambil berceloteh tentang masa ospek yang baru kami lalui, atau mungkin diam saja sampai kalau tidak aku mungkin dia yang akan tiba-tiba berujar tadi siang ada seorang gadis manis yang kita lihat di pinggir jalan kampus.

Dari depan gang kami masih harus berjalan sekitar 15 menit. Ini bagian yang aku paling senang. Sawah-sawah yang masih hijau di pepinggiran jalan itu seperti selintas menyadarkan aku bahwa masih banyak keindahan di sini, selain kejenuhan dan rasa penat yang seperti bercokol di punggung. Aku menyukai suasana itu, dan dia adalah orang yang pertama kali mengajakku untuk melewati jalan sawah itu. Disitulah aku mulai membatin bahwa beliau ini akan menjadi teman baikku. Aku susah berteman memang, tapi bersahabat seumur hidup.

Anak itu melankolis sejati. Dan sedikit-sedikit aku memahami jalan dia berfikir. Banyak yang sama dalam keseharian kami. Keluarga yang ekonomi seadanya. Kami marjinal. Bukan orang yang berperan krusial di konstelasi kampus. Menyukai seni. Merasa diri kami sebagai pria kharismatik yang romantis, dan dalam banyak kesempatan “mana-mana gadis yang dia anggap manis pastilah menurutku lumayan juga”.

Hampir setiap hari aku bertandang kesana. Menghabiskan masakan yang dimasak kakak perempuannya, lalu berbasa-basi seperti mau mencucikan piring. Nantinya anak itu juga tahu semacam basa-basi melarang aku mencuci. Lantas piring kotor kutumpuk saja dibelakang sambil berkomentar betapa enak masakan teteh-nya.

Dari sana aku tahu dia orang yang baik. Entah sudah berapa kali dia merogoh koceknya untuk membeli kerupuk putih atau sekedar membeli gorengan atau mie sebagai teman makan kami. Sudah setengah mati kukatakan padanya bahwa aku sudah lulus pelatihan sengsara di rumahku sebrang sana, masihlah dia tak percaya bahwa aku bisa survive hanya dengan makan nasi saja. Maka setiap kali niatan bertandang itu mengakibatkan uang sakunya keluar menjadi lauk pauk buatku, aku merasa bersalah. Tapi tiap hari pula kuulangi lagi dan aku bertandang lagi.

Dia menjadi sahabat yang aku percaya untuk setiap rahasia-rahasia. Dan aku juga mulai tahu kisah keluarganya. Kesulitan ekonominya. Gadis manis yang dia taksir. Tipu muslihatnya menarik si cantik jelita itu. Dan macam-macam lagi.

Kami sudah seperti anak kembar saja. Bedanya aku lebih tinggi sedikit darinya. Dia menjadi seperti rival. Orang yang aku iri dengan kepandaiannya menggubah lagu. Aku belajar banyak tentang bagaimana menjadi sahabat yang mendengarkan dengan baik. Bagaimana hidup dengan bersahaja. Dari keluarganya aku belajar bagaimana potret keluarga yang sederhana tapi penuh canda.

Kami pergi ketempat-tempat yang jauh. Menyelesaikan tugas kampus untuk penelitian di Banten. Menyusur hutan. Kami menuruni jurang-jurang curam. Kami tersesat di hutan lebat yang men-tak berkutik-kan GPS kami. Kami sok-sok pandai bertutur sunda halus dengan penduduk kampung. Kami naik turun bus, naik turun ojek. Mandi di sungai deras. Buang air ala penduduk yang tidak punya jamban. Tak terlupakan.

Sampai waktu empat tahun seperti tidak terasa dan berhenti. Entah bagaimana mulanya aku tidak mengerti. Aku sudah lulus. Sedang beliau belum. Ekonomi keluarga yang merapuh kian hari, dan banyak problem -yang sebagai teman aku malu untuk tidak tahu-.

Tapi nyatanya aku sudah menyandang toga, menghadiri wisuda yang riuh dan tatapan bangga orang tua. Sedang sahabatku itu tidak hadir dalam wisudaku.

Sejak saat aku diwisuda itu dia pergi ke pedalaman kalimantan. Mengerjakan sebuah proyek eksplorasi batubara. Ditinggalkannya tugas kuliah dan skripsi yang menunggu itu, demi membantu ekonomi keluarganya. Sendiri. Terasing. Berbulan-bulan. Samar tapi terasa, aku menyadari seperti ada yang salah dengan start yang kumulai lebih dulu ini. Aku telah diterima bekerja.

Hari-hari berikutnya kuhabiskan dengan menjalani lelakon baru. Berkemeja rapih bergaris dan memakai badge. Aku masuk di sebuah kantor perusahaan besar. Menghadiri meeting dengan para bule. Menikmati training berbulan-bulan di hotel megah berbintang. Tidur di kasur empuk bukan main. Tidak pernah lagi aku merasakan mencuci dan menyetrika. Makan empat sehat lima sempurna sampai berat badanku naik tak karuan. Tiap sore berenang di kolam renang yang banyak pepohonan pinggir-pinggirnya. Tapi seperti ada yang salah.

Maka setelah berbulan-bulan yang panjang, aku sempatkan menaiki bus siang-siang dari jakarta menuju Bandung. Lalu aku ketuk pintu rumahnya dan bertegur sapa dengan ibunya. Nyelonong naik ke lantai atas, dari tangga kayu yang tua dan berdecit, lalu bertemu anak itu yang sedang mengetik di komputer lusuh. Dia tersenyum. Senyum yang biasa dari sahabat melankolisku itu, tapi seperti ada yang sedikit getir.

Aku rahasiakan pada orang tua beliau. Tidak ada yang tahu bahwa aku sudah lulus dan bekerja. Tapi bisakah kita membohongi orang tua? Tatap mata ibunya seperti tahu benar ada yang berubah dari raut muka dan perawakanku. Maka disuatu sore yang tenang dan sangat biasa, kawanku itu bertutur jujur pada ibunya, bahwa aku, sahabatnya, sekarang sudah lulus dan bekerja. Ibunya diam……..diam yang lama. Tidak ada yang salah. Hanya doa dan harapan agar dia bisa lebih cepat menyelesaikan kuliah, yang terlontar dari bibir ibunya. Kawanku itu hening, dan aku tidak bisa berbuat selain tidak berkata-kata.

Kadang-kadang aku berfikir. Seandainya sebentar saja diberikan kita kesempatan oleh Tuhan untuk mencoba-coba drama kehidupan kawan-kawan, aku tak sanggup memainkan peranan beliau itu. Tinggal di kampus yang semakin hari semakin sedikit saja rekan-rekan yang masih rajin datang. Menikmati kesendirian bolak-balik laboratorium dimana kawan-kawan sudah bergelar S.T. Mengerjakan berlembar-lembar kertas saat tidak lagi ada rekanan tempat mengadu ide-ide, untuk sekedar membakar kembali semangat yang putarannya kian hari kian pelan. Sungguh aku tidak sanggup.

Maka di waktu-waktu aku pulang kembali ke jakarta, setelah bertandang dan sowan ke keluarganya itu, aku merasa ciut. Baru aku tahu lagi bahwa anak lugu itu adalah tipikal yang jatuh berdebam dan sempoyongan berulang kali tapi masih bangkit. Lalu kutitipkan saja doa dan sepenggal sms. Bahwa aku, kawannya yang sudah lulus lebih dulu, dan nama-nama yang baru saja di-toga-kan lainnya itu, menunggunya di sebrang. Kami sudah berteriak-teriak dan meloncat loncat melambai tangan. Kami tahu dia pasti datang.

***
Lama rasanya, jeda waktu semenjak terakhir aku duduk di pinggiran bus yang melintas tol cipularang, terayun-ayun setengah tertidur, lalu nanti baru terbangun setelah sampai di pintu tol cileunyi didekat rumah kawanku itu. Lama rasanya……

Sampai aku mendengar kabar luar biasa itu. Bahwa kolega-ku itu sudah bergelar sarjana kini. Bukan main rasanya. Kugeleng-gelengkan kepala membayangkan dia jatuh tersungkur dan bangun dan sempoyongan dan sampai terjerembab dan bangun lagi dan sekarang dia berdiri!!!
Kawanku itu sudah diterima pula bekerja. Takdir berjalan dengan cara yang unik. Secepat aku bekerja secepat itu pula dia bekerja setelah diwisuda.

Lalu kami bertemu lagi di jakarta. Dari sebuah kosan yang harganya tak mungkin terbayar waktu kami masih mahasiswa dulu, kami pergi kebanyak tempat. Lalu menyalakan laptop dan modem. Membeli kemeja dan celana panjang yang pantas.

Hei……. Roda berputar rupanya…… tak habis-habis aku menggeleng untuk setiap rupiah yang tercetak di saldo tabunganku, untuk setiap kami makan siang bukan dengan bakwan atau indomi goreng lagi, untuk setiap rupiah yang kawanku itu bisa berikan pada Ibunya, pada Bapaknya, pada Adik laki-laki tertuanya. Aku turut bangga.

Tapi pelan-pelan nian kami larut dalam euphoria Jakarta. Menghabiskan hari dengan memlototi layar datar monitor yang membuat mata kami berair. Duduk dibelakang meja yang disesaki kertas-kertas. Bernafas dengan setiap tarikan dan hembusan kami adalah rantai panjang hidrokarbon, barrel minyak, cadangan gas, mata bit yang berputar, pemboran sekian ribu feet dan segala yang mengkorupsi indah hidup.

Lalu Jakarta seperti berembug sepaham dengan rutinitas kami. Macet dimana-mana. Asap dimana-mana. Bunyi klakson. Orang berteriak. Sepeda motor yang berjalan di trotoar. Lampu merah yang menyala dan berganti dengan acak. Bau pesing. Jenuh penat dan menghabiskan tenaga.

Lama rasanya………… jeda waktu dari sejak terakhir kali kami pernah menempuh belasan kilometer belantara kalimantan. Tertawa-tawa dan makan nasi putih dengan ikan asin. Mandi di sungai jernih yang didasarnya batubara hitam mengilap. Naik kapal mesin yang menyusur alir sungai mahakam sampai hulu semalaman. Dan bercerita sebelum tidur tentang mimpi-mimpi masa depan, rencana merebut gadis impian, sambil sesekali menepuk nyamuk yang kurang ajar menginterupsi.

Maka sebelum cerita ini terlupa dan kami akan sibuk dengan anak istri, aku tuliskan lagi kisah ini. Meski menuliskan sebuah cerita tanpa izin mungkin adalah sebuah kelancangan.

7 comments September 7, 2009

Tembang Tidur

tembangtidur
Menjadi yang pertama, sungguh bukan pilihanku. Ada hal-hal yang dalam kehidupan ini kita tidak bisa memilih. Jadi kepada ketiga adikku, dalam tiap-tiap kesempatan, aku gumamkan sendiri di dalam batin, bahwa tidak pernah aku -di dalam rahim sana misalnya- “mengojok-ojok Tuhan supaya memperkenankan aku lebih dulu hadir ke dunia ini. Biar nantinya kalian-kalian cukuplah jadi yang nomor dua, atau tiga dan empat. Tidak, dek

Tinggal di rumah petak, menyisakan sebuah coretan nostalgi yang cukup membekas juga. Waktu itu aku masih kecil, belum lagi aku mulai masuk sekolah SD. Perasaan waktu itu banyak nian nyamuk dan serangga-serangga, sekeliling rumah bukan main ilalangnya itu tumbuh lebat, acak, dan keras kepala. Itu adalah komplek yang barusaja aku tempati. Disitulah Bapak ditugaskan, dan disitulah lembar baru dimulai. Aku ambil selembar putih kertas, dan kunomori di bagian pojok kanan bawah. SATU.

Dan disinilah aku sekarang menyempatkan diri, kesalahan yang cukup besar memang, mengingat sudah duapuluh lima -tidak sebentar- tahun aku menghabiskan waktu bersama kalian, tapi baru kali ini aku bercerita.

Sampai dimana tadi???
Ah…. rumah petak itu.
Rumah itu dek, adalah sebuah bukti cinta Bapak dan Ibu kita. Cinta yang tidak seromantis dalam novel tentu saja. Ada juga cekcok-cekcok sedikit. Bapak dan Ibu memang agak kurang pandai menyembunyikan raut muka. Aku ini kecil-kecil tapi pandailah juga, tahu benar aku kapan-kapan mereka ribut kapan-kapan mereka romantis.

Waktu itu kau belum lahir Chan! Akulah yang menghabiskan hari dengan main sepeda kecil yang dibelikan kakek dan mengitari komplek yang belum semua rumah ada orangnya. Menghabiskan hari dengan berpetualang tentu saja mengasikkan, kalau kau tanya, kecuali petualangan yang kuhabiskan sendiri dan dinikmat-nikmat sendiri.

Pulang kerumah tentulah aku diam-diam, Bapak akan muntab nantinya jika tahu aku keluyuran seperti setan, waktu sudah hampir senja. Tentulah aku sudah sholat ashar dek, tapi setelah itu aku lari lagi dan pulang ke rumah waktu hari sudah hampir menua. Itu pertaruhan yang mendebarkan. Petualangan yang mengasyikkan dibayar tunai dengan ancaman kemurkaan Bapak. Betul-betul mencekam. Kalau saja, aku tidak ingat bahwa perut Ibu kita semakin membesar semakin hari, pasti aku lebih sering main-main ke rawa ujung jalan itu, atau memasang jerat capung dari getah nangka, atau main gundu dengan rekan-rekan baru itu. Tapi perut ibu semakin membesar dan entah kenapa aku ingin pulang.

Kau lah yang mengkerut di dalam sana dek. Anggota baru keluarga kecil kami, yang sejak kau belum nongol juga sudah aku reka-reka nama yang pas untuk mu. Tapi Bapak dan Ibu tidak meng-approvenya. Sebuah bentuk arogansi orang tua, bukankah anak pertama juga sedikit banyak punya hak dalam menisbatkan nama untuk adiknya yang pertama? Begitu pikirku waktu kecil dulu. Tapi baru sekarang setelah dewasa aku menyadari kebijakan orang tua kita. Untunglah tidak dikabulkan oleh mereka dulu. Atau tidak, kau akan sedikit malas dan jengah tiap kali memperkenalkan namamu. Mengingat dulu aku usulkan Bapak dan Ibu untuk memberimu nama : BOBO.Majalah itulah yang aku gunakan, untuk memayungimu yang ada di gendongan ibu sepulang dari rumah sakit.

Pagi buta. Kenapa kau harus keluar pagi-pagi buta, dek? Ya…ya…aku tahu. Mana mungkin kau bisa memilih untuk keluar siang bolong atau semisal senja hari, iya kan? jadi dalam hal ini aku anggap saja kita impas. Aku anak pertama, dan kau lahir belakangan dengan merepotkan Ibu, Bapak, dan aku kena imbasnya juga. Pada suatu subuh di kota Bengkulu. Kota kecil yang kita tinggal di ujungnya sekali, dan sialnya jauh dari rumah sakit, dan sialnya lagi Bapak Ibu tidak punya motor apalagi mobil, dan itu saat-saat pertama kita pindah kesana, tak ada kerabat. Oke, Impaslah kita sekarang.

Jadi, saudaraku, kau lah satu-satunya dalam sejarah perikehidupan kita berempat, yang dilahirkan di Rumah Sakit. Ya…. Di rumah sakit. Aku lahir di rumah, asal kau tahu saja dek, Bayu adikmu itu, juga lahir dirumah, dan Giri si bungsu itu apalagi. Kita semua ditangani bidan dan kau harus diantar sekitar limabelas kilometer gelap-gelap menuju Rumah Sakit Bakti Husada kalau tidak salah. Sampai sekarang geli aku mengingatnya. Bukan masalah itu dek, bukan. Bukan perkara rumah sakitnya, tapi karna sewaktu kau lahir, Bapak tidak sempat meng-azani-mu, jadilah kau satu-satunya yang tidak diazani diantara kita berempat. Janganlah kau protes padaku, cobalah nanti bila mudik kau pinta saja Bapak untuk mengazanimu yang sudah besar ini, membayar hutang selama sembilan belas tahun. Hahahahaha…..

Masa-masa waktu aku menggendong kalian-kalian itu cepat sekali berlalu. Memang kalian itu merepotkan juga, aku selalu diteriaki ibu waktu aku main lompat gundu, terus aku bersungut-sungut pulang dan langsung menggendongmu yang kerjanya meracau saja, senang nian kau dan adik dua mu itu mengganggu ibu masak. Tidak tahu apa kalian? Bahwa memasak itu adalah sebuah ritual sakral buat ibu. Jangan main-main kalian mengacaunya. Sebagai anak kecil SD tentu saja aku kesal, tapi anehnya aku tidak marah. Aku ingat bagaimana aku menemukan teknik jitu dengan menutup semua korden kamar kita, lalu mengayunmu dengan ritmis sambil bernyanyi tembang jawa asal-asalan. Aku Cuma ingat nadanya waktu bapak suka menyanyikan aku dulu, lantas kukopi paste dan kuubah liriknya semau-mauku. Kau tidak protes, nyatanya kau tertidur pulas dan aku semakin lihai menurunkanmu dari gendongan tanpa membuat kau terbangun.

Mungkin begitulah Ibu melihat kita ya dek. Menghabiskan makanan yang dimasak ibu di dapur, dengan tandas, lalu secara tak karuan kita membesar dan menjejali rumah sempit dengan badan kita. Kalian cepat sekali dewasa. Aku senang tidak perlu lagi menggendong, tapi kita sering sekali bertengkar dan berebut mainan. Kapan ya terakhir kali kita bertengkar hebat? Aku lupa, yang aku paling ingat hanya kau merobek majalah Bobo-ku. Luar biasa marahnya aku, bagaimana mungkin kau robek sampul majalah yang hampir menjadi namamu itu? Lalu semakin hari semakin bisa aku menemukan celahnya. Dan aku tidak mungkin bertengkar dengan Bayu dan Giri bukan? Karna seperti kalian yang membesar dengan lincah maka aku tanpa sadar juga tumbuh dan berkembang.

Sebuah perasaan yang asing dan membanggakan mengelindap saat kalian mengakuiku dan memanggilku dengan panggilan “kakak”.

Ah…… bukan.. bukan….. kata Bapak dan Ibu kalian harus memanggilku Mas… ya …………………..Mas!.

2 comments September 4, 2009

Surat

Kutemukan remukan kertas di pinggir jembatan bambu reot, waktu aku menyusuri jalan setapak panjang sore tadi:

Surat untuk calon istriku.

Dek………. Bagaimana jadinya?

Ah….. bukan………….bukan, maaf, aku selalu tergesa. Harusnya kusampaikan dulu sebuah salam yang bukan basa-basi. Sepotong kalimat yang membahagiakan dan mendoakanmu. Itu visi yang membangun cerita panjang oret-oret suratku, “cintakah itu?” bila kau tanya mungkin jawabnya “ya!”

Dari malam tadi, aku selalu bermenung dan menghabiskan sepotong biskuit dengan teh panas. Tanpa rokok dek. Aku malu menjejali paru-paru yang menarik dan menghembus setiap nafas hidupku ini, dengan kabut. Semburat putih tipis yang nanti mungkin menghantar nikotin ke udara sekitarmu waktu aku jawab “ya” saat kau bertanya “cintakah itu?”

Menulis surat rasanya kebas jari tanganku. Bagaimana mengarang frasa yang memuat berkuintal-kuintal rasa yang tidak mudah sebenarnya dibahasakan? Maka aku remuk lagi kertas ke duapuluh lima yang kutulis malam ini lalu kuambil lagi secarik kertas baru, putih, dan bergaris, dari buku tipis seribu limaratusan. Kutulis salam dulu di bagian atasnya lalu langsung menjawab “ya” untuk tanya yang belum kau jadikan kata “cinta?”

Bagaimana menjanjikan keluarga ya, dek? Dengan harta yang sepeser-sepeser, dengan rumah yang sempit sekamar saja ini, dengan muka yang pias warna pucat sesederhana ini. Bagaimana dek?

Ah………… romansa tiba-tiba jadi begitu picis. Aku mohon maaf yang dalam, untuk telah menggoreskan tinta yang membingungkan. Karna bagiku, mungkin cinta memang tak harus dipuitis-puitiskan.

Aku menyeruput teh lagi dek, barusan…… lalu mengelap jari tangan keringatan dengan serbet tua agak dekil.

Setelah sekian lama waktu, baru malam ini aku beranikan berjanji, untuk nanti rasa-rasanya aku akan menatap lamat-lamat keringatmu yang membulir jatuh waktu mensetrikakan pakaianku! Waktu menggiling dengan susah payah, cabai yang biasanya kau pakai blender di rumahmu dulu! Waktu menyapu sehari enam kali di rumah sempit yang debu jatuh dari sana-sini! Waktu menenteng kantong plastik sekitar enam biji, di tangan kananmu sebelah di tangan kirimu sebelah, saat pulang dari pasar jauh yang biasanya kau pakai mobil di rumahmu dulu! Waktu kau melambai pelan sambil tersenyum, menguat-nguatkan bola mata bulatmu untuk tidak bergetar saat aku terpaksa pergi ke utarakah, ke selatankah, untuk belajar jadi lelaki dan menggenapkan tugas dengan mengantarkan sepotong rizki yang kutemukan di timurlaut atau mungkin baratdaya. Kau tidak sedang sakit meriang kan dek, waktu aku pergi?!

Moga-moga berani kutitipkan surat ini pada seorang kawan. Tak usahlah dibalas dek, aku bingung menjawabnya jika nanti kau bertanya tentang satu kata itu saja “cinta???”.

Dan jika kiranya waktu berbaik hati, menyempatkan kita berbagi banyak cerita, dalam satu rumah dikelilingi anak-anak yang berlari-lari dan berteriak teriak, baru aku akan jawab pertanyaanmu itu. setelah kau bikinkan secangkir teh panas dulu untukku.

Kusimpan kertas itu disaku bajuku sebelah kanan, lalu meniti jembatan reot itu pelan-pelan sambil menebak-nebak, siapa gerangan yang menulis surat ini?.

7 comments Agustus 25, 2009

dua windu dulu kala

motor

sangat perkasa…………. ceritanya motor tua itu dalam dua windu usianya sampai masa SMA-ku dulu, belum pernah turun mesin.

itu memang sebuah teknik berkilah turun temurun. Tidak begitu jelas siapa yang memulai model pengalihan seperti itu. Misalnya ada handphone sudah renta sekali, pasti dibilang “ini handphone begini-begini tahan banting, jatuh berapa kali ga apa-apa, ga kaya handphone jaman sekarang”. Misalnya lagi ada motor tua pasti dielu-elukan “ini tua-tua bandel, ga pernah bongkar mesin sampai sekarang, suaranya aja masih halus”. Dan begitulah awalnya Bapak memuji-muji motor tua dirumah itu.

Aku sedikit kesal juga, buatku ya kalau barang sudah tua ya tua saja, tak usahlah dikasih embel-embel, tak usah banyak katabelece.

***
Rasa-rasanya itu merupakan sebuah ujian, persis ulangan umum setelah aku menamatkan dua caturwulan belajar matapelajaran percaya diri.

Pertama kalinya begini. Jaman dulu itu, ditengah ekonomi yang morat-marit, memiliki kendaraan pribadi adalah semacam ide besar. Semacam cita-cita luhur yang belum kesampaian. Kalau tidak salah kan dulu sekali baginda nabi pernah sekali berpesan kepada kita: bahwa beberapa hal yang merupakan sumber kebahagiaan dunia itu adalah istri yang sholehah, rumah yang lapang, dan kendaraan yang baik yang bisa mengantarkan kita kemana kita hendak bepergian.

Tentu saja sub-bab istri yang sholehah itu urusan Bapakku, manalah mungkin aku ikut-ikutan membahas tema itu sedang aku masih SMA kelas dua baru mau naik kelas tiga. Aku percaya sekali ibuku adalah tipe wanita penyabar yang masih bisa bertahan dan berjuang dengan segala keminusan dalam hitung-hitungan aljabar ekonomi rumahku, dan aku percaya itu salah satu bentuk ke-sholehah-an juga, rekan-rekan. Jadi sekarang tinggal rumah yang lapang, dan kendaraan yang baik.

Rumah yang lapang adalah lebih rumit lagi pengejawantahannya. Maka atas analisa taktis dan mempertimbangkan latar belakang macam-macam maka diputuskan dengan seksama bahwa memiliki kendaraan adalah berada dalam quadrant sangat penting sangat mendesak. Jadi harus sesegera mungkin diwujudkan.

Itulah awal mula petaka, ujian berat dalam kehidupan pemuda tanggung seusiaku.

Waktu pulang sekolah di suatu sore yang masih sedikit menyala panasnya, sambil jalan terburu-buru dipacu lambung yang mengkerut dan beresonansi apik dengan udara, aku berjalan setengah berlari dari gang depan sampai ke ujung komplek. Lalu berhenti tertahan di depan pintu rumah waktu tertumbuk mataku melihat Bapak me-ngegas motor tua.

“Ini motor dua tak dengan oli samping” dimulailah retorika Bapak. Geli aku melihat motor itu. Ini adalah semacam reaksi natural saja dariku, tertawa setengah tertahan. Plat motor itu warnanya merah, bekas motor dinas yang sudah dilelang dan sekarang jadi milik pribadi tapi belum diganti platnya. Joknya sudah bergoyang goyang dinamis. Lampunya bersahaja, dengan kabel yang mencuat kemana-mana, tak ada itu saklar lampu jarak jauh jarak dekat. Pokoknya memprihatinkan. Satu-satunya yang “sangar”dari motor tua itu adalah suaranya. Knalpot motor memang boleh reteng dimana-mana, tapi suaranya itu kawan, mendehem seperti motor gede. Ngeri sekali.

Aku antara senang hati, antara mengelus dada. Ini ujian kesufian tingkat tinggi, dalam bahasan spirituil bernama syukur nikmat. Mengingat-ingat setiap ingin bepergian sekarang jadi lebih mudah, tak perlu menunggu angkutan kota, tinggal engkol pedalnya, dengarkan deheman berat dari knalpot motor tua, lalu kabur.

Tapi mengingat-ingat setiap kali aku meminta uang pada ibu untuk kegiatan ini itu, maka ibu akan dengan cekatan menolak, aku jadi ngedumel-ngedumel juga. Salah satu fungsi dengan hadirnya motor adalah mengatur keuangan, yang artinya adalah meningkatkan taraf hidup, yang berarti juga adalah dalam rangka niatan mulia meningkatkan taraf hidup maka semua elemen keluarga harus berperan! dan aku sebagai anak tertua memainkan peranan penting itu dengan merelakan diri untuk menggunakan motor bandel bukan main itu untuk pergi ke sekolah setiap kali aku ada kegiatan ini kegiatan itu.

Bahasan nomor dua dari ujian kesufian dimulai. Tema spirituil kali ini adalah tidak rendah diri. BREEEEMMMMMM. Membaca bismillah beberapa kali. Lalu di suatu sore yang anginnya semilir-semilir aku memutar gas dengan pelan. Motor tua maju menyentak-nyentak. Aku pasang tampang siaga. “jangan lupa kasih oli campur” bapak teriak dari dalam rumah.

Alamak…….. berat hati rasanya menggelindingkan roda motor tua ini ke sekolah. Manalah pula nanti harus kulewati deretan orang yang kongkow-kongkow di lapangan. Dengan motor canggih berkilau-kilau, dandanan necis tak usah disangsikan lagi, lalu psikologisku memacu detak jantung jadi jedat-jedut, “psikosomatis” kata para pakar psikologis, maka aku tiba-tiba serasa meriang dan sendi-sendi mau lepas dari tempatnya.

Di perjalanan aku berfikir dan menarik nafas dalam. Lalu meyakinkan diri sendiri bahwa keberanian untuk tampil apa adanya adalah suatu bentuk kebesaran jiwa. Sebentuk kematangan mental. Dimana dalam situasi yang serba mengandalkan penampilan luar dan topeng topeng seperti jaman sekarang ini, aku bisa tampil dengan tidak terikat dengan penilaian orang akan status. Wah…………. Tiba-tiba hatiku meloncat-loncat, dalam hati aku mengira-ngira bahwa aku ini luar biasa sekali rupanya. Lalu aku mengalami semacam sensasi merasa keren sendiri. Maka gas motor kupacu lagi sambil bersiul-siul, mungkin salah satu ciri orang yang berjiwa besar adalah menghadapi tantangan hidup dengan bersiul-siul, rasa-rasanya aku siap menghadapi teror mental macam apa juga. Knalpot tua berdehem dehem, motor melaju kencang.

Sampai di gerbang sekolah tiba-tiba aku gemetaran lagi. Persis orang mau lomba pidato. Rasanya demam panggung. Kupelankan gas motor itu waktu melewati lapangan basket riuh rendah. Tapi memang motor tua dimana-mana sama, kalau bukan empunya yang menanganinya pasti ada-ada saja masalahnya, dan sialnya dalam hal ini empunya bukan aku, tapi bapakku. Gas boleh kecil sodara-sodara, tapi suara tetap besar. Alhasil aku gagal total menyamarkan kedatanganku seperti ninja, kawan-kawan melirik dan aku salah tingkah….. sedikit…… oke-oke, agak banyak sedikit.

Motor berhenti, aku panas dingin berkeringat. Sebagai satu-satunya yang tunggangannya seusia dua windu dulu kala, maka aku berjalan cepat menuju ruang kelas. Sambil membatin aku membesarkan hati. Bahwa orang-orang yang petantang-petenteng dengan motor bagus itu adalah orang yang menipu dirinya sendiri. Orang yang berlindung dibalik topeng, bagaimana image bisa dibangun dengan harta? Aku mengangguk-angguk seperti yang sudah matang dalam kepribadian.

Para pakar qalbu –akhir-akhir ini baru aku sadar- mengatakan bahwa kelakuanku dulu itu adalah sebentuk penyakit, bangga diri alias ujub. Lebih terselubung dari berkarya karna pamrih-pamrih, lebih berbahaya dibanding petantang-petenteng pede dengan motor bagus-bagus, misalnya. Maka dalam ujian motortua aku mengira sukses menyilang pilihan ganda soal-soal anti minder tapi rupa-rupanya terjebaklah aku dalam jebakan yang lain. Motor ini rupanya lebih rumit dari yang kubayangkan.

Acara selesai, aku bergegas pulang, hari sudah malam dan aku bisa sedikit santai. Model penyamaran bisa kita terapkan pada situasi kurang cahaya. Pertama, detail reyot-reyot motor ini niscaya agak susah diindera waktu malam gelap gulita. Kedua, orang juga susah mengetahui bahwa aku pengendaranya dibalik stang honda tua itu. Rupanya penyakit minder masih ada juga sisa-sisanya. Aku meluncur pulang, sekalian bertandang kerumah seorang teman untuk ngobrol sana-sini.

Malam bergulir. Dari rumah teman aku hendak pulang ke-rumah. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sepenuh hati kukerahkan semua tenaga ke kakiku mengengkol pedal motor itu tapi tak hidup-hidup. BREEEEMMM.. gagal. BREEEEEEEM….. gagal. Aku putus asa, setengah hilang harapan aku minta tolong pada temanku tadi untuk mengeluarkan tali tambang dan menarik itu motor menempuh belasan kilometer jarak menuju rumahku, dimalam dingin sesudah isya, waktu penerangan Cuma dari lampu jalan redup-redup. Sepanjang jalan aku mengomel. Menyiksa diri dengan berangan-angan coba kalau begini coba kalau begitu.

sesampai di rumah aku diam cemberut. Sungguh lucu. Persepsiku tentang kematangan jiwa tadi ternyata ambruk berantakan. Lalu aku protes kepada Bapak tentang kondisi motor yang penuh problema itu. Aku kritik semua-muanya, ya stangnya, ya lampunya, ya knalpotnya ya pedalnya, ya ga bisa hidupnya.

Terus Bapak jongkok kebawah mesin, ngutak-atik busi kurang dari dua menit terus mengengkol pelan BREEEEMMMMM….. dan motor menyala. Aku bengong. Lalu bapak beretorika lagi.

Aaarrrggggghhhhhh…….. rasanya untuk ujian spiritual yang caturwulan ini aku HER saja

(images minjem dari google)

4 comments Juli 14, 2009

Ada yang menyublim

old_memories

Ingin menceritakannya saja aku sudah bingung. Dari mana memulainya supaya alur ceritanya runut dan tidak membingungkan kalian-kalian. Ini aku benar-benar terus terang, bahwa sebenarnya aku sering lupa, mana-mana hal yang aku sudah ceritakan padamu, mana-mana yang belum. Tapi rasa-rasanya belumlah pernah aku mendongengkan pada kalian-kalian mengenai suara cericit. Baiklah……… akan aku mulai pelan-pelan saja.

***

Dimana sekarang kita berada? Terlempar ribuan mil dari keluarga yang mengayomi kita, yang semisal Bapak mencereweti kita tentang disiplin atau tentang semangat juang. Yang tiap hari berdebat mengencang urat leher, tapi di tiap-tiap peluh keringatnya yang menetesi punggung baju hansip pns atau baju korpri pas upacara tujuhbelasan itu ada cinta yang menyublim, indah, polos dan menggetarkan.

Dimana kita sekarang tersudut? Menghela nafas di juta-juta kilo jarak dari ibu yang cerewet mengomeli macam-macam saja tingkah kita. Yang memusingkan kepala kita dengan petuah berulang-ulang macam dejavu, tapi di sudut kamar waktu paruh malam yang dingin dan dikerubungi nyamuk, beliau itulah yang menyalakan racun melingkar lingkar dan menyimpannya di pojok kamar, lalu menarik selimut bolong-bolong dan menutupi setengah badan kita yang rapuh dengan perhatian yang bening, yang tulus dan tak terganti.

Dari sinilah, mungkin bisa kita mulai, cerita-cerita pendek saja. Tentang kenangan yang memainkan peranannya seperti keniscayaan sejarah. Kau tahulah, begitulah sejarah memperlakukan kejadian-kejadian, berlalu begitu saja waktu masa terjadinya, lalu barulah kita berikan makna-makna setelah dia lewat berapa kala. Kenangan indah orang bilang. Memori tak terulang orang bilang. Dan kita selalu seperti pelajar yang telat menangkap materi, lalu sama-sama kita tepuk jidat dengan sebelah tangan sambil merutuki ketololan kita sendiri.

Mungkin itu ya, kawan-kawan. Alasannya kenapa kita pergi mengitari separuh dunia, ketempat-tempat hiruk pikuk, kepelosok-pelosok senyap, kegunung-gunung, kelaut, kedesa-kekota, supaya kita bisa merasakan bahwa tempat kita memulai perjalanan dulu itu adalah tempat berharga dan penuh kenangan. Tidak bisa kita percayai itu sebelum kita terasing dan menggelusur di pojokan ratusan hasta dari rumah kita.

Malam ini. Cericit itu muncul lagi. Bunyi gesekan rem karet sepeda dengan pelg ban. Sebagai saksi tuna wicara. Lakon berulang-ulang. Bapak pulang dari kantor pada waktu siang menjelang sore. Sambil mengayuh sepeda tua yang kadang-kadang aku pinjam mengitari komplek sampai rawa-rawa ujung sana sekali itu.

Aku sudah sangat peka sekali, dengan derit suara rem sepeda bapak. Dari jarak sekitar duapuluh meter sudah bisa kuindera dengan sangat baik sekali. Bapak sudah pulang. Rem sepeda sudah menderit. Waktunya aku memainkan sebuah sandiwara apik tak kepalang tanggung: pura-pura memegang gagang sapu, atau langsung mencuci setumpuk baju yang aku rendam dari tadi pagi tapi tak juga disentuh-sentuh, atau muslihat pura-pura membaca buku pelajaran.

Ah…….. masa SD yang tak terulangkan. Begitulah, Bapak menjadi lakon pembicara tunggal, dalam setiap seminar sehari. Diulang-ulangkannya materi yang sama dengan minggu lalu. Dengan minggu sebelumnya lagi. Tentang “kemandirian”, tentang “ketahan bantingan-an”, tentang “kesabaran”, tentang “keuletan”, tentang “pengorbanan”, tentang “ke-nrimo-an”, tentang segala-gala.

Aku mengangguk-angguk takzim, sebagian setuju sebagian tidak, lalu sebagian aku ingat-ingat, banyak bagian aku lupa-lupa. Tak apalah, biasanya Bapak bakal mengulangnya lagi mungkin besok mungkin lusa. Yang jelas tiap pagi pasti disorongnya itu sepeda tua dari sampiran samping rumah yang dindingnya belum diplester itu. Lalu sekira duapuluh kayuhan dari pinggir rumah aku langsung lari gedubrak-gedubruk ke depan tv, nonton pelem atau nggelasar-nggelusur sana sini. Nanti sajalah cuci baju atau belajarnya itu, waktu rem sepeda sudah mencicit dan bapak sudah hampir duapuluh meter dari rumah, siang hampir sore nanti.

***

Begitulah aku memulai perenungan tentang makna hidup dengan mengangkat sebuntelan besar barang-barang dari rumah kecilku di pojok komplek, pergi menyeberang selat, lalu berkelana kesana kemari, untuk lalu malam-malam waktu lagi sendiri nantinya aku menepuk jidat dengan sebelah tangan. Astaga………………

Dimana kita? Ribuan mil jaraknya dari orang tua yang mengajarkan kita kata-kata. Lalu baru sekarang-sekarang kita bisa agak-agak sadar. Dan merindu suara derit rem sepeda Bapak, dan petuah-petuah berulang-ulang dulu itu, dan merindu tangan ibu yang membenarkan selimut bolong-bolong. Karna mungkin ini malam kita kedinginan, mungkin kita dikerubung nyamuk.

Lalu pelan-pelan ada yang menyublim.

1 comment Juli 12, 2009

es potong dilematis

espotong
Disela-sela penat kerja seperti akhir-akhir ini, aku senang membayangkan masa-masa SD dulu. Waktu dimana kebahagiaan itu rasanya kok gampang sekali diperoleh. Hal-hal yang membuat kita bahagia waktu itu adalah hal-hal sederhana.

Dulu itu, jarak antara sekolahku dan rumah kecil tempatku tinggal kalau tidak salah adalah sekitar 15 km. biasanya aku naik angkutan kota, jalan dulu sekitar sepuluh menit kurang, dari rumah menuju gang depan pinggir jalan raya. Baru dari sana menunggu angkutan kota yang kebetulan disupiri oleh bapak-bapak baik hati.

Rekan-rekan sekalian, dulu itu tarif angkutan kota untuk anak-anak sekolahan adalah seratus rupiah, sedangkan untuk umum seratus lima puluh rupiah. Para supir angkot yang tega nian itu biasanya pasang tampang cuek. Aku sudah menunggu dengan muka memelas di depan gang pinggir jalan raya itu, tapi masih juga mereka tidak berhenti. Ya logis juga sih kalau dipikir, kalau saja bangku yang dipenuhi oleh badan kecilku ini diganti dengan yang tidak pake seragam kan sudah untung limapuluh rupiah.

Setiap hari haruslah aku berangkat lebih pagi. Konsekuensi pulang juga sama, jadi lebih siang. Untunglah, karna banyak pertimbangan, suatu ketika jadwal sekolah di SD kami waktu itu dirubah. Anak kelas tiga masuk siang. Anak kelas tiga jadi pulang sore.

Aku sedikit tertolong. Jadi aku tidak usah pergi terlalu pagi lagi, bisa santai-santai sedikit. Menjelang siang barulah aku jalan kaki sekitar kurang dari sepuluh menit menuju pinggir jalan raya. Di saku sudah ada uang receh duaratus rupiah.

Nah….. mengenai duaratus rupiah inilah aku akan berkisah pada kalian-kalian. Jadi ceritanya begini. Ibuku, dari dulu sekali waktu aku SD, sudah menerapkan sebuah metoda pendidikan anak ala baru. Metoda pendidikan berhemat. Urusan macam begini ibu sudah lebih ahli, dia tahu persis ongkos berangkat seratus rupiah, ongkos pulang seratus rupiah.

Diberikanlah kepadaku duaratus rupiah receh setelah salaman pagi-pagi. Aku tunggu sebentar sambil muka memelas, ibu tidak bergeming. Tunggu lagi sebentar, tetap tidak bergeming. Astaga……… aku menyerah, urusan begini seperti tawar menawar beli barang. Kan kurang lebih begitu kawan? Kita minta sekian, penjual mau sekian, otot-ototan sebentar lalu pasang aksi pura-pura mau kabur, akhirnya harga diberikan setengahnya. Ahai…… aku tahu sedikitlah masalah ini, karna sering mengintip bapak kalau membelikan aku sepatu, bukan main bapak itu ngotot kalau menawar barang, sampai pucat pasi itu penjual sepatu dan menyerah tanpa syarat. Tapi……. Kalau dengan ibu, akal bulus begitu tidak bisa diterapkan. Jadi aku pergi saja langsung ke sekolah sambil jalan setengah diseret.

Perjalanan menuju sekolah sekitar sejam kurang sedikit. Sampai di gerbang depan sekolah itulah aku tersadarkan lagi akan sebuah visi besar dalam hidupku. Mimpi-mimpi yang selama ini menghantui aku waktu tidur dan terjaga. Yang mengobarkan semangatku untuk berfikir keras bagaimana caranya menggapai cita-cita luhur mulia itu. Yaitu cita-cita untuk membeli es potong.

Jangan dulu kau tergelak dengan itu. Es potong itu, rekan-rekan yang saya hormati, adalah semacam karya adiluhung. Mirip es bon-bon, hanya saja lebih manis dan kaya susu. Apalagi setelah dipotong kurang lebih sepanjang lima jari anak kelas tiga SD, dan ditusuk dengan elegan pakai lidi yang diserut dari bambu. Astaga………..

Tapi bagaimana mungkin bisa membeli es potong? Sedangkan uang hanya cukup untuk diberikan kepada supir berbudi luhur yang mau mengangkut anak sekolah serupaku ini? Jadi pelajaran pertama yang kudapat dari mimpi es potong dan didikan ala militer dari Ibu itu ada benarnya juga, yaitu menahan keinginan. Kan katanya keinginan kita itu lebih sering tidak tercapainya daripada terwujudnya, aku tahu benar tentang hal itu.

Biarlah es potong cuma aku lihat dari jauh saja, kunikmati suara kliningan tukang-nya saja. Dari jauh aku tetap bermimpi, suatu nanti pasti akan kubeli.

Hari berlalu seperti angin semilir. Anak tiga SD kan tidak pernah berfikir abstrak. Pokoknya ya ceria saja. Dimarahi orang tua ya sedih sebentar lalu tertawa lagi. Tidak dapat es potong ya kepengen sebentar terus biasa lagi.

Sampai suatu hari. Setelah masa-masa belajar yang melelahkan karna mulai sekolah dari waktu siang hari yang menyeruput keringat, sore-sorenya aku menunggu dengan khidmat dan serius di sebuah persimpangan sekitar lima puluh meter dari lampu merah yang kalau sudah sore warnanya yang menyala hanya kuning saja. Kelap-kelip-kelap-kelip.

Tiba-tiba seorang kawan lewat dan menunggu di depanku. Kami ngobrol juntrungannya kesitu kemari. Lalu muncullah sebuah ide pandai tak karuan dariku. “aha……. Bagaimana kalau kita berjalan saja? Sambil menunggu angkot” seruku dengan pede. Seperti yang analisanya sudah paripurna.

Kawanku ini tadi dengan tololnya mengikuti saranku. Dan jadilah kami dua orang anak kelas tiga SD yang brilian berjalan kaki berkilo meter demi sebuah ide pandai dariku “sambil menunggu angkot”

Tanpa bermaksud menyinggung, aku jadi sedikit tahu kenikmatan bergosip ria. Buktinya waktu seperti tidak terasa, sudah setengah jam kami berjalan dan hari semakin sore. Aku senang bukan main, karna semakin jauh perjalanan, semakin mantaplah tekad kami untuk berjalan saja sampai rumah.

“Ini kan petualangan?” Aku menambahi dengan lebih bodoh lagi. Karna tiba-tiba di otakku berputar-putar bayangan es potong. Begini logikanya, berjalan dengan teman samadengan waktu tak terasa, waktu tak terasa samadengan tiba-tiba sudah sampai rumah, tiba-tiba sudah dirumah kan samadengan ongkos tidak terpakai, ongkos tidak terpakai kan bisa menjelma es potong? Astaga……… benar-benar aku tidak mengerti cara kerja otak. Tanpa kita pikirkan, tanpa kita paksa bekerja, tiba-tiba otak menyodorkan sebuah solusi, cerdas.

Aku sudah mulai akan mengagumi kehebatan logikaku, sampai saat dimana temanku membuyarkan lamunanku dengan berkata “aku duluan ya, sudah sampai”

Apa??????????????
Bodohnya aku. Kenapa tidak dari tadi aku tanyakan dulu rumah laki-laki kecil di sampingku ini. Perjalanan baru setengahnya dan aku sekarang terjebak dalam sebuah dilema.Teman perjalanan sudah sampai tujuan. Tak ada yang lebih menyakitkan selain kawan seperjalanan meninggalkan kita duluan, meski kita tahu takdir sudah berkata begitu. Aku mengiyakan, sambil merutuk sedikit. Kalau saja tahu dia rumahnya dekat dari sekolah kan aku tidak mungkin berjalan kaki.

Rutukan itu sebentar saja rupanya. Tiba-tiba aku melihat di sebrang jalan sana ada seorang penjual es potong. Wah………… es potong yang legendaris itu. Sekarang aku dalam pilihan yang sulit rekan-rekan.

Mari kita urai matematikanya. Diketahui harga es potong adalah duapuluh lima rupiah. Sedangkan tarif angkot seratus rupiah. jika tarif angkot untuk jarak dekat dan jarak jauh selalu sama, dan uang yang kau miliki tinggal seratus-seratusnya itu, bagaimana solusinya?

Soal cerita adalah momok buatku waktu SD dulu, yah wajar saja, bisa dimaklumi jika anak kelas tiga agak tidak terlalu pintar menjawab matematika rumit, maka logikaku ini mungkin agak-agak bisa dibenarkan juga. Jika aku beli satubuah es potong, maka uang ditangan tinggal tujuh puluh lima rupiah. tak bisa naik angkot. Pilih naik angkot berarti mimpi es potong musnah.

Badanku serasa dehidrasi. Ah….. menyelamatkan kesehatan tubuh, itulah yang terpikir olehku sekarang, dan seribu satu alasan pintar demi mendukung es potong. Bukankah mencegah tubuh dari dehidrasi adalah tindakan pintar nan mulia? maka itu aku belanjakanlah sisa uang untuk ongkos tadi dengan es potong. Bukan satu. Tapi kubeli empat. Karna cobalah kau bayangkan rekan-rekan, meskipun kubelikan satu saja es potong, sisa uang tetaplah akan tidak bisa digunakan naik angkot. Daripada mubazir, maka sisa uang kubelikan semuanya.

Itulah pelajaran keduaku, pelajaran untuk memilih diantara hal-hal yang sulit. Membedakan mana kebutuhan dan mana nafsu. Maka ketololanku waktu itu telah dengan sangat pintar menipu diriku. Aku berjalan-jalan dengan senang, rasa hati sudah mendapatkan pencapaian luar biasa. Hari semakin sore, semburat senja memerah di ufuk jauh. Aku berjalan santai dengan melompat-lompat. Makan es potong empat ternyata susah juga.

Kau tahu kepuasan marginal? Teori ekonomi yang diajarkan guru SMP kalau tidak salah. Pertama kali makan es potong rasanya seperti di syurga. Kali kedua kau makan es potong rasanya masih seperti syurga juga tapi agak-agak turun grade, kali ketiga dan keempat lidahmu mulai kebas dan kau nanti akan mulai menyumpah-nyumpah kebodohanmu untuk membeli es sekaligus empat. Mencair menetes tak karuan.

Matahari seperti mau main petak umpet. Dari jauh sayup sayup ceramah zainudin M. Z bergema. Burung-burung terbang seperti gerak lambat. Kadang-kadang mobil seliweran di pinggir jalan raya. Azan maghrib hampir berkumandang, dan aku lari-lari setengah menangis, kaki pegal tak alang kepalang, sedang jarak ke rumah masih seperempatnya. Sumpah mati tak kan pernah kugadai ongkos dengan apapun lagi

2 comments Juni 28, 2009

ayam…….

ayam

Sebenarnya aku ini bukan penyayang binatang, tapi jika sudah sekira satu tahun lebih peliharaan kita itu kita rawat dan kasih makan, kalau jagung kita genggam ditangan dan sodorkan padanya lalu dia datang dan makan dari tangan kita, maka rasanya sangat wajar jika ikatan batin itu muncul. Begitulah aku dengan ayam jantan milikku.

Jadi sebenarnya begini ceritanya. Dahulu sekali, waktu aku masih belum sekolah, kami tinggal di pinggir jalan lintas sumatra, tepi hutan belantara yang tidak ada penghuni kecuali aku yang anak seorang penyuluh pertanian ini dan tetanggaku yang ketiban sial untuk juga ditempatkan disana. Disanalah pertama kali garis singgung antara aku dan ayam jantan itu dimulai.

Entah bagaimana awal mulanya kehadiran ayam jantan itu dikeluarga kami, aku lupa-lupa ingat. Ada beberapa versi –tentu saja versi ini dari memoriku sendiri, kau tahulah rekan-rekan bahwa kadang-kadang ingatan kita dimasa kecil itu susah kita bedakan mana imajinasi dan mana kenyataan-.

Versi pertama. Pada versi pertama ini, berdasarkan ingatanku, bahwa ayam ini adalah pemberian salah seorang teman bapak.
Karna ayam ini adalah ayam jantan nan elok menawan. Dengan bulu yang lebat dan mengilap, taji yang panjang dan tajam, gagah betul, ayam ini dengan cepat menjadi primadona di keluarga kami. Aku yang waktu itu adalah anak satu-satunya menjadi sahabat dekat ayam ini. Hampir semua perikehidupan ayam itu aku tahu, jadwal makannya, teman-teman dekatnya, pacarnya, segala macamlah.

Versi kedua. Dalam versi kedua, ingatanku juga memberikan lintasan bahwa ayam ini adalah ayam hutan. Ayam hutan yang waktu itu seingatku adalah seekor ayam yang bernasib naas karna melintas didepan aku dan bapakku yang sedang mandi. Dahulu itu rekan-rekan, janganlah kalian membayangkan mandi itu adalah sebuah ritual sakral yang dilakukan di sebuah wc bermarmer putih dan bak satu kali satu kali satu meter. Mandi itu adalah bagi kami sebuah fase mendekatkan diri kepada alam, bagaimana tidak, satu-satunya akses air adalah melewati turunan yang terjal seperti jurang, kelok sana kelok sini, pokoknya jauhlah. Untunglah sudah dibuat semacam tangga-tangga, tanah licin itu dibentuk cekungan cekungan macam tangga, dan diujung sekali dari turunan curam itu adalah mata air yang bening, yang dipinggir-pinggirnya tumbuh tanam-tanaman paku, kau pasti ingat tanaman paku, kita pelajari itu dimasa-masa biologi smp dulu.

Nah……. Disitulah, dipinggir tanaman paku itu, disamping mata air bening itu, entah bagaimana hipotesa yang tepat, tapi tiba-tiba saja muncullah seekor ayam, ayam elok nian yang berbulu tebal dan bertaji tajam seperti yang sudah kusebutkan barusan. Dan disitulah nasib naas ayam itu dimulai. Salah dia juga, kenapa memilih melewati tempat dimana disana bapak-bapak gesit seperti bapakku sedang mandi? Jadilah dengan segera sebuah ember besar warna biru –aku ingat betul bagian ini- digunakan bapak jadi semacam perangkap ayam, yang dengan sangat cekatan dilemparkan, PRAAAK, ayam elok nian tadi terperangkap, dan itulah versi nomor dua.

Jangan salahkan aku, sudah kubilang aku bukan seorang penyayang binatang, tapi dimana-mana memang cerita yang lebih indah dan dramatis lebih disukai, maka itu sampai sekarang juga aku merasa bahwa ingatanku yang nomor dua adalah awal yang tepat, begitulah bagaimana awal mulanya ayam itu muncul. Sedang ingatanku nomor satu aku percaya hanyalah sebagai sebuah bentuk simplifikasi, sebagian otakku yang berfikir terlalu sederhana dan sama sekali tidak melankolis, tidak dramatis, apalagi romantis telah dengan sangat brilian mengacaukan sejarah. Maklumlah, waktu itu aku masih kanak-kanak.

Nah……. Hari berganti rekan-rekan. Waktu berlalu juga rekan-rekan. Ayam tadi dan aku memiliki semacam ikatan batin. Aku keluar rumah, dia langsung menghampiri. Aku ke dapur dia ikut ke dapur, dimana ada aku disitu ada ayam.
Pada mulanya tidak ada masalah. Hingga suatu ketika……..

Sebuah keputusan super mendadak dari kantor pusat bapakku menyatakan bahwa bapak harus pindah, pindah ke kota bengkulu, kota besar tentu saja jika dibandingkan kehidupan pinggir jalan tengah hutan. Aku berjingkrak-jingkrak tak karuan, seperti setan saja. Sebentar-sebentar aku bertanya “pak..pak…… bengkulu itu seperti apa?” kuulang-ulang dengan tanpa belas kasihan pada bapak pada ibu “bu..bu……disana rame ya?”. Begitulah……… sampai suatu ketika jawaban bapak sangat mengguncang diriku, kata bapak “disana itu ga ada yang pelihara ayam nak”.

Aku bingung. Bagaimana mungkin? Sebuah kota besar tanpa ayam di dalamnya? Ini sungguh ironi? Berhari-hari aku merenung. Malang nian nasib ayam itu, pikirku. Sebenarnya logika bahwa di Bengkulu tidak ada ayam sangatlah menggangguku, tapi daya analisa anak usia TK masihlah pendek rekan-rekan, maka aku hanya terdiam lemas sambil bertanya, “jadi mau diapain ayam itu pak?”

Bapakku menjawab singkat, “dipotong”.

Cerita versi kedua ayam itu tadi, ternyata harus diakhiri dengan tragis. Ayam elok pun dipotong. Sebenarnya kesalahan pertama bapak adalah terlalu tergesa-gesa menjawab bahwa ayam itu akan dipotong. Modus operandinya tertebak sudah. Aku sedikit tahu juga, perjalanan ke bengkulu itu jauh tak karu-karuan. Aku ingat betul waktu itu kami muat semua barang-barang kedalam truk besar. Aku tidur di bak truk yang sempit dan penuh barang-barang tadi, sambil berlindung dari sengat matahari dengan terpal yang menutup kepala kami, dengan sedih kuingat-ingat ayam yang punya hubungan erat denganku tadi, mataku berlinang air mata, tapi mulutku sibuk mengunyah ayam goreng.

Bagaimana lagi, perjalanan jauh, tak ada uang untuk membeli makanan macam-macam di jalan. Sungguh aku sedih, tapi ayam goreng juga menggoda. Maafkan aku ayam.

Singkat kata tibalah truk besar berisi aku bapakku dan ibuku dan barang-barang kami tadi, di bengkulu. Tak lupa juga kuberitahu bahwa disana masih ada juga ayam goreng sepotong. Kusisakan buat nanti kalau aku lapar.

Pindahan selesai. Aku mulai berkeliling komplek. Berinteraksi dengan banyak rumah, banyak hal yang baru. Dan suatu sore aku sadar bahwa disana banyak sekali ayam. Ayam merah. Ayam putih. Ayam abu-abu, semua berkeliaran dan mengais-ngais di jalan. Aku bersungut-sungut, ini tidak bisa dibiarkan, bergegas aku berbalik dan mengambil seribu langkah berlari kembali kerumah. Aku harus protes pada bapak.

*********
Waktu berlalu lagi, hari berganti lagi. Aku sudah mulai bisa melupakan ayam yang dulu itu. Kenyataan waktu itu bahwa keluarga sedang sulit ekonominya mulai pelan-pelan bisa aku pahami. Aku sudah masuk SD waktu itu kalau tidak salah. Aku menjadi sedikit bijak. Disamping ibu punya semacam senjata pamungkas, setiap kali aku terkenang-kenang akan ayam elok nian, maka ibu akan segera berkata “loh…. Ayamnya kan yang makan siapa?”

Aku diam dan tidak lagi pernah mengutik-utik kenangan ayam. Disamping waktu itu aku sudah punya ayam yang baru lagi. Sebuah ayam jantan berwarna merah. Memang sih tidak seelok ayam elok nian yang kudapat dari kisah versi kedua tadi kawan, tapi lumayanlah mengobati dahagaku untuk beternak ayam, bukan beternak, tepatnya memelihara ayam. Satu ayam. Hanya seekor yang jantan itu saja.

Mula-mulanya tidak ada masalah. Sampai suatu ketika. Aku masuk SMP. Seragam harus diganti, sepatu harus diganti. Sementara ekonomi masih betah berputar-putar dilevel itu saja. Ini alamat buruk. Aku sudah berfirasat bahwa akan ada yang terjadi.

Benar saja, bapak memutuskan untuk membawa ayam satu-satunya milikku tadi ke pasar pagi di terminal. Dengan mata yang tidak bisa dipastikan seperti apa ekspressinya, bapak perggi membawa ayam jantan warna merah ke pasar pagi di terminal.

Aku kasihan pada bapak. Kenapa sesulit itu untuk sekedar membelikan ku sepotong celana biru? Tapi itulah, emosi kadang-kadang mengacaukan fikiran jernih kita tentang realita-realita. Aku tidak lagi membayang bapak yang pagi-pagi kepayahan menangkap ayam dan mengikatnya dengan tali karet dari ban dalam yang dipotong, tidak juga aku bayangkan lagi bapak yang membawa motor tua dengan diganduli ayam yang berkeok-keok di belakangnya, tidak juga kubayang lagi bapak yang berbecek-becek di pasar terminal pagi-pagi, menawarkan ayamnya pada orang yang lewat acuh tak acuh tak ada yang peduli.

Yang kutahu waktu itu hanya satu. Aku tidak rela ayam itu dijual. Sepanjang sekolah dari pagi sampai siang aku merutuk-rutuk, hatiku gundah gulana tak bisa dipuisikan, ayam itu tidak boleh hilang doaku.

Sepulang sekolah, dengan langkah gontai aku masuk ke halaman, lalu terkaget-kaget aku tiba-tiba melihat seekor ayam jantan merah, ayam yang tidak terlalu elok tadi, ayam punyaku itu mematuk matuk di halaman. Ia tidak jadi dijual. Bapak bawa pulang kembali ayam itu, karna tidak seorangpun juga mau membelinya. Entah terlampau tua. Entah kurus merana, aku tidak tahu apa masalahnya.

Tiba-tiba aku merasa kasihan pada bapak. Dia sudah berpayah-payah membawa ayam jantan merah ke terminal pagi-pagi, lalu dengan muka suntuk dibawanya lagi pulang ke rumah siang-siang. Capek, berkeringat, dan mungkin juga kebingungan. Sedang aku tak rela ayam itu dijual, tapi masih mengidam celana biru pendek baru.

3 comments Juni 25, 2009

Pesawat Terbang dan Guci Empat Tahun Enam Bulan

pesawat

Berapa persen penduduk indonesia yang pernah naik pesawat terbang? Persentase yang belum pernah naik pesawat kuduga pastilah sangat besar. Yang pasti adalah ibu termasuk dalam golongan orang yang masih menganggap besi raksasa yang menembus awan-awan itu sebagai jalur transportasi eksekutif. Di awang-awang.

Jauh-jauh hari, sebelum aku menyelesaikan studiku di masa kuliah, ibu sudah menabung. Ibu adalah seorang pedagang kue di sebuah pasar dadakan dekat komplek rumahku. Di pinggir jalan komplek itu ada sebuah lapangan yang tidak begitu besar, di bawah batang nangka yang tidak pernah berbuah, disitulah ibu membuat sebuah tenda kecil dari kayu-kayu seadanya. Di lapangan itulah ibu dan kawan-kawannya sesama pedagang menjajakan kue-kue, sayuran, atau apa saja hasil kerja keras mereka.

Sebenarnya dulu ibu tidak bekerja. Menjadi ibu rumah tangga yang menyiapkan masakan kesukaan buatku dan bapak adalah titel yang dengan bangga ibu kenakan. Aku ingat benar bahwa goreng tempe sambal buatan ibu adalah lauk sederhana yang membuat persepsiku tentang makan tiga kali sehari jadi berantakan. Aku makan kapanpun aku ingat, pagi, menjelang siang, sore hari dan malam. Benarlah kata orang bahwa rasa tak bisa berbohong.

Akhir-akhir masa SMA adalah waktu yang menjadi titik balik dalam hidupku, dan juga dalam hidup ibu. Keinginan kuliah yang begitu besar, telah menjadi lintasan mimpi-mimpi dalam setiap waktu-waktu aku tidur dan terjaga. Keinginan menenteng buku-buku tebal. Juga mengenakan jubah seperti penyihir dan toga itu selalu membuatku gelisah dan murung.

Ibulah orang yang dengan yakin mendukungku. Waktu itu aku ingat sekali, gaji Bapak dengan hitungan persamaan bagaimanapun juga pastilah tidak bisa membiayai aku kuliah di universitas manapun seantero indonesia ini. Tapi ibu meyakinkan aku bahwa rezeki itu sudah diatur, sudah tertulis dalam lembar buku besar di atas sana, dan doa adalah petarung tangguh yang mampu bergulat dengan takdir kejam seperti apapun juga. Berdoalah, maka Tuhan akan mengabulkannya.

Sejak itulah ibu mulai berjualan. Ibu yang pemalu itu, yang waktu mudanya bergelimang harta itu, yang menjadi kebanggaan saudara-saudaranya itu, merelakan egonya untuk bangun malam-malam dan menghalau kantuk. Aku tidur, adik-adikku tidur. Sedang ibu sudah mulai mengeluarkan perkakas masak dari lemari, lalu membolak-balik buku catatan tata boga semasa dia SMEA dulu, lalu menyalakan kompor minyak tanah dan mengaduk adonan. Aku tidur, adik-adikku tidur. Sejak itu ibu mulai berjualan. Sejak itu ibu mulai menabung.

Aku bahkan tidak bisa menuliskan waktu-waktu dimana aku meninggalkan rumah. Aku pamit pada ibu yang tidak bisa berkata-kata banyak. Tidak bisa berpesan-pesan banyak. Cuma tersenyum dan berkata bahwa ibu pastilah akan selalu berdoa untuk kemudahan cita-cita semua anaknya. Aku pergi melangkah kaki. Seperti percaya seperti tidak, bahwa setiap satu langkah aku tapakkan setiap itu pula aku semakin jauh dari ibu dan semenjak itu pula takdir hidup baru digulirkan. Tak sanggup aku menoleh kebelakang. Mataku berkaca-kaca, ibu berkaca-kaca.

Waktu-waktu berlari dengan tempo yang berubah-ubah. Seperti ritme lagu yang membingungkan, kadang terasa cepat, kadang terasa lambat. Tapi mimpi yang berkelebat diotakku selalu saja sama. Aku ingin secepatnya diwisuda. Sejak saat pertama kuliah aku sudah belingsatan memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa selekas mungkin mengenakan toga dan meringankan beban luar biasa di pundak ibu bapak yang semakin ringkih itu?

Dan dibawah pohon nangka yang tidak berbuah itu, disitulah ibu mengumpulkan seratus rupiah receh, uang seribu yang kumal, atau berapapun yang dia dapat. Dimasukkannya kedalam tas pinggang yang resletingnya sudah macet itu, lalu dia bawa pulang kerumah yang sederhana di pojok komplek. Disimpannya uang tadi dalam guci kecil di atas lemari kayu hitam. Setiap bulan diguncang-guncangnya guci itu, mengira-ngira dengan seksama. Dengan berat yang sudah sebegini, sanggupkah dia membeli tiket pesawat untuk sekeluarga menghadiri wisuda anak tertuanya?

Begitulah. Waktu berlalu. Hari pergi dan datang. Sudah sampai juga masa-masa terakhir kuliah. Tuhan sempatkan untuk aku menyelesaikan studi. Dengan terengah-engah. Dengan nafas yang sepotong-sepotong. Dengan semangat yang berkobar-kobar lagi setiap mengingat siluet ibu yang menggigil di bawah hujan, berkeringat terpanggang panas, waktu sehat, saat sakit meriang, seumpama masih bisa berjalan masih juga ibu langkahkan kaki kelapangan itu, lalu menggelar kue-kue, lalu mengumpulkan receh ke tas pinggangnya.

Ajaib………..

Guci di atas meja hitam itu penuh. Dihitunglah dengan riang oleh Ibu, oleh Bapak, oleh adik. Empat tahun enam bulan menabung ternyata bisa memenuhkan guci. Berdoalah, maka Tuhan akan menjawab doamu, mungkin begitu.

Tak terperi, senang bukan main, aku melompat-lompat tak karuan. Sudah kubayangkan mata bulat adik-adikku yang akan terpukau-pukau waktu kutunjukkan kampus tempatku belajar. Waktu nantinya mungkin akan kuajak berputar-putar kota. Waktu nantinya mungkin mereka bercerita dengan meledak-ledak tentang pesawat terbang yang tinggal landas yang mendarat.

Sampai suatu sore…….

Berita dari jauh sana tiba-tiba menghentikan mimpi-mimpi kita. Embah meninggal. Bapak harus pulang ke jawa segera. Dipecahkanlah guci empat tahun enam bulan itu, malam-malam. Bapak pulang ke jawa. Recehan-recehan disumbangkan untuk pemakaman mbah.

Ibu ikhlas. Bapak ikhlas. Adik-adik ikhlas dan bermata bulat murung. Aku ikhlas dan memandang langit warna tembaga, ada yang menggenang di pelupuk mata tapi pasti bukan tangis duka lara, biasanya kesedihan masih bisa kuseka tapi ini mengalir begitu saja, menetes lewat pipi terus turun ke dagu dan jatuh pelan-pelan seperti bola kecil yang bersinar-sinar ditembus cahaya sisa matahari lewat celah jendela kamar kosan tua.

Tiga hari menjelang wisuda, Ibu dan Bapak menaiki bus lintas sumatra. Menghabiskan sehari semalam lebih perjalanan menuju gedung penobatan para sarjana. adik-adik menunggu di rumah dengan khidmat dan diam.

Selalu begitu…………………………………………

Bapak ibu kita adalah manusia tangguh luar biasa. mereka lebih siap menghadapi banyak kenyataan hidup. Baiknya. Buruknya. Kadang malah yang tak siap itu kita.

Lalu aku berdoa, dalam sebuah sujud setelah empat rakaat yang lama. Bahwa semoga yang maha mentipkan rizki dan menitipkan cinta menjelmakan keringat dan bulir airmata mereka menjadi istana kecil nan indah di syurga sana.

Lalu aku terbayang pohon nangka tak berbuah. Lalu terbayang lapangan becek selepas hujan semalaman. Lalu terbayang ibu sedang menggigil meriang. Lalu terbayang guci empat tahun enam bulan. Lalu mata bulat adik-adik. Lalu pesawat terbang.

Berdoalah, Tuhan akan mengabulkan!! Kata ibu.


3 comments Juni 11, 2009

lima puluh ribu rupiah

lima puluh ribu rupiah

Mengunyah dengan perlahan di bangku paling pojok warung tegal pinggir jalan, di siang hari yang melelehkan keringat. Aku halangi piring nasi itu dengan sesisir pisang ambon yang sudah hilang beberapa biji. Sambil berharap-harap bahwa tidak satu teman jua yang bakal mencuri-curi lihat, apa gerangan yang kupilih sebagai lauk menemani nasi putih, makanan pokok kita dari kecil itu.

Dari sudut bangku warung tegal itulah aku mulai lagi sebuah cerita flash back, bahwa kehidupan itu terkadang naik terkadang turun itu benarlah ternyata, beginilah awal mulanya, kawan.

*********
Seperti yang rata-rata orang sudah mafhum benar, bahwa menyesuaikan diri untuk bisa akur dengan suasana dan lingkungan baru kita adalah sangat sulit. Lama prosesnya.

Waktu itu aku baru saja menyelesaikan studiku. Empat tahun lebih satu semester. Masa kuliah yang tertatih-tatih sudah aku tempuh, dan segera setelah selesai wisuda itu aku mendapatkan pekerjaan.

Inilah tantangan bagi umumnya sarjana di tempat kita. Bahwa rentet gelar belakang nama tidaklah selalu sama dan sebangun dengan peluang kerja yang kita terima. Tapi syukurlah ternyata nasib sedang dalam kurva yang menanjak, aku lulus dan sesegera itu pula aku dapat tempat kerja.

Aku harus sesegera mungkin pindah ke jakarta. Dari Bandung –tempat aku menghabiskan empat tahun satu semester bergelut dengan banyak mata kuliah- aku kemasi barang-barangku dengan perasaan yang kurang nyaman. Kenyataan bahwa aku gembira karna akan memulai fase hidup yang baru, dan kenyataan bahwa aku termasuk cepat mendapatkan pekerjaan, tentu saja sangatlah membuatku bergairah. Tapi masa-masa adaptasi selalu menyiksa buatku. Selalu menghantui fikiranku akan ketakutan-ketakutan tidak beralasan. Jakarta………. Nama itu entah bagaimana terasa agak kurang nyaman.

Waktu itu aku ingat nian, uang di tangan tinggal kurang lebih seratus ribu. Was-was benar aku berfikir, bagaimana aku bertahan hidup di jakarta dengan uang sejumlah ini? Ongkos, makan, biaya kosan? Tapi bukankah tidak ada yang lebih berkuasa menuntaskan segala-galanya ketimbang Dia yang seperti angin melambaikan daun-daun, dan menerbangkan takdir kita ke tempat-tempat yang kita –demi apapun- tidak pernah bisa duga.

Kupasrahkan jua nasibku pada yang Maha Menentu. Maka dengan tekad yang sudah bulat, pada suatu siang yang panas membara, pergi juga aku ke jakarta. Kubawa serta satu koper barang yang kupaksa-paksa jejalkan semua bawaanku kedalamnya.

Singkat kisah tibalah aku di jakarta pada akhirnya. Inilah flashback kebingungan pertama. Mana ada lagi di area jakarta kosan dengan harga kurang dari seratus ribu sebulannya? Kosan termurah sekitar area kantorku waktu itu adalah seharga 350 ribu sebulan.

Kiriman orang tua belumlah lagi sampai, meminta uang lagi rasanya sudah malu benar. Sedang titelku sekarang adalah pegawai baru, yang merasakan bagaimana itu rupanya terima gaji saja belum pernah. Hari pertama ke kantor pun belum jua aku cicipi.

Darimana uang untuk bayar kosan?

Tidak habis akal, aku. Benarlah kata para ahli psikologi bahwa dalam skala tertentu, stress itu bisa memacu kreatiivitas. Dengan sopan aku jalankan sebuah lobi tingkat tinggi kepada empunya kosan. Kukatakan bahwa aku adalah seorang pegawai baru yang sebentar lagi akan memasuki masa training. Aku tidak tahu kapan training akan dimulai, tapi dalam prediksiku pastilah tidak sampai seminggu lagi. Kuserahkan uang 50 ribu ke tangan sang ibu, dan aku berkata anggaplah uang itu sebagai balas jasa untuk aku menumpang nginap berapa malam. Andaikan nantinya aku terpaksa menginap lebih dari satu minggu, aku akan menggenapkan sisanya untuk biaya kosan satu bulan.

Ibu kosan baik itu mengangguk. Dan jadilah aku simpan koper penuh barang itu di sebuah kosan sempit dan panas pengap.

Masalah penginapan teratasi. Tinggal sekarang adalah bagaimana aku bisa bertahan di sini? Dengan uang yang tinggal berapa puluh ribu. Dan waktu gajian sudah kuhitung berkali kali ternyata memang masihlah sangat lama.

Hari-hari kerja dimulai. Setiap pagi aku nikmati perjalanan ke kantor. Tak percaya rasanya bahwa aku sekarang adalah seorang pekerja kantoran. Dengan dandanan sedikit beda dari anak kuliahan. Mengenakan kemeja lengan panjang dengan sedikit lintingan di lengannya, sepatu rapih dan celana bergaris bekas setrikaan. Lalu di leherku menggantung kalung badge id card yang multifungsi. Penanda status dan sekaligus kartu ajaib pembuka pintu gerbang tebal kantor luarbiasa itu. Euforia kantor baru sudah cukup jadi penghibur bagiku untuk melupakan sedikit kesusahan. Sejak pagi hari aku akan mulai melupakan kenyataan bahwa aku sekarang sedang kesusahan keuangan, begitu terus beberapa jam sampai waktunya makan siang.

Setiap hari juga aku dan rekan-rekan sepenanggungan yang baru diterima bekerja pergi ke warung tegal pinggir jalan. Dan setiap hari pula aku nikmati menu yang sama, ikan teri dan sayur. Itu saja tidak lebih.

Tiap hari lagi-lagi aku ambil bangku deretan paling pojok, kuhalangi piring makan siangku dengan gelas besar, tempat tissue, atau sesisir pisang ambon yang di hidang di meja warung. Bukan rendah diri rekan-rekan, hanya saja agak tak enak hati rasanya, saat semua makan dengan menu yang empat sehat lima sempurna sedang aku hanya makan dengan lauk seadanya. Aku tak ingin rekan-rekan yang lain merasa iba.

Begitulah hari-hari berhasil kulalui dengan penghematan luar biasa. Tapi sehebat-hebatnya aku menghemat, tidaklah mungkin lagi uang recehan yang tersisa itu bisa aku gunakan untuk bertahan hingga akhir bulan.

Dengan berat hati, aku malu-malu meminjam uang kepada seorang kawan yang baik. Dipinjamkannya aku limapuluh ribu. Itulah penyambung nyawaku.

Tiap pagi aku jalani rutinitas dengan baju kemeja rapih dan masuk ke kantor mewah. Bertemu dengan orang-orang pintar dan penuh percaya diri. Menghadiri meeting dengan bahasa para bule bermata biru. Untuk kemudian istirahat siangnya nanti aku menyudut di pojok warung penuh sesak dan makan siang dengan menu tidak sehat tidak sempurna.

Tapi entah kenapa aku merasa bahagia. Bukan karna aku sekarang bekerja dan gaji akan segera turun beberapa hari lagi, tapi karna menyadari bahwa ditengah coba dunia yang menusuk-nusuk itu aku masih berdiri tegak. Masih tersenyum dan meyakinkan diri sendiri bahwa sungguh tak ada arti kesusahan ini dibanding banyak kawan yang cobaan hidupnya tak terperi. Yang lebih merantai melilit. Yang lebih menyayat-nyayat. Yang macam-macam

**********

Setiap hari, adalah masa-masa menegangkan.

Dengan kawan baik yang meminjamkan aku uang tadi, tiap hari kami hitung dan tandai kalender tergantung di dinding kamar yang sama sekali tidak rapih. Sudah sekian hari lagi berlalu berarti sekian hari lagi gajian akan tiba.

Hingga suatu ketika di akhir bulan waktu dua tahun yang lalu. Sore hari menjelang maghrib saat matahari masih bersinar setengah dan hampir padam setengah, aku meloncat-loncat di ATM sebelah kantor demi melihat nominal saldo di rekening bank-ku melejit berapa digit.
Malam itu aku makan empat sehat lima sempurna, kawan.

***********
dan di siang hari yang sejuk waktu itu, aku kembalikanlah limapuluh ribu bersejarah itu kepada teman yang menyelamatkan sisa hariku dulu.

Tiba-tiba dengan pelan dia bercerita. Beberapa minggu yang lalu, katanya pelan, saat aku meminjam uang padanya sebenarnya dia hanya punya beberapa puluh ribu saja. Tapi karna menduga bahwa aku pastilah lebih membutuhkannya, maka dengan ikhlas dipindah-tangankanlah limapuluh ribu bersejarah itu kepadaku.

Aku tertegun dan menggelengkan kepala. kepadanya aku kirimkan salam. Salut yang teramat untuk kebaikan yang sangat.

Karna ternyata rekan-rekan, ada seorang lagi yang menunya tidak empat sehat lima sempurna di sudut warung waktu dulu itu.

5 comments Juni 1, 2009

Ikhlas Delapan Gelas

Glass of water

Aku sebenarnyalah hanya menuruti kata-kata para ahli saja, kawan. Mereka mengatakan bahwa minimal kita haruslah meminum delapan gelas air dalam sehari, demi kesehatan tubuh kita. Maka dengan manut-manut aku lakukan juga pesan itu, cobalah kawan-kawan sekalian pikirkan, siapa yang lebih tahu tentang bagaimana menjaga tubuh selain dari pakar-pakar kesehatan itu?

Begitulah awalnya rekan-rekan, sampai di suatu siang yang panas waktu itu aku duduk di sebuah bangku bagian paling belakang bus jurusan Bandung-Jakarta. Dengan gagah kugenggam di tangan kananku sebotol aqua enam ratus mililiter sekira mungkin dua gelas air putih, demi kesehatan kawan!

Waktu baru saja kuminum setengah botol, tiba-tiba aku terhenti. Tepat didepanku ada seorang nenek-nenek yang berdiri kepayahan. Inilah yang menjadi dilema besar bus kota pada umumnya kawan. Para sopir dan keneknya itu, biasanya dengan sangat lihainya merayu calon penumpang. Aku lama-lama mengira mereka menggunakan semacam hipnotis yang membuat penumpang lugu di pinggir trotoar itu mau untuk masuk dan berjejal ke dalam bus yang jelas-jelas tidak lagi ada bangku yang belum dikuasai penumpang.

Seperti nenek malang itu. Dan disinilah moral kita diuji. Aku kasihan dengan nenek itu. Tapi anehnya yang terpikirkan bagiku adalah sebuah pertanyaan maha krusial “apakah nenek malang yang sedang berdiri kepayahan itu sudah meminum hampir delapan gelas hari ini?”. Inilah salah satu bentuk kebodohan ilmiah rekan-rekan. Dihadapkan pada kenyataan bahwa bangku sudah penuh dan ada seorang renta berdiri kepayahan termegap-megap, maka pertanyaan dan pembahasan mengenai jumlah minimal air yang harus diminum adalah pertanyaan tolol yang jatuh pada konteks amat sangat tidak tepat, tak karu-karuan bodohnya.

Sebenarnya begini, kawan. Aku ini, sudah pula tergerak untuk membantu, untuk dengan serta merta berdiri dan menawarkan bangku tempat dudukku kepada sang nenek. Tapi apalah daya, kakiku terasa lemas nian. Badan mendadak seperti meriang. Apakah ini akibat dehidrasi? Pikirku? Ah…. Wajar saja….. pastilah ini karna air yang kuminum baru setengah botol… cobalah kawan-kawan bayangkan. Setengah botol aqua enam ratus mililiter pada sebuah siang yang panasnya beringas seperti setan, manalah cukup untuk jadi asupan energi? Itulah retorika pembenaran paling hebat sepanjang sejarah hidupku. Ini yang disebut argumen ilmiah untuk membelit-belit keadaan.

Seperti lomba cepat tepat babak rebutan. Sebenarnyalah aku sudah kalah beberapa detik. Tiba-tiba seorang bapak yang tadinya duduk disampingku langsung berdiri dan dengan elegan menawarkan bangku tempat duduknya kepada Nenek kasihan itu.

Aah……. Baru saja aku ingin berdiri teman, sungguh….. baru saja.

Tapi syukurlah, setidaknya secara moril, aku sudah tidak begitu terbebani, bahwa kenyataan dihadapanku sekarang berganti menjadi seorang bapak-bapak muda berdiri tegap menggantikan sang nenek yang menghela nafas lega di sampingku, tidaklah terlalu mengganggu pikiran. Pak….. kita sama-sama laki-laki tangguh dan perkasa, kataku dalam batin.

Dan bus melaju sekira delapan puluh lima kilometer perjam. Seseorang turun di tepi jalan. Dan bapak baik hati telah mendapatkan lagi tempat duduk. Sang nenek kasihan tadi tak henti-henti memuji kebaikan bapak-bapak tegap, dan nenek kasihan itu merapal banyak nian doa untuk sang bapak.

Dalam hati aku berfikir. Ah………… andai saja aku yang menolong nenek kasihan itu tadi?

Sekarang sudah tepat satu botol aku habiskan. Lalu mataku menelusur ke depan dan mencari apa kiranya ada orang berdiri kepayahan yang akan aku tolong dengan dramatis. “mbak-mbak……. Silakan duduk di bangku saya” sudah kusiapkan kata-kata indah hasil pertapaan dan minum air kesehatan tadi.

Sekali lagi babak cepat tepat dibuka. Dan itu dia, sepuluh langkah di depanku seorang mbak-mbak setengah baya, agak kesusahan dengan level yang sekira setengah nenek kasihan tadi. Dan bel sudahlah pula kutekan dengan seksama TEEEEET……. “mbak, duduk aja di bangku saya” ujarku dengan sopan dan penuh tatakrama.
“ga usah dek di simpang depan saya turun kok” katanya……

Lalu aku dengan muka malu-malu kembali duduk di bangkuku. Tidak apa-apa, dibabak ini pilihan salah tidaklah mengurangi nilai.

Sang mbak setengah baya turun, penumpang baru naiklah sudah dan aku menangkap soal berikutnya. Pertanyaan kedua, babak rebutan: “apakah yang harus dilakukan saat ada seorang ibu baru naik bus dan tidak mendapatkan tempat duduk, sedangkan anda sedang duduk dengan berleha-leha dan baru saja minum hampir delapan gelas air sehari? “

Astaga…… pertanyaan PMP jaman kita sekolah dulu rekan-rekan. Anak-anak TK juga tahu jawabannya, maka aku ulangi lagi kata-kata barusan “bu… duduk aja di bangku saya”.

Inilah aku pikir tindakan paling heroik yang pernah aku lakukan selama seminggu ini. Dan dengan harap-harap cemas aku menantikan babak dimana ibu yang baru naik tadi nantinya akan memuji-mujiku terus dan merapal doa kebaikan bagiku seperti laku sang nenek tadi untuk bapak-bapak tegap itu.

Bus sekarang di level sembilan puluh kilometer perjam. Dan waktu telahlah bergeser tigapuluh lima menit. sang ibu-ibu diam seribu basa. sedang tak ada tanda-tanda penumpang akan turun satupun. Jalan tol yang biasanya ditempuh sekarang sedang ditutup karna satu dan lain hal. Jalan alternatif adalah memutar lewat pinggiran puncak dengan lama perjalanan dikali dua ditambah faktor tak tentu kurang lebih satu jam.

Kakiku mulai gemetar. Mata berkunang-kunang. inilah akibatnya jika berbuat kebaikan dengan tekad yang tidak bulat.

Babak terakhir. Pertanyaan agama: “hal apakah yang bisa menghanguskan amal seperti api yang memakan kayu bakar?”

Pastilah itu jawabannya………. Pasti………………….

*lalu aku melongok kepada nenek-nenek yang tertidur pulas, lalu bapak-bapak tegap yang terpejam pejam, lalu ibu-ibu yang menerawang kosong ke hijau teh di kebun pinggir bukit-bukit sebelah kiri jalan ini*

Sementara bus merayap mungkin enampuluh kilometer perjam, dan aku sedang belajar ikhlas sembari berharap jeda air dua gelas lagi.

1 comment Mei 29, 2009

Previous Posts


salamku untukmu

Lalu untuk semua bakti yang tak sempurna dan terimakasih yang tak terucap untuk ayah bunda, biarlah menjadi janji sejanji-janjinya "bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita". Di penghujung usia ini baru kita sadari, bahwa betapa mereka sudah begitu banyak berpesan tentang rahasia-rahasia dunia dan baru kali ini kita sadar-sesadar sadarnya. Ini janji sepenuh masa "Tenang Pak, Bu, akan kuputar kembali pesan-pesanmu untuk anak dan cucuku"

muqaddimah

bahwasannya sekalian ilmu itu mahal adanya, dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian, dan mencahari ilmu dengan ceroboh itu hanya akan membuahkan hasil yang hampa, seumpama butir gandum yang tiada bernas, untuk makanan keledaipun kurang bermanfaat (kutipan kitab zhodam berbahasa melayu)

pesan buya hamka

Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak, dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.

menghitung hari

November 2009
M S S R K J S
« Okt    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Tag

cinta doa guru ibu keluarga kontemplasi motivasi pernikahan persahabatan religi rumah tangga seputar kerjaan tulisan ringan

corat-coret terbaru

kumpulan tulisanku

corat-coret mereka

Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Fajar Ramadhitya P di IBLIS TENGU
Tomy Linelejan di jam jam JAAAAM
debuterbang di Dini hari tepat di jam ti…
debuterbang di Aku Ingin Pulang
debuterbang di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Sampai Nanti, Sampai Mati…
Hilma di Aku Ingin Pulang
iezul di Dini hari tepat di jam ti…
Hilma di Dini hari tepat di jam ti…
lia di Dini hari tepat di jam ti…
nerisu di Dini hari tepat di jam ti…
Anis di seratus juta hasta
setiawan di Untuk teman-teman terbaik (dar…
tia di dua windu dulu kala

corat-coret tersering dibaca

daftar disini jika kawan2 tertarik mengikuti perkembangan coretan terbaru di blog ini

link

silaturrahmi