es potong dilematis

espotong
Disela-sela penat kerja seperti akhir-akhir ini, aku senang membayangkan masa-masa SD dulu. Waktu dimana kebahagiaan itu rasanya kok gampang sekali diperoleh. Hal-hal yang membuat kita bahagia waktu itu adalah hal-hal sederhana.

Dulu itu, jarak antara sekolahku dan rumah kecil tempatku tinggal kalau tidak salah adalah sekitar 15 km. biasanya aku naik angkutan kota, jalan dulu sekitar sepuluh menit kurang, dari rumah menuju gang depan pinggir jalan raya. Baru dari sana menunggu angkutan kota yang kebetulan disupiri oleh bapak-bapak baik hati.

Rekan-rekan sekalian, dulu itu tarif angkutan kota untuk anak-anak sekolahan adalah seratus rupiah, sedangkan untuk umum seratus lima puluh rupiah. Para supir angkot yang tega nian itu biasanya pasang tampang cuek. Aku sudah menunggu dengan muka memelas di depan gang pinggir jalan raya itu, tapi masih juga mereka tidak berhenti. Ya logis juga sih kalau dipikir, kalau saja bangku yang dipenuhi oleh badan kecilku ini diganti dengan yang tidak pake seragam kan sudah untung limapuluh rupiah.

Setiap hari haruslah aku berangkat lebih pagi. Konsekuensi pulang juga sama, jadi lebih siang. Untunglah, karna banyak pertimbangan, suatu ketika jadwal sekolah di SD kami waktu itu dirubah. Anak kelas tiga masuk siang. Anak kelas tiga jadi pulang sore.

Aku sedikit tertolong. Jadi aku tidak usah pergi terlalu pagi lagi, bisa santai-santai sedikit. Menjelang siang barulah aku jalan kaki sekitar kurang dari sepuluh menit menuju pinggir jalan raya. Di saku sudah ada uang receh duaratus rupiah.

Nah….. mengenai duaratus rupiah inilah aku akan berkisah pada kalian-kalian. Jadi ceritanya begini. Ibuku, dari dulu sekali waktu aku SD, sudah menerapkan sebuah metoda pendidikan anak ala baru. Metoda pendidikan berhemat. Urusan macam begini ibu sudah lebih ahli, dia tahu persis ongkos berangkat seratus rupiah, ongkos pulang seratus rupiah.

Diberikanlah kepadaku duaratus rupiah receh setelah salaman pagi-pagi. Aku tunggu sebentar sambil muka memelas, ibu tidak bergeming. Tunggu lagi sebentar, tetap tidak bergeming. Astaga……… aku menyerah, urusan begini seperti tawar menawar beli barang. Kan kurang lebih begitu kawan? Kita minta sekian, penjual mau sekian, otot-ototan sebentar lalu pasang aksi pura-pura mau kabur, akhirnya harga diberikan setengahnya. Ahai…… aku tahu sedikitlah masalah ini, karna sering mengintip bapak kalau membelikan aku sepatu, bukan main bapak itu ngotot kalau menawar barang, sampai pucat pasi itu penjual sepatu dan menyerah tanpa syarat. Tapi……. Kalau dengan ibu, akal bulus begitu tidak bisa diterapkan. Jadi aku pergi saja langsung ke sekolah sambil jalan setengah diseret.

Perjalanan menuju sekolah sekitar sejam kurang sedikit. Sampai di gerbang depan sekolah itulah aku tersadarkan lagi akan sebuah visi besar dalam hidupku. Mimpi-mimpi yang selama ini menghantui aku waktu tidur dan terjaga. Yang mengobarkan semangatku untuk berfikir keras bagaimana caranya menggapai cita-cita luhur mulia itu. Yaitu cita-cita untuk membeli es potong.

Jangan dulu kau tergelak dengan itu. Es potong itu, rekan-rekan yang saya hormati, adalah semacam karya adiluhung. Mirip es bon-bon, hanya saja lebih manis dan kaya susu. Apalagi setelah dipotong kurang lebih sepanjang lima jari anak kelas tiga SD, dan ditusuk dengan elegan pakai lidi yang diserut dari bambu. Astaga………..

Tapi bagaimana mungkin bisa membeli es potong? Sedangkan uang hanya cukup untuk diberikan kepada supir berbudi luhur yang mau mengangkut anak sekolah serupaku ini? Jadi pelajaran pertama yang kudapat dari mimpi es potong dan didikan ala militer dari Ibu itu ada benarnya juga, yaitu menahan keinginan. Kan katanya keinginan kita itu lebih sering tidak tercapainya daripada terwujudnya, aku tahu benar tentang hal itu.

Biarlah es potong cuma aku lihat dari jauh saja, kunikmati suara kliningan tukang-nya saja. Dari jauh aku tetap bermimpi, suatu nanti pasti akan kubeli.

Hari berlalu seperti angin semilir. Anak tiga SD kan tidak pernah berfikir abstrak. Pokoknya ya ceria saja. Dimarahi orang tua ya sedih sebentar lalu tertawa lagi. Tidak dapat es potong ya kepengen sebentar terus biasa lagi.

Sampai suatu hari. Setelah masa-masa belajar yang melelahkan karna mulai sekolah dari waktu siang hari yang menyeruput keringat, sore-sorenya aku menunggu dengan khidmat dan serius di sebuah persimpangan sekitar lima puluh meter dari lampu merah yang kalau sudah sore warnanya yang menyala hanya kuning saja. Kelap-kelip-kelap-kelip.

Tiba-tiba seorang kawan lewat dan menunggu di depanku. Kami ngobrol juntrungannya kesitu kemari. Lalu muncullah sebuah ide pandai tak karuan dariku. “aha……. Bagaimana kalau kita berjalan saja? Sambil menunggu angkot” seruku dengan pede. Seperti yang analisanya sudah paripurna.

Kawanku ini tadi dengan tololnya mengikuti saranku. Dan jadilah kami dua orang anak kelas tiga SD yang brilian berjalan kaki berkilo meter demi sebuah ide pandai dariku “sambil menunggu angkot”

Tanpa bermaksud menyinggung, aku jadi sedikit tahu kenikmatan bergosip ria. Buktinya waktu seperti tidak terasa, sudah setengah jam kami berjalan dan hari semakin sore. Aku senang bukan main, karna semakin jauh perjalanan, semakin mantaplah tekad kami untuk berjalan saja sampai rumah.

“Ini kan petualangan?” Aku menambahi dengan lebih bodoh lagi. Karna tiba-tiba di otakku berputar-putar bayangan es potong. Begini logikanya, berjalan dengan teman samadengan waktu tak terasa, waktu tak terasa samadengan tiba-tiba sudah sampai rumah, tiba-tiba sudah dirumah kan samadengan ongkos tidak terpakai, ongkos tidak terpakai kan bisa menjelma es potong? Astaga……… benar-benar aku tidak mengerti cara kerja otak. Tanpa kita pikirkan, tanpa kita paksa bekerja, tiba-tiba otak menyodorkan sebuah solusi, cerdas.

Aku sudah mulai akan mengagumi kehebatan logikaku, sampai saat dimana temanku membuyarkan lamunanku dengan berkata “aku duluan ya, sudah sampai”

Apa??????????????
Bodohnya aku. Kenapa tidak dari tadi aku tanyakan dulu rumah laki-laki kecil di sampingku ini. Perjalanan baru setengahnya dan aku sekarang terjebak dalam sebuah dilema.Teman perjalanan sudah sampai tujuan. Tak ada yang lebih menyakitkan selain kawan seperjalanan meninggalkan kita duluan, meski kita tahu takdir sudah berkata begitu. Aku mengiyakan, sambil merutuk sedikit. Kalau saja tahu dia rumahnya dekat dari sekolah kan aku tidak mungkin berjalan kaki.

Rutukan itu sebentar saja rupanya. Tiba-tiba aku melihat di sebrang jalan sana ada seorang penjual es potong. Wah………… es potong yang legendaris itu. Sekarang aku dalam pilihan yang sulit rekan-rekan.

Mari kita urai matematikanya. Diketahui harga es potong adalah duapuluh lima rupiah. Sedangkan tarif angkot seratus rupiah. jika tarif angkot untuk jarak dekat dan jarak jauh selalu sama, dan uang yang kau miliki tinggal seratus-seratusnya itu, bagaimana solusinya?

Soal cerita adalah momok buatku waktu SD dulu, yah wajar saja, bisa dimaklumi jika anak kelas tiga agak tidak terlalu pintar menjawab matematika rumit, maka logikaku ini mungkin agak-agak bisa dibenarkan juga. Jika aku beli satubuah es potong, maka uang ditangan tinggal tujuh puluh lima rupiah. tak bisa naik angkot. Pilih naik angkot berarti mimpi es potong musnah.

Badanku serasa dehidrasi. Ah….. menyelamatkan kesehatan tubuh, itulah yang terpikir olehku sekarang, dan seribu satu alasan pintar demi mendukung es potong. Bukankah mencegah tubuh dari dehidrasi adalah tindakan pintar nan mulia? maka itu aku belanjakanlah sisa uang untuk ongkos tadi dengan es potong. Bukan satu. Tapi kubeli empat. Karna cobalah kau bayangkan rekan-rekan, meskipun kubelikan satu saja es potong, sisa uang tetaplah akan tidak bisa digunakan naik angkot. Daripada mubazir, maka sisa uang kubelikan semuanya.

Itulah pelajaran keduaku, pelajaran untuk memilih diantara hal-hal yang sulit. Membedakan mana kebutuhan dan mana nafsu. Maka ketololanku waktu itu telah dengan sangat pintar menipu diriku. Aku berjalan-jalan dengan senang, rasa hati sudah mendapatkan pencapaian luar biasa. Hari semakin sore, semburat senja memerah di ufuk jauh. Aku berjalan santai dengan melompat-lompat. Makan es potong empat ternyata susah juga.

Kau tahu kepuasan marginal? Teori ekonomi yang diajarkan guru SMP kalau tidak salah. Pertama kali makan es potong rasanya seperti di syurga. Kali kedua kau makan es potong rasanya masih seperti syurga juga tapi agak-agak turun grade, kali ketiga dan keempat lidahmu mulai kebas dan kau nanti akan mulai menyumpah-nyumpah kebodohanmu untuk membeli es sekaligus empat. Mencair menetes tak karuan.

Matahari seperti mau main petak umpet. Dari jauh sayup sayup ceramah zainudin M. Z bergema. Burung-burung terbang seperti gerak lambat. Kadang-kadang mobil seliweran di pinggir jalan raya. Azan maghrib hampir berkumandang, dan aku lari-lari setengah menangis, kaki pegal tak alang kepalang, sedang jarak ke rumah masih seperempatnya. Sumpah mati tak kan pernah kugadai ongkos dengan apapun lagi

1 comment Juni 28, 2009

ayam…….

ayam

Sebenarnya aku ini bukan penyayang binatang, tapi jika sudah sekira satu tahun lebih peliharaan kita itu kita rawat dan kasih makan, kalau jagung kita genggam ditangan dan sodorkan padanya lalu dia datang dan makan dari tangan kita, maka rasanya sangat wajar jika ikatan batin itu muncul. Begitulah aku dengan ayam jantan milikku.

Jadi sebenarnya begini ceritanya. Dahulu sekali, waktu aku masih belum sekolah, kami tinggal di pinggir jalan lintas sumatra, tepi hutan belantara yang tidak ada penghuni kecuali aku yang anak seorang penyuluh pertanian ini dan tetanggaku yang ketiban sial untuk juga ditempatkan disana. Disanalah pertama kali garis singgung antara aku dan ayam jantan itu dimulai.

Entah bagaimana awal mulanya kehadiran ayam jantan itu dikeluarga kami, aku lupa-lupa ingat. Ada beberapa versi –tentu saja versi ini dari memoriku sendiri, kau tahulah rekan-rekan bahwa kadang-kadang ingatan kita dimasa kecil itu susah kita bedakan mana imajinasi dan mana kenyataan-.

Versi pertama. Pada versi pertama ini, berdasarkan ingatanku, bahwa ayam ini adalah pemberian salah seorang teman bapak.
Karna ayam ini adalah ayam jantan nan elok menawan. Dengan bulu yang lebat dan mengilap, taji yang panjang dan tajam, gagah betul, ayam ini dengan cepat menjadi primadona di keluarga kami. Aku yang waktu itu adalah anak satu-satunya menjadi sahabat dekat ayam ini. Hampir semua perikehidupan ayam itu aku tahu, jadwal makannya, teman-teman dekatnya, pacarnya, segala macamlah.

Versi kedua. Dalam versi kedua, ingatanku juga memberikan lintasan bahwa ayam ini adalah ayam hutan. Ayam hutan yang waktu itu seingatku adalah seekor ayam yang bernasib naas karna melintas didepan aku dan bapakku yang sedang mandi. Dahulu itu rekan-rekan, janganlah kalian membayangkan mandi itu adalah sebuah ritual sakral yang dilakukan di sebuah wc bermarmer putih dan bak satu kali satu kali satu meter. Mandi itu adalah bagi kami sebuah fase mendekatkan diri kepada alam, bagaimana tidak, satu-satunya akses air adalah melewati turunan yang terjal seperti jurang, kelok sana kelok sini, pokoknya jauhlah. Untunglah sudah dibuat semacam tangga-tangga, tanah licin itu dibentuk cekungan cekungan macam tangga, dan diujung sekali dari turunan curam itu adalah mata air yang bening, yang dipinggir-pinggirnya tumbuh tanam-tanaman paku, kau pasti ingat tanaman paku, kita pelajari itu dimasa-masa biologi smp dulu.

Nah……. Disitulah, dipinggir tanaman paku itu, disamping mata air bening itu, entah bagaimana hipotesa yang tepat, tapi tiba-tiba saja muncullah seekor ayam, ayam elok nian yang berbulu tebal dan bertaji tajam seperti yang sudah kusebutkan barusan. Dan disitulah nasib naas ayam itu dimulai. Salah dia juga, kenapa memilih melewati tempat dimana disana bapak-bapak gesit seperti bapakku sedang mandi? Jadilah dengan segera sebuah ember besar warna biru –aku ingat betul bagian ini- digunakan bapak jadi semacam perangkap ayam, yang dengan sangat cekatan dilemparkan, PRAAAK, ayam elok nian tadi terperangkap, dan itulah versi nomor dua.

Jangan salahkan aku, sudah kubilang aku bukan seorang penyayang binatang, tapi dimana-mana memang cerita yang lebih indah dan dramatis lebih disukai, maka itu sampai sekarang juga aku merasa bahwa ingatanku yang nomor dua adalah awal yang tepat, begitulah bagaimana awal mulanya ayam itu muncul. Sedang ingatanku nomor satu aku percaya hanyalah sebagai sebuah bentuk simplifikasi, sebagian otakku yang berfikir terlalu sederhana dan sama sekali tidak melankolis, tidak dramatis, apalagi romantis telah dengan sangat brilian mengacaukan sejarah. Maklumlah, waktu itu aku masih kanak-kanak.

Nah……. Hari berganti rekan-rekan. Waktu berlalu juga rekan-rekan. Ayam tadi dan aku memiliki semacam ikatan batin. Aku keluar rumah, dia langsung menghampiri. Aku ke dapur dia ikut ke dapur, dimana ada aku disitu ada ayam.
Pada mulanya tidak ada masalah. Hingga suatu ketika……..

Sebuah keputusan super mendadak dari kantor pusat bapakku menyatakan bahwa bapak harus pindah, pindah ke kota bengkulu, kota besar tentu saja jika dibandingkan kehidupan pinggir jalan tengah hutan. Aku berjingkrak-jingkrak tak karuan, seperti setan saja. Sebentar-sebentar aku bertanya “pak..pak…… bengkulu itu seperti apa?” kuulang-ulang dengan tanpa belas kasihan pada bapak pada ibu “bu..bu……disana rame ya?”. Begitulah……… sampai suatu ketika jawaban bapak sangat mengguncang diriku, kata bapak “disana itu ga ada yang pelihara ayam nak”.

Aku bingung. Bagaimana mungkin? Sebuah kota besar tanpa ayam di dalamnya? Ini sungguh ironi? Berhari-hari aku merenung. Malang nian nasib ayam itu, pikirku. Sebenarnya logika bahwa di Bengkulu tidak ada ayam sangatlah menggangguku, tapi daya analisa anak usia TK masihlah pendek rekan-rekan, maka aku hanya terdiam lemas sambil bertanya, “jadi mau diapain ayam itu pak?”

Bapakku menjawab singkat, “dipotong”.

Cerita versi kedua ayam itu tadi, ternyata harus diakhiri dengan tragis. Ayam elok pun dipotong. Sebenarnya kesalahan pertama bapak adalah terlalu tergesa-gesa menjawab bahwa ayam itu akan dipotong. Modus operandinya tertebak sudah. Aku sedikit tahu juga, perjalanan ke bengkulu itu jauh tak karu-karuan. Aku ingat betul waktu itu kami muat semua barang-barang kedalam truk besar. Aku tidur di bak truk yang sempit dan penuh barang-barang tadi, sambil berlindung dari sengat matahari dengan terpal yang menutup kepala kami, dengan sedih kuingat-ingat ayam yang punya hubungan erat denganku tadi, mataku berlinang air mata, tapi mulutku sibuk mengunyah ayam goreng.

Bagaimana lagi, perjalanan jauh, tak ada uang untuk membeli makanan macam-macam di jalan. Sungguh aku sedih, tapi ayam goreng juga menggoda. Maafkan aku ayam.

Singkat kata tibalah truk besar berisi aku bapakku dan ibuku dan barang-barang kami tadi, di bengkulu. Tak lupa juga kuberitahu bahwa disana masih ada juga ayam goreng sepotong. Kusisakan buat nanti kalau aku lapar.

Pindahan selesai. Aku mulai berkeliling komplek. Berinteraksi dengan banyak rumah, banyak hal yang baru. Dan suatu sore aku sadar bahwa disana banyak sekali ayam. Ayam merah. Ayam putih. Ayam abu-abu, semua berkeliaran dan mengais-ngais di jalan. Aku bersungut-sungut, ini tidak bisa dibiarkan, bergegas aku berbalik dan mengambil seribu langkah berlari kembali kerumah. Aku harus protes pada bapak.

*********
Waktu berlalu lagi, hari berganti lagi. Aku sudah mulai bisa melupakan ayam yang dulu itu. Kenyataan waktu itu bahwa keluarga sedang sulit ekonominya mulai pelan-pelan bisa aku pahami. Aku sudah masuk SD waktu itu kalau tidak salah. Aku menjadi sedikit bijak. Disamping ibu punya semacam senjata pamungkas, setiap kali aku terkenang-kenang akan ayam elok nian, maka ibu akan segera berkata “loh…. Ayamnya kan yang makan siapa?”

Aku diam dan tidak lagi pernah mengutik-utik kenangan ayam. Disamping waktu itu aku sudah punya ayam yang baru lagi. Sebuah ayam jantan berwarna merah. Memang sih tidak seelok ayam elok nian yang kudapat dari kisah versi kedua tadi kawan, tapi lumayanlah mengobati dahagaku untuk beternak ayam, bukan beternak, tepatnya memelihara ayam. Satu ayam. Hanya seekor yang jantan itu saja.

Mula-mulanya tidak ada masalah. Sampai suatu ketika. Aku masuk SMP. Seragam harus diganti, sepatu harus diganti. Sementara ekonomi masih betah berputar-putar dilevel itu saja. Ini alamat buruk. Aku sudah berfirasat bahwa akan ada yang terjadi.

Benar saja, bapak memutuskan untuk membawa ayam satu-satunya milikku tadi ke pasar pagi di terminal. Dengan mata yang tidak bisa dipastikan seperti apa ekspressinya, bapak perggi membawa ayam jantan warna merah ke pasar pagi di terminal.

Aku kasihan pada bapak. Kenapa sesulit itu untuk sekedar membelikan ku sepotong celana biru? Tapi itulah, emosi kadang-kadang mengacaukan fikiran jernih kita tentang realita-realita. Aku tidak lagi membayang bapak yang pagi-pagi kepayahan menangkap ayam dan mengikatnya dengan tali karet dari ban dalam yang dipotong, tidak juga aku bayangkan lagi bapak yang membawa motor tua dengan diganduli ayam yang berkeok-keok di belakangnya, tidak juga kubayang lagi bapak yang berbecek-becek di pasar terminal pagi-pagi, menawarkan ayamnya pada orang yang lewat acuh tak acuh tak ada yang peduli.

Yang kutahu waktu itu hanya satu. Aku tidak rela ayam itu dijual. Sepanjang sekolah dari pagi sampai siang aku merutuk-rutuk, hatiku gundah gulana tak bisa dipuisikan, ayam itu tidak boleh hilang doaku.

Sepulang sekolah, dengan langkah gontai aku masuk ke halaman, lalu terkaget-kaget aku tiba-tiba melihat seekor ayam jantan merah, ayam yang tidak terlalu elok tadi, ayam punyaku itu mematuk matuk di halaman. Ia tidak jadi dijual. Bapak bawa pulang kembali ayam itu, karna tidak seorangpun juga mau membelinya. Entah terlampau tua. Entah kurus merana, aku tidak tahu apa masalahnya.

Tiba-tiba aku merasa kasihan pada bapak. Dia sudah berpayah-payah membawa ayam jantan merah ke terminal pagi-pagi, lalu dengan muka suntuk dibawanya lagi pulang ke rumah siang-siang. Capek, berkeringat, dan mungkin juga kebingungan. Sedang aku tak rela ayam itu dijual, tapi masih mengidam celana biru pendek baru.

2 comments Juni 25, 2009

Pesawat Terbang dan Guci Empat Tahun Enam Bulan

pesawat

Berapa persen penduduk indonesia yang pernah naik pesawat terbang? Persentase yang belum pernah naik pesawat kuduga pastilah sangat besar. Yang pasti adalah ibu termasuk dalam golongan orang yang masih menganggap besi raksasa yang menembus awan-awan itu sebagai jalur transportasi eksekutif. Di awang-awang.

Jauh-jauh hari, sebelum aku menyelesaikan studiku di masa kuliah, ibu sudah menabung. Ibu adalah seorang pedagang kue di sebuah pasar dadakan dekat komplek rumahku. Di pinggir jalan komplek itu ada sebuah lapangan yang tidak begitu besar, di bawah batang nangka yang tidak pernah berbuah, disitulah ibu membuat sebuah tenda kecil dari kayu-kayu seadanya. Di lapangan itulah ibu dan kawan-kawannya sesama pedagang menjajakan kue-kue, sayuran, atau apa saja hasil kerja keras mereka.

Sebenarnya dulu ibu tidak bekerja. Menjadi ibu rumah tangga yang menyiapkan masakan kesukaan buatku dan bapak adalah titel yang dengan bangga ibu kenakan. Aku ingat benar bahwa goreng tempe sambal buatan ibu adalah lauk sederhana yang membuat persepsiku tentang makan tiga kali sehari jadi berantakan. Aku makan kapanpun aku ingat, pagi, menjelang siang, sore hari dan malam. Benarlah kata orang bahwa rasa tak bisa berbohong.

Akhir-akhir masa SMA adalah waktu yang menjadi titik balik dalam hidupku, dan juga dalam hidup ibu. Keinginan kuliah yang begitu besar, telah menjadi lintasan mimpi-mimpi dalam setiap waktu-waktu aku tidur dan terjaga. Keinginan menenteng buku-buku tebal. Juga mengenakan jubah seperti penyihir dan toga itu selalu membuatku gelisah dan murung.

Ibulah orang yang dengan yakin mendukungku. Waktu itu aku ingat sekali, gaji Bapak dengan hitungan persamaan bagaimanapun juga pastilah tidak bisa membiayai aku kuliah di universitas manapun seantero indonesia ini. Tapi ibu meyakinkan aku bahwa rezeki itu sudah diatur, sudah tertulis dalam lembar buku besar di atas sana, dan doa adalah petarung tangguh yang mampu bergulat dengan takdir kejam seperti apapun juga. Berdoalah, maka Tuhan akan mengabulkannya.

Sejak itulah ibu mulai berjualan. Ibu yang pemalu itu, yang waktu mudanya bergelimang harta itu, yang menjadi kebanggaan saudara-saudaranya itu, merelakan egonya untuk bangun malam-malam dan menghalau kantuk. Aku tidur, adik-adikku tidur. Sedang ibu sudah mulai mengeluarkan perkakas masak dari lemari, lalu membolak-balik buku catatan tata boga semasa dia SMEA dulu, lalu menyalakan kompor minyak tanah dan mengaduk adonan. Aku tidur, adik-adikku tidur. Sejak itu ibu mulai berjualan. Sejak itu ibu mulai menabung.

Aku bahkan tidak bisa menuliskan waktu-waktu dimana aku meninggalkan rumah. Aku pamit pada ibu yang tidak bisa berkata-kata banyak. Tidak bisa berpesan-pesan banyak. Cuma tersenyum dan berkata bahwa ibu pastilah akan selalu berdoa untuk kemudahan cita-cita semua anaknya. Aku pergi melangkah kaki. Seperti percaya seperti tidak, bahwa setiap satu langkah aku tapakkan setiap itu pula aku semakin jauh dari ibu dan semenjak itu pula takdir hidup baru digulirkan. Tak sanggup aku menoleh kebelakang. Mataku berkaca-kaca, ibu berkaca-kaca.

Waktu-waktu berlari dengan tempo yang berubah-ubah. Seperti ritme lagu yang membingungkan, kadang terasa cepat, kadang terasa lambat. Tapi mimpi yang berkelebat diotakku selalu saja sama. Aku ingin secepatnya diwisuda. Sejak saat pertama kuliah aku sudah belingsatan memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa selekas mungkin mengenakan toga dan meringankan beban luar biasa di pundak ibu bapak yang semakin ringkih itu?

Dan dibawah pohon nangka yang tidak berbuah itu, disitulah ibu mengumpulkan seratus rupiah receh, uang seribu yang kumal, atau berapapun yang dia dapat. Dimasukkannya kedalam tas pinggang yang resletingnya sudah macet itu, lalu dia bawa pulang kerumah yang sederhana di pojok komplek. Disimpannya uang tadi dalam guci kecil di atas lemari kayu hitam. Setiap bulan diguncang-guncangnya guci itu, mengira-ngira dengan seksama. Dengan berat yang sudah sebegini, sanggupkah dia membeli tiket pesawat untuk sekeluarga menghadiri wisuda anak tertuanya?

Begitulah. Waktu berlalu. Hari pergi dan datang. Sudah sampai juga masa-masa terakhir kuliah. Tuhan sempatkan untuk aku menyelesaikan studi. Dengan terengah-engah. Dengan nafas yang sepotong-sepotong. Dengan semangat yang berkobar-kobar lagi setiap mengingat siluet ibu yang menggigil di bawah hujan, berkeringat terpanggang panas, waktu sehat, saat sakit meriang, seumpama masih bisa berjalan masih juga ibu langkahkan kaki kelapangan itu, lalu menggelar kue-kue, lalu mengumpulkan receh ke tas pinggangnya.

Ajaib………..

Guci di atas meja hitam itu penuh. Dihitunglah dengan riang oleh Ibu, oleh Bapak, oleh adik. Empat tahun enam bulan menabung ternyata bisa memenuhkan guci. Berdoalah, maka Tuhan akan menjawab doamu, mungkin begitu.

Tak terperi, senang bukan main, aku melompat-lompat tak karuan. Sudah kubayangkan mata bulat adik-adikku yang akan terpukau-pukau waktu kutunjukkan kampus tempatku belajar. Waktu nantinya mungkin akan kuajak berputar-putar kota. Waktu nantinya mungkin mereka bercerita dengan meledak-ledak tentang pesawat terbang yang tinggal landas yang mendarat.

Sampai suatu sore…….

Berita dari jauh sana tiba-tiba menghentikan mimpi-mimpi kita. Embah meninggal. Bapak harus pulang ke jawa segera. Dipecahkanlah guci empat tahun enam bulan itu, malam-malam. Bapak pulang ke jawa. Recehan-recehan disumbangkan untuk pemakaman mbah.

Ibu ikhlas. Bapak ikhlas. Adik-adik ikhlas dan bermata bulat murung. Aku ikhlas dan memandang langit warna tembaga, ada yang menggenang di pelupuk mata tapi pasti bukan tangis duka lara, biasanya kesedihan masih bisa kuseka tapi ini mengalir begitu saja, menetes lewat pipi terus turun ke dagu dan jatuh pelan-pelan seperti bola kecil yang bersinar-sinar ditembus cahaya sisa matahari lewat celah jendela kamar kosan tua.

Tiga hari menjelang wisuda, Ibu dan Bapak menaiki bus lintas sumatra. Menghabiskan sehari semalam lebih perjalanan menuju gedung penobatan para sarjana. adik-adik menunggu di rumah dengan khidmat dan diam.

Selalu begitu…………………………………………

Bapak ibu kita adalah manusia tangguh luar biasa. mereka lebih siap menghadapi banyak kenyataan hidup. Baiknya. Buruknya. Kadang malah yang tak siap itu kita.

Lalu aku berdoa, dalam sebuah sujud setelah empat rakaat yang lama. Bahwa semoga yang maha mentipkan rizki dan menitipkan cinta menjelmakan keringat dan bulir airmata mereka menjadi istana kecil nan indah di syurga sana.

Lalu aku terbayang pohon nangka tak berbuah. Lalu terbayang lapangan becek selepas hujan semalaman. Lalu terbayang ibu sedang menggigil meriang. Lalu terbayang guci empat tahun enam bulan. Lalu mata bulat adik-adik. Lalu pesawat terbang.

Berdoalah, Tuhan akan mengabulkan!! Kata ibu.


3 comments Juni 11, 2009

lima puluh ribu rupiah

lima puluh ribu rupiah

Mengunyah dengan perlahan di bangku paling pojok warung tegal pinggir jalan, di siang hari yang melelehkan keringat. Aku halangi piring nasi itu dengan sesisir pisang ambon yang sudah hilang beberapa biji. Sambil berharap-harap bahwa tidak satu teman jua yang bakal mencuri-curi lihat, apa gerangan yang kupilih sebagai lauk menemani nasi putih, makanan pokok kita dari kecil itu.

Dari sudut bangku warung tegal itulah aku mulai lagi sebuah cerita flash back, bahwa kehidupan itu terkadang naik terkadang turun itu benarlah ternyata, beginilah awal mulanya, kawan.

*********
Seperti yang rata-rata orang sudah mafhum benar, bahwa menyesuaikan diri untuk bisa akur dengan suasana dan lingkungan baru kita adalah sangat sulit. Lama prosesnya.

Waktu itu aku baru saja menyelesaikan studiku. Empat tahun lebih satu semester. Masa kuliah yang tertatih-tatih sudah aku tempuh, dan segera setelah selesai wisuda itu aku mendapatkan pekerjaan.

Inilah tantangan bagi umumnya sarjana di tempat kita. Bahwa rentet gelar belakang nama tidaklah selalu sama dan sebangun dengan peluang kerja yang kita terima. Tapi syukurlah ternyata nasib sedang dalam kurva yang menanjak, aku lulus dan sesegera itu pula aku dapat tempat kerja.

Aku harus sesegera mungkin pindah ke jakarta. Dari Bandung –tempat aku menghabiskan empat tahun satu semester bergelut dengan banyak mata kuliah- aku kemasi barang-barangku dengan perasaan yang kurang nyaman. Kenyataan bahwa aku gembira karna akan memulai fase hidup yang baru, dan kenyataan bahwa aku termasuk cepat mendapatkan pekerjaan, tentu saja sangatlah membuatku bergairah. Tapi masa-masa adaptasi selalu menyiksa buatku. Selalu menghantui fikiranku akan ketakutan-ketakutan tidak beralasan. Jakarta………. Nama itu entah bagaimana terasa agak kurang nyaman.

Waktu itu aku ingat nian, uang di tangan tinggal kurang lebih seratus ribu. Was-was benar aku berfikir, bagaimana aku bertahan hidup di jakarta dengan uang sejumlah ini? Ongkos, makan, biaya kosan? Tapi bukankah tidak ada yang lebih berkuasa menuntaskan segala-galanya ketimbang Dia yang seperti angin melambaikan daun-daun, dan menerbangkan takdir kita ke tempat-tempat yang kita –demi apapun- tidak pernah bisa duga.

Kupasrahkan jua nasibku pada yang Maha Menentu. Maka dengan tekad yang sudah bulat, pada suatu siang yang panas membara, pergi juga aku ke jakarta. Kubawa serta satu koper barang yang kupaksa-paksa jejalkan semua bawaanku kedalamnya.

Singkat kisah tibalah aku di jakarta pada akhirnya. Inilah flashback kebingungan pertama. Mana ada lagi di area jakarta kosan dengan harga kurang dari seratus ribu sebulannya? Kosan termurah sekitar area kantorku waktu itu adalah seharga 350 ribu sebulan.

Kiriman orang tua belumlah lagi sampai, meminta uang lagi rasanya sudah malu benar. Sedang titelku sekarang adalah pegawai baru, yang merasakan bagaimana itu rupanya terima gaji saja belum pernah. Hari pertama ke kantor pun belum jua aku cicipi.

Darimana uang untuk bayar kosan?

Tidak habis akal, aku. Benarlah kata para ahli psikologi bahwa dalam skala tertentu, stress itu bisa memacu kreatiivitas. Dengan sopan aku jalankan sebuah lobi tingkat tinggi kepada empunya kosan. Kukatakan bahwa aku adalah seorang pegawai baru yang sebentar lagi akan memasuki masa training. Aku tidak tahu kapan training akan dimulai, tapi dalam prediksiku pastilah tidak sampai seminggu lagi. Kuserahkan uang 50 ribu ke tangan sang ibu, dan aku berkata anggaplah uang itu sebagai balas jasa untuk aku menumpang nginap berapa malam. Andaikan nantinya aku terpaksa menginap lebih dari satu minggu, aku akan menggenapkan sisanya untuk biaya kosan satu bulan.

Ibu kosan baik itu mengangguk. Dan jadilah aku simpan koper penuh barang itu di sebuah kosan sempit dan panas pengap.

Masalah penginapan teratasi. Tinggal sekarang adalah bagaimana aku bisa bertahan di sini? Dengan uang yang tinggal berapa puluh ribu. Dan waktu gajian sudah kuhitung berkali kali ternyata memang masihlah sangat lama.

Hari-hari kerja dimulai. Setiap pagi aku nikmati perjalanan ke kantor. Tak percaya rasanya bahwa aku sekarang adalah seorang pekerja kantoran. Dengan dandanan sedikit beda dari anak kuliahan. Mengenakan kemeja lengan panjang dengan sedikit lintingan di lengannya, sepatu rapih dan celana bergaris bekas setrikaan. Lalu di leherku menggantung kalung badge id card yang multifungsi. Penanda status dan sekaligus kartu ajaib pembuka pintu gerbang tebal kantor luarbiasa itu. Euforia kantor baru sudah cukup jadi penghibur bagiku untuk melupakan sedikit kesusahan. Sejak pagi hari aku akan mulai melupakan kenyataan bahwa aku sekarang sedang kesusahan keuangan, begitu terus beberapa jam sampai waktunya makan siang.

Setiap hari juga aku dan rekan-rekan sepenanggungan yang baru diterima bekerja pergi ke warung tegal pinggir jalan. Dan setiap hari pula aku nikmati menu yang sama, ikan teri dan sayur. Itu saja tidak lebih.

Tiap hari lagi-lagi aku ambil bangku deretan paling pojok, kuhalangi piring makan siangku dengan gelas besar, tempat tissue, atau sesisir pisang ambon yang di hidang di meja warung. Bukan rendah diri rekan-rekan, hanya saja agak tak enak hati rasanya, saat semua makan dengan menu yang empat sehat lima sempurna sedang aku hanya makan dengan lauk seadanya. Aku tak ingin rekan-rekan yang lain merasa iba.

Begitulah hari-hari berhasil kulalui dengan penghematan luar biasa. Tapi sehebat-hebatnya aku menghemat, tidaklah mungkin lagi uang recehan yang tersisa itu bisa aku gunakan untuk bertahan hingga akhir bulan.

Dengan berat hati, aku malu-malu meminjam uang kepada seorang kawan yang baik. Dipinjamkannya aku limapuluh ribu. Itulah penyambung nyawaku.

Tiap pagi aku jalani rutinitas dengan baju kemeja rapih dan masuk ke kantor mewah. Bertemu dengan orang-orang pintar dan penuh percaya diri. Menghadiri meeting dengan bahasa para bule bermata biru. Untuk kemudian istirahat siangnya nanti aku menyudut di pojok warung penuh sesak dan makan siang dengan menu tidak sehat tidak sempurna.

Tapi entah kenapa aku merasa bahagia. Bukan karna aku sekarang bekerja dan gaji akan segera turun beberapa hari lagi, tapi karna menyadari bahwa ditengah coba dunia yang menusuk-nusuk itu aku masih berdiri tegak. Masih tersenyum dan meyakinkan diri sendiri bahwa sungguh tak ada arti kesusahan ini dibanding banyak kawan yang cobaan hidupnya tak terperi. Yang lebih merantai melilit. Yang lebih menyayat-nyayat. Yang macam-macam

**********

Setiap hari, adalah masa-masa menegangkan.

Dengan kawan baik yang meminjamkan aku uang tadi, tiap hari kami hitung dan tandai kalender tergantung di dinding kamar yang sama sekali tidak rapih. Sudah sekian hari lagi berlalu berarti sekian hari lagi gajian akan tiba.

Hingga suatu ketika di akhir bulan waktu dua tahun yang lalu. Sore hari menjelang maghrib saat matahari masih bersinar setengah dan hampir padam setengah, aku meloncat-loncat di ATM sebelah kantor demi melihat nominal saldo di rekening bank-ku melejit berapa digit.
Malam itu aku makan empat sehat lima sempurna, kawan.

***********
dan di siang hari yang sejuk waktu itu, aku kembalikanlah limapuluh ribu bersejarah itu kepada teman yang menyelamatkan sisa hariku dulu.

Tiba-tiba dengan pelan dia bercerita. Beberapa minggu yang lalu, katanya pelan, saat aku meminjam uang padanya sebenarnya dia hanya punya beberapa puluh ribu saja. Tapi karna menduga bahwa aku pastilah lebih membutuhkannya, maka dengan ikhlas dipindah-tangankanlah limapuluh ribu bersejarah itu kepadaku.

Aku tertegun dan menggelengkan kepala. kepadanya aku kirimkan salam. Salut yang teramat untuk kebaikan yang sangat.

Karna ternyata rekan-rekan, ada seorang lagi yang menunya tidak empat sehat lima sempurna di sudut warung waktu dulu itu.

4 comments Juni 1, 2009

Ikhlas Delapan Gelas

Glass of water

Aku sebenarnyalah hanya menuruti kata-kata para ahli saja, kawan. Mereka mengatakan bahwa minimal kita haruslah meminum delapan gelas air dalam sehari, demi kesehatan tubuh kita. Maka dengan manut-manut aku lakukan juga pesan itu, cobalah kawan-kawan sekalian pikirkan, siapa yang lebih tahu tentang bagaimana menjaga tubuh selain dari pakar-pakar kesehatan itu?

Begitulah awalnya rekan-rekan, sampai di suatu siang yang panas waktu itu aku duduk di sebuah bangku bagian paling belakang bus jurusan Bandung-Jakarta. Dengan gagah kugenggam di tangan kananku sebotol aqua enam ratus mililiter sekira mungkin dua gelas air putih, demi kesehatan kawan!

Waktu baru saja kuminum setengah botol, tiba-tiba aku terhenti. Tepat didepanku ada seorang nenek-nenek yang berdiri kepayahan. Inilah yang menjadi dilema besar bus kota pada umumnya kawan. Para sopir dan keneknya itu, biasanya dengan sangat lihainya merayu calon penumpang. Aku lama-lama mengira mereka menggunakan semacam hipnotis yang membuat penumpang lugu di pinggir trotoar itu mau untuk masuk dan berjejal ke dalam bus yang jelas-jelas tidak lagi ada bangku yang belum dikuasai penumpang.

Seperti nenek malang itu. Dan disinilah moral kita diuji. Aku kasihan dengan nenek itu. Tapi anehnya yang terpikirkan bagiku adalah sebuah pertanyaan maha krusial “apakah nenek malang yang sedang berdiri kepayahan itu sudah meminum hampir delapan gelas hari ini?”. Inilah salah satu bentuk kebodohan ilmiah rekan-rekan. Dihadapkan pada kenyataan bahwa bangku sudah penuh dan ada seorang renta berdiri kepayahan termegap-megap, maka pertanyaan dan pembahasan mengenai jumlah minimal air yang harus diminum adalah pertanyaan tolol yang jatuh pada konteks amat sangat tidak tepat, tak karu-karuan bodohnya.

Sebenarnya begini, kawan. Aku ini, sudah pula tergerak untuk membantu, untuk dengan serta merta berdiri dan menawarkan bangku tempat dudukku kepada sang nenek. Tapi apalah daya, kakiku terasa lemas nian. Badan mendadak seperti meriang. Apakah ini akibat dehidrasi? Pikirku? Ah…. Wajar saja….. pastilah ini karna air yang kuminum baru setengah botol… cobalah kawan-kawan bayangkan. Setengah botol aqua enam ratus mililiter pada sebuah siang yang panasnya beringas seperti setan, manalah cukup untuk jadi asupan energi? Itulah retorika pembenaran paling hebat sepanjang sejarah hidupku. Ini yang disebut argumen ilmiah untuk membelit-belit keadaan.

Seperti lomba cepat tepat babak rebutan. Sebenarnyalah aku sudah kalah beberapa detik. Tiba-tiba seorang bapak yang tadinya duduk disampingku langsung berdiri dan dengan elegan menawarkan bangku tempat duduknya kepada Nenek kasihan itu.

Aah……. Baru saja aku ingin berdiri teman, sungguh….. baru saja.

Tapi syukurlah, setidaknya secara moril, aku sudah tidak begitu terbebani, bahwa kenyataan dihadapanku sekarang berganti menjadi seorang bapak-bapak muda berdiri tegap menggantikan sang nenek yang menghela nafas lega di sampingku, tidaklah terlalu mengganggu pikiran. Pak….. kita sama-sama laki-laki tangguh dan perkasa, kataku dalam batin.

Dan bus melaju sekira delapan puluh lima kilometer perjam. Seseorang turun di tepi jalan. Dan bapak baik hati telah mendapatkan lagi tempat duduk. Sang nenek kasihan tadi tak henti-henti memuji kebaikan bapak-bapak tegap, dan nenek kasihan itu merapal banyak nian doa untuk sang bapak.

Dalam hati aku berfikir. Ah………… andai saja aku yang menolong nenek kasihan itu tadi?

Sekarang sudah tepat satu botol aku habiskan. Lalu mataku menelusur ke depan dan mencari apa kiranya ada orang berdiri kepayahan yang akan aku tolong dengan dramatis. “mbak-mbak……. Silakan duduk di bangku saya” sudah kusiapkan kata-kata indah hasil pertapaan dan minum air kesehatan tadi.

Sekali lagi babak cepat tepat dibuka. Dan itu dia, sepuluh langkah di depanku seorang mbak-mbak setengah baya, agak kesusahan dengan level yang sekira setengah nenek kasihan tadi. Dan bel sudahlah pula kutekan dengan seksama TEEEEET……. “mbak, duduk aja di bangku saya” ujarku dengan sopan dan penuh tatakrama.
“ga usah dek di simpang depan saya turun kok” katanya……

Lalu aku dengan muka malu-malu kembali duduk di bangkuku. Tidak apa-apa, dibabak ini pilihan salah tidaklah mengurangi nilai.

Sang mbak setengah baya turun, penumpang baru naiklah sudah dan aku menangkap soal berikutnya. Pertanyaan kedua, babak rebutan: “apakah yang harus dilakukan saat ada seorang ibu baru naik bus dan tidak mendapatkan tempat duduk, sedangkan anda sedang duduk dengan berleha-leha dan baru saja minum hampir delapan gelas air sehari? “

Astaga…… pertanyaan PMP jaman kita sekolah dulu rekan-rekan. Anak-anak TK juga tahu jawabannya, maka aku ulangi lagi kata-kata barusan “bu… duduk aja di bangku saya”.

Inilah aku pikir tindakan paling heroik yang pernah aku lakukan selama seminggu ini. Dan dengan harap-harap cemas aku menantikan babak dimana ibu yang baru naik tadi nantinya akan memuji-mujiku terus dan merapal doa kebaikan bagiku seperti laku sang nenek tadi untuk bapak-bapak tegap itu.

Bus sekarang di level sembilan puluh kilometer perjam. Dan waktu telahlah bergeser tigapuluh lima menit. sang ibu-ibu diam seribu basa. sedang tak ada tanda-tanda penumpang akan turun satupun. Jalan tol yang biasanya ditempuh sekarang sedang ditutup karna satu dan lain hal. Jalan alternatif adalah memutar lewat pinggiran puncak dengan lama perjalanan dikali dua ditambah faktor tak tentu kurang lebih satu jam.

Kakiku mulai gemetar. Mata berkunang-kunang. inilah akibatnya jika berbuat kebaikan dengan tekad yang tidak bulat.

Babak terakhir. Pertanyaan agama: “hal apakah yang bisa menghanguskan amal seperti api yang memakan kayu bakar?”

Pastilah itu jawabannya………. Pasti………………….

*lalu aku melongok kepada nenek-nenek yang tertidur pulas, lalu bapak-bapak tegap yang terpejam pejam, lalu ibu-ibu yang menerawang kosong ke hijau teh di kebun pinggir bukit-bukit sebelah kiri jalan ini*

Sementara bus merayap mungkin enampuluh kilometer perjam, dan aku sedang belajar ikhlas sembari berharap jeda air dua gelas lagi.

1 comment Mei 29, 2009

KIBAR!!!

035

Kawan. Dalam dunia pengeboran minyak, salah satu hal yang menjadi tantangan besar kita adalah kenyataan bahwa kita seringkali diharuskan berpindah-pindah tempat kerja.

Dengan jadwal kerja yang diluar orang normal kebanyakan, dan dengan tempat kerja yang juga diluar orang normal kebanyakan, para pemburu minyak bisa tidak bisa mestilah menjadi pandai dan terampil menyeting suasana hatinya.

Sebentar kita bekerja di anjungan pengeboran tengah laut, sebentar kemudian kita terasing di seberang negri antah berantah, di tengah belantara, di pusaran gurun, di pinggir rawa dan delta. Bertemu orang-orang yang baru. Yang berlainan budaya. Yang kepalanya sebatu karang.

Seperti di siang hari yang menyengat membakar ini, waktu baju jadi lengket dengan keringat dan badan gerah bukan main. Emosi bisa berlari seperti deret eksponensial, meloncat-loncat tak karuan beberapa digit.

Aku kesal bukan main. Memang suasana kerja yang panas dan segala letih penat yang mencakar-cakar itu kadang-kadang membuat orang jadi temperamen. Hal ini gampang sekali kau ukur kawanku, bisa diindra secara visual, kasat mata kawan!

Dan diwaktu-waktu seperti inilah aku belajar mengendali suasana hati. Rupanya hati kita itu banyak panel kontrolnya. Tidak bisa disetir dengan satu tombol. Susah sungguh mengaturnya.

Kupikir kawan, pastilah semua orang pernah mengalami kebosanan, muak, penat yang menggerus pondasi tempat kita berdiri, lalu kita limbung dan baru sadar bahwa mungkin ini bukan tempat kita.

Dan dimasa-masa sendiri, dirundung masalah yang brutal mendobrak pertahanan kita, kadang-kadang aku berharap menjelma semut, menjelma tanah kering, air, atau bunga rumput yang digendong angin pelan-pelan sampai ke negri jauh dimana ilalang tidur-tiduran dengan rapih seperti permadani.

Tapi aku sadar, bahwa hidup kita dan hidup siapapun saja adalah seperti perjalanan panjang mendaki terjal tebing. Batu-batu runtuh dan menggelinding siap menghantam kita kapan saja, dengan pola jatuh yang tidak bisa kita bikin permodelan dan cari kemungkinannya.
Lantas apa karna itu kita ingin dikenang sebagai pendaki menyedihkan? yang menangis menggeletek melihat sedemikian tinggi dakian sudah kita capai lalu lutut kita gemetar memandang jauh kebawah. Sungai dalam. Batu cadas!

Atau mungkin hidup kita adalah seperti berjalan di Sahara, menuju jauh pandang yang terlihat macam titik saja. Lantas apa kita ingin dikenang sebagai musafir memalukan? yang menciut dan menangis menggelusur tanah, mengerang-ngerang selayak bayi?

Kita gemetar memang! kita berpeluh memang!

Tapi kebanggaan kita adalah untuk mengenang diri sendiri bahwa di-liput terpa topan badai itu kita tetap menantang tegak, bukan ciut meringkuk!

Sampai nanti kita kibar bendera di puncak sana! Atau di ujung jauh sana!
Atau mati terhantam cadas atau terhempas terbanting badai pasir.
LAWAN!!!

Add comment Mei 22, 2009

Tuma’ninah

Duhai Yang Membangkitkan Gelora, izinkan kami untuk tertambat kuat pada rahmatMu yang tidak pernah putus.

Kami tumbuh dan besar satu ritme dengan bumi yang berputar cepat, dengan matahari yang timbul tenggelam, dengan malam siang yang pergi lalu datang, dengan panas yang digeser gerimis yang mensalju di berapa pojok-pojok, dengan belukar yang menjulang tinggi kekar lalu merangas rapuh diganti tunas yang bersemi hijau muda.

Tapi hati kami sesungguhnyalah masih terpendam dalam, sebagai biji yang gagal menjadi.

Hamba macam apa kami ini, ya Rabb?
Yang mengisi bilik-bilik kami dengan jelaga, yang menanam dosa yang merumpun bambu, lalu tumbuh selayak gulma yang menjalar bersulur-sulur.

Sekali waktu pernah juga kami bersujud, dalam tunduk yang sama sekali tidak tuma’ninah, lalu beringsut buru-buru tak karuan seperti syurga sudah kami kavling seperempatnya.

Hamba macam apa kami ini, ya Rabb?
Yang bertingkah bijak selayak nabi, lalu menari-nari belingsatan atas sejumput puja-puji yang tidak sekuku hitam layak kami terima.

Tingkah kami selalu saja seperti sudah paripurna menamatkan madrasah ilmuMu, kami nasehati orang lain dengan suara halus yang mencela sampai ke ubun-ubun.

Padahal hati kami sesungguhnyalah masih terpendam dalam, sebagai biji yang gagal menjadi.

Lalu pada suatu malam yang berhujan rintik, pada waktu dimana kami kadang-kadang sadar. Kami sempatkan sejenak untuk merangkai doa. Yang jujur, yang seadanya, bahwa kami tidak akan pernah bisa lepas dari semuanya tanpa Engkau melonggarkan ikatannya.

 

(picture taken from here)

4 comments Mei 7, 2009

Mozart guru cinta

Mataku sudah mulai remang-remang. Memang kehidupan di rig pengeboran kadang-kadang mengacaukan logika kita tentang waktu-waktu, kawan.

Kita bisa saja bekerja pada larut malam hari, terus siang-siang tidur sepanjang matahari menggelayut di biru langit. Bisa juga kita berkeringat berpeluh di terik siang untuk nantinya waktu tidur menjadi maju berapa dentang jam. Sesudah isya bisa langsung pulas.

Tapi kadang-kadang ada hal yang mengacau.seperti malam ini.

Tok..tok…tok…..  “mas-mas…. Bisa minta tolong bentar?” seorang teman, tiba-tiba mengetuk kamarku dengan muka serius.

“kenapa Pak?”

“ini mas, aku ga bisa ngopi lagu ke mp3 playerku, ndak mau diputar dia”

Dengan mata yang sudah mulai remang-remang, rasanya malas nian beranjak untuk sekedar mengopi lagu dari cd ke player mp3. Kenapa tidak besok saja??

Tapi dengan payah aku berhasil menarik badanku untuk sedikit menggeliat. Aku sedikit heran memang, apa yang susah dari mengopi lagu? Kopi, paste, selesai.

Tapi baiklah….mengingat beliau ini adalah kru catering di rig, dan aku menimbang bahwa beliau ini sudah berjasa memberikan kami-kami ini makanan yang enak-enak di kantin, maka aku akan membantu, anggaplah ini sebagai balas jasa, air susu dibalas air susu. Begitu mungkin peribahasanya.

“kenapa…kenapa mas mp3 playernya?”

“ini, kemaren kan aku sudah beli kaset CD, aku mau kopikan ke mp3 player ini tapi ndak mau jalan dia”

“oh…..mungkin karna formatnya windows media audio, kita harus convert dulu ke mp3.  Kaset apa memangnya mas?”

“MOZART”

“WHAT???”

Aku keceplosan. Kawan-kawan bisa bayangkan, MOZART!!! Mozart yang aneh itu, yang setengah mati aku coba dengarkan berulang kali biar tertarik tapi tetap gagal membuat kupingku mau menelannya. Mungkin karna terlampau high class.

Aku ingin tersenyum tapi kutahan sebisaku. Karna tiba-tiba aku teringat kata baginda nabi, kalau kita mendengarkan orang bicara, maka ekspresi kita haruslah serius dan memerhatikan. Bila perlu menangis waktu dia menangis. Tertawa waktu dia tertawa. Begitu ajarannya.

Lalu langsung aku mengoreksi diriku sendiri, cobalah kita pikir kawan-kawan sekalian. Apa yang salah dengan bapak ini menyukai mozart? Bahkan kalau dia cinta mati kepada lagu klasik elegan mozart itu juga tetap tak ada yang salah sama sekali. Tak ada!!

Aku lalu mengajaknya naik ke lantai atas, ke ruangan kantor, kunyalakan laptop hitam itu sambil mengerjapkan mata sebentar. Untuk sebuah niat baik, kita harus total. Jangan sampai aku menolong beliau  ini sambil kesal menahan kantuk, maka aku pelototkan mataku lebar-lebar.

“ok Pak…. Mana kasetnya, sini aku coba pindahin ke mp3 player”

Dan disitulah aku baru tertegun. Cover kaset mozart elegan itu bergambar seorang ibu hamil, dan ada anak perempuan lucu disampingnya.

Bapak-bapak itu, kawanku tadi, ternyata membeli mozart untuk konsumsi anaknya yang belum lahir. Seorang bapak membeli mp3 player baru dan sekeping cd mozart versi asli, lalu dibawanya melintas pinggiran delta mahakam sampai ke anjungan ini. Astaga……… Inikah cinta?

Seorang kru catering malu-malu mengetuk pintu kamarku malam-malam, meminta tolong untuk memindahkan lagu asing itu ke player mp3nya, sebagai perangsang otak untuk diperdengarkan kepada calon bayi yang masih di rahim, di alam lain sana.

Aku jadi malu sendiri  lalu mulai merutuk diri, sebegitu sulitkah mengconvert format lagu itu lalu kopi paste, sampai aku bergerak lamban macam siput. Jangan-jangan aku sudah mulai kehilangan cinta?

Baiklah pak. Sebagai rasa terimakasih atas pelajaran berharga malam ini, dan tebusan rasa bersalah untuk senyum simpul yang kukulum berapa menit lalu, akan aku berikan kau kursus singkat saat ini, sampai berapa jam pun engkau mau.

“satu lagi mas… Bisa tolong sekalian pindahin ayat alquran ke player ini ga? Jadi aku kepikirannya nanti pas disetel itu ayat-ayat  pendek alquran dulu, baru mozart”

Aaahhhh……. Lagi-lagi aku malu.

Kepada orang yang kusenyumi dengan simpul yang paling tersembunyi ini, aku malah belajar banyak tentang cinta yang menyeruak tak tertutupi.

Jadi tolong kawan-kawan, sampaikan pada istri Bapak ini, bahwa suaminya seorang maha guru cinta.

11 comments Mei 7, 2009

orasi sandal

sandal

Postulat dunia pengeboran, kawan-kawan yang saya hormati, adalah “all day is just a day”. Tidak pernah ada hal spesial yang membuat suatu hari kita maknai lebih dari hari yang lain. Tidak ada bedanya hari minggu dan senin, sebegitu juga berlaku untuk selasa dan sabtu misalnya. Tentu saja kadang-kadang ada waktu-waktunya dimana hari terasa agak semarak, semisal hari raya atau tujuhbelasan, tapi tetap, pengeboran terus dilakukan, tak ada berhenti, tak ada tapi.

Dalam dunia yang ricuh semacam ini -sebenarnya juga dalam dunia kerja pada umumnya- kita menjadi manusia yang bingung. Karna perlahan betul, pekerjaan yang kita lakoni itu dengan tak terasa membelenggu kita. Tiap hari kita bergelut dengan waktu dan segala macam kesibukan sampai kita tidak lagi tahu kemana kita berlari, kenapa tiba-tiba ritme kita begitu cepat? Kenapa kita lantas belingsatan tak karuan mengerja begitu banyak hal, terpusingkan dengan segala macam, dan menjelma kurcaci kerdil bermental temperamen.

Untunglah, di tempat ini, di anjungan pengeboran tepi laut yang menghabiskan waktu 2 setengah jam speedboat menyusur tepian delta untuk mencapainya, masih ada ruang sempit satu kali satu meter. Ruang yang kami beri nama Musholla.

Kami sudah terbiasa, berjejal didalamnya. Disinilah kami menenangkan diri sejenak, dan merasa seperti ter-teleport bermil-mil jauhnya, ke sebuah negri damai pada kala senja, sambil menggenapkan sujud dengan tuma’ninah dan menikmati kesadaran bahwa hidup kami ternyata tidaklah terputar-putar memuakkan sekeliling dunia saja.

Aku ingat betul, setiap kali aku dihadang masalah kompleks yang pelik, setiap kali kebuntuan menyumbat ide-ide, atau setiap kali resah hinggap dengan tiba-tiba, aku selalu masuk kedalamnya. Berdoa dengan rendah suara, meminta dengan menghamba, biar Yang Maha Perkasa diatas sana mengeluarkan aku dari lumpur yang menyedot kita kedalam pusarannya yang abstrak itu.

Setiap kali aku sholat di dalam musholla kecil itu, aku tinggalkan sandalku diluar. Begitu juga yang berlaku untuk sesiapa saja.

Lama-lama, aku mulai bisa mengetahui siapa yang sedang bersujud didalam ruang sempit itu, siapa yang sedang mengadu di kotak satu kali satu itu, siapa yang lagi berkeluh di surau seadanya itu, hanya dengan melihat sandalnya.

Lama-lama sandal menjadi semacam saksi bisu. Sandal telah dengan sangat pandainya menjadi pemain penting dalam drama pencarian panjang makna hidup.

Hari itu aku mengantri di depan musholla. Menunggu kawan yang bermunajat cukup lama di dalamnya. Tak enak hati rasanya aku mengganggu orang yang sedang berbincang dengan Tuhannya, lalu untuk menghabiskan waktu aku mengamati saja sandalnya.

Alangkah beruntung sandal itu? Dimiliki oleh seorang yang menyingsingkan lengan bajunya untuk berwudhu. Lalu melepaskan diri dari segala sibuk dunia yang melekat seperti minyak mentah, hitam dan lengket.

Sandal itu telah dibawa takdir untuk menopang kaki –mungkin bapak dari anak-anak yang beruntung, suami dari istri yang terpercik rezeki ketenangan hati, anak dari orang tua yang terkirim doa-.
Kupikir nanti di syurga sana, mungkin sandal itu akan menjadi seperti pembicara ulung, berorasi dengan retorika mengalahkan hittler dan soekarno, bercerita bahwa betapa empunya dulu meninggalkan sejenak pipa-pipa yang berputar cepat menembus lubang ribuan meter seharga triliunan rupiah.

Nantinya mungkin sandal-sandal lain di syurga akan iri, ini luar biasa pikir mereka, betapa nantinya sandal itu ditempatkan mungkin setara dengan sepatu lars para syuhada, yang dulu hancur dihantam mortir atau diberondong desing peluru tajam yang berputar dan menikam dengan beringas.

Tapi itu nanti. Sekarang sandal itu masih disitu. Tersusun rapih di depan pintu, ada air di sela-selanya. Dari sepanjang tangga aku baca jejak langkahnya mengular panjang belum hilang.

Tiba-tiba sepasang kaki perkasa menyorongnya. Bapak tua itu tersenyum ramah dan membukakan setengah pintu untukku. Lalu seketika aku ingin meninggalkan sandalku di depan sini tengah malam nanti.

4 comments Mei 5, 2009

seratus juta hasta

ibu

Dari mata ibu.
Setiap kali menggenang setengah tertahan lelehan air mata di kelopaknya yang tua itu, setiap itu pula aku memulung kesadaran.
Aku rekam berpuluh-puluh babak tentangnya dan kuputar dibenakku lanskap seperti film zaman dulu.
Seorang ibu yang helai rambutnya sudah panjang dan memutih, lalu satu-satu gugur dan terbang pelan ditimang-timang angin.

Seperti hari ini.
Rasanya belum selesai aku berguru padamu, ibu. Dari padepokan yang kau buka sejak lama itu.
Dari kecil sekali usiaku dulu -waktu mengeja saja belum pandai rasanya- sudah kau ajarkan tentang sabar yang tertempa.
“Dilimpas musuh seraksasa, ditinju kepal seliat baja, jangan sekali-kali runtuh kita punya hati, tetap tegakkkan kita punya kepala, pancang berdiri kita punya kaki!” itukan katamu, Bu?

Dasawarsa berlari secepat senja yang terjepit itu. Muncul bilangan detik saja. Diberikan kesempatan sekedarnya oleh siang yang menyengat nyala, lalu diterkam gulita yang pongah jumawa.
Tiba-tiba hari ini, kami seratus juta hasta jaraknya darimu, dan menjelma anak-anak cengeng yang memilukan.

Bagaimana engkau bertahan bu? Dalam ratusan luka yang membelah kulit dan nadi, melewat ribu duri yang pelan-pelan menusuk kaki, menghela sunyi yang terlampau hening seperti membuat kita tuli, dalam segala yang menghantu seram, yang merangsek rangsek pertahanan, yang menghajar kepala kita sampai terbanting ke tanah, bagaimana bu?

Lalu tiba-tiba hari ini kami seratus juta hasta jaraknya darimu. Padahal segalanya sudah pula engkau ajarkan dengan pelan, sambil tersenyum dan menyeka keringat yang bulirnya mengalir dari keningmu yang bergurat-gurat letih.

Malu aku merutuk nasib, Bu. Embun basah dengan gampang nian menempeleng kami sampai tergelung dibalik selimut, lalu baru terbangun waktu hari terlanjur berlari setengah kepala. Sementara engkau menjerang nasi waktu kami belum bangun, menyapu rumah dari kala dimana ayam jantan saja enggan menggeliat.

Malu aku merutuk sepi, Bu. Padahal engkau tetap mengembang bibir, waktu sebalik badanmu tersembunyi dibalik pintu dan sebaliknya lagi menjulur tangan melambai-lambai kepada kami yang melanglang pergi tanpa sejenak juga membalikkan punggung dan mengucap barang satu dua frase terima kasih, basa-basi, atau apalah dari mulut kami yang pandai berorasi ini.

Seperti lanskap film zaman dulu, terputar di mataku ibu yang mengelap bingkai foto tua berdebu, memandangnya dengan tatap yang seperti senja, lalu memajangnya di atas buffet kayu jati yang rapuh setengah kakinya.

Sementara kami seratus juta hasta jaraknya darinya.

1 comment April 21, 2009

labirin

Pagi selalu saja dingin dan menusuk, memberikan aura perenungan yang dalam dan tak terganggu, hening yang terlampau, lalu seperti nyata kita mendengar bunyi denging yang mendengung di telinga, lalu masuk ke hati dan fikiran, sampai-sampai tak sanggup kita menahan Tanya yang berputar-putar tentang makna hidup, arah jalan, dan kemana-mana kaki sudah kita langkahkan kemarin-kemarin itu?

Setiap subuh, kupintakan dengan sangat, untuk dapat dianugerahkan mata yang bening dan teduh, yang bisa melihat sampai ke balik-balik makna, tentang mana yang baik di akhirnya mana yang buruk di akhirnya.

Kupintakan juga jiwa yang lapang sesamudera, untuk menampung segala keluh kesah apa-apa, segala letih penat kita, segala banyak coba dunia yang merantai menyeret-nyeret, maka biarlah semua tenggelam dalam genang yang tiada bertepi.

“mohon cukupkan hari kami ini untuk selalu merasa diliputi berjuta nikmat yang menggelontori, yang mengalir sejuk melewati jengkal demi jengkal tubuh, meresap pelan lewat pori, mensenyumkan bibir, mata dan hati kami ini dengan bahagia yang tak alang kepalang.

Sekian banyak hari sudah kami lalu ya Rabb, jangan biarkan nafsu bodoh kami ini menjadikan kami berputar-putar dalam labirin yang kami buat sendiri, sementara jalan indah menuju bahagia itu selalu lurus menujuMu, kami ini tak kepalang senang nian menikung.

Bagaimana kami harus melolong? selagi terlalu senang kami untuk terpukau tertipu, tidak mungkin kami menjerit saat kami kira kami suka ria. Inilah kami duhai yang maha membimbing, wahai yang menunjukkan pilihan disetiap tikungan-tikungan, wahai yang memberi tanda di setiap persimpangan, kami begitu bodoh dan tersesat sekusut masai yang tak lagi bisa kami urai.

Tuhan…………………………………………
kemarin dulu-dulu itu, kami terlupa setelah tafakur pagi, maka izinkan kami tetap tunduk dan terjaga ini hari, hingga siang nanti tiba, sampai senja menyorong gulita, sampai nanti tiba masanya.

5 comments Maret 31, 2009

ujung doa negri tanpa nama

Duhai Yang Maha Berkuasa

pagi ini kami jalin doa dari ujung negri-negri yang jauh. Ajarkan kami memintalnya menjadi gulungan salam yang seindah-indah kesturi.

Rendah sekali suara kami, meminta dalam doa tanpa aksara tanpa suara tanpa nada.

Semangatkan setiap jiwa yang luluh lantak nyalanya, dengan cecahaya kecil dari ujung-ujung jemari kami-kami ini.

Bangkitkan setiap cita rebah dari saudara-saudara kami di setiap negri. Muliakan mereka dari setiap kilas pandang orang-orang.

Dari setiap kesulitan mereka yang mengacak-acak ketegaran sekeras-keras karang itu,  selipkan satu,  dua,  sepuluh,  seberapa saja kemudahan di utara selatan barat timur mereka.

Doa pelan dari desir hati kami ini adalah cinta dalam diam, untuk mereka, teman dari negri tanpa nama.

2 comments Maret 24, 2009

terlambat bahagia

Tadi sore, aku mengingat-ingat, kira-kira ada berapa kali dalam hidup ini – hingga sekian puluh tahun usia berbilang ini- aku mengalami hari-hari yang penat dan menggrogoti semangat yang  harusnya kokoh menjulang.

Rupanya, kawan, hampir dalam setiap perguliran malam menelan siang dan berulang lagi siang muncul menggeser gulita, aku mengalami ribu-ribu macam masalah.

Ternyata, baru sore tadi juga aku sadar dan berhasil memetakan sebuah ihwal maha penting dalam perjalanan hidupku, bahwa masalah terbesar kita hingga hari ini sepertinya adalah kita terlambat bahagia.

Harta kita tak semelimpah mereka, maka kita tidak bahagia.Dulu pas kecil tidak juara, kita tidak juga bahagia. Kurang kawan, kita tidak bahagia. Banyak kawan banyak konflik, tak kunjung juga kita bahagia. Waktu kuliah hampir-hampir mati kita putus asa mengerja setiap kewajiban yang merantai melilit-lilit, selesai kuliah hampir mati lagi kita dibuat kerja yang rutin berulang ulang ulang ulang, ini dejavu… kata kita.

Rupanya, kawan, itulah masalah kita, ketololan kita yang berkarat-karat itu menutupi hati kita sampai-sampai tidak lagi percaya janji pagi yang pasti datang setelah pekat malam. Sampai lupa kita, pontang-pantingnya Bapak Ibu kita membesarkan kita sampai sebegininya, itu bukti lebih dari nyata bahwa mereka bisa menghadapi aral macam apa juga, maka kita haruslah juga bisa. Sampai lupa kita bahwa besok, lusa, besoknya lagi dan tahun-tahun di depan kita itu, pasti ada saja masa-masa mengiris, yang sunyi hening menohok, menggrogoti semangat kita yang nyata-nyata sudah renta sebelum masanya.

Jadi ingat kata orang-orang tua dulu, bahwa siapa saja yang mencoba mencari kebahagiaan dari luar dirinya, akan selalu mendapati kebahagiaan itu milik orang lain.

Kalau sekarang, esok, lusa dan berapapun dasawarsa didepan sana masalah akan masih juga ada, jadi kapan kita bahagia??

Janganlah kita terlambat lebih lama kawan!!!

Setelah tersadar tadi sore, maka aku beristighfar dalam, dan memulai bahagia.

5 comments Februari 12, 2009

sebentuk cinta buat para guru

Dari kecil, bapak sudah menanamkan dengan sangat, biar kami-kami ini, anaknya, tidak pernah merasa puas untuk belajar hanya dari satu orang guru, dari satu bentuk saja pemahaman, dari satu warna saja pola pikir.

Terlalu luas dunia ini, dan terlalu kecil tempurung otak kita, apatah lagi jika kita batasi diri untuk menerima bentuk kebenaran dari segala yang kita suka saja. Jangan!!!

Maka setiap hari aku belajar dengan jujur pada setiap orang, setiap buku, setiap kebijakan, setiap cerita-cerita, setiap apa saja. Kadang2 pembelajaran yang panjang itu membuatku merasa dekat dengan setiap “guru-guru” yang jauh.

Mereka itu banyak sekali berbuat, dan banyak nian mengajarkan kebijakan. Yakin benar aku, bahwa tidak sekalipun orang-orang itu pernah merasa mengajari seorang yang terlampau biasa ini, yang mereka tidak mungkin juga pernah tebak bahwa setiap penggal kata-kata mereka itu jadi pelita yang mewarna ditengah jatuh terpuruknya aku dalam hari-hari yang pekat, misalnya.

Maka aku sering tercenung dan menangis, menangis untuk hal-hal yang biasa saja, untuk setiap kebijakan yang tiba-tiba timbul dari lontar kata ibu waktu menasehati untuk aku selalu semangat belajar misalnya.
untuk setiap kali aku melihat bapak menatap awang2 langit malam lalu menghela nafas dengan berat misalnya.
untuk setiap kali aku tercenung setelah membaca buku yang kubeli di sudut gramedia itu misalnya.
untuk kelakar supir taxi yang menceritakan uang harian yang dia irit-irit untuk istrinya itu, misalnya.
untuk setiap semua yang biasa.

Lalu kusempatkan berdoa sejenak, untuk semua yang kebijakannya sudah kupulung karna menguntit mereka dari jauh itu, semoga tetes keringat, tiap jejak langkah, tiap kata yang keluar, juga tiap hela nafas berat mereka itu dibalas dengan sebaik-baiknya, diganda-gandakan hitungannya, lalu dibuatkan untuk mereka sebuah istana kecil di firdaus sana, semoga dipajang di pintu depannya

persembahan doa dari murid tak bernama

“sebentuk cinta buat para guru”

*) images taken from google

3 comments Januari 22, 2009

mimpi

sudah sangat lama, aku menjalani hidup seperti orang yang tidak punya mimpi, padahal kata orang-orang, mimpi adalah sesuatu yang membuat hari-hari kita hidup dan bermakna. Jika kita punya mimpi, maka kita akan mengejar mimpi itu sampai ketempat-tempat yang musykil sekalipun, dan akan banyak kejadian yang mendebarkan sepanjang petualangan kita menggapainya.

Itulah masalahnya, selama ini hidupku mengalir sebagaimana alir sungai, aku mengikuti saja alurnya, kulakukan apa-apa saja seperti yang kebanyakan orang lakukan saat mereka menginjak fase yang sama denganku. Orang kuliah, ya aku kuliah, orang lulus ya aku lulus, orang kerja ya aku kerja….. jujur, sumpah mati begitu. Terlihat sangat tidak membara dan kurang greget, tapi ya bagaimana lagi, begitulah adanya.

Sampai suatu ketika, dalam suatu hari, dalam perjalanan panjang hidupku yang mengalir sampai sekarang itu, aku tiba-tiba tersentak oleh sebuah kesadaran yang menyeruak tiba-tiba, tanpa katalis macam apa, tanpa alasan apa-apa, aku sadar, bahwa sebuah cinta maha indah telah menuntunku dengan sangat rapih, untuk mengalir pelan dan sampai ke muara.

Segala bentuk syukur bentuk puji kuucap sayup dan lantang, untuk “keajaiban” yang mempertemukan aku dengan kawan-kawan yang membagikan semangat dan mimpinya, hingga jadilah aku, sampai saat ini adalah orang yang hidup dan tumbuh besar atas cipratan mimpi-mimpi mereka.

Sewaktu SMA, alhamdulillah, Tuhan izinkan untuk aku belajar diantara teman-teman yang aku tahu betul kapasitas intelektual mereka itu mencuat-cuat tak dapat dibendung, jadilah aku ikut-ikut juga belajar sampai terengah-engah untuk sedikit saja berupaya mengikuti ritme orkestra mereka yang luar biasa cepat itu. Mereka lulus, aku lulus, mereka kuliah aku kuliah.

Waktu kuliahpun begitu, silih berganti Tuhan pertemukan aku dengan semua orang yang berapi-api semangatnya, yang tak kurang-kurang perjuangannya, yang mimpi-mimpinya itu mereka gantung di langit yang paling ujung, menggantungnya saja sudah membuktikan mereka layak mencapainya.

Selalu begitu, mereka bermimpi, lalu berjuang sampai putih tulang mereka itu terlihat, lalu berjalan terus sampai keringatnya itu bersimbah tak karu-karuan, kukejar mereka sekencang-kencangnya, mereka lulus aku lulus, mereka bekerja aku bekerja.

Sudah sangat lama, aku menjalani hidup seperti orang yang tidak punya mimpi, padahal kata orang-orang, mimpi adalah sesuatu yang membuat hari-hari kita hidup dan bermakna, jika kita punya mimpi, maka kita akan mengejar mimpi itu sampai ketempat-tempat yang musykil sekalipun, dan akan banyak kejadian yang mendebarkan sepanjang petualangan kita menggapainya.

Maka itu, hari ini aku sudah memutuskan untuk berani bermimpi, anggaplah ini sebagai sujud syukur yang khidmat, atas segala karunia yang berhamburan menghujaniku dari puluhan tahun lalu, atas segala cerita kehidupan yang tersulut dan membara berkobar-kobar oleh nyala mimpi semua orang luar biasa itu.

Akan kubangun sebuah rumah mungil, dipuncak bukit menghadap lembah yang kabutnya melayang-layang tipis itu, lalu meskipun sedikit telat nantinya akan kuucapkan juga sebuah janji dengan kata yang paling sungguh, kan kupesankan anak cucu kita nanti untuk menjelma pribadi yang punya mimpi, yang baik, yang mulia.

Mereka bermimpi………

Kita bermimpi……….

*) images taken from google

6 comments Januari 13, 2009

Previous Posts


salamku untukmu

Lalu untuk semua bakti yang tak sempurna dan terimakasih yang tak terucap untuk ayah bunda, biarlah menjadi janji sejanji-janjinya "bahwa mereka adalah nama yang takkan pernah luput dari doa dalam setiap senja, setiap pagi buta, juga doa malam gulita". Di penghujung usia ini baru kita sadari, bahwa betapa mereka sudah begitu banyak berpesan tentang rahasia-rahasia dunia dan baru kali ini kita sadar-sesadar sadarnya. Ini janji sepenuh masa "Tenang Pak, Bu, akan kuputar kembali pesan-pesanmu untuk anak dan cucuku"

muqaddimah

bahwasannya sekalian ilmu itu mahal adanya, dan mencahari ilmu itu tiadalah semudah dugaan kalian, dan mencahari ilmu dengan ceroboh itu hanya akan membuahkan hasil yang hampa, seumpama butir gandum yang tiada bernas, untuk makanan keledaipun kurang bermanfaat (kutipan kitab zhodam berbahasa melayu)

pesan buya hamka

Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak, dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.

menghitung hari

Juli 2009
M S S R K J S
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

corat-coret terbaru

kumpulan tulisanku

corat-coret mereka

tforce2009 di es potong dilematis
SR4Y4 LWat di dari tetes tinta satu dua…
debuterbang di ayam…….
isyaratpena di ayam…….
khairunnisa amaliah di Untuk teman-teman terbaik (dar…
engkaudanaku di Pesawat Terbang dan Guci Empat…
Budi di Mozart guru cinta
hilmasol54 di Pesawat Terbang dan Guci Empat…
Dinda Watson di Pesawat Terbang dan Guci Empat…
Rahmat Kedai di lima puluh ribu rupiah
aritonangjr di Puzzle dunia
hilmasol54 di dari tetes tinta satu dua…
Titisan Qolbu di lima puluh ribu rupiah
azzam di lima puluh ribu rupiah
mymy di dari tetes tinta satu dua…

corat-coret tersering dibaca

daftar disini jika kawan2 tertarik mengikuti perkembangan coretan terbaru di blog ini

link

silaturrahmi

corat-coret tentang