PHYTOPTHORA

Posted Februari 4, 2010 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags: ,

Menjadi tua, apakah selalu identik dengan menjadi membosankan? Aku tidak percaya itu sebenarnya, karna slogan bahwa “tua itu pasti, dewasa itu pilihan” sudah sebegitu lekatnya denganku sampai-sampai aku juga menganggap bahwa “tua itu pasti, membosankan atau tidak itu juga pilihan”.

Rupa-rupanya, dalam batas-batas yang wajar, kejadian yang kita alami dalam kehidupan ini bisa dikelompokkan dalam tema besar yang sama, meskipun detailnya berbeda sedikit-sedikit. Nyatanya orang tua suka “mengulang-ulang cerita”.

Dalam banyak kesempatan kita temukan itu. Bapakmu yang suka mengulang peristiwa perang 45. atau ibu anda yang sering mengulang cerita tentang pertemuan pertama dia dengan ayahmu, lalu bahwa sebenarnya dulu ibumu adalah kembang desa. Guru anda di kelas yang alih-alih mengajarkan pelajaran tapi satu jam pertama dihabiskan dengan cerita tentang kebun duriannya, atau dosen yang memutar ulang pertemuan dengan ular sanca di pedalaman kalimantan saat ia dalam sebuah projek eksplorasi.

Tampak sangat biasa. Orang tua memang suka mengulang cerita, dan itu juga yang terjadi pada Bapak. Tapi yang menjadi unik adalah diluar tema yang klise Bapak seringsekali memutar ulang “Phytopthora”.

Phytopthora palmivora merupakan patogen penyebab penyakit gugur buah pada tanaman kelapa dan busuk buah pada tanaman kakao. Cuma sebatas itu yang aku mengerti dari bahasa latin itu.

Oke…….. Bapakku seorang penyuluh perkebunan, jadi wajar jika sedikit-sedikit tata bahasa binomial nomenclature itu keluar dalam satu dua wejangan.

Misalnya, waktu aku merasa jenuh dan “mbludak” memori otak, tidak lagi bisa menghafal untuk persiapan EBTANAS, maka bapak menyarankan untuk mencoba memanfaatkan semua indra. Begini beliau bilang “kalo kamu sudah ndak bisa lagi mengingatnya dengan membaca, coba baca kencang-kencang, dengan bersuara, biar indera pendengaran turut bermain. Atau yang lebih manjur sebenarnya dengan menulis”.

Nah… dari situlah “phytopthora” mulai muncul dalam kehidupanku. “misalnya bapak dulu, waktu belajar, kan banyak bahasa latin, ndak ada cara lain selain ditulis, ditulis berulang kali, seperti misalnya Phytopthora. Bahasa latin kan susah, ejaannya sulit, suka tertukar-tukar…………………..”

Sejak saat itu Phytopthora mulai menghantui keseharianku.

misalnya lagi, aku bercerita tentang keinginanku S2, maka akan menjadi panjang dan lebar. Bapak akan bercerita mengenai kesuksesan beliau meraih juara 3 dalam sebuah pelatihan tingkat nasional, mengalahkan anggota pelatihan lain yang sarjana, dan master degree. Dalam hal ini aku salut dengan bapak. Percaya dirinya. Bakat cerdasnya. Hanya memang secara legal formal beliau hanya tamatan SMA, hanya pernah mengikuti pelatihan di kantornya. Tapi……… kata bapak “mau s2 mau S3, itu kan legal formal, tidak ada salahnya, tapi yang paling penting adalah kita harus punya kepercayaan diri bahwa dalam prakteknya kalau kita bisa kenapa mesti gentar dengan yang titelnya diatas kita, waktu pelatihan itu misalnya, kan banyak diajarin bahasa latin, Bapak sudah tahu kuncinya, kalo bahasa latin itu harus rajin ditulis, kita harus pandai membuat strategi belajar sendiri, misalnya Phytopthora…………………….” Oh….God, lagi-lagi itu

That’s it, phytopthora telah dengan sangat mahir muncul dalam perbincangan tema apapun, genre apapun.

Apakah menjadi tua selalu identik dengan membosankan?? Aku sebenarnya tidak percaya itu, karna kadang-kadang sebelum tua pun kita sudah agak membosankan. Seorang rekan sering memotong pembicaraanku waktu aku mengulang untuk yang ketiga kalinya cerita tentang aku berjalan 13 km dari sekolah menuju rumah, karna sebuah ide tolol menukar ongkos angkot dengan es potong “lo udah pernah cerita itu boi”, begitu katanya, dan aku tertawa karna tiba-tiba mengingat phytopthora.

Menceritakan kembali potongan kehidupan kita pada orang lain, memang sebenarnya agak-agak rumit. Berkaitan dengan keinginan berbagi. Berkait juga dengan kepercayaan, tidak mungkin kita nyaman bercerita berulang-ulang jika bukan dihadapan orang yang kita percayai. Kait mengait juga dengan sebuah pencapaian, mungkin ada sisi dalam diri kita yang ingin menunjukkan bahwa dalam tingkat-tingkat tertentu kita sudah memperoleh pencapaian dalam hidup ini, bukankah hal paling menyedihkan dalam hidup adalah kenyataan bahwa ternyata hal paling hebat yang kita bisa lakukan adalah menjadi orang biasa-biasa saja. Oleh karna itu kita memutar ulang cerita, romantisme sejarah kadang-kadang bisa menyulut kembali semangat kita, jika kita kenang dalam proporsi yang wajar………………………………………………… tapi, sebentar, sebentar, bagian yang ini belum pernah kan aku ceritakan???

Nah….
Kalaulah menjadi tua itu pasti, adakah kemungkinannya bahwa menjadi membosankan itu pasti juga??? Nanti kita akan menjadi seorang ayah atau ibu yang bercerita kepada anak-anak kita tentang awal-awal kita mencicil kredit rumah. Atau bagaimana kita merasa seperti dianak tirikan pada saat awal-awal bekerja. Atau macam-macam lagi cerita lainnya. Kita ingin berbagi, kita ingin anak kita mengetahui potongan sejarah kehidupan kita, tapi mereka menganggapnya sebagai “dejavu”. Cerita yang sama yang sekitar enam atau sepuluh kali mereka dengar.

ah…… masa kita tidak bisa, menyempatkan diri untuk sebentar mendengarkan orang tua kita bercerita. Perkara kita sudah hafal itu tidak jadi soal. Puluhan tahun kita sudah belajar berbicara pada mereka, mengeluh, meminta, menangis, memaksa, marah, semua kita ulang-ulang dengan mahir, sekarang saatnya kita belajar mendengar, sekali saja.

Menjadi tua itu pasti, menjadi membosankan???? Ah…. Tidaklah, mereka tidak membosankan, kita saja yang kurang pandai mendengar.

Lalu…. Aku mulai menikmati cerita apapun saja yang dituturkan bapak. Bapak bercerita, aku bercerita, sudah pernah sebenarnya kudengar yang bapak dongengkan, dan aku menanggapinya juga dengan tanggapan yang kurang lebih sama. Tapi ada yang bertambah dekat setiap kali ritual itu kami kerjakan.

“jadi, kalau sudah menikah itu kamu harus banyak belajar, belajar apa saja. belajar itu harus cerdas, ada cara-cara tersendirinya…………………” yap, disana, dibagian sana, aku yakin benar phytopthora akan muncul. Tapi pak, aku akan mendengarkan, pasti.

gambar dipinjam dari sini

DRAMA KOTAK

Posted Februari 2, 2010 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags:

alkisah di sebuah negri hiduplah seorang pemuda ahli beladiri. Dalam banyak kesempatan dia teruji sebagai pemuda penuh talenta. Banyak orang yang tertolong dengan keahliannnya, dan santerlah kemudian berita itu ke banyak penjuru.

Sampai suatu ketika pemuda itu bertemu dengan seorang ahli tongkat. Sang ahli tongkat singkat cerita menjadi temannya. Sahabat sekaligus rival. Dalam berapa kali latih tanding pemuda itu babak belur. Semakin bertanding semakin dia yakin tidak mungkin dia bisa mengalahkan rivalnya, sang ahli tongkat itu.

Larut dalam kekecewaan maka pemuda itu berhenti berlatih. Dia kecewa. Dia larut dalam kesedihan dan menjadi sutradara dalam drama kenelongso-an yang dia ciptakan sendiri.

Suatu hari, sang guru memerhatikan pemuda itu dari jauh. Lalu menghampirinya. Mereka berbincang sebentar layaknya perbincangan dua generasi. Perbincangan antara pengalaman hidup dengan kehijauan usia.

Sang guru mendekati seekor monyet piaraan pemuda itu ( pemuda itu memiliki piaraan setia seekor monyet), dan mengambil seekor kutu dari bulunya.

Pemuda itu bergeming melihat ulah sang guru, dia memerhatikan dengan takzim, lalu seketika guru itu mengeluarkan kotak kecil ukuran 5 cm berbentuk kubus dan memasukkan kutu itu kesana.

Diberikanlah kotak itu pada pemuda tadi lalu guru meninggalkannya.
—————————————————————————————-

Kata orang. Hanya 10% dari potensi diri kita yang tampak ke permukaan. 90% lainnya terkubur dalam. Para pakar menyebut ini dengan teori gunung es.

Sebegitu terselubungnya massa besar potensi diri kita, sampai-sampai jangankan orang lain, bahkan kita tidak juga mengerti kalau kita punya potensi cukup besar.

Sebagian potensi kita hilang karna tidak pernah diasah. Sebagian karna lingkungan cukup kejam menyelimuti kita dengan sugesti yang mengecilkan diri kita. Sebagian karna kita belum menemukan moment yang pas untuk membuatnya tumbuh dan menjalar. Sebagian kita sendiri yang mematikannya. Dan itu sebagian besar.

Akhir-akhir ini aku kadang-kadang merasa agak ciut, menghadapi banyak sekali urusan-urusan, banyak sekali ketidakpastian-ketidakpastian. Keciutan yang normal biasanya menjadi semacam alarm bahwa ada yang kurang beres dengan diri kita. Itu bagus. Aku jadi tahu apa yang harus kuperbaiki dari mengetahui apa yang aku ciuti. Tapi ketakutan yang terlampau sering bisa berbahaya. karna ketakutan kadang-kadang tidak objektif, tapi subjektif kita yang mendramatisir, dan rata-rata kita adalah sutrada yang unik dalam membuat drama menyeramkan di khayalan kita. Bagaimana nanti kalau gagal? Bagaimana nanti kalau tidak diterima? Bagaimana kalau kalah cepat dengan yang lain? Bagaiamana kalau kita ternyata memang tidak layak? Ah…. Jangan-jangan memang kita tidak bisa?

Tuh…… kita pintar, kan? Mengada-ada memang bakat kita sejak dulu. Entah dari usia berapa kita dapatkan talenta itu aku tidak paham. Yang jelas untunglah kita belum bodoh seperti ini waktu kita masih balita dulu.

Dulu kita belum bisa berjalan. Dan setiap hari kita jatuh bangun. Kita terjungkal. Berdarah. Menangis. Merangkak lagi. Tapi kita tidak pernah kapok, sampai akhirnya kita bisa berjalan. Kalaulah saja kita terlalu takut dan banyak bagaimana-bagaimananya, mungkin sampai sekarang kita masih mengesot di lantai. Tapi untunglah, setidaknya ada masa-masa berapa tahun setelah lahir dulu yang kita jalani dengan cerdas. Meski sekarang kita agak tidak seberapa pintar lagi.

Karna kitalah yang kadang-kadang mematikan diri kita sendiri.
—————————————————————————————–
Tidak lama kemudian sang guru kembali.

Pemuda itu masih menunggu sambil menggenggam kotak tanpa paham maksud guru tua.

Sambil tersenyum sang guru mengambil lagi seekor kutu dari bulu monyet piaraan pemuda tadi, lalu dia berkata “buka kotak di genggamanmu”

Pemuda itu membuka kotak, lalu sang guru meletakkan kutu yang diambilnya barusan disamping kotak tersebut.

Dua ekor kutu meloncat bersamaan. Seperti tidak ada yang aneh pada mulanya.

Sampai berapa kali loncatan maka terlihatlah kutu yang dimasukkan kedalam kotak tidak lagi bisa melompat tinggi. Berapa kali dia meloncat hanya setinggi kubus. Sementara kutu bebas disampingnya sudah melenting entah kemana.

“seperti kutu itu” sang guru berkata….. “kau membuat kotakmu sendiri. Berapa kali kau meloncat dan terbentur pada masalah yang sama, maka kau mulai yakin bahwa loncatanmu hanya sebatas itu saja, dan lama-lama kau benar-benar hanya bisa meloncat setinggi “kotak” di kepalamu itu”.

Pemuda tadi terdiam dalam renungan yang lama dan dalam.

“bebaskan dirimu dari kotak khayalanmu sendiri dan melompatlah yang tinggi” guru tadi berkata sambil pergi membalikkan punggung.

Memang, di akhir cerita pemuda tadi belum juga bisa mengalahkan rivalnya, si ahli tongkat itu dalam sebuah pertarungan latih tanding.

Tapi yang paling penting pemuda itu sudah keluar dari kotak khayalannya, ketakutan yang menjadi dinding potensinya sendiri, dia berhasil melompat lebih tinggi lagi.

Lalu Bagaimana dengan kita hari ini????

*omong-omong hasil tanding mereka seri

Sekarang

Posted Januari 27, 2010 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags: ,

Dulu, aku pernah baca sebuah sisipan dalam satu majalah. Entah apa nama majalahnya aku lupa. Tapi kan kadang dalam sebuah edisi tertentu, majalah-majalah apapun sering menyisipkan sejumlah artikel dengan desain halaman sendiri, dengan ukuran kertas sendiri, dengan rancangan yang beda sendiri dengan keseluruhan halaman lainnya. Gampangnya seperti majalah kecil dalam sebuah majalah besar.

Waktu itu majalah yang aku baca menuliskan sebuah sisipan mengenai mesin waktu. Edisi iptek. Aku masih kelas 1 smp kalau tidak salah ingat. Isi bahasannya bagaimana persisnya juga aku lupa. Tapi yang jelas ketika itu sangatlah menarik. Satu-satunya tulisan science yang aku baca berulang-ulang, sangat memukau, tapi aku tidak begitu paham. Bisakah manusia kembali ke masa lalu???

Sampai sekarang pun aku percaya tak ada orang yang bisa. Siapapun dia. Hanya memang para ahli sering betul berdebat tentang kemungkinan melakukan hal itu secara teoritis.

Aku sering iseng, memlototi selembar kertas yang aku robek dari buku tulis. Seplotot-plototnya aku tatap itu kertas, hanya untuk memastikan bahwa aku sedang berada di suatu masa yang bernama “sekarang”. Kertas itu ada!!

Setelah puas aku tatap, maka kertas itu aku sulut dengan korek dan terbakar habis jadi abu. Lalu aku seperti tidak yakin. Sedetik lalu kertas itu aku masih plototi dengan tajam, lalu kemudian hilang tak ada bekas –selain abu tentu-. Kemana kertas itu sekarang? Terlebih lagi aku berfikir kemana kejadian sedetik yang lalu??? Tidak bisa diulang, berlalu dan terkunci dalam gembok paling “secure”, hanya hidup dalam memori kita.

Dan memori biasanya tidak menyakitkan. Karna ingatan adalah sebuah rekam video. Bukan kejadian nyata. Harusnya sensasinya lebih ringan dari aslinya. Kalau kenangan menyakiti kita hari ini, mungkin ada yang salah dengan cara kita menilai sejarah. Aku merasa bahwa “past” selama ini relatif lebih menyenangkan dibandingkan “presents”.

Aku ingat bagaimana dulu sekali aku pernah setengah mati menghemat biaya hidup semasa kuliah. Awal-awal kuliah yang getir. Sampai akhir-akhir masa kuliah yang penuh perjuangan. Aku ingat juga dulu semasa sekolah SMA hari-hari diisi penuh dengan kesuntukan persiapan menjelang SPMB. Masa-masa bertengkar dengan orang tua karna perbedaan visi. Masa-masa stress menjelang pernikahan. Masa-masa deg-degan menanti pengumuman kelulusan tes di sebuah perusahaan. Masa-masa terasing di hutan kalimantan dalam proyek eksplorasi batubara. Semua menjadi indah setelah dikenang.

Sampai sekarang masa lalu selalu menyulut sensasi ketenangan yang aneh. Setiap hari-hari sulit yang aku lalui, kadang-kadang aku berfikir bahwa enak sekali dulu waktu SMA. Hidup dikelilingi puluhan teman-teman yang baik dan jujur. Kebersamaan yang erat dan menenangkan. Atau saat sedang dilanda kebosanan karna menghadapi rutinitas yang menjemukan, aku kembali mengingat masa lalu, kenikmatan hidup penuh dengan petualangan, naik turun gunung dan terasing di hutan rimba. Semua menyisakan goresan yang indah untuk ditelusuri lagi. Ironis memang. Padahal dulu sewaktu menjalaninya terasa betapa getirnya. Susahnya. Tapi setelah dikenang jadi tidak seberapa getir, sebagian jadi menyenangkan.

Begitulah kita. Hidup kita adalah terjebak dalam dua kutub, kita tertarik-tarik dalam memori masa lalu dan angan-angan masa depan.

Kalau masa lalu, dulunya pernah juga jadi “sekarang”, maka kenapa dia harus menjadi indah hanya pada “masa depan?”

Hari ini aku menghadapi sekian rentet masalah, anda menghadapi juga sekian rentet lagi yang mungkin lebih banyak dibanding yang lain. Tapi hari ini kan besok menjadi masa lalu????

Hari ini kita tidak bahagia, lalu malam berganti dan hari menjadi besok, besok kita tidak juga bahagia, yang kita lakukan besok adalah mengutuki hari dan mengenang kemarin, bahwa kemarin ternyata tidak sepelik yang kita pikirkan, bahwa kemarin adalah masa paling indah yang tidak terulang, lalu kita berandai-andai agar besok hari kita sudah mulai bisa menikmati hidup kita.

Padahal kita hidup adalah hari ini. Bukan kemaren bukan besok.

Tapi kita kan hobinya berandai-andai, kapan kita bahagia?? “ahhh… bisa tidak ya kita kembali ke masa lalu???” sebentar……………. Aku cari dulu bundel majalah iptek jaman dulu itu, nanti aku kabari lagi.

Sembari menunggu majalahnya ketemu bagaimana kalau kita bahagianya sekarang saja?

ONOMATOPE

Posted Januari 24, 2010 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags: , ,

Aku tidak pernah bisa memainkan alat musik. Sedari dulu alat musik seperti tidak pernah mau mengakrabkan diri denganku meski aku selalu beramah tamah dengan bunyi. Tapi kami tidak pernah bisa menyatu.

Dimasa SMA pernah sekali aku meminta ibu membelikan sebuah gitar. Sebuah permintaan yang selintas saja, aku tahu tidak mungkin beliau membelikanku gitar. Tapi rupanya ibu bercerita pada nenek, dan nenek mengirimi aku uang. Maka siang hari yang panas di minggu itu aku dan Bapak menyusuri jalan Soeprapto yang pendek, lalu lintas terpadat di kotaku, dan membawa pulang sebuah gitar yamaha coklat tua.

Aku memetik gitar pada sore hari, memetiknya lagi malam hari. Mengakrabinya dengan sebuah keberanian yang murni, otodidak yang soliter. Gitar itu berbunyi dengan bunyi yang tidak harmonis, aku tahu itu. Ribuan kali memetiknya tidak lantas menjelmakan aku sebagai manusia yang menipu diri sendiri, aku mengenali petikanku sebagai suara aneh yang sumbang sama seperti waktu pertama kali aku memetiknya dulu.

Aku tidak menyalahkan setelannya, tidak senarnya, tidak resonansi lubangnya. Tapi seperti kesadaran yang utuh aku memaknainya sebagai legowo. Aku tidak bisa bersahabat dengan alat musik, tidak sekarang mungkin, meski aku selalu beramah tamah dengan bunyi.

Sampai akhir aku kuliah, gitar tua itu tidak lagi terdengar bunyinya, aku tidak memetiknya lagi, tidak juga mempermasalahkan adik-adikku yang menggeletakkannya di sebarang tempat, sampai berdebu. Diganti-ganti senarnya oleh mereka dan disetelnya dengan cekatan, aku diamkan dan aku dengarkan.
******

Dibesarkan di keluarga empat bersaudara membuatku susah membedakan “timbre”. Kami semua laki-laki, hanya ibu seorang perempuan. Aku jadi bersikap, memandang, bertindak, dan merenung dalam tempo yang terlalu pria.

Sebuah ritme yang menyenangkan memang, untuk selalu cepat dan tuju sasaran. Untuk menjadi se-rasional apapun yang aku inginkan. Untuk menjadi kokoh dan tidak gampang lapuk. Sampai suatu ketika sebuah babak baru dalam kehidupan hadir.

Ini “chorus”.
Sebuah reff dalam susunan bait-bait lagu. Aku ternyata sepenuhnya sadar bahwa bernyanyi dalam panggung ini tidak bisa selamanya sendiri, maka aku pinta dia untuk menemaniku.

Seorang perempuan.
Bertahun-tahun aku seperti merasa asing dengan “genre” satu ini. Selama ini dunia seperti terlalu “nge-pop” atau “jazzy” tiba-tiba dia mengenalkan aku dengan “klasik”.

Setiap hari aku belajar mengikuti irama yang baru. Menikmati kenyataan psikologis bahwa manusia punya wajah yang bernama feminin. Aku baru sadar itu, dan belajar sedikit-sedikit bahwa bahasa wanita sedikit lebih abstrak, gaya bertuturnya sedikit lebih bias, bersikapnya sedikit lebih manja, dan “ya”-nya bisa jadi “tidak”, dan “tidak”nya terkadang “ya”.

Dia menyukai seni, sama sepertiku juga. Kami sama-sama tidak bisa memainkan alat musik, tapi dia bernyanyi dengan lebih baik.

Semasa kuliah dia anggota sebuah kelompok paduan suara. Menyanyi baginya adalah suatu seni yang profesional. Tinggi rendah nada adalah sesuatu yang bisa dibaca buatnya. Maka ketika suatu kali aku melihatnya dalam balutan seragam coklat kehitaman nan anggun. Bernyanyi dibalik dirigen yang memegang tongkat kecil seperti penyihir, dan mebuka-katupkan mulutnya sambil tangannya memegang partitur nada-nada, saat itu aku tahu kami berbeda.

Enam tahun sejak gitar coklat tua yamaha itu dibelikan bapak dengan uang dari nenek yang dititipkan pada ibu, aku tidak juga pandai bermusik.

Sampai sekarang aku masih mengidamkan untuk suatu nanti bisa memainkan alat musik. Di ruang tengah keluarga atau mungkin di kebun belakang, di kelilingi anak cucu yang sedang bermain berlari-larian dan menantu yang sedang mengipas-ngipasi ayam bakar, aku memainkan sebuah alat musik yang “klasik”, entah piano atau biola, sukur-sukur harpa. Karna diwaktu kita tua mungkin cuma kebahagiaan kecil-kecil begitu yang kita bisa derma.

Dan kalau lebih mungkin lagi nanti, aku memainkannya dengan sebuah partitur. Loncat-loncat oktaf yang teratur. Istriku menyanyi di sebelahku atau bisa juga kami bernyanyi bersama.

Tapi hari itu masih nanti, kupikir. Sekarang kami masih mencocokkan suara. Dan aku mulai kagum pada wanita yang fragile sekaligus pejal. Labil tapi tidak tergoyahkan. Terkadang berputar tapi mampu juga fokus dan luar biasa straight. Itulah perempuan.

Kalau aku memainkan segalanya dengan spontan dan improvisasi, maka tidak ada yang lebih baik untuk mendampingiku selain keteraturan dan kemampuan membaca not balok, sepertimu, dek.

Meski aku masih belum juga bisa memainkan alat musik, tapi aku selalu beramah tamah dengan bunyi. Maka aku dengar dan kubahasakan apa saja yang orang lain tidak dengar, seperti sebuah onomatope.

Aku istimewa kan, dek??

wikipedia:
Onomatope (dari Bahasa Yunani ονοματοποιία) adalah kata atau sekelompok kata yang menirukan bunyi-bunyi dari sumber yang digambarkannya. Konsep ini berupa sintesis dari kata Yunani όνομα (onoma = nama) dan ποιέω (poieō, = “saya buat” atau “saya lakukan”) sehingga artinya adalah “pembuatan nama” atau “menamai sebagaimana bunyinya”. Bunyi-bunyi ini mecakup antara lain suara hewan, suara-suara lain, tetapi juga suara-suara manusia yang bukan merupakan kata, seperti suara orang tertawa.

JELAGA

Posted Januari 11, 2010 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags: ,

Aku ingin menulis sajak buatMu, tapi kata-kataku jelaga.
Apalagi yang bisa disusun-susunkan untukMu “Cahaya”? bila huruf rupanya sudah hitam keling.

Aku setengah lari.
Dari awalan yang buram dan rabun.
Aku susun sebait larik.
Yang meski menyajak kurasa tak,
meski jelaga kusurut tak.

Aku ingin menulis sajak buatMu, meski layak kukira tak.

Aku jelaga Engkau Cahaya.
Dan aku masih berjalan memohon-mohon: tunjukkan ufuk.

Amiin.

TAKDIR SATE

Posted Januari 11, 2010 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags:

Sejak menikah, aku menjadi sangat hemat. Setiap hari memakan masakan rumah. Aku jadi tahu sedikit sekarang, bahwa jauh benar bedanya pengeluaran antara memasak sendiri dan membeli di luar.

Mulanya agak tidak terbiasa, tapi setelah berapa kali dijalani, aku mulai kembali berasa di “rumah”. Empat tahun aku kuliah, dua tahun bekerja, hampir tidak lagi pernah makan, mengecap, mencium aroma masakan rumah. Lidahku jadi sedikit terbiasa dengan jajanan luaran. Tidak yang mahal-mahal tentu, tapi ya khas makanan pinggir jalan saja, goreng2, tumis-tumis.

Tapi entah kenapa malam ini istriku tidak seperti biasanya. Modus operandiyang biasa adalah istriku memasak dua kali, sekali pagi untuk sarapan, dan sekali lagi untuk siang dan malamnya. Kalau kami sedang bosan nasi, biasanya mie jadi menu favorit, selingan yang murah meriah, tapi malam ini istriku mengidamkan sate padang.

Aku, yang juga sudah lapar mengiyakan saja, kuganti pakaian, mengenakan jaket coklat kudel, lalu menstarter motor. Istriku menunggu di rumah. Demi sate padang maka aku keluyuran malam hari.

Sebenarnya tidak sampai tiga menit saja jarak dari kontrakan ke jalan raya depan sana, itu kalau aku tempuh dengan gaya kalem, tapi malam itu lebih dari tiga menit perjalananku. Di depan gang tak ada satupun penjual sate, motor kemudian kugas lagi, roda berputar lagi dan aku dibawa sekitar berapa meter lagi. Pelan-pelan aku susuri pinggiran jalan besar. Gorengan tahu pedas, soto ayam, pecel ayam, mi ayam, tapi tak ada sate.

Kupikir, kepalangan sudah di jalan besar ya baik diteruskan saja, hitung-hitung jalan-jalan malam. Maka aku terus lagi berhenti di beberapa lampu merah, melewati berapa persimpangan, tapi tak ada sate padang. Sekali aku berhenti dan bersorak girang, ternyata sate madura. Ah……. Belum rezeki, kata orang.

Sampai bosan aku memutari jalan, pelan-pelan celingak-celinguk, berhenti di banyak gerobak dan menggeleng lagi setiap salah tebak, ahhh….. malah bubur ayam ini, bukan sate padang. herannya, semakin jauh aku menelusur jalan raya semakin aku tertantang, tiba-tiba aku jadi sangat mengidamkan sate padang. Jadilah malam itu sebuah pengembaraan suci dengan tema sate padang. Sampai belokan terakhir yang aku kira cukup jauh aku menemukan lagi sate.

Sate madura lagi!!! Aaahhh….. kenapa madura????? Ada apa dengan sate padang??? Beginilah cara kerja kehidupan, sesuatu yang biasa kita temui tiba-tiba jadi langka kalau kita memimpikannya setengah mati.

Lama-lama aku kesal juga, sudahlah sate madura-pun tak apa. Motor kuparkir, ibu-ibu penjual sate itu kupikir tinggal menunggu pulang saja. Satenya sudah hampir habis, boleh jadi aku pembeli pamungkas.

“dek…… sate madura ajalah, ga ada lagi sate padangnya” aku mengirimkan sms

Istriku mengiyakan. Aku memesan dua porsi. Ibu itu langsung beranjak. Sebentar kemudian aku menambahkan “pakai lontong ya bu”.

“lontongnya habis” jawab ibu-ibu tadi.

Kelangkaan sate!!!!! ini belum terlalu malam, sate padang tak tampak dimana-mana, dan sate madura di pengkolan ujung jalan terjauh yang aku jajal malam ini ternyata tak berlontong!!!! Ada apa dengan malam ini? Ada apa dengan semua sate???

“dek…. Ga ada lontongnya nih, masih mau ga?”

“ga ada sate madura yang lain mas?”

singkat padat dan tersurat jelas balasan sms istriku yang berarti ‘tidak dengan tanpa lontong’. Baiklah….. aku membatalkan pesanan tadi, lalu mengambil jalan memutar.

Sate madura sate madura……. Baiklah, untuk malam ini sajai, semadura apapun kau sate berikutnya yang kujumpai, akan tetap kubeli, lalu motor berjalan lagi.

Sebuah gerobak sate di pinggir jalan kuhampiri. Tempat pembakarannya tidak membara, ada arang-arang hampir padam. Entah berapa tusuk pula itu sate di gerobak. Malam yang kurang beruntung buat ibu dan anak ini. Mereka aku perhatikan Cuma duduk saja, sambil merebahkan kepala dan tangan di atas meja. Mungkin aku pembeli pertama, atau boleh jadi yang kedua, tapi rasaku tidak lebih dari hitungan jari orang yang malam ini menghampiri gerobak ini.

Disinilah muaranya segala pencarian malam ini, rupanya. Daging sate yang besar-besar. Lontong yang berderet rapih. Cabe giling yang segar dan rekah. Arang yang menyala kembali.

Kebetulankah ini ataukah tidak?
Istriku tidak memasak nasi sore ini dan bukan kemarin atau dua hari lalu.
Kami tiba-tiba memikirkan sate padang dan bukannya mie ayam atau soto betawi.
Aku berhenti lalu menyerah di tikungan sana dan bukannya tikungan sebelumnya atau yang satu lagi.
Sate padang tak terlihat sama sekali dan bukannya ada sejak dari gang depan jalan raya duapuluh menit lalu.
Sate madura pertama yang kutemui tak ada lontong dan bukannya ada atau paling tidak ada penggantinya nasi.
Aku batal membelinya lantas mencari sate madura lainnya lagi dan bukannya menyerah dengan “tak pakai lontong juga sudah kenyang, kan?”.
Sekarang aku duduk melamun di pinggir bara sambil menahan perih mata dikipasi asap yang wangi daging terbakar, sesaat tiba-tiba aku jadi merasa berarti, bara itu kubuat menyala kembali.

aku membayar seharga dua porsi sate dan lontong enam biji. Sate madura itu buatku rezeki, aku bagi ibu dan anak itu mungkin juga rezeki. Sedang kata orang tua-tua dulu ‘rezeki itu sudah ada yang atur’. Kebetulankah ini ataukah tidak?

Agak kencang sekarang aku mengemudi motor, mengingat aku sudah lapar, istriku di rumah juga lapar. Selintas lalu tiba-tiba kulihat gerobak sate di pinggir jalan mungkin 20 meter dari tempatku berhenti tadi. “PADANG” terpampang nyata sekali di kacanya. Motor tetap melaju di enampuluh kilometer satu jamnya.

Kebetulankah ini ataukah tidak?
Sate padang itu duapuluh meter sesudah gerobak madura tadi dan bukannya sebelumnya atau di persimpangan jauh berikutnya.
Atau rezeki mungkin sudah ada yang mengatur!

FIRASAT

Posted Januari 11, 2010 by debuterbang
Categories: sketsa

Rasa khawatir yang mengelindap di dada seringkali hanya lintasan ketakutan tidak beralasan saja, tapi ada kalanya juga itu sebuah firasat.

Firasat selingkali tidak kita tanggapi, dan baru kita sesali setelah terjadi. Waktu itu aku kelas lima SD, ya…… kelas lima, aku yakin itu. Sebuah kelas yang didepannya ada pohon belimbing menjulang tinggi sampai ke tingkat atas. Bangunan agak lama yang sekarang sudah susah ditelusuri bukti sejarahnya, karna berapa tahun lalu luluh lantak dihantam gempa.

Waktu itu, kondisi ekonomi carut marut. Detail-detail kejadian yang sulit dan nelongso sering rasanya lebih membekas di dalam memori jangka panjang kerut-kerut otak. Disimpan rapih dalam serabut syaraf yang kait mengait tak jelas. Sudah berapa puluh tahun yang lalu tapi masih saja bisa dibuka dengan rapih gambarannya.

Hari itu, bapak menitipkan kepadaku uang sejumlah duapuluh tiga ribu rupiah. Untuk membayar tunggakan buku, dan tunggakan BP3. Tapi sodaraku, sebelum kau lanjutkan menekuri ini cerita, haruslah kau rubah sedikit mindset di kepalamu, bahwa duapuluh tiga ribu rupiah uang waktu jaman itu sudah serasa tak karuan mahalnya. Jadi perasaanku waktu itu, sebagai anak kelas lima sd membawa sejumlah uang yang baru pertama itu aku genggam, seperti mau meletus.

Keamanan tingkat pertama aku terapkan. Dompet….. ya… dompet….. aku merasa, bahwa anak kelas lima sd sudah saatnya memakai dompet, maka dompet yang selama ini aku anggurkan saja diatas meja belajar kamarku hari ini mendapatkan mandatnya pertama kali, membawa uang 23ribu.
Hatiku bergetar bergejolak. Aku seperti diatas garis kemapanan.

Berangkatlah aku pagi-pagi, setengah enam pagi dari rumah, menunggu angkot di depan gerbang rumah. Dan disinilah keraguan pertama terjadi.

Selain keamanan tingkat tinggi, rupanya dompet bisa juga menjadi sumber petaka. Celana merahku sudah sempit, lalu dimana baiknya aku simpan ini dompet??? Sudah aku terapkan tentu saja, gaya bapak2 kantoran, dengan canggih aku sorong dompet coklat kulit ke saku celana belakang. Terlalu gembung rekan-rekan!!!!……. Ah…. Tidak etis saja rasanya. Kurang estetikanya, kalau saja dompet ini agak lebih proporsional untuk ukuran celana anak sd, aku rasa tidak masalah, tapi saat ini pastinya saku belakang celana tidak bisa diandalkan.

Maka aku simpan di saku samping, sebelah kanan. Pertama di sebelah kanan aku sorong. Dan disinilah keraguan berlanjut. Kau tahu, kawan…… dompet gembung di saku celanamu, dan sensasi pertama kali membawa uang banyak bisa membuat semua orang terlihat macam garong.

Pertama kali naik angkot aku sudah curiga dengan bapak sopir, tak mungkin muka berjambang begini sopir angkot?? Setelah naik aku buruk sangka pada ibu2 gendut penjual ikan, jangan2 dia maling??? Bagaimana kalau mbak2 disamping kananku ini melihat tonjolan dompet di saku ku??? Bagaimana…??? Bagaimana???? Aku pindahkan dengan cekatan dompet ke saku kiri, jantung berdenyut seperti stroke, tangan dipinggang, mata menatap nanar. Ah….. bahaya ini, bahaya, semua orang seperti penjahat. Aku mengelap keringat dingin sebesar kelereng di dahiku, tapi tiba-tiba sudah di depan sekolah. Aku selamat………

Tiba di sekolah rasanya tidak pernah senikmat ini. Dan aku mengambil sebuah kesimpulan besar. Kebodohan pertama adalah membawa uang di dalam dompet, dan kebodohan kedua adalah menyimpan dompet di saku celana. Dari estetika, tinjauan keamanan, kenyamanan bergerak, ketenangan batin, tidak ada celahnya bahwa dompet besar coklat berisi duapuluh tiga ribu pantas untuk disimpan di saku celana merahku. Yang sampingkah itu, atau yang belakangkah itu, tidak!!!

Maka dengan yakin aku simpan itu dompet di dalam tas. Saku depan tas hijau hitam.

Jumat……. Hari yang entah kenapa orang sandingkan dengan segala misteri, padahal itu hari yang baik seharusnya. Dan kebaikan itu dimulai dengan senam kesegaran jasmani. Senam wajib untuk anak sd. Aku masuk ke dalam kelas dan meletakkan tas di atas meja. Sejenak aku berhenti. Tidak ada siapa-siapa di kelas, kawan-kawan berhamburan ke lapangan dan menguasai wilayah masing-masing. Dalam senam kesegaran jasmani, maka posisi menentukan tingkat kecapaian. Semakin aman dari mata guru, maka tidak usah terlalu jingkrak-jingkrak. Dari tadi hatiku sudah semaput rasanya ingin mengambil baris belakang, tapi ingin kutinggal langsung ini tas rasanya berat. Dompet di saku tas ini menggangguku.

Kelas hening tenang, tapi firasatku mengatakan ada yang tidak beres. Sejenak dompet itu aku pegang dari dalam tas, ingin rasanya aku simpan di saku celana, tapi bagaimana mungkin, senam dengan tidak mengindahkan estetika dan kenyamanan??? Belum lagi kalau aku disoraki pandir oleh kawan-kawan karna berdompet setebal handuk dilipat-lipat??? Estetika mengalahkan segalanya dan itu dompet bersemayam di kantong tas. Aku lari keluar lalu bergoyang-goyang senam. Cara yang indah mengawali hari bukan? dan I love Friday, my friends.

Senam usai…..
Kami kembali ke kelas, seperti umumnya anak-anak dimanapun berada, maka kelas gaduh tak karuan dan baru diam sesaat setelah wali kelas masuk. Pelajaran apa aku sudah tidak ingat, tapi hatiku berbunga karna akan membayar buku. Bayangkan itu. Maju ke depan kelas dengan dompet kulit tergenggam di tangan, lalu melunasi buku diktat yang sudah lama sekali diabsen “rio……kapan bayar buku???”, ada kalanya dompet menunjang kredibilitas, itu pencitraan namanya rekan-rekan.

Tas aku buka, dompet aku ambil. Tapi……………. Kenapa ada sebutir salak di dalamnya????
Aku heran, tapi aku tidak ambil pusing, lalu kukeluarkan dompet dan berdiri ingin membayar buku.

FIRASAT!!! Jangan sepelekan firasat. Itu rupanya rasa tak enak sesaat menjelang SKJ tadi. Uangku lenyap, raib tak ada bekas. Aku panik dan memerah mukaku, kubongkar-bongkar tas, sana-sini. Semakin kubongkar semakin panik, semakin panik semakin tak bisa aku mengontrol diri. Buku-buku berkelebat di kepalaku, lalu struk bp3, lalu buku-buku lagi, aku seperti diteror dan tanpa sadar menangis, ini beban berat buat anak kelas lima. Dalam kekalutan aku melihat kiri kanan sambil menangis. Seorang teman di sebrang bangkuku juga terlihat bingung sambil mengutak-atik tasnya, lalu dia berkata pelan “salakku mana ya???” Read the rest of this post »

Perfect Morning

Posted Desember 15, 2009 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags: ,

Pagi ini, matahari bersinar dengan proporsi yang pas. Burung-burung berkicau dengan tinggi nada yang tidak senyaring biasanya, jadi…….. hawa hangat yang menyusup dari balik korden di jendela yang terbuka itu berpadu kompak dengan suara burung yang merdu dan mendamaikan. Boleh dikata ini pagi yang sempurna. Perfect.

Duduk membelakangi jendela, seorang lelaki kharismatik. Pria yang tidak lagi single dan tentunya menyandang predikat sebagai seorang suami nan romantis. Adalah aku. Sedang membaca berita seperti khas para bapak-bapak lakukan di pagi hari, dan dengan sabar menantikan sebuah menu kuliner, sarapan yang akan menjadi puncak dari kesempurnaan pagi ini. Kentang goreng.

Menghargai istri, kata Nabi, adalah kewajiban seorang suami. Dan beramal dengan cara yang paling gampang, untuk kita ini para laki-laki, adalah memuliakan istri. Nah……. Berkaitan dengan itu maka proses panjang menunggu kentang goreng muncul dari dapur adalah juga suatu perwujudan dari memuliakan istri. Menahan-nahan rasa lapar untuk nantinya pas kentang goreng keluar dari dapur akan aku makan dengan style pendekar kungfu membabat musuhnya. Cepat, tepat sasaran, beruntun, dan penuh tenaga. Tapi….. tapi ya, ini terlepas dari menghargai istri dan macam2 tetek bengek, memang pada kenyataannya kentang goreng buatan istriku itu enak, aku serius dalam hal ini sodara-sodara.

Limabelas menit berlalu…..lagu di handphone nokia sudah kembali ke playlist awal, belum ada tanda-tanda kentang akan tiba, duapuluh menit, kentang tidak juga kelihatan batang hidungnya, tigapuluh menit……… masih tidak ada firasat di hatiku, ada apa ini???

Lalu aku ke dapur sambil mematikan music player di handphoneku, melepaskan earphone di telinga dan berjingkat-jingkat. Mungkin istriku butuh semacam dukungan moriil, bahwa fakta “suaminya menanti dengan sabar dan penuh perhatian akan kentang goreng” mungkin akan bisa membakar semangatnya dan menaikkan speed menggoreng.

Tibalah aku di pintu dapur dan dengan kharismatik aku bertanya penuh retorika “mana kentang gorengnya dek???”

Sambil manyun istriku menjawab “ga jadi aja goreng kentang, tadi mas dipanggil-panggil ga denger, males ad goreng kentang jadinya”.

Tiba-tiba matahari jadi panas menyengat, burung-burung mencicit tidak karuan, tidak harmonis. Lalu aku melirik ke earphone putih di tangan, ahhhh………….. mana bisa suami berwibawa dan memesona ini dengar dek, kan dari tadi telingaku disumpal earphone.

Pagi nan perfect berubah, prakiraan cuaca mengatakan hari ini cerah berawan.

****
Tapi mosi ketidak puasan istriku terhadap suaminya yang secara gegabah dinilai sebagai tidak peka, segera berakhir ternyata, rekan-rekan. Buktinya aku tidak seberapa lapar lagi sekarang. Gagal makan kentang goreng, ternyata terganti dengan sayur kangkung tumis beruap-uap, dan goreng tempe sambal yang renyahnya pas. Garing diluar, lembut didalam, seperti iklan wafer.

Aku memakannya dengan lahap dan menerima menu sarapan itu apa adanya. Persis seperti ucapan orang-orang yang mengatakan “aku mencintaimu apa adanya”, atau “bagiku kamu sudah sempurna”.

Sebenarnya, aku, seingatku belum pernah mengatakan hal itu pada pasanganku. Kita-kita ini, para pria, menurutku haruslah menjaga, agar jangan sampai kata-kata penuh romansa itu menjadi terlalu picis, dengan mengumbarnya kelewat batas.

Mencintai itu –aku agak2 filosofis pagi ini- seperti yang seorang teman pernah katakan, adalah belajar menciptakan kecocokan-kecocokan dengan pasangan kita. Ah….. luar biasa temanku satu itu, katanya, kecocokan itu adalah suatu hal yang kita upayakan untuk ada, selain ditemukan, kecocokan itu adalah diciptakan.

Dan aku rasa ya sodara-sodara, dalam perjalanan panjang mendaki menurun menciptakan kecocokan itu, kita sebagai -taroklah laki-laki penuh integritas- tidak bisa berhenti pada level “aku mencintaimu apa adanya”.

Menerima pasangan kita sebagaimana dia, adalah tangga paling pertama, tapi ratusan anak tangga di depan itu mungkin bernama “belajar jadi lebih baik”. Dan itu benar-benar ada semacam seninya.

Begini ceritanya, jadi suatu kali aku sedang berfikir sangat kontemplatif dan merasa bahwa sebagai seorang suami, maka tugaskulah mengantarkan keluarga ini menuju pencapaian yang lebih baik secara pola pikir, secara mental spiritual. Sambil bengong-bengong aku agak-agak berpidato pada diri sendiri bahwa niatan sungguh mulia ini adalah harus dimulai dari saat ini juga. Maka celingak-celinguklah aku, sang suami bervisi besar ini, apa ya yang bisa dilakukan kira-kira????

Istriku sedang menonton TV dengan khusyuknya, terpampang di layar sebuah acara gossip terkenal. AHAAAAAAA gosip….. ini dia starting poin-nya rekan-rekan. Kita ini, sebagai pria, pastilah tahu bahwa menonton terlalu banyak gosip akan menimbulkan efek negatif pada pola pikir, pada paradigma kehidupan, terlebih lagi tidak baik membincangkan kehidupan rumah tangga selebritis. Maka dengan cekatan dan tanpa basa basi aku rubah channellnya, click…….. iklan…………..click……… sinetron ga jelas……….click……….kriminalitas……………click………….berita.

NAAAAH…. Ini saja, berita, ayoooo rekan-rekan, dukunglah aku dalam membudayakan menonton berita, memupuk kepekaan sosial, membuat kita luas wawasan dan paham eskalasi politik internasional, waspada terhadap kejahatan di sekitar kita dan lain-lain dan lain-lain. Bukan begitu, dek???? Eh….. mana istriku tadi ya??

*ada yang manyun di kamar sambil ngomel dan mengajukan gugatan bahwa sang suami romantis sekarang sudah mirip bapak-bapak karna malam-malam nontonnya berita*

*******
“mencintai apa adanya” ternyata memang anak tangga paling pertama, kawan. Dan dalam hal ini berlaku juga aturan itu untuk pasangan kita, para wanita yang ternyata juga harus sabar menghadapi makhluk bernama laki-laki.

Perjalanan panjang beratus anak tangga kedepan itu mungkin bernama “belajar jadi lebih baik”. Maka aku selalu mencatat juga gugatan kasasi istriku.
satu: para pria jangan malas membantu istri kalau mereka lagi masak di dapur.
Dua: kalau istri anda lagi ngepel, anda sebagai laki-laki jangan sekali-sekali menari-nari dan menginjakkan kaki anda ke ubin basah!!
Tiga: kalau anda, para pria sedang asyik mengutak atik laptop atau handphone, dan istri atau pasangan anda sedang berbicara dengan tema yang meskipun tidak menarik sama sekali, hentikan dulu kerjaan anda dan dengarkan dia berbicara sambil menatapnya. Itulah antara lain tips-tips untuk membuat hari anda menjadi perfect.

Dan urutan mata rantai menerima pasangan kita, lantas membuat mereka jadi lebih baik lagi hari ke harinya, tidak bisa aku bahasakan dengan indah dan rapih, dengan perumpamaan yang lebih cesssss begitu, selain dari meminjam bahasa di sebuah tulisan
”biar kuncupnya mekar jadi bunga”

Tiba-tiba istriku menyela lamunanku sambil melontarkan pertanyaan paling retoris sedunia. Aku masih mengunyah dan istriku berkata “gimana mas, masakannya???”

Anda, anda-anda yang membaca ini dan kebetulan bergender laki-laki, apa yang akan anda lakukan????

“hmmm…. Enak dek, tempe sambelnya maknyus” jawabku dengan jujur dan dari nurani yang terdalam.

“terus…. Kangkungnya????” cecar istriku dengan lihai sekali.

“hmmmmm”…… *ingat suami-suami, ingat, mekarkan kuncupnya jadi bunga!!* maka aku menjawab pelan “hmmm…. Kasih garem dikiiiiiiit lagi dek, ntar maknyus”

Lalu istriku tersenyum ….. tiba-tiba teori-teori yang kubaca di buku psikologi susah diterapkan, senyum model begitu itu apa artinya ya?????

Ah… tapi tetap saja ini perfect morning.

sinusoidal

Posted Desember 15, 2009 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags: ,

Dari tadi sebenarnya sudah waktunya tidur. Biasanya aku melakukan ritual tidur seperti gerak refleks. Waktu yang sama, dengan urut-urutan yang sama berulang-ulang. Sama seperti kau naik motor, kan? Kita lupa kapan kita mencolok kunci ke lobangnya, kapan menjegal standarnya, lalu starter kita pencet dengan jempol kanan, lalu gigi satu masuk, kita jalan dengan lepas stang satu tangan, tangan kanan memutar gas lalu tangan kiri meraba saku celana jeans sebelah kiri jangan-jangan handphone tinggal di laci meja.

Tapi tidak malam ini. Biasanya urutannya sesimpel merebahkan kepala di bantal lalu bangun pagi. Urutan pertama merebahkan kepala di bantal itu pun aku tebak sekenanya saja, saking refleksnya aku tidak hapal juntrungannya bagaimana-bagaimana tapi tiba-tiba sudah pagi, dan aku sudah selesai tidurnya.

Lha bagaimana bisa tidur? kipas angin itu dari tadi berputar-putar dengan suara yang konstan, seperti penggeret yang berbunyi berat tapi sopan, agak-agak mistis. Kacau balau semua jadinya. Ini sudah duabelas malam, waktu yang ampun-ampunan larutnya kalau buatku, sedang kipas itu masih berputar kiri berputar kanan. Aku seperti terhipnotis. Lalu tiba-tiba teringat gerak ritmis kiri kanan kiri kanan itu seperti halnya ritmis naik turun naik turun grafik sinus.

Cuma itulah yang membekas sedikit bergengsi dari pelajaran matematika SMA dulu. Bahwa sinusoidal itu grafik mirip dengan jalan bergelombang.

Sebentar aku bangun dari tidur, dan menuliskan ini di selembar kertas.

Naik:
Aku lulus kuliah cepat, tes kerja di gedung itb, menyisihkan sekitar berapa ratus orang, lalu masuk kerja di tempat yang padahal aku tidak bisa tapi disana dituntut bisa ngomong bisa nulis inggris.

turun:
Rutinitas mulai menampakkan wajah aslinya, seperti dementor di film harry potter yang aku tonton di vcd bajakan. Menyedot kebahagiaan sampai akar-akarnya, dan menyediakan sebentuk pemikiran pesimis yang tolol bahwa kita ini ditimpakan hidup yang jemu, kabur, hitam-putih bagai filem tua.

Naik:
aku bertemu dengan rekan-rekan baru yang luar biasa hebat. Manusia pilih tanding yang menggentarkan sekalian orang dengan tatapan matanya dengan retorikanya. Kredibel. Memesona. Aku terpukau

Turun:
Aku sadar bahwa butuh waktu untuk mengkonversi teman jadi sahabat. Lalu sobat lama yang sekian jumlahnya itu rupanya kini sudah pergi ke tempat-tempat yang jauh. Yang berbeda garis bujur sekian derajat. Susah menggapainya. Sms tak tahu harus bercerita apa, kirim email terlampau banyak yang mau dikata. Jadi sudahlah, biarlah nama tinggal nama.

Naik:
Waktu dulu sebelum SPMB yang lembar jawabannya bulat-bulat dihitamkan pakai pensil itu, ke masjid rajin nian aku. Bersimpuh dengan duduk yang paling sopan, meminta dengan tutur kata yang paling memohon. Sujud dengan nikmat sampai lupa waktu, dan menangisi banyak hal dengan sesenggukan.

Aku menangisi pagi-pagi dingin yang berembun basah di jendela kamar. Menangisi siang sejuk yang anginnya semilir sepoi menggoyang goyang daun pisang seperti gelambir sapi. Menangisi suasana sore yang dibalik gubuk tua diatas sawah hijau sana itu ada matahari bulat berwarna orange kemerahan agak tua. Lalu menagisi pula burung yang Cuma titik-titik hitam saja di awan-awan jauh. Lalu menangisi pula malam hening yang kadang-kadang ada gerimis sedikit, ada jangkrik berderik sedikit. Dunia terlalu indah, dan indah membuat haru.

turun:
Setelah kuliah aku terjun bebas. Melakoni setiap rutinitas transendental sebagai mirip senam kesegaran jasmani saja. Kepalaku penuh dengan kumpulan kata-kata. Agama jadi mirip logika premis-premis saja. Senang rasanya bermain debat, mengaji memenuhi kepala, tapi hatiku tak!

Tapi kadang-kadang pas ditengah-tengah aku sering bingung juga. Ini pertengahan setelah turun atau setelah naik? Karna aku kadang-kadang Cuma siap menikmati sensasi melambung. Turun agak mengerikan buatku

Padahal, naik turun itu berulang saja begitu terus.

Sekarang ini, aku sudah merebahkan lagi kepalaku di bantal. Sambil menimang-nimang, bagaimana biar hidup itu tidak membuat kita stagnan di level yang sama. Harus ada semacam lompatan yang melenting jauh, biar semisal jatuhnya kita tidak segaris yang sama dengan hari-hari kemaren, lebih tinggi sedikit saja tak apa, biar kata naik turun tapi trendnya menanjak.

Alaaaaaaaaaaah…. Ini kata-kata semakin tidak efisien saja. Jangan-jangan memang harus dipaksakan untuk melawan fikiran kita sendiri, malas kita sendiri, takut kita sendiri. Atau sepertinya aku sudah harus tidur sekarang.

Selamat malam, slamat tidur…………………….
…………………………………….
…………………………………….
…………………………………….

Wahai Yang mengheningkan malam ini, kami ini benar-benar memohon padaMu, untuk tolong selamatkan kami Tuhan, dari setiap jenak kehidupan yang menanjak terlampau ramai, jangan sampai kami mabuk dengan gegap gempitanya. Ingatkan kami untuk tidak meratapi nasib di setiap episode menurun yang sunyi mencekam.

Ingatkan kami untuk makan seperlunya saja di setiap waktu menanjak yang berlimpah ruah, lalu sambutlah tangan kami yang sempoyongan seperti pesakitan di setiap turunan yang paceklik.

Kami ingin benar, dengan hati yang naik turun ini, Engkau bermurah untuk mengguyuri kami dengan rasa puas atas segala yang tertulis di hari-hari kami.

Pegang tangan kami Tuhan…di setiap tanjakan ………di setiap turunan ………di setiap yang ramai………di setiap sepi-sepi menusuk ………di setiap cinta bersemi berbunga………di setiap benci menyelubung………di pagi……di siang……di sore……di larut malam hari hidup kami, sampai kami mati nanti.

IBLIS TENGU

Posted November 14, 2009 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags: ,

sesosok iblis bernama tengu muncul dalam mitologi jepang. Bermata merah menakutkan, rambut keemasan, badan tegap tinggi besar dan berhidung panjang.

Ingatan tentang tengu muncul tiba2 siang tadi. Setelah makan kusempatkan membuka email dan membaca surat dari kawan2. Seorang teman menyinggungnya dan jariku jadi gatal untuk menuliskannya kembali.

Meski baru seumuran jagung usia kerjaku di dunia oilfield, bisalah sedikit aku membuat kesimpulan, bahwa rata2 orang indonesia ini terlalu menganggap bule itu manusia superior. Superhuman yg dalam banyak aspek pastilah lebih unggul dibanding kita.

Aku termasuk yang berfikiran sedikit primitif begitu. Jadi jangan dulu berburuk sangka bahwa aku ini menceritakan jelek2nya orang lain, tidak, ini ceritaku sendiri.

Awalnya dari waktu wawancara kerja dulu. Aku diinterview oleh seorang bule dan seorang lagi pribumi asli. Entah kenapa, rasanya jantung ini sedikit berdegup lebih parah saat si bule melontar pertanyaan. Betapapun pewawancara yang pribumi itu lebih menusuk pertanyaannya.

Tentu saja keterbatasan bahasa jadi soal. Bahsa inggrisku masuk dalam kategori dibawah garis kemiskinan, itu memang salah satu faktor, tapi rasa2nya ada yang lebih dari sekedar itu.

Buktinya adalah, secara pelan2, penghalang besar berupa bahasa itu bisa aku atasi. Benarlah kata orang tua2 dulu kalau lancar kaji karna diulang. Sedikit2 aku bisa bercakap lancar dengan mereka, tapi dalam mindsetku susah sekali dihilangkan anggapan bahwa bule itu pastilah lebih pintar dan lebih segala-gala.

Padahal, dalam teori psikologi, bagaimana otak kita berfikir akan mempengaruhi bagaimana kita bersikap.

Setiap berbicara dengan bule maka tidak berani beradu pandang dalam2. Takut2 menjawab, mana tahu sang bule lebih paham. Setiap ada bule maka berlagak konsentrasi dan kerja keras. Dan setambun perilaku tolol lainnya.

Lha…..iblis tengu dimananya?

Setelah diteliti. Dalam mitologi jepang tadi, iblis tengu merupakan penggambaran ketakutan orang2 jepang akan orang2 eropa yang terdampar di perairan mereka waktu dulu.

Bahkan jepang, rekan2. Bangsa yg secara kasar saja kita pukul rata memiliki etos kerja yang jauh diatas kita, kebudayaan yang jauh lebih maju, dan rasanya berlipat-lipat lebih pintar masih juga susah menghilangkan paradigma itu. Bule sama dengan tengu. Iblis besar bermata merah atau biru, hidung panjang menyeramkan. Ketakutan dan inferioritas mereka menjelma mitos.

Itu jepang, apalagi kita. Mungkin ini penyakit bangsa asia yang mewabah. Dan dalam keseharian kita, banyak hal yang tidak perlu kita takuti tapi kita hantu seramkan sendiri dia dalam benak kita.

Paragrafku sebelumnya yang memukul rata bahwa jepang mungkin jauh lebih pintar dibanding kita, juga satu bentuk men-tengu-kan mereka. Jadi mungkin dalam hidup ini kita banyak memunculkan iblis tengu kita sendiri.

Seperti di suatu siang yg panas. Aku sedang duduk di kelas bisnis maskapai penerbangan paling yahud di negri ini. Pulang kerja dari pulau minyak kalimantan, menuju jakarta. Duduk di sampingku seorang bule darah inggris kalau tidak salah. Kami berbincang banyak. Syukurlah, dengan perjuangan mati2an aku bisa sedikit memapas kekerdilan jiwaku dulu, dan dengan lebih ringan sekarang bisa menganggap setiap yang kujumpai itu sama. Menilai mereka semanusianya manusia. Persetan warna kulit atau pupil mata.

Lama kami ngobrol ngalor ngidul. Dia orang yang baik. Friendly. Banyak bercerita. Sampai tiba saatnya makan siang sang pramugari menawarkan dua pilihan menu. Nasi dan daging ayam lalu kentang dan sapi.

Dari depan semua ditawarkan untuk memilih. Ada yg memilih nasi dan ayam, ada yang kentang dan sapi. Terserah.

Sampai di bangku terakhir, tempat kami berdua itu, malangnya hanya tinggal dua porsi menu makan siang. Siapapun yang memilih, maka yang kemudian tidak akan lagi punya pilihan.

Dengan ramah pramugrari tersenyum kepada bule tadi dan dengan baik menawarkan “which one do u prefer sir? Beef or chicken?”

Sang bule menjawab “beef”.
Maka diletakkanlah nampan beef di meja bule tadi.

Lalu dengan agak kurang beretika menurutku, sambil lalu sang pramugari mengatakan kepadaku “bapak yang ini aja ya” sambil meletakkan plate nasi ayam di mejaku.

Bule tadi tahu ada yg salah, dia merasa tak enak hati. Dengan rendah hati dia menawarkan padaku “if u want beef, it’s ok rio, u can take mine”.

Aku menggeleng, “no thanks” kujawab. Sebenarnya aku omnivora. Cobalah cek di buku biologi, manusia itu omnivora, aku tidak pula terlalu soal lauk ayam atau sapi. Tapi berasa ada yg menggelitik batinku.

Mungkin……bagi pramugari maskapai penerbangan terbesar di negri ini tadi, bule ini adalah sesosok tengu, manusia superior yang pastilah dalam segala-gala lebih daripada kita.
Entah kenapa aku tiba2 kasihan padanya.

Lalu aku meneruskan makan saja. Sambil dalam hati berjanji. Suatu nanti kutulis ini. Sambil mengajak siapa saja untuk menganggap manusia sebagai manusia. Untuk berdoa dan berlindung dari jiwa kerdil kita sendiri. Mana tahu dalam hidup ini banyak hal yang biasa, tapi kita hantuseramkan sendiri.

Ada iblis tengu-kah di sekitarmu? Ah…..itu khayalanmu saja.

jam jam JAAAAM

Posted November 14, 2009 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags:

jamJam tanganku merknya abal-abal. Kalau tidak salah sudah kupakai sekitar 1 tahun. Sekarang sudah kotor tak karuan, talinya hampir putus tapi masih nyantol sedikit. Prinsipku adalah, semakin lama suatu barang dipakai, semakin enak dibadan.

Ini, jam tangan ini, rasanya sudah seperti ada ikatan batinnya denganku, jadi meskipun jam ini sekarang kalau aku pencet tombol lampunya nanti jam ini tiba2 error dan reset waktunya jadi 00:00, aku tetap setia dengan jam ini. Sudah enak di tangan.

Harga jam ini? Pasti kalian bertanya begitu. Kurang dari seratus ribu rupiah sahaja. Murah meriah. Padahal bagi sekalian orang2, mungkin jam segitu harganya terlampau murah untuk sebuah jam yang dipakai gaya2-an.

Duluuuu sekali, waktu aku sedang asyik2-nya bekerja di rig pemboran di laut sana, waktu di galley(kantin)-nya, kami tiba2 ngobrol ngalor ngidul dan entah bagaimana menyinggung-nyinggung jam.

Jam itu, kata temanku, yang pantas dipakai mejeng adalah paling tidak yang harganya limaratus ribu, dengan merk semisal G-SHOCK yang aseli. Lalu mereka mengadakan semacam uji komparasi antar jam. Jam seharga limaratusan ribu itu, menurut teori rekan2 adalah jam yg apabila anda celupkan kedalam air, atau semisal terkena hujan, atau semisal lagi terkena ac ruangan, tidak akan muncul embun di bagian kacanya. Tentulah rekan2 yg familiar dgn jam akan tahu, bahwa meskipun jam itu dikata orang “water proof” tapi tetap saja kadang2 kalau kena hujan kaca dalamnya berembun. Itu keunggulan pertama dari jam limaratus ribuan. Keunggulan kedua adalah jam limaratus ribuan memiliki banyak fitur: fitur stopwatch, fitur alarm anti alien, fitur penghitung kalori yang terbakar kalau kita jogging, fitur gps, fitur anti maling dan macam2 lagi.

Aku terbengong pucat. Lalu pelan2 menarik tangan kiriku dari piring makan dan kusembunyikan dibawah meja, lalu aku makan saja dengan sendok tanpa garpu. Lalu lagi ada yg bertanya “jam berapa ya, sekarang?” aku diam. Pssssttt……tak usah bilang2 kalau aku punya jam tangan!

Sekarang ini, kawan2 yg baik, yg sedang aku lakukan adalah memlototi jam tanganku yg tua ini, dan mengira2, tahu tidak ya orang2 bahwa jam tangan ini adalah jam emperan? Kasihan benar jam ini, aku jadi iba. Waktu aku beli, jam ini dulu tidak ada kotaknya. Beli, langsung pakai. Amat praktis dan efisien sekali. Sudah pula aku ikut mengurangi limbah plastik dengan membeli jam tanpa kotak, superrrr sekali.

Kembali ke masalah jam tadi, aku pikir tidak ada yang salah dengan kinerja jam kurang dari sratus ribu, bahkan jam puluhan ribu. Karna dr segi fungsi, yg aku butuhkan cuma penunjuk waktu sekarang jam berapa, dan skali2 stopwatch. Kalau alarm aku pikir tidak perlu lah ya, aku agak susah bangun dgn alarm kecil dari jam tangan.

Berfungsi baik2 saja, tidak banyak menuntut dan enak dipakai, itulah jam abal2 punyaku. Tentu saja jika kalian beli di emperan tidak dapat kotaknya.

Begitulah semua dulu berjalan teramat bersahaja sampai pada waktu hampir setiap kali makan di galley rekan2 satu pekerjaanku selalu sibuk membincangkan jam jam jam JAAAAAAAM.

Maka aku mulai terdistorsi. Kegunaan jam sebagai penunjuk waktu sudah agak bias di benakku. Kadang2 aku menyembunyikan jam tangan setiapkali makan di kantin, khawatir ketahuan kalau diperhatikan rekan2. Astagaaaaa, bukan jam G-SHOCK (di benakku tentu saja).

Dan itulah bodohnya aku, padahal peduli apa mereka dengan jam kita??

Tapi itu masih mendingan. Kalau diingat dulu waktu kecil, aku setengah mati mengidamkan jam tangan digital, dan ibuku membelikan sebuah jam tangan digital yang sangat bagus. Ada lampunya, penunjuk waktu (pastinya), ada stopwatch, alarm, kalender, pilihan bunyi alarm-nya ada 4 tipe, bukan main…….. Tapi setiba di sekolah aku harus menahan malu dan menyembunyikan jam di saku celana, pasalnya setiap bertemu orang mereka dengan kurang ajar berkata “wah….hadiah beli klise film ya rio?”.

Ibuku tidak peka merk, dan jam tanganku pas sd dulu merknya “fujifilm” kata ibu itu merk terkenal. Alamaaaaak.

Ah……….
Sampai sekarang aku tidak pernah punya jam tangan mahal. Dan sampai sekarang baru aku sadar, tololnya aku ini, padahal kan setiap kali orang tanya aku bisa jawab sekarang jam berapa, setiap lari pas olahraga di sekolah aku bisa pakai stopwatch, semua sudah terpenuhi. Dan jam itu sudah berjasa ratusan kali, ribuan mungkin. Ndak terhitung brapa kali kulirik-lirik jam itu, sampai jam itu putus talinya, sampai batrenya soak. Tapi toh aku tidak juga bahagia.

Mungkin, nanti aku akan bahagia kalau sudah punya jam tangan empatpuluh juta rupiah dibayar tunai. Jam tangan itu nanti haruslah pula penuh dgn fitur yg tak bisa aku rinci satu2 disini. Dan haruslah nanti kalau kupakai -dgn suatu cara entah bagaimana- merknya slalu kelihatan. Taruhlah G-SHOCK LIMITED EDITION. Lalu nanti haruslah pula orang2 yg melihatnya itu punya sedikit pengetahuan mengenai dunia perjaman, hingga paham mereka itu bahwa tanganku sekarang sedang dalam kondisi paling fit karna dibalut “yang dipertuan agung JAM”. Akan lebih bagus lagi bila setiap kupakai itu jam aku bertemu dengan penggila jam swiss, nanti mereka geleng2 kepala.

Tapi sekarang cukuplah dulu jam tangan biasa ini, mumpung batrenya masih nyala, talinya masih kuat juga.

Eh…ngomong2 jam brapa sekarang?

membaca bintang

Posted November 13, 2009 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags: ,

rig
Sekitar satu jam perjalanan dari jakarta. Pesawat memang terbang dengan kecepatan mengagumkan. Sebentar saja aku sudah tiba di bandara sultan mahmud badaruddin dua. Bandara palembang. Dari sini nanti delapan jam lagi perjalanan harus dinikmati. Mengikuti kelok-kelok jalanan yang sudah seperti meander saja. Terguncang-guncang di kerikil berdebu. Berhenti sebentar di pinggir jalan tempat banyak pedagang duren yang murah2, lalu kembali melanjutkan perjalanan setelah perut kekenyangan.

Aku hampir muntah setelah sampai batasnya. Tubuhku ternyata kuat menahan guncangan sekitar tujuh jam saja. Setelah tujuh jam yang mendebarkan maka sedikit saja tremor akan memicu isi perutku melonjak keluar.

Sudah dua tahun lebih berapa bulan aku bekerja disini. Dunia pemboran minyak. Pekerjaan dengan pola yang tidak umum, mengingat kita harus -tanpa banyak tawar- meloncat-loncat mengikuti sebaran hidrokarbon. Yang namanya minyak bumi itu semau-maunya dia saja. Hampir tidak pernah ada pemboran di tengah kota atau dekat mall, selalu saja di tengah gurun, di tengah laut, atau di belantara lebat terasing. Dan aku sekarang menuju kesana…..perjalanan masih panjang, dan aku terduduk mengenaskan di bangku belakang.

Meskipun kepala terasa benar2 berdenyut, dan mata sudah kunang2 gelap kalau dipaksakan melihat, tapi aku tetap menyempatkan diri untuk menulis sebaris cerita buatmu. Itulah sahabat sejati, ya begini ini. Kalau bukan kubagikan kepada kalian, kan kepada siapa lagi? Jadi aku sambil berbaring-baring saja tak apalah, ya? Yang penting pelan2 tetap aku ceritakan.

***

Mulanya memang pada saat awal2 kuliah dulu itu. Kita semua hidup dengan tujuan2, kan? Entah itu panjang kedepan, atau berapa depa saja, tapi tetap ada kita punya tujuan. Sebelum lulus kuliah itu, tujuanku cuma dua. Yang pertama adalah lulus segera, yang kedua adalah kerja segera.

Aku sekarang sudah lulus kuliah, rupanya. Seperti sebuah mu’jizat. Bagiku banyak hal dlm hidup ini, hal2 yang berhasil aku lalui itu, sebenarnya kemurahan Tuhan saja. Seperti bisa-bisanya aku masuk universitas negri wakstu SPMB dulu, atau semisal bisa juga ternyata aku lulus cepat dgn penelitian yang porak poranda dan pembimbing yang brutal?? Sudah pasti bukan kepandaianku memang, tapi itulah seni takdir, Tuhan memutuskan apa saja yang Dia ingin putuskan, yang jelas singkat kata aku lulus.

Setelah lulus, ini seperti mu’jizat lagi. aku langsung diterima bekerja. Nantilah dulu kita debatkan mengenai apakah sebaiknya membangun usaha sendiri ataukah kerja dan menjadi anak buah orang lain? Yang jelas aku berhasil mencapai tujuanku tadi. Yang aku ceritakan ke kalian2 di atas tadi. Benarlah sudah: aku lulus, aku bekerja.

Sampai disini aku mengalami semacam perasaan gembira yang akut, muncul tiba2 dan dengan dosis yg tak bisa ditoleransi. Aku mengalami semacam euphoria, rekan-rekan yang budiman.

Dari situlah aku mulai hidup dalam ritme pekerjaan yang tidak umum ini. Pekerjaan terjadwal empat belas hari kerja dan empat belas hari libur. Pergi ke banyak tempat. Terapung di tengah laut, di pinggir delta, di tengah hutan dan menyeberang benua.

Tapi seperti kebanyakan manusia yang gamang, aku menjadi hilang arah. Entah apa tujuanku waktu itu. Rutinitas yang aku tidak tahu gerbang destinasinya dimana.

Bagiku waktu itu, kerja adalah semacam barter, menukar sekitar seliter dua liter keringat kita dengan sejumlah uang yang nanti tertulis di saldo tabungan mandiri. Sudah, sebatas itu saja, tidak ada itu semisal makna luhur dibalik banting tulangnya aku itu.

Kerja gajian kerja gajian kerja gajian. Sudah. Hidupku terlalu pragmatis. Perputaran logikanya sebatas perut saja.

Aku muak. Suntuk aku dengan rutinitas yang terlalu klise. Samaaaaaa persis setiap harinya, minggunya, bulannya. Lalu kuputuskan aku harus pulang. Pulang dulu ke kampung halaman barang satu dua minggu untuk mereset lagi otak dan batin, bahwa selain kerja dan menghitung hari, masih banyak lagi hal-hal lain yang bernilai dalam hidup ini.

Dan di suatu malam hening yang biasa. Aku, bapakku, dan ibuku duduk di teras luar rumah. Hari hujan setengah2. Lalu ada bunyi entah jangkrik entah kodok. Aku rindu suasana seperti begitu, waktu2 dimana kita merasakan begitu banyak karunia tumpah ruah. Ada teh hangat di meja kecil samping bangku tempatku duduk. Ada laron terbang memutar pelan di atas pelapon yang ada lampu neon sebelas watt-nya itu. Ada jaket yang kutarik ujung2nya karna resluitingnya sudah tidak lagi fungsi. Semua tiba2 menjadi indah, dan sebentar kemudian Bapak memecah keheningan dengan melontar “kamu kapan mau menikah, mas??”

Blaaaaarrr……. Kilat menyambar di kejauhan, lalu sekitar berapa detik kemudian baru bunyinya sampai. Begitulah juga aku. Sibuk berkelana kemana-mana fikiranku, lalu bibir bapak terlihat seperti gerak lambat. “ngomong apa ya bapak tadi?” fikirku…….dan masih juga semua terputar lambat sampai jeda berapa detik hingga otak sederhanaku ini akhirnya bisa memprosesnya.

Luar biasa. Begitulah orangtua. Bisa menilai tanpa perlu banyak kata. Mungkin seperti yang orang bijak fatwakan “wahai para orang tua, jika anak kalian jatuh cinta, maka nikahkanlah!! Atau mereka akan jadi penyair”. Dan bapakku mungkin saja menangkap gelagat itu. Waktu2 semua obrolanku jadi terasa lebih filosofis, atau setiap patah kata yang jumpalitan dari mulutku tiba2 terasa seperti syair pujangga melayu. Ini alamat yang sudah terlalu nyata.

Ini, coba kalian lihat jari tanganku, kuku jariku ini, sepuluh-sepuluhnya masih berwarna orange aneh. Inai…pacar…kalian tahu kan itu? Begitulah pengantin baru di sumatra sana diperlakukan, dibubuhi tanda di kuku jarinya, mungkin biar setiap kali kau mengetik di laptopmu maka inspirasi yang akan muncul adalah seputar dirimu dan pernikahanmu karna warna orange menari-nari terus diatas tuts keyboard.

Aaah…..itulah ya, ternyata baru sadar bahwa aku sudah berusia, tubuh kita menua dengan cepat, tapi kedewasaanku seperti tumbuh dengan lamban. Setelah sempat seperti kapal yang berlayar tanpa panduan arah, sekarang mungkin sudah saatnya aku membaca lagi bintang2.

Aku jadi ingin tergelak sendiri, padahal dulu semenjak baru saja aku tamat SMA dan memutuskan untuk bimbel di jogja, akulah yang paling getol dengan visi menikah. Kuambil sebuah kotak kardus kecil, dan kuberi label “sumbangan amal untuk pernikahan” kubolongi bagian atasnya dan komplitlah sudah kotak itu menjadi semacam tabungan. Rekan satu kontrakan semua tergelak berguling-guling.

Masa2 yg luar biasa. Setiap hari aku dan rekan2 menyusuri selokan mataram yang membelah jogja. Duduk2 di pematang sawah yang hijaunya masih hijau muda. Lebih memilih berjalan dibawah terik sengat mentari jogja siang2 ketimbang naik bus, demi menghemat receh dan mencemplungkannya kedalam kotak yang tadi kubuat. Setiap hari belajar sampai larut malam nian.

Letih….tapi tak pernah rasanya aku seriang itu. Rencana2 memacu hidupku berderap cepat dan energik. Lulus SPMB, dan menikah sambil kuliah, itulah target yang kutulis besar2 di buku agenda.

Meskipun pada akhirnya gagal aku masuk universitas tertua di indonesia itu, kampus terbesar di jogja itu, tapi Tuhan kirimkan aku belajar di tempat yang lain lagi. Cerita yang lain lagi. Dan tentu saja tidak mungkin aku menikah sambil kuliah, karna satu dan lain hal, maka takdir sekali lagi berjalan dengan seni yang paling rapih. Tak bisa ditiru dalam rencana-rencana kita ini.

***

Kita harus punya tujuan kan, kawan? Entah itu untuk berapa masa kedepan sana, atau tujuan yang dekat2 saja. Tapi aku sempatlah juga berasa seperti orang yang telat kuliah, aku termasuk yang gelagapan lalu kasak-kusuk tanya bangku kiri kanan.

Masih banyak yang harus aku pelajari dan catat. Entah bagian yang mana baiknya aku potong2 dan ceritakan ke kalian. Tapi sebentar lagi aku sepertinya sampai di lokasi pemboran. Warna hijau pohon2 akasia dari tadi sudah seperti receptionist hotel. Berbaris rapi dan tersenyum sangat formil. Pasti sudah sampai, firasatku mengatakan begitu.

Mobil ranger memutar di jalan berdebu yang barusaja digiling-giling buldozer. Aku turun sempoyongan memanggul tas ransel besar. Biasanya yang akan aku lakukan adalah langsung menuju kamar dan membulati kalender. Ini hari pertama, masih berapa hari lagi aku disini. Tapi bagiku sekarang ini seperti mu’jizat. Kerja bagiku kini agak lebih dari sekedar barter keringat. Aku senang dengan sensasi waktu merasa begitu banyak karunia jatuh berkeping-keping dari langit. Lalu aku tertawa pelan karna sukses juga aku menahan muntah dari tadi. Lalu kutarik nafas menikmati hawa segar udara hutan dan asap mesin diesel yang bercampur. Lalu melihat orang mengangkat pipa2 besi, melihat mesin2 besar bergemuruh dan jalan berguncang-guncang, menara pemboran tinggi menjulang menutupi bulan sabit yang redup dibalik awan yang diseret-seret angin. Aku tersenyum dengan lengkungan paling simetris, karna aku tahu sekarang sudah ada yang menungguku dirumah kontrakan kecil jakarta timur sana. Bekerja sekarang sudah sedikit punya arti.

Begitulah seni takdir, Tuhan memutuskan apa saja yang Dia ingin putuskan.

Sudah dulu ya, kupanggul dulu tas besar ini ke kamar. Kepalaku masih sedikit pusing, maka tolong maafkan ceritaku yang berputar-putar.

Simpang

Posted November 3, 2009 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags: ,

persimpangan

 

Di persimpangan. Tiba-tiba aku terbangun. Begitulah keberuntungan bekerja. Datang dengan cara tak diduga, tiba diwaktu tak diduga.

Aku tertidur, tadi itu. Baru saja aku pulang dari bandara. Mengantar istriku ke kampung halaman mengurus satu dua hal. Bus damri yang ber AC itu dengan pandai menyanyikan sebuah serenade pengantar tidur. Aku luluh dengan rayuannya dan terbaring pulas sampai perempatan tadi.

Tersentak Aku bangun. Baru tadi itu aku mengalami berapa macam sensasi berurutan: bangun tidur, kaget, berdiri panik, lalu lari sekencang-kencangnya.

Dan sore yang hiruk pikuk itu memainkan peranannya dengan sangat baik. Belum lagi aku tiba dirumah tapi rasanya sudah ada yang kosong.

Kalian salah, jika mengira kutulis ini setiba aku di rumah dan menyalakan laptop di ruang tamu. Tidak. Kutulis ini dalam benakku sepanjang menyusur jalan pinang ranti tadi.

Motor-motor berjalan pelan. Azan maghrib merambat di udara. Dan langkahku cepat-cepat patah-patah, seperti modus stakato nyanyian mars pejuang-pejuang itu. Dengan situasi macam itu, tak bisalah aku melawan niatan menulis yang mendesak-desak.

Lalu kuturuti saja. Tiba-tiba aku serasa ingin mengajakmu menghitung-hitung. Berapa banyak persimpangan sudah kita lewati dari mula kita lahir dulu? Setiap fase hidup memberikan persimpangannya sendiri-sendiri.

Kita besar dan meninggi dengan beringas. Terus meronta-ronta melawan petuah Bapak Ibu kita. Kita melanglang ke tempat-tempat yang jauh. Lalu berlabuh di rumah kecil yang seorang perempuan kita pasrahkan memegang kunci pintunya. Lalu untuk berapa fase kemudian kita menunggu lahirnya bayi mungil, lalu kita pula yang giliran berperan jadi Bapak-bapak penuh nasehat atau ibu-ibu cerewet nantinya. Lalu kita menunggu ajal saja sesudahnya.

Setiap persimpangan, buatku selalu menyodorkan tantangan. Seperti menjawab essay fisika. Membahasakan essay untuk menjadi enak dibaca saja sudah setengah mati. Apatah lagi membumikan fisika??? Aku selalu menjadi pembelajar yang telat. Kadang-kadang juga pembelajar yang kalut. Takut aku kadang-kadang untuk berada di simpang.

Padahal bumi berputar itu niscaya. Daun hijau merangas menua lalu mati itu niscaya. Anak-anak tumbuh besar dan beranak pinak juga niscaya. Mau lari kemana???

Betapapun gentarnya kita menghadapi setiap fase hidup toh pilihan kita ya hadapi saja atau sirna ditelan sejarah.

Cobalah, sebagai misal. Seperti sukarno dengan retorika halilintar itu apa tidak pernah dia itu mengalami semacam nervous? Semacam gemeletar kakinya, atau sedikit berdiri bulu kuduknya kapan dia mau berbicara? Atau chriss john sang legenda itu apa tidak pernah dia berasa mau mati saja kapan menatap musuh beringas macam babi hutan di pojok ring sebelah sana???

Kurasa, mungkin ya, orang-orang besar itu pernah juga gemetaran kakinya, atau jedat-jedut jantungnya. Atau berkeringat dingin sebulir-bulir jagung. Tapi dibalik pucat pasi mereka, atau ciut nyalinya itu, mereka selalu saja bisa tampil natural. Terlihat tenang dan selalu tajam. Mereka bisa jadi takut memang, bisa jadi gemetaran memang, tapi mereka tidak pernah lari.

Dan orang-orang biasa macam kita-kita ini yang setiap hari merutuk nasib atau meratapi ketololan kita sendiri, untuk takut menghadapi masa depan, untuk mengkhawatiri kerja dan penghasilan, untuk skripsi yang bertumpuk-tumpuk, untuk ini untuk itu untuk apapun saja.

Dan tiba-tiba aku sudah di pengkolan jalan, gang kecil ke rumahku ada di sebelah kanannya. Aku menyeberang setengah berlari menghindari motor bebek berlampu redup dan mobil kijang hitam metalik. Lalu mengambil handphone dari saku celana dan mengetikkan sms buat istriku, sepertinya sebentar lagi dia sampai.

Untuknya, rasanya berani aku menyusur persimpangan mana saja.

Dini hari tepat di jam tiga

Posted Oktober 30, 2009 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags: , ,

jam tiga

Tepat jam tiga pagi aku terbangun. Udara di sini memang keras. Panas menelusup sampai ke balik pintu, ke bawah karpet, sela-sela lemari dan sudut-sudut ruang kecil ini.

Aku beranjak duduk. Dengan pelan aku mendongak kesamping kiri kanan, ruang sempit putih ini penuh dengan barang-barang. Kardus-kardus berjejal abstrak. Motor dibalik pintu. Tas besar hitam di sudut sebelah kanan belakangku. Sajadah hijau tergolek saja di atas tumpukan plastik. Memang kami baru saja pindah.

Mataku masih memicing sebelah. Inilah yang umum benar dialami kita, setiap bangun tidur harus dikrenyitkan sebentar kening kita lalu mengingat-ingat, kapan mulanya kita berbaring disini? dan mengumpulkan sebentar memori yang lepas-lepas. Lalu kulihat tertidur pulas di sampingku seorang perempuan. Keringat di dahinya berjejer rapih, sebentar lagi menunggu momen untuk berlomba mengalir dan menghampiri karpet orange alas tidurnya dengan tidak bersuara. Kuseka keringat yang membulir di keningnya, lalu sebentar menarik nafas dalam dan menggendongnya melintasi banyak celah-celah serakan barang. “tidurlah di kamar tidur dek, bukan di ruang tamu”.

****

Ternyata aku sudah menikah sekarang. Sudah kuceritakankah padamu tentang hal itu?

Jadi…………… aku mohon maaf yang dalam, untuk kadang-kadang melewatkan satu dua cerita. Sungguh bukan maksud hati ini untuk tidak jujur, bukan pula lancang menganggap kalian-kalian ini tidak cukup dekat di hatiku sampai aku rahasiakan potongan hidupku sebagian dan aku ceritakan saja sebagian lainnya. Tidak.

Cobalah hitung-hitung, baru belasan hari aku berganti status. Apa yang bisa aku ceritakan dari hari yang belum genap menjadi bulan?

Itulah mengapa kadang-kadang aku ingin benar duduk selonjoran saja di pinggir pantai, sambil berbincang-bincang dengan kalian. Lalu mereka-reka kata-kata apa yang cocok jadi pembuka? dari potongan episode yang mana baiknya aku tuturkan? dan dengan intonasi bagaimana baiknya aku mulai menembangkan ceritra itu? Sementara nanti mungkin kalian akan sibuk menikmati angin yang memutar-mutar dedaun jarum pohon-pohon pinus, atau masih sibuk melihat nelayan yang menarik jaring lalu melemparnya lagi, aku bisa tenang sedikit. Karna agak lama aku dalam merangkai kata, untunglah kalian tidak sibuk memburu-buru aku sepertinya.

Begini rupanya menjadi ksatria, rekan-rekan. Menahan haru biru yang menggeletar di dada agar tidak muncrat jadi air mata, waktu orang tua yang kini Bapakku dan Bapaknya, Ibuku dan Ibunya berpesan “baik-baiklah kalian disana”. Mengangkat sebuntelan besar tas penuh barang-barang lalu malam-malam kami menunggu bus di depan bandara, “naiklah duluan dek” kataku sambil menjejalkan timbunan tas ke bagasi, rasanya bukan main.

Begini rupanya menjadi ksatria. Menikmati ekstase kebanggaan menitipkan sejumlah rupiah untuk bekal makan satu bulan kepada istri. Memboncengnya panas-panas siang hari, lalu mengemudi hilir mudik masuk ke gang-gang kecil, bertanya sana sini, lalu sebentar berhenti di depan tulisan “ada kontrakan”, lalu bertanya sambil menoleh sedikit ke belakang “yang ini suka ga dek?”

Begini rupanya menjadi ksatria. Memotong kabel rol listrik limabelas meter, lalu menyambungnya dengan lampu neon dan menggantungnya di atas pelapon kamar mandi yang lampunya dari tadi siang itu malas menyala. Terus aku tersenyum dengan ekspresi paling salah tingkah, bisa juga aku jadi tukang listrik?

Beginilah menjadi ksatria, menggosok lantai kamar mandi dengan sikat yang meleot-leot. Wah… harusnya tadi pagi kita beli sikat WC yang mahalan sedikit tak apa, aku membatin sambil tetap menggosok lantai, menuangkan sesekali pembersih porselen cair wangi itu, sambil dengan cekatan tak karuan menghajar kecoa yang lewat lalu lalang.

Begini rupanya menjadi ksatria. Waktu peluh berjejal-jejal keluar dan lengket di kaos oblong coklatku itu, aku melihatnya mencuci piring-piring. Melihatnya memotong kacang panjang. Melihatnya menyilangkan tangan di depan mukanya waktu minyak goreng meletup-letup di kuali. Melihatnya bolak-balik mengepel dapur belakang, kamar tidur, ruang tamu, lalu teras. Melihatnya menyetrika kemeja hitam lengan panjang punyaku. Lalu melihatnya tertidur berkeringat di ruang tamu sempit disesaki dispenser, rice cooker, tas besar hitam, tas besar coklat, dan kipas angin miyako.

Begini rupanya menjadi ksatria, waktu aku terbangun dini hari tepat di jam tiga, lalu sebentar menarik nafas dalam dan menggendongnya melintasi banyak celah-celah serakan barang. “tidurlah di kamar tidur dek, bukan di ruang tamu”.

Lancang…

Posted September 7, 2009 by debuterbang
Categories: sketsa

Tags:
lancang
Seperti pencuri saja.
Malam-malam kuketikkan ini. Menuliskan sebuah cerita tanpa izin, mungkin adalah sebuah kelancangan. Degap-degup jantungku memompa darah dan adrenalin, biar kiranya jemariku ini bisa bertingkah lebih cepat dari biasanya.
Sebelum lintasan memori yang selalu cuma sebentar nian mampir itu, lenyap. Sebelum malam yang ber-angin pelan ini ikut menyapu niatanku yang setengah ini sampai ludes.

Manusia tercipta dengan tabiat yang gampang sekali lupa. Mungkin itu juga kiranya kenapa Tuhan mengajar kita dengan Kalam, dengan “Pena”. Cerita-cerita kalau tak dituliskan dan dibagikan akan hilang dan mati. Begitu juga ingatanku nanti mungkin membusuk dan ikut dikerubun belatung. Kau belum sempat baca. Tidak pula kawan yang lain sempat tahu. Sedangkan nama yang luarbiasa itu belum sempat diceritakan, dan mungkin nanti hilang ditelan sejarah. Akankah aku yang kalian salahkan???

Baiklah…….
Sudah sekitar enam tahun, sahabatku itu aku kenal. Perkenalan yang biasa dan klise di kampus Padjadjaran. Aku tidak ingat bagaimana mulanya kami kenal. Tapi pastilah tidak dramatis. Sesuatu yang cukup biasa, sampai otak-ku yang masih banyak lowongnya ini tidak menyimpannya. Memori hanya muncul sekilas-sekilas. Rumahnya dulu cukup kecil seingatku, di pinggir jalan tanah yang rumput jalan dan ilalang menyeruak kemana-mana. Ada lapangan bola di seberang sananya, dan titian jalan-jalan setapak menyusur sawah setengah jadi di pinggir-pinggir perumahan yang masih lengang. Setengah pedesaan…… Alami……… Sepi…….. Dan berembun basah……… ya, memang waktu itu musim penghujan, aku ingat betul itu.

Dari sanalah, kalau kau paksa aku runut-runut, ingatan yang cukup baik buatku memulai melintas kebelakang. Ingatan setelah itu adalah rumah itu sudah kuanggap rumah sendiri.

***
Setiap kali kuliah usai, dan aku yang sama sekali bukan aktivis kampus ini tidak punya kegiatan, maka seingatku aku akan bertandang kerumahnya. Menaiki angkot berjejal sambil berceloteh tentang masa ospek yang baru kami lalui, atau mungkin diam saja sampai kalau tidak aku mungkin dia yang akan tiba-tiba berujar tadi siang ada seorang gadis manis yang kita lihat di pinggir jalan kampus.

Dari depan gang kami masih harus berjalan sekitar 15 menit. Ini bagian yang aku paling senang. Sawah-sawah yang masih hijau di pepinggiran jalan itu seperti selintas menyadarkan aku bahwa masih banyak keindahan di sini, selain kejenuhan dan rasa penat yang seperti bercokol di punggung. Aku menyukai suasana itu, dan dia adalah orang yang pertama kali mengajakku untuk melewati jalan sawah itu. Disitulah aku mulai membatin bahwa beliau ini akan menjadi teman baikku. Aku susah berteman memang, tapi bersahabat seumur hidup.

Anak itu melankolis sejati. Dan sedikit-sedikit aku memahami jalan dia berfikir. Banyak yang sama dalam keseharian kami. Keluarga yang ekonomi seadanya. Kami marjinal. Bukan orang yang berperan krusial di konstelasi kampus. Menyukai seni. Merasa diri kami sebagai pria kharismatik yang romantis, dan dalam banyak kesempatan “mana-mana gadis yang dia anggap manis pastilah menurutku lumayan juga”.

Hampir setiap hari aku bertandang kesana. Menghabiskan masakan yang dimasak kakak perempuannya, lalu berbasa-basi seperti mau mencucikan piring. Nantinya anak itu juga tahu semacam basa-basi melarang aku mencuci. Lantas piring kotor kutumpuk saja dibelakang sambil berkomentar betapa enak masakan teteh-nya.

Dari sana aku tahu dia orang yang baik. Entah sudah berapa kali dia merogoh koceknya untuk membeli kerupuk putih atau sekedar membeli gorengan atau mie sebagai teman makan kami. Sudah setengah mati kukatakan padanya bahwa aku sudah lulus pelatihan sengsara di rumahku sebrang sana, masihlah dia tak percaya bahwa aku bisa survive hanya dengan makan nasi saja. Maka setiap kali niatan bertandang itu mengakibatkan uang sakunya keluar menjadi lauk pauk buatku, aku merasa bersalah. Tapi tiap hari pula kuulangi lagi dan aku bertandang lagi.

Dia menjadi sahabat yang aku percaya untuk setiap rahasia-rahasia. Dan aku juga mulai tahu kisah keluarganya. Kesulitan ekonominya. Gadis manis yang dia taksir. Tipu muslihatnya menarik si cantik jelita itu. Dan macam-macam lagi.

Kami sudah seperti anak kembar saja. Bedanya aku lebih tinggi sedikit darinya. Dia menjadi seperti rival. Orang yang aku iri dengan kepandaiannya menggubah lagu. Aku belajar banyak tentang bagaimana menjadi sahabat yang mendengarkan dengan baik. Bagaimana hidup dengan bersahaja. Dari keluarganya aku belajar bagaimana potret keluarga yang sederhana tapi penuh canda.

Kami pergi ketempat-tempat yang jauh. Menyelesaikan tugas kampus untuk penelitian di Banten. Menyusur hutan. Kami menuruni jurang-jurang curam. Kami tersesat di hutan lebat yang men-tak berkutik-kan GPS kami. Kami sok-sok pandai bertutur sunda halus dengan penduduk kampung. Kami naik turun bus, naik turun ojek. Mandi di sungai deras. Buang air ala penduduk yang tidak punya jamban. Tak terlupakan.

Sampai waktu empat tahun seperti tidak terasa dan berhenti. Entah bagaimana mulanya aku tidak mengerti. Aku sudah lulus. Sedang beliau belum. Ekonomi keluarga yang merapuh kian hari, dan banyak problem -yang sebagai teman aku malu untuk tidak tahu-.

Tapi nyatanya aku sudah menyandang toga, menghadiri wisuda yang riuh dan tatapan bangga orang tua. Sedang sahabatku itu tidak hadir dalam wisudaku.

Sejak saat aku diwisuda itu dia pergi ke pedalaman kalimantan. Mengerjakan sebuah proyek eksplorasi batubara. Ditinggalkannya tugas kuliah dan skripsi yang menunggu itu, demi membantu ekonomi keluarganya. Sendiri. Terasing. Berbulan-bulan. Samar tapi terasa, aku menyadari seperti ada yang salah dengan start yang kumulai lebih dulu ini. Aku telah diterima bekerja.

Hari-hari berikutnya kuhabiskan dengan menjalani lelakon baru. Berkemeja rapih bergaris dan memakai badge. Aku masuk di sebuah kantor perusahaan besar. Menghadiri meeting dengan para bule. Menikmati training berbulan-bulan di hotel megah berbintang. Tidur di kasur empuk bukan main. Tidak pernah lagi aku merasakan mencuci dan menyetrika. Makan empat sehat lima sempurna sampai berat badanku naik tak karuan. Tiap sore berenang di kolam renang yang banyak pepohonan pinggir-pinggirnya. Tapi seperti ada yang salah.

Maka setelah berbulan-bulan yang panjang, aku sempatkan menaiki bus siang-siang dari jakarta menuju Bandung. Lalu aku ketuk pintu rumahnya dan bertegur sapa dengan ibunya. Nyelonong naik ke lantai atas, dari tangga kayu yang tua dan berdecit, lalu bertemu anak itu yang sedang mengetik di komputer lusuh. Dia tersenyum. Senyum yang biasa dari sahabat melankolisku itu, tapi seperti ada yang sedikit getir.

Aku rahasiakan pada orang tua beliau. Tidak ada yang tahu bahwa aku sudah lulus dan bekerja. Tapi bisakah kita membohongi orang tua? Tatap mata ibunya seperti tahu benar ada yang berubah dari raut muka dan perawakanku. Maka disuatu sore yang tenang dan sangat biasa, kawanku itu bertutur jujur pada ibunya, bahwa aku, sahabatnya, sekarang sudah lulus dan bekerja. Ibunya diam……..diam yang lama. Tidak ada yang salah. Hanya doa dan harapan agar dia bisa lebih cepat menyelesaikan kuliah, yang terlontar dari bibir ibunya. Kawanku itu hening, dan aku tidak bisa berbuat selain tidak berkata-kata.

Kadang-kadang aku berfikir. Seandainya sebentar saja diberikan kita kesempatan oleh Tuhan untuk mencoba-coba drama kehidupan kawan-kawan, aku tak sanggup memainkan peranan beliau itu. Tinggal di kampus yang semakin hari semakin sedikit saja rekan-rekan yang masih rajin datang. Menikmati kesendirian bolak-balik laboratorium dimana kawan-kawan sudah bergelar S.T. Mengerjakan berlembar-lembar kertas saat tidak lagi ada rekanan tempat mengadu ide-ide, untuk sekedar membakar kembali semangat yang putarannya kian hari kian pelan. Sungguh aku tidak sanggup.

Maka di waktu-waktu aku pulang kembali ke jakarta, setelah bertandang dan sowan ke keluarganya itu, aku merasa ciut. Baru aku tahu lagi bahwa anak lugu itu adalah tipikal yang jatuh berdebam dan sempoyongan berulang kali tapi masih bangkit. Lalu kutitipkan saja doa dan sepenggal sms. Bahwa aku, kawannya yang sudah lulus lebih dulu, dan nama-nama yang baru saja di-toga-kan lainnya itu, menunggunya di sebrang. Kami sudah berteriak-teriak dan meloncat loncat melambai tangan. Kami tahu dia pasti datang.

***
Lama rasanya, jeda waktu semenjak terakhir aku duduk di pinggiran bus yang melintas tol cipularang, terayun-ayun setengah tertidur, lalu nanti baru terbangun setelah sampai di pintu tol cileunyi didekat rumah kawanku itu. Lama rasanya……

Sampai aku mendengar kabar luar biasa itu. Bahwa kolega-ku itu sudah bergelar sarjana kini. Bukan main rasanya. Kugeleng-gelengkan kepala membayangkan dia jatuh tersungkur dan bangun dan sempoyongan dan sampai terjerembab dan bangun lagi dan sekarang dia berdiri!!!
Kawanku itu sudah diterima pula bekerja. Takdir berjalan dengan cara yang unik. Secepat aku bekerja secepat itu pula dia bekerja setelah diwisuda.

Lalu kami bertemu lagi di jakarta. Dari sebuah kosan yang harganya tak mungkin terbayar waktu kami masih mahasiswa dulu, kami pergi kebanyak tempat. Lalu menyalakan laptop dan modem. Membeli kemeja dan celana panjang yang pantas.

Hei……. Roda berputar rupanya…… tak habis-habis aku menggeleng untuk setiap rupiah yang tercetak di saldo tabunganku, untuk setiap kami makan siang bukan dengan bakwan atau indomi goreng lagi, untuk setiap rupiah yang kawanku itu bisa berikan pada Ibunya, pada Bapaknya, pada Adik laki-laki tertuanya. Aku turut bangga.

Tapi pelan-pelan nian kami larut dalam euphoria Jakarta. Menghabiskan hari dengan memlototi layar datar monitor yang membuat mata kami berair. Duduk dibelakang meja yang disesaki kertas-kertas. Bernafas dengan setiap tarikan dan hembusan kami adalah rantai panjang hidrokarbon, barrel minyak, cadangan gas, mata bit yang berputar, pemboran sekian ribu feet dan segala yang mengkorupsi indah hidup.

Lalu Jakarta seperti berembug sepaham dengan rutinitas kami. Macet dimana-mana. Asap dimana-mana. Bunyi klakson. Orang berteriak. Sepeda motor yang berjalan di trotoar. Lampu merah yang menyala dan berganti dengan acak. Bau pesing. Jenuh penat dan menghabiskan tenaga.

Lama rasanya………… jeda waktu dari sejak terakhir kali kami pernah menempuh belasan kilometer belantara kalimantan. Tertawa-tawa dan makan nasi putih dengan ikan asin. Mandi di sungai jernih yang didasarnya batubara hitam mengilap. Naik kapal mesin yang menyusur alir sungai mahakam sampai hulu semalaman. Dan bercerita sebelum tidur tentang mimpi-mimpi masa depan, rencana merebut gadis impian, sambil sesekali menepuk nyamuk yang kurang ajar menginterupsi.

Maka sebelum cerita ini terlupa dan kami akan sibuk dengan anak istri, aku tuliskan lagi kisah ini. Meski menuliskan sebuah cerita tanpa izin mungkin adalah sebuah kelancangan.